
Arkana mengucek-ngucek matanya seakan tak percaya, ia pikir ini hanyalah ilusinya saja karena terlalu kesal dengan gadis yang merusak mobilnya tadi siang.
Seroja menatapnya dengan penuh kecurigaan, ia pikir pria itu mungkin punya niat buruk dengan keluarga Pramudya. Iapun segera bangun dan berniat memukuli Arkana.
" Awas kau ya ! Kau pasti berniat buruk dengan keluarga ini. Akan kubuat perhitungan denganmu. " Seroja memukuli Arkana yang hendak bangun untuk berdiri.
" Hei,, gadis sinting. Hentikan ! Apa yang kau lakukan padaku! Aarghhh.. " teriak Arkana kesakitan sebab gadis itu terus saja menghujaninya dengan pukulan saat hendak berdiri.
Suara kegaduhan diluar kamar membangunkan Alvin, Bianca dan juga Aulia. Mereka keluar dari kamarnya masing-masing untuk memastikan apa yang telah terjadi diluar.
Ketiganya membelalak seketika saat melihat Seroja memukuli Arkana.
" Seroja, apa yang kau lakukan! " Bianca segera mendekat dan melerai Seroja dengan putranya.
" Nyonya, dia pasti orang yang berniat jahat pada keluarga ini. Bisa-bisanya ia masuk kemansion ini malam-malam seperti pencuri. Kemarin diapun menabrakku saat berjualan di jalan." terang Seroja pada Bianca.
Bianca begitu terkejut mendengar penuturan Seroja, ia segera mencegah saat gadis itu hendak menghajar putranya kembali.
" Hei,, gadis bar-bar! Jangan menuduh sembarangan. Sudah kukatakan aku tidak pernah menabrakmu. Justru kau harus bertanggung jawab karena telah merusak dan mengempesi mobilku. Dasar gadis sialan ! " umpat Arkana kesal. Ia menatap sang Mama dengan tatapan menuntut penjelasan.
" Ma, kenapa gadis gila ini bisa disini? Apa yang dilakukannya dirumah ini ! " lanjutnya bertanya pada Bianca.
Seroja melongo seketika saat pria itu memanggil Bianca dengan sebutan Mama.
" Ma,,ma? Nyonya apa dia putra anda? " tanyanya gugup. Bianca hanya menganggukkan kepalanya, iapun bingung apa yang sebenarnya terjadi antara putranya dengan Seroja.
" Apa kau lihat-lihat! Awas saja aku belum membuat perhitungan denganmu ! " Ancam Arkana saat gadis itu meringis menatapnya.
" Sayang, sudahlah. Kalian jangan bertengkar terus, kemungkinan ini hanya salah paham. Mulai saat ini Seroja dan keluarganya tinggal disini, maaf Mama baru menyampaikannya padamu. " jelas Bianca pada putranya.
" Apa?? Dia tinggal disini? Tidak! Tidak! Aku tidak sudi gadis sinting ini tinggal disini. Bisa -bisa dia membuat masalah dirumah ini. " Arkana melirik sinis ke arah gadis itu. Kali ini Serojapun pasrah bila dirinya harus keluar dari mansion tersebut.
Bianca mencoba menenangkan putranya,
" Arkana dengarkan Mama. Seroja ini adalah cucu Bi Irah, orang yang telah menyelamatkan nyawamu dan keluarga kita dahulu. Mama berhutang budi pada beliau dan beliau menitipkan anak dan cucunya pada Mama. Lagipula, Seroja juga yang telah membantu Papa saat dihadang oleh perampok kemarin. Dialah yang menyelamatkan nyawa Papa. Kita semua berhutang budi padanya. " Bianca mencoba meminta pengertian Arkana.
__ADS_1
Arkana tetap pada pendiriannya, ia tak ingin gadis itu tinggal disana.
" Ma, kalau Mama merasa berhutang budi? Tinggal Mama beri saja dia uang yang banyak, mudah kan? " pinta Arkana pada sang Mama.
" Arkana! Jaga bicaramu. Papa tidak suka anak Papa bersikap tidak sopan pada orang lain. Setidaknya hargai Seroja sebagai tamu kita. " Alvin mulai ikut bicara, ia sudah mulai kesal menghadapi tingkah putranya.
Arkana semakin kesal pada Papanya, namun ia enggan berdebat dengan sang Papa. Iapun pergi begitu saja dan memilih masuk kedalam kamarnya.
Jedderrr...
Suara bantingan pintu mengagetkan semua orang yang ada disana. Seroja merasa tak enak hati sebab gara-gara dirinya Alvin dan Bianca justru bersitegang kembali dengan putranya.
" Nyonya, Tuan. Maafkan saya, kalian jadi bertengkar dengan putra kalian. " sesalnya.
Bianca mendekati gadis itu, iapun sebenarnya merasa tak enak hati sebab ini hari pertama Seroja tinggal disana.
" Tolong, jangan dimasukkan hati. Putraku memang keras kepala, tapi sebenarnya dia baik dan penyayang. " Bianca berusaha mendinginkan suasana.
" Tenang saja, Nyonya. Aku biasa menghadapi yang lebih galak dari itu. Mak,, maksudku yang lebih kasar dari pada putra anda. " Seroja membenahi perkataannya. Iapun berpamitan untuk istirahat dikamarnya.
Malam semakin larut, Seroja tak kunjung dapat memejamkan matanya. Ia teringat akan pertengkarannya dengan pria yang baru ia ketahui bernama Arkana.
Ia mulai mengingat kejadian saat mobil mewah itu menabraknya. Dirinya memang tidak tahu pasti siapa yang menabraknya waktu itu. Hanya saja mobil dan plat nomornya sama persis dengan milik Arkana.
" Manamungkin aku salah, aku sangat hafal dengan mobil itu. Tapi? Kenapa dirinya masih saja tidak mau mengakui bahwa dia yang menabrakku? " pertanyaan tersebut selalu berputar diotaknya.
" Aku harus menemuinya besok pagi dan meminta penjelasan padanya. " tekadnya dalam hati sebelum memejamkan matanya.
...----------------...
Pagi telah menjelang, keluarga Pramudya telah menyelesaikan sarapannya pagi ini, terkecuali Arkana. Pria itu sepertinya masih tidur dikamarnya karena tidur sangat larut semalam.
Seperti biasa Alvin berangkat ke kantornya, Bianca mengantar Killa menuju ke sekolah dan Auliapun telah berangkat kuliah pagi ini. Intanpun telah berangkat ke sekolah bersama Pak Kusno.
" Sepertinya ini kesempatan bagiku untuk menemui pria gila itu. " batin Seroja dalam hati.
__ADS_1
Gadis itu mengendap- endap menuju lantai atas. Ia mengetuk pintu kamar Arkana, tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Ceklek...
Pintu kamar Arkana ternyata tidak dikunci. Seolah mendapat angin segar, gadis itupun masuk secara perlahan menuju kamar Arkana.
" Untuk apa aku masuk kesini, dasar bodoh! Bagaimana jika pria gila itu bangun dan menuduhku yang bukan-bukan. Lebih baik aku keluar saja sebelum dia melihatku. " ucapnya berbicara seorang diri.
Iapun mengurungkan niatnya dan memutuskan hendak keluar dari kamar tersebut. Namun, tiba-tiba Arkana memanggilnya. Ternyata pria itu sudah terbangun dari tidurnya.
" Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sengaja ingin menggodaku gadis sinting? " sindir Arkana saat mengetahui gadis itu berani memasuki kamarnya.
Seroja benar-benar tertangkap basah kali ini, ia tak mungkin untuk pergi begitu saja dari kamar tersebut. Gadis itu mencoba memutar otaknya dan berjalan menuju ranjang Arkana berada. Terlihat pria itu sedang duduk diatas ranjang sambil menyilangkan kedua tangannya.
" Dasar pria gila! Untuk apa aku menggodamu? Aku kemari ingin menuntut penjelasan darimu karena kau selalu saja tidak mau mengakui bahwa kau telah menabrakku! Sekarang cepat mengaku dan minta maaf padaku. Aku akan anggap masalah kita impas sekarang. " ancam Seroja.
" Sudah berkali-kali kukatakan, aku tidak pernah menabrakmu. Yang menabrakmu waktu itu adalah temanku, aku punya bukti-bukti atas semuanya. Tapi, kau justru malah merusak mobilku. Dan kau harusnya masih ingat akan janjimu yang akan membayar ganti rugi atas kerusakan mobilku waktu itu sebelum kau melarikan diri bukan? " ungkap Arkana menyindir Seroja.
" Ten,, tentu saja aku ingat. Aku bukannya melarikan diri, tapi aku hanya belum memiliki uang. Kau tenang saja, aku pasti akan membayar ganti rugi kerusakan mobilmu. " ucapnya gugup.
Arkana tersenyum sinis, ia tidak percaya gadis itu bisa membayar ganti rugi.
" Heh,, bagaimana aku bisa percaya padamu, sedangkan untuk hidup saja kau harus menumpang di tempatku. Apa sebaiknya aku bercerita pada Mama kalau kau berhutang padaku dan merusak mobilku? Mungkin dia akan langsung menendangmu darisini. " ancam Arkana kembali.
" Jangan ! Baiklah, begini saja. Aku akan membayar hutangku dengan mencicil. Kebetulan aku akan bekerja disini sebagai pelayan. Aku akan memberikan sebagian gajiku padamu untuk melunasi semuanya. " Seroja mencoba menawar. Ia masih berharap ibunya sembuh terlebih dahulu sebelum ia meninggalkan rumah itu.
Arkana tampak berpikir,
" Baiklah. Aku biarkan kau mencicil hutangmu. Tapi ingat, aku bisa saja melaporkanmu ke kantor polisi jika kau berbohong. Sekarang, cepat pergi dari sini. Aku muak melihatmu terlalu lama ! " bentak Arkana kesal.
Serojapun segera berlari meninggalkan kamar tersebut. Arkana tertawa penuh kemenangan setelahnya.
" Kena kau ku kerjai gadis sinting. Lumayan, untuk tambah-tambah uang jajanku. " gumamnya senang.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..