Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
MEMBAWA KE APARTEMEN


__ADS_3

" Kau tidak apa-apa? " Seroja segera menghampiri dan menolong Arkana yang telah kotor oleh lumpur dan ikan segar.


Pria itu menatap jijik pada tubuhnya, ia begitu kesal karena merasa dipermalukan di tempat umum. Untung saja tidak ada yang mengenalnya disana.


" Tidak apa-apa bagaimana? Apa kau tidak lihat badanku kotor dan bau seperti ini. Menjijikkan! " ia mencium aroma tubuhnya sendiri.


" Maafkan aku. Aku akan membantumu berdiri." Seroja menyesal karena tidak memperhatikan Arkana barusan.


Arkana menampik tangan Seroja, " Tidak perlu. Aku bisa berdiri sendiri."


Pria itu berlalu begitu saja meninggalkan Seroja, ia tidak tahan harus menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Seroja meminta seseorang membantunya membawa barang belanjaan, ia berlari untuk mengejar Arkana.


Gadis itu berhasil menyusulnya, ia menarik lengan Arkana ," Maafkan aku, aku benar-benar menyesal dengan apa yang telah menimpamu. Kalau tahu begini, aku tidak akan mengajakmu kesini. " netranya mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar merasa bersalah kali ini.


Arkana paling tidak sanggup melihat seorang wanita menangis didepannya. Meskipun, sebenarnya ia sangat kesal dengan Seroja.


" Kau selesaikan belanjamu. Aku menunggumu dimobil. " jawabnya tanpa menatap lawan bicaranya, iapun pergi menuju mobilnya.


Seroja masih terdiam mematung. Bagaimana bisa dirinya berbelanja jika keadaan Arkana seperti itu? Untung saja ia telah berbelanja sebagian besar bahan-bahan yang telah dicatatnya bersama Aulia semalam. Iapun segera mengambil belanjaannya dan menyusul Arkana menuju mobil.


Seroja masih menunduk dan terdiam, Arkana memperhatikan perilakunya. Ia tak tega melihat gadis itu masih menyesali keteledorannya.


" Apa kau sudah selesai berbelanja? " ucapnya datar.


Seroja hanya mengangguk, ia tak berani banyak bicara karena tahu mood pria itu sedang kurang baik saat ini.


Arkana melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota. Seroja perlahan mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Ia menatap kesisi jalan, rasanya aneh sekali sebab jalan tersebut bukan jalan menuju ke mansion keluarga Pramudya.


Dirinya merasa gelisah, khawatir pria itu punya rencana tidak baik padanya.


" Kau mau membawaku kemana? Apa jangan-jangan kau ingin membuangku dijalan? " ucapnya asal.


Arkana hanya melirik tanpa menjawab, ia heran gadis itu selalu berpikiran buruk tentangnya. Tapi, ia masih kesal padanya.


Selang beberapa menit, mobil berhenti di sebuah bangunan apartemen mewah yang ada dibilangan ibukota. Seroja mendongak ke atas, gedung apartemen itu terlihat begitu tinggi.

__ADS_1


" Ayo turun! " perintah Arkana dengan wajah datar.


" Tidak! Aku mau pulang saja. Kenapa kau malah membawaku kemari? Aulia pasti sudah menungguku dirumah. " tolaknya.


" Turun atau aku akan memaksamu keluar dari mobilku! " paksa Arkana.


Serojapun ikut kesal pada pria itu, sikapnya kembali seperti saat pertama mereka bertemu. Kalau bukan Arkana putra majikannya, pasti sudah ditonjok muka pria itu sekarang. Dengan terpaksa ia mengikuti pria itu menuju apartemen.


Keduanya menaiki lift yang ada dilantai atas, Seroja begitu takjub dengan pemandangan yang terpampang dari balik kaca lift. Meskipun dirinya seorang mahasiswa, namun ia hampir tidak pernah kemana-mana. Ia selalu pulang setelah kuliah, lalu berdagang gorengan setelahnya.


Arkana tersenyum sinis saat melihat ekspresi Seroja yang begitu terpukau melihat pemandangan diluar sana.


" Dasar kampungan. " gerutunya.


Pintu lift terbuka, Seroja mengikuti pria itu dari belakang. Pria itu membuka pintu apartemen yang sudah lama tidak pernah ia kunjungi. Iapun masuk kedalam apartemennya.


" Hei, apa kau ingin diluar saja seperti itu? Kalau kau tidak mau masuk aku akan menguncimu dari luar." Arkana kesal sebab gadis itu hanya berdiri di depan pintu sambil mengamati ruangan yang ada di dalam apartemennya.


Seroja yang sedari tadi menatap takjub pada ruang apartemen mewah itupun terkejut mendengar pria itu membentaknya. Iapun segera masuk kedalam apartemen tersebut.


" Jangan duduk disana, aku tidak mau kau mengotori sofaku dengan bajumu yang kotor dan bau itu. Berdiri saja disitu ! " perintah Arkana. Sebab ia tahu baju Serojapun kotor tersenggol olehnya saat hendak membantunya berdiri.


Seroja memberengkut kesal, pria itu benar-benar tega. Kalau tahu dirinya hanya disuruh berdiri saja disana, mungkin lebih baik tadi ia menunggu saja diluar.


Arkana masuk ke salah satu kamar, setelah beberapa saat iapun kembali sambil membawa baju dan handuk ditangannya.


" Ini pakailah. Kau bisa mandi di kamar mandi yang ada disana. Aku tidak suka melihat gadis jorok dan bau sepertimu. "ejeknya sambil menyodorkan sebuah pakaian pada Seroja.


Gadis itu menatap heran pada baju yang diberikan padanya,


" Pakaian wanita? Sungguh aneh. Aku tidak suka pakaian seperti ini. Lebih baik aku memakai kaos dan celana milikmu saja. " pintanya pada Arkana. Ia memang terbiasa memakai kaos oblong, jaket dan celana longgar dalam kesehariannya.


" Dasar gadis aneh? Memangnya kau wanita atau bukan? Enak saja mau memakai pakaianku, aku tidak terbiasanya memakai pakaian bekas orang lain. Disini hanya ada baju kesukaanku. Kalau kau tak mau, aku tidak akan membawamu pulang ke mansion. " ancam Arkana.


Dengan terpaksa Seroja mengikuti keinginan pria itu, untung saja itu hanya pakaian biasa bukan pakaian yang terlalu seksi dan minim seperti pacar Arkana waktu itu.

__ADS_1


Arkanapun segera masuk ke kamarnya, ia sebenarnya sudah tidak tahan dengan kotoran lumpur dan bau ikan yang melekat di badannya. Ia segera membersihkan diri dikamar mandi supaya bau itu segera lenyap dari tubuhnya.


Arkana keluar dari kamarnya sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah. Ia merasa jijik sendiri, bau ikan itu seperti tidak mau hilang dari kepalanya.


" Kau sudah selesai? " panggilan Seroja mengalihkan perhatian lelaki itu. Arkana menatap gadis yang ada didepannya, dirinya cukup terkejut menatap perubahan Seroja kali ini.


" Hei,, kenapa kau menatapku seperti itu? " ucapan Seroja kembali mengagetkannya, secara spontan pria itu melempar handuk kecil ditangannya kearah Seroja.


" Cepat bantu aku mengeringkan rambutku dengan handuk itu. Rasanya aku masih jijik menyentuh rambutku sendiri. " sangkalnya berusaha mengalihkan perhatian.


Seroja memberengkut, tapi iapun merasa harus ikut bertanggung jawab atas apa yang menimpa Arkana barusan. Dengan terpaksa iapun menuruti kemauan pria tersebut.



" Yang benar menggosoknya, jangan kau pencet-pencet kepalaku seperti itu. " gerutu Arkana.


Seroja memang sengaja memencet kepalanya sebab pria tersebut sungguh bawel menurutnya. Sedari tadi ia harus mendengarkan celotehan lelaki itu yang selalu menyalahkannya atas kejadian di pasar tadi.


" Ayo, aku sudah menggosok rambutmu. Kapan kita kembali ke mansion. Aulia pasti menunggu kita. " pintanya memelas.


" Kau cucikan bajuku terlebih dahulu, setelah itu baru kita kembali. Mesin cuci ada disana, baju kotorku ada dikamar mandi. " Arkana kembali memerintahnya.


Seroja mencebik kesal, tapi kali ini ia enggan membantah. Lebih cepat lebih baik menurutnya.


Dirinyapun memasuki kamar Arkana hendak mengambil pakaian kotor pria itu.


Ceklek...


Gadis itu memasuki kamar Arkana, dirinya dikejutkan oleh begitu banyak foto yang tertempel disana. Dalam foto tersebut Arkana terlihat bahagia bersama seorang gadis bermata biru yang begitu cantik. Begitu banyak moment yang mereka abadikan lewat foto- foto yang tertempel disana.


" Siapa gadis ini? Apa dia cinta pertama Arkana?" Seroja masih berdiri mematung memandangi foto-foto yang ada dihadapannya.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku ya. Dukungan kalian semangat Author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...

__ADS_1


__ADS_2