
Tak terasa sebulan telah berlalu, tinggal menunggu hitungan hari Seroja akan resmi menjadi istri Arkana. Gadis itu sudah mengambil cuti kuliah beberapa hari sebelum resepsi pernikahannya digelar.
Arkanapun demikian, setelah ia lulus kuliah dirinya mulai ditempatkan di salah satu perusahaan Papanya untuk penyesuaian. Rencananya Alvin akan meresmikan pengangkatan putranya setelah dirinya menikah nanti.
Bianca dan Alvin sudah mulai menyiapkan segala sesuatu guna terselenggarakannya pesta pernikahan putra sulungnya. Seluruh keluarga dan kerabat dekat sudah mulai berkunjung ke kediamannya sebelum hari pernikahan tiba.
Ia memperkenalkan Seroja kepada seluruh kerabat karena kebetulan gadis tersebut memang tinggal disana. Bianca menceritakan siapa Seroja sebenarnya. Gadis itu senang sepertinya keluarga besar Arkana bisa menerimanya dengan baik.
Ting...Tong...
Terdengar bel rumahnya berbunyi, Bu Yani segera membukakan pintu sebab ia yakin pasti saudara majikannya yang datang.
" Assalamualaikum,, selamat malam Bi. " Sapa wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik diusianya yang hampir menginjak angka lima.
" Wa'alaikumsalam,, Nyonya Dinda! Mari silahkan masuk." Bu Yani begitu senang mengetahui siapa yang datang. Ia segera memberitahukan kedatangan keluarga Dinda-Dion ke Indonesia.
Kali ini mereka hanya datang bersama Arzel sebab mereka memang ada kepentingan menyangkut putranya itu, selain menghadiri pernikahan putra sulung sahabatnya. Bianca dan Alvin serta putri kecil mereka,Killa segera menyambut kedatangan mereka.
" Dinda-Dion- Arzel . Selamat datang kembali di Indonesia. Mana mama Viana dan Daffa? Apa mereka tidak ikut kemari? " Sapa Bianca dan Alvin menyambut sahabat baiknya tersebut. Killa begitu senang melihat kedatangan mereka, gadis kecil itupun mencium tangan satu persatu tamu kedua orang tuanya.
Dinda membalas pelukan hangat sahabatnya itu. Merekapun akhirnya duduk bersama diruang tamu.
" Kami baru datang tadi pagi. Maaf Bie, Mama dan Daffa tidak bisa hadir. Kondisi kesehatan Mama kurang baik. Aku meminta Daffa untuk menemaninya. Kami sedang ada urusan mengenai Arzel disini." jelas Dinda pada sahabatnya.
Arzel yang merasa disinggung segera berdiri dan berpamitan untuk mencari udara diluar rumah. Ia enggan mendengar sang Mama yang pastinya akan menceritakan apa yang terjadi padanya.
Semua mata tertuju pada Arzel saat pria tersebut berjalan keluar mansion. Pemuda itu begitu tampan, namun dari penampilannya ia seperti pemuda urakan.
Bi Sumi menyentil pinggang Bi Yani,
" Bi, itu anaknya Nyonya Dinda perempuan apa laki-laki to? Lha kok pake anting kayak gitu. Itu mukanya juga rada bonyok kayak habis berantem. " Bisiknya pada Bu Yani.
Wanita itu memukul pelan pundak Bi Sumi,
" Hush..kamu itu ada-ada aja. Dari dulu anaknya Pak Dion itu kan cowok, masak bisa jadi cewek. Iya, aku juga heran koq bisa beda banget sama Mama Papanya. " tambah Bi Yani seraya memandangi seluit pemuda itu yang berjalan keluar mansion.
" Bi Yani, tolong ambilkan minuman untuk tamuku ya?" permintaan Bianca itu sama sekali tidak digubris oleh pelayannya tersebut.
Bi Sumi kembali menyentil Bi Yani yang terlihat sedang melamun.
" Eh copot, Eh copot, Eh copot. " perempuan itu tiba-tiba latah karena kaget, membuat semua yang ada disana tertawa melihatnya.
" Summi ini ngagetin saja. Ada apa sih!." ia menepuk pundak Bi Sumi karena malu jadi perhatian banyak orang.
" Lha yo Bi Yani melamon teros. Ndak denger apa tadi Nyonya minta tolong suruh buatin minom. " jelas Bi Sumi heran.
__ADS_1
" Ba,, baik Nyonya." Bi Yani meringis saat dirinya baru menyadari majikannya itu melihatnya sedari tadi. Iapun segera kebelakang untuk membuat minuman. Bianca geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua pelayannya tersebut.
Bianca fokus pada sahabatnya kembali. Keduanya saling bertukar kabar, Dinda menanyakan perihal kedua anak sahabatnya yang lain.
" Dimana Arkana dan Aulia? Kenapa mereka tidak terlihat sedari tadi? " tanya Dinda sambil memperhatikan sekitar.
" Arkana ada di mansion Omanya. Kau tahu, orang tuaku selalu mengatakan bahwa pasangan suami istri tidak boleh bertemu dahulu sebelum akad tiba. Calon menantuku ada disini, jadi putraku yang ku ungsikan kesana. Aulia ada di kamarnya, dia tidak akan turun sebelum aku memanggilnya. Dia terlalu cinta dengan buku dan kamarnya. " jelasnya pada Dinda. Sedikit banyak ia sudah menceritakan asal usul calon menantunya pada sahabatnya itu melalui sambungan telepon.
" Jadi calon menantumu ada disini? Dimana dia? Aku ingin sekali bertemu dengannya." ungkap Dinda bersemangat.
" Itu dia disana. " Bianca menunjuk ke arah belakang, tapi dirinya terkejut saat Seroja tidak ada disana.
" Maaf,ku pikir dia masih ada disana. Sebentar, aku akan mencarinya. Kau tunggulah disini. " Bianca beranjak dari tempat duduknya.
...----------------...
Arzel berjalan mengelilingi sekitar mansion, ia malas jika harus terus-terusan di dalam sambil mendengarkan ibu-ibu ngrumpi. Ia yakin Mamanya pasti akan menceritakan masalah yang menimpanya pada sahabat Mamanya itu.
Dirinya menuju taman samping mansion,
" Aku pasti bisa melihatnya dari sana. "
Pria itu bersembunyi di balik tembok. Benar saja, dari sana ia bisa melihat seseorang yang selalu dirindukannya selama ini.
Auli memang terbiasa membaca dari dekat balkon rumahnya. Ia lebih senang belajar sambil menghirup udara luar ruangan.
" Kutu buku itu sama sekali tak berubah.
Rasanya tak bosan-bosan dirinya menatap gadis tersebut. Ia merasa Aulia berbeda dengan gadis kebanyakan.
Entah sejak kapan dirinya mulai menyukai gadis itu. Dari kecil, sejak Mamanya sering mengajak dirinya pulang ke Indonesia. Ia sangat senang mengerjai Aulia bersama Arkana. Gadis itu terlihat lucu dan menggemaskan menurutnya, apalagi jika ia sedang marah.
Namun, rasa itu berubah menjadi ketertarikan tersendiri baginya. Justru saat ia mulai beranjak remaja, sulit sekali baginya untuk mendekati ataupun berbicara langsung dengan gadis tersebut. Aulia sangat membencinya, ia selalu beranggapan bahwa Arzel adalah pria jahil dan menyebalkan baginya.
Tanpa ia sadari, seseorang mengamatinya sedari tadi. Seroja yang kebetulan baru saja keluar, merasa kaget saat melihat seseorang bertampang preman seolah sedang mengintai sesuatu dari balik tembok.
" Hei, siapa kau! Kau pasti mau mencuri disini ya? " teriakan Seroja mengalihkan perhatian Arzel, pria itupun tak kalah kagetnya saat melihat seorang gadis berkacak pinggang dan bersiap menantangnya.
" Siapa yang kau bilang pencuri? Memangnya kau ini siapa? " Arzel tak terima, ini juga pertama kali dirinya bertemu gadis tomboi itu.
Tiba-tiba Seroja menyerangnya, ia yakin pemuda itu bukan orang baik-baik sebab tingkahnyapun terlihat begitu aneh.
Buughhh...Buughhh...Buughhh...
__ADS_1
" Hup !" Arzel berusaha menghindar dan menangkis serangan dari Seroja.
Aulia yang asyik membaca begitu terperanjat saat melihat keributan yang ada dibawah. Ia memperhatikan dengan seksama, dirinya semakin kaget saat melihat siapa yang sedang berkelahi. Buru-buru ia berlari dan turun dari kamarnya.
Seisi mansion pun heran, mereka seperti mendengar seseorang yang sedang berkelahi. Perhatian mereka kini tertuju pada Aulia yang berlari dari atas tangga.
" Ma, Pa,, Seroja dan Arzel berkelahi diluar. " teriaknya sambil berlari keluar.
Alvin, Bianca, Dinda dan Dion tak kalah terkejutnya. Merekapun segera berlari menyusul Aulia. Semua mata tercengang melihat kedua orang yang sedang berkelahi itu. Pak Udin dan Pak Supri memegangi keduanya untuk melerai.
" Lepaskan Pak,seharusnya Bapak tangka pria itu. Dia mau mencuri disini." teriak Seroja .
" Apa katamu? Kau jangan sembarangan menuduh. " Arzel tak terima, ia berusaha melepaskan diri.
Aulia segera menghampiri Seroja,
" Seroja, hentikan! Dia anak sahabat Mam dari Amerika. " jelas Aulia padanya.
Seroja terbelalak seketika, ternyata dirinya salah menuduh seseorang. Pak Udin dan Pak Supri segera melepas keduanya setelah mereka agak tenang.
Arzel menatap tajam keduanya,
" Oh ternyata kau teman si cupu tengil itu, pantas saja kalian berdua sama-sama aneh. Dasar gadis bar-bar! " ucapnya kesal seraya membenarkan jaketnya.
Aulia kini yang jadi terpancing oleh omongan Arzel,
" Apa kau bilang? Kenapa aku jadi dibawa-bawa dalam masalah ini. Dasar lelaki jadi-jadian! " ejek Aulia.
Kedua orang tua mereka segera menghampiri saat suasana semakin panas.
Bianca dan Alvin mendekati putri dan calon menantunya. Ia menyesalkan sikap keduanya pada Arzel.
" Dion, Dinda aku minta maaf atas sikap kedua putriku ini. Mereka sepertinya salah paham. Seroja,,perkenalkan dia Arzel, putra sahabat Mama,, Tante Dinda dan Om Dion. " jelasnya pada Seroja.
" Aulia,, jaga sikapmu, Mama tidak mau hal ini terulang lagi. Mereka adalah tamu kita. Cepat kalian minta maaf padanya."
Bianca memperingatkan putrinya, lalu iapun menatap Arzel.
" Arzel,, perkenalkan ini Seroja. Dia adalah calon istri Arkana. Maaf atas sikapnya yang berlebihan tadi. Dia hanya salah paham. "
Arzel terbelalak kaget, ia tak menyangka istri seorang Arkana adalah gadis bar-bar seperti itu. Padahal, setahunya pemuda iti memiliki selera yang tinggi.
" Arzel,, ayo cepat kalian bersalaman." paksa Dinda. Iapun sadar kelakuan putranya sendiri memang kurang baik. Dengan terpaksa akhirnya ketiganyapun bersalaman.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...