Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
PENYESALAN ALUNA


__ADS_3

Aluna menangis seketika saat merasakan panas dipipinya akibat tamparan Arkana. Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit yang menyelimuti hatinya saat ini. Dari dulu Arkana selalu bersikap baik dan sangat menghargainya.


Mamanya segera menolong, wanita itupun ikut menangis lantaran perlakuan kasar Arkana pada putrinya. Apalagi dirinya tahu putrinya sedang mendapatkan musibah saat ini. Sejahat-jahatnya seorang anak, seorang ibu pasti akan senantiasa melindungi putrinya. Ia menatap geram pada Arkana.


" Dasar pria tak punya perasaan! Tega-teganya kau memukul wanita lemah seperti putriku." bentaknya berlinang airmata.


" Sudah, Ma. Jangan salahkan Arkana, memang semua ini adalah salahku. Aku yang membuatnya jadi seperti ini. " tahan Aluna. Kedua wanita itu saling memeluk untuk menguatkan.


Arkana merasa iba melihat pemandangan didepannya. Namun, saat dirinya mengingat apa yang telah Aluna lakukan pada keluarganya, seketika amarah dalam dirinya kembali bergejolak.


" Itu belum seberapa dibandingkan penderitaan istriku selama ini akibat ulahmu. Kau pikir aku tidak tahu kaulah dalang dibalik semua yang terjadi di dalam keluargaku. Aku bersumpah akan menjebloskanmu ke penjara dan membuatmu membusuk di dalam sana! " ancamnya berapi-api.


Aluna terkesiap, ia tak menyangka Arkana telah mengetahui semuanya. Akan tetapi, pada kenyataannya dirinya juga hanya dipakai sebagai alat bagi Glenn untuk membalaskan dendam keluarganya. Dirinya memegang lengan Arkana dan berusaha meminta maaf padanya.


" A,,ku minta maaf. Aku telah gelap mata dan menghalalkan segala cara untuk bisa memilikimu. Aku benar-benar menyesali perbuatanku selama ini. Aku hanya dijadikan alat oleh seseorang untuk menghancurkan keluargamu. " ungkapnya dengan sorot mata yang menunjukkan penyesalan.


Arkana menghempaskan tangan Aluna dengan kasar, rasanya sulit untuk mempercayai wanita itu kembali setelah perbuatan yang selama ini Aluna lakukan padanya.


" Kau pikir aku bisa percaya padamu kembali, hah! Keputusanku sudah bulat, aku akan melaporkan perbuatanmu pada pihak yang berwajib dan menjebloskanmu ke penjara. Tunggu saja, aku tidak main-main dengan ancamanku! " pria itu hendak beranjak, tapi Mama Aluna segera mengejar dan berlutut padanya dengan bersimbah airmata.


" Tante mohon, jangan lakukan itu pada putriku. Dia sudah mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya selama ini. Putriku saat ini tengah menderita penyakit berat, dia membutuhkan penanganan khusus. Tante mohon, maafkan Aluna. Kami berjanji akan pergi menjauh dari kehidupanmu setelahnya." tangis wanita paruh baya itu dibawah kaki Aluna.


Arkana cukup terkejut dengan penuturan Mama Aluna. Ia menatap keduanya secara bergantian.


" Apa maksud, Tante? Memangnya Aluna sakit apa?" tanyanya penuh selidik.


Wanita itu mengeluarkan sebuah surat dari dalam tasnya. Selembar kertas berisi hasil pemeriksaan Aluna. Netranya terbelalak seketika saat membaca hasil tes tersebut,


" HIV/AIDS?" gumamnya tak menyangka.


Aluna semakin menangis tersedu-sedu, rasa malu bercampur sesal meliputi perasaannya. Arkana kini tahu yang sebenarnya, iapun yakin pria itu sudah bisa menebak bagaimana perilakunya selama ini. Apalagi masyarakat umum, mereka pasti akan mengucilkannya lantaran hampir sebagian besar beranggapan penyakit ini adalah penyakit hina.


Perlahan ia mendekati Arkana tanpa berani mengangkat wajahnya.


" Aku mohon, beri aku satu kesempatan untuk menebus dosa-dosaku. Aku memang wanita hina dan tidak sebaik yang kau kira. Aku telah bekerjasama dengan musuh keluargamu tanpa aku tahu sebelumnya. Pria itu ingin menghancurkan keluargamu dengan mengadu domba kalian. Dia juga dalang dibalik pembunuhan istrimu waktu itu." terang Aluna bersimbah airmata. Sesekali dirinya terbatuk-batuk akibat sesak yang menghimpit dadanya.

__ADS_1


Wanita itu tidak tahu bahwa sebenarnya Arkana telah mengetahui semuanya. Pria itu mencoba mengorek informasi apakah wanita ini jujur atau diapun masih berani berbohong kepadanya.


" Siapa pria itu? Apa saja yang kau tahu tentangnya?" tanyanya datar.


" Di,, dia bernama Glenn. Dirinya merupakan CEO dari Aryatama Group, dibalik itu ia juga seorang mafia bandar obat-obatan terlarang. Aku tidak sengaja mengenalnya di sebuah club malam langgananku. " ungkapnya jujur.


Wanita itu mulai bercerita panjang lebar mengenai Glenn. Ternyata apa yang Aluna sampaikan sama persis dengan informasi yang ia dapatkan sebelumnya.


" Baiklah. Aku akan mengampunimu jika kau mau memberikan kesaksianmu pada pihak yang berwajib nanti. Tapi jika kau berani berbuat macam-macam? Maka tidak ada maaf lagi bagimu! " ancamnya penuh penekanan.


Arkana segera pergi meninggalkan kedua wanita tersebut. Tubuh Aluna seolah tak berdaya, dirinya cukup shock dengan apa yang ia alami barusan. Sang Mama segera memapah dan membantunya berdiri. Ia meminta bantuan tenaga medis untuk membawa putrinya keruang perawatan.


Aluna tergolek tak berdaya diatas ranjang rumah sakit. Dirinya menatap iba pada wanita tersebut.


" Maafkan aku telah mengecewakan dan mempermalukan Mama selama ini. Aku benar-benar anak tak tahu diuntung. Aku belum bisa membahagiakan Mama bahkan mungkin disisa-sisa umurku ini." rasa percaya dirinya turun seketika mengingat penyakit yang ia derita.


Hati Mama Aluna begitu tersayat mendengarnya kata-kata putrinya tadi.


" Apa yang kau katakan. Mama tidak pernah merasa seperti itu, ini semua merupakan kesalahan Mama juga. Mama justru membantumu berbuat jahat, bukannya menasehati. Mama adalah Mama yang buruk, maafkan Mama. Mari kita ulangi semua dari awal, jadilah gadis yang baik seperti dulu setelah sembuh nanti. " jawabnya berlinang airmata.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengawasi keduanya sedari tadi. Ia melaporkan hasil pengintaiannya pada sang atasan.


Glenn mengeratkan rahangnya karena kesal,


" Brengsek!! Wanita itu benar-benar tidak tahu diri. Aku pasti akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. " ungkapnya geram sambil melempar apa saja yang ada di depannya.


...----------------...


Arzel dan Aulia tengah sibuk menyiapkan kejutan untuk menyambut kedatangan Seroja kembali ke mansion dan kepulangan Mama Bianca dari rumah sakit. Mereka membuat ucapan selamat datang yang ditempel di dinding ruang tamu, sedangkan para pelayan ditugaskan untuk bebersih dan menyiapkan masakan istimewa untuk keluarga.


Aulia naik keatas tangga yang cukup tinggi, dirinya berniat menancapkan tulisan tersebut didinding ruang tamu. Dengan susah payah ia meraih bagian dinding yang cukup tinggi sedangkan Arzel memperhatikannya dari bawah.


" Lebih baik kau turun, biar aku saja yang melakukannya. " pintanya pada Aulia. Ia khawatir sebab gadis itu sepertinya sedikit kepayahan.


" Kau jangan meremehkanku, hal semacam ini sangat mudah bagiku. " ucapnya penuh percaya diri.

__ADS_1


Arzel hanya bisa mengawasinya, benar saja gadis itu bisa melakukannya dengan baik. Aulia tersenyum bangga,


" Kau lihat kan, apa ku bilang. Ini sangat mudah bagiku." ungkapnya bangga sambil menjentikkan jari kelingkingnya.


" Ya sudah, ayo cepat turun. Tidak usah banyak bercanda." Arzel merasa cemas, pria itu memang selalu bersikap protektif pada wanita pujaannya.


Aulia turun dengan begitu bersemangat, tanpa ia sadari dirinya melewatkan salah satu anak tangga.


" Aaaahhhh."


Gadis itu terjatuh, untung saja dengan sigap Arzel menangkap dan mengorbankan tubuhnya sebagai bantalan gadis itu.


Glekkk...


Aulia menelan ludahnya kasar saat posisi keduanya saling bertumpuk dan menengadah ke atas. Apalagi saat ini, tangan Arzel tengah melingkar di pinggangnya.


" Lain kali kau harus lebih berhati-hati. " bisik pria itu dengan bibir yang menempel ditelinga Aulia hingga memebuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika.


Aulia segera berdiri dan menghempaskan tangan Arzel yang melingkar dipinggangnya.


Ia berdiri dan membenahi pakaiannya kembali.


Duughhh...


Bukannya ucapan terimakasih, tapi gadis itu justru menghantamkan sebuah tendangan di paha Arzel hingga membuatnya merintih kesakitan.


" Dasar pria mesum, awas sekali lagi kau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku pasti tidak akan mengampunimu! " bentak Aulia kesal.


Arzel masih meringis menahan sakit sambil mencoba berdiri.


" Kau ini ada-ada saja, aku hanya berniat menolongmu. " jawabnya sembari mengelus puncak kepala Aulia.


Sserrrrrr...


Ada perasaan aneh dalam diri Aulia, entah mengapa hatinya menghangat mendapat perlakuan seperti itu.

__ADS_1


Bersambung....


Maaf buat para pembaca setia sebab author belum bisa membalas koment kalian satu-persatu dikarenakan kesibukan. Makasih untuk semuanya yang selalu mensupport karya author selama ini. Tetap dukung dengan tinggalkan jejak like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Sekali lagu makasih ya,,


__ADS_2