
Arkana melajukan mobilnya dengan begitu kencang membelah jalanan yang nampak lengang malam ini. Netranya masih merah dan bersimbah airmata. Demi Tuhan, ia tak mampu menerima kenyataan bahwa jenazah yang terbujur kaku barusan adalah jenazah sang istri.
" Tidak ..tidak mungkin. Itu pasti bukan istriku! " batinnya mengelak. Pria itu semakin menambah kecepatan mobilnya dan membawanya tanpa arah dan tujuan yang jelas.
Beberapa lama kemudian, mobil itu berhenti di sebuah danau yang terlihat begitu indah dengan pantulan bulan purnama yang menerangi sekitarnya.
Keindahan tempat itu tak seindah perasaan pemuda yang duduk ditepinya sambil menerawang sejauh mata memandang.
Tempat itu pernah menyimpan kenangan untuknya saat bersama sang istri. Yah, Seroja saat itu kesal kepadanya lantaran menggagalkan acara kencannya sekaligus menyadari bahwa dirinyalah yang mengambil ciuman pertamanya.
Sesaat pria itu tersenyum, tetapi senyuman itu berubah getir saat menyadari kini sang istri sudah tidak ada di sampingnya.
Plung..Blurrr....
Beberapa batu dilemparnya dengan sekuat tenaga ke arah tengah danau. Ia berusaha melampiaskan kesedihannya akan masalah yang sedang ia hadapi saat ini. Pria itu berdiri dan kembali melemparkan batu ke arah tengah danau.
" Tidak! Tidak mungkin! Istriku tidak mungkin meninggal ! Aaarrghhhh..." teriaknya sekencang mungkin.
...----------------...
Dini hari Arkana baru kembali ke mansion orang tuanya. Rencananya jenazah tersebut akan dimakamkan secara layak pagi ini. Alvin dan seluruh anggota keluarganya bahkan tak tidur lantaran menunggu kepulangannya.
Mereka takut Arkana melakukan tindakan diluar nalar. Nampak sekali pemuda itu begitu terguncang saat mengetahui kematian sang istri. Bianca kini sadar bahwa putranya begitu mencintai istrinya.
Dengan langkah gontai dan penampilan acak-acakan pria itu perlahan memasuki mansion. Semua yang menunggu di ruang tamu seketika terkesiap dan menatap iba kepadanya.
Bianca ingin berdiri dan menghampiri putranya, namun Alvin segera menahannya. Mungkin saat ini Arkana butuh waktu untuk sendiri. Mereka membiarkan pemuda itu berjalan ke atas menuju kamarnya. Setidaknya mereka lega pemuda tersebut baik-baik saja.
Arkana memasuki kamarnya, ia duduk di tepi ranjang sambil mengeluarkan sesuatu yang tersimpan di saku kemejanya. Yah, tiket bulan madu itu, dirinya belum mewujudkan keinginan istrinya.
Ia melempar tiket itu ke tengah ranjang. Dadanya yang begitu sesak seketika membuatnya langsung beranjak memasuki kamar mandi. Tanpa membuka pakaiannya, pria itu membasahi tubuhnya dibawah guyuran shower. Rasanya ia perlu mendinginkan pikirannya yang sedang kacau saat ini.
__ADS_1
Airmata kesedihan masih ikut mengalir bersama air yang membasahi seluruh tubuhnya. Pria itu menyandarkan tangannya ke tembok, nafasnya sedikit tersengal akibat guyuran air yang begitu deras.
Netranya tertuju pada sesuatu yang ada di dekat cermin kamar mandinya. Lelaki itu terkesiap saat melihat sebuah alat test kehamilan.
" Apa mungkin Seroja sudah melakukan tes kehamilan?" dengan segera ia mengambil alat tersebut untuk melihat hasilnya.
Jlebb...
Hati Arkana kembali tertoreh sembilu saat melihat tanda garis dua pada testpack tersebut. Kini dirinya harus menghadapi kenyataan pahit kembali. Ia bukan hanya kehilangan seorang istri, melainkan calon anak didalam rahim istrinya.
Ia berlari keluar dari kamar mandi dan menjatuhkan tubuhnya kembali dibawah ranjang. Airmata itu terus saja tercurah, dirinya kembali menatap testpack tersebut dengan perasaan bersalah.
" Andai waktu itu aku membiarkanmu untuk ikut pergi bersamaku. Mungkin saat ini aku tidak akan kehilangan kalian berdua." sesalnya mendalam.
Aaaarrrghhhhh!!!
Arkana berteriak sambil memukulkan tangannya sekuat tenaga ke lantai. Darah segar mengalir di salah satu sisi jemarinya.
Alvin dan lainnyapun ikut terkejut dengan teriakan pemuda itu. Mereka segera berlari menuju kamar putranya lantaran takut terjadi sesuatu pada Arkana.
" Tolong jangan siksa dirimu seperti ini, Mama mohon. Mama tak sanggup melihatmu seperti ini, Nak. Kumohon bersabarlah, ikhlaskan kepergian istrimu." ucap wanita tersebut di sela-sela tangisnya.
Arkana semakin tersedu-sedu, ia memberikan tespack itu kepada sang Mama.
" Istriku sedang hamil, Ma. A,,aku seharusnya akan menjadi seorang ayah. Aku benar-benar bodoh meninggalkan dirinya disini seorang diri. Aku pria tak berguna." tangisnya dipelukan sang Mama.
Bianca tak mampu berkata-kata, ia semakin mempererat pelukannya. Dalam hal ini tentu dirinya yang paling bersalah menurutnya. Ia telah berprasangka buruk pada menantunya dan telah mengusirnya dari mansion.
" Maafkan Mama, Nak. Maafkan aku yang telah mendzolimi kalian semua." batinnya menyesal.
...---------------...
__ADS_1
" Eeuhhh...dimana aku?" gumamnya pelan.
Seroja mulai membuka perlahan kedua matanya, silau lampu kamar menghalangi pandangannya. Samar-samar seseorang nampak berada disampingnya.
Lamat-lamat ia mendengar suara wanita yang begitu merasa senang, lalu terdengar suara lelaki yang berbicara dengannya. Setelah beberapa menit, dirinyapun akhirnya meraih kesadaran.
Nampak olehnya seorang wanita yang telah berumur, namun masih terlihat anggun, seorang pria muda dan seorang dokter menatap ramah ke arahnya.
Netranya menatap sekeliling, dirinya berada di kamar yang terlihat sangat luas dan mewah. Namun, kamar tersebut terasa asing baginya. Iapun kembali memperhatikan ketiganya.
" Ka,, kalian siapa? " tanyanya pelan. Dirinya mencoba untuk duduk, namun badannya masih begitu lemah seakan tanpa daya.
" Kau jangan banyak bergerak dulu, tubuhmu masih sangat lemah. Lebih dari seminggu kau tak sadarkan diri. Aku sangat bersyukur melihatmu baik-baik saja." ungkap wanita itu senang.
Seroja sungguh terkejut mendengar penuturan wanita tersebut. Padahal rasanya ia baru saja bangun dari tidurnya. Jika benar dirinya koma selama seminggu, berarti mungkin sekarang suaminya telah kembali dari Jepang. Iapun kembali mengulang pertanyaannya.
" Anda siapa? Dimana aku? Aku harus segera pulang, keluargaku pasti mencemaskanku." ia memaksakan tubuhnya untuk bisa beranjak dari sana.
Dengan segera wanita itu menahan dengan kedua tangannya.
" Sudahlah, tolong jangan memaksakan dirimu. Aku Almira, sekarang kau sedang berada di rumahku. Aku menemukanmu jatuh tak sadarkan diri di daerah dekat gunung. Kau harus beristirahat total sementara waktu sebab kondisi janinmu masih sangat lemah." jelas wanita tersebut.
" Maksud anda, aku sedang hamil?" ungkapnya begitu terkejut mendengar penuturan wanita dihadapannya. Iapun kembali teringat kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu sebelum dirinya tal sadarkan diri.
Wanita itu tersenyum ramah kepadanya kembali.
" Iya, Nak. Kau sedang hamil memasuki usia tiga bulan. Ini benar-benar sebuah anugrah luar biasa, calon bayimu ikut berjuang untuk bertahan hidup. Sekarang kau beristirahatlah, jaga dia baik-baik." ungkap wanita itu dengan bijak.
Seroja tersenyum tipis, hatinya terasa begitu bahagia. Hasil buah cintanya kini telah tumbuh dan berkembang di dalan perutnya.
" Dia pasti akan sangat senang mendengarnya. Aku harus cepat sembug dan membagikan kabar menggembirakan ini kepadanya." tekadnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗