
Arkana segera kembali ke mansion setelah menyelesaikan misinya. Pria itu memarkirkan mobilnya dihalaman mansion. Sebelum keluar ia melirik bangku yang ada di sampingnya. Seutas senyum terukir diwajah tampan pria tersebut.
" Rasanya sepi juga tidak ada Seroja. Aku sedikit merasa kehilangan sosoknya, meskipun dia sering merecokiku. " batin Arkana dalam hati.
Pria itu lalu masuk ke dalam rumahnya, suasana cukup sepi kali ini. Ia menuju ruang keluarga, nampak Aulia sedang bermain dengan Killa disana. Gadis kecil itu berlari dan berhambur ke pelukan Arkana saat melihat kedatangannya.
" Kakak, aku mau main sama kakak. Mama sakit. " ucap Killa dengan manjanya sambil mengerucutkan bibirnya.
Arkana terkejut mendengar penuturan Killa adiknya. Memang dirinya cukup heran, tidak biasanya jam segini Aulia turun dan mengasuh adiknya. Biasanya gadis itu lebih sering menyibukkan diri dengan belajar dikamarnya.
Arkana menghampiri Aulia sambil menggendong Killa yang bergelayut dipundaknya.
" Apa benar Mama sedang sakit? " tanyanya cemas.
Aulia mengangguk mengiyakan,
"Iya. Barusan dokter keluarga telah memeriksanya. Beliau berpesan agar Mama tidak boleh terlalu lelah apalagi stress. Mama harus lebih banyak beristirahat. " jelas Aulia.
Arkana membuang nafas kasar, ia yakin Mamanya pasti terlalu banyak menyimpan beban pikiran akibat kejadian kemarin. Ia menyesal, karena ulahnya seluruh orang jadi menanggung akibatnya.
Pria itu mengamati sekitar. " Apa Seroja juga belum mau keluar dari kamarnya?"
Aulia tampak murung, ia merasa iba jika ditanya mengenai sahabatnya itu.
" Dia sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Aku takut dia juga akan jatuh sakit sebab sedari pagi dirinyapun tidak mau sarapan. Aku sudah beberapa kali mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada jawaban darinya. " ungkap Aulia cemas.
Arkana benar-benar kebingungan saat ini, satu masalah hampir terselesaikan tapi masalah lain telah menantinya. Iapun sebenarnya kasihan terhadap Seroja, namun dirinya tak tahu harus berbuat apa.
Malam menjelang, seluruh anggota keluarga dan Intan telah berada di meja makan.
Bianca menatap bangku Seroja yang kosong. Hatinya trenyuh, ia yakin gadis itu masih begitu terpukul atas kejadian kemarin. Dirinyapun sebenarnya enggan untuk makan malam, tapi Alvin berhasil memaksanya. Suaminya tidak ingin dirinya bersikap egois, masih ada Killa dan anak-anak yang sangat membutuhkannya.
" Intan, apa kau tidak membujuk kakakmu untuk ikut makan malam bersama? " tanyanya pada adik Seroja, mereka biasanya menuju ruang makan bersama-sama.
Intan terlihat begitu cemas dan gugup saat mendapat pertanyaan dari Bianca. Netranya berkaca-kaca, iapun bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
" Tadi aku mengetuk pintu kamar kakak, tapi beberapa kali kupanggil ia sama sekali tak menjawab. Saya takut terjadi apa-apa padanya, Nyonya. Bolehkah saya tahu, ada apa sebenarnya? Kenapa akhir-akhir ini kalian terlihat murung? Terutama kakak, dia sering mengurung diri dikamar."
Gadis itu mengeluarkan semua pertanyaan yang tersimpan dihatinya, airmatanya tak terbendung lagi. Meskipun belum cukup umur, tapi dirinya bisa merasakan ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh keluarga tersebut.
Biancapun ikut terbawa suasana, ia tak sanggup melihat gadis yang beranjak remaja itu bersedih hati. Akhirnya, wanita itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Seroja dan keluarganya. Dengan bahasa yang halus dan penuh kehati-hatian, ia berharap Intan dapat memahami semuanya.
" Maafkan aku karena menyembunyikan hal ini dari kalian, terutama ibumu. Seroja memintaku untuk melakukannya lantaran ia tak ingin kesehatan ibunya yang sudah mulai membaik kembali terganggu." jelas Bianca.
" Tunggu! Kau bilang kakakmu tidak mau menjawab dan keluar saat kau memanggilnya? Aneh sekali, sedari tadi aku memanggilnya juga tidak ada jawaban dari dalam. " sela Aulia ditengah perbincangan keduanya.
Bianca yang mendengarnya semakin cemas, ia takut Seroja berbuat nekad.
" Mama akan memeriksanya. " ia segera berdiri dan mendatangi kamar Seroja. Anggota keluarga yang lain jadi ikut panik, merekapun ikut menyusul dirinya menuju ke kamar Seroja.
Bianca kembali memanggil gadis itu, tetapi hasilnya sama seperti sebelumnya, Seroja tak mau menjawab. Akhirnya iapun terpaksa membuka pintu kamar tersebut yang ternyata tidak dikunci.
Ceklek...
Dirinya terkejut saat tidak menemukan siapa-siapa di sana. Ia hanya menemukan secarik kertas yang terletak di atas ranjang. Ternyata gadis itu menulis sebuah surat untuknya.
Tubuh Bianca melemas seketika saat membaca surat tersebut. Ia terduduk tak berdaya di atas ranjang Seroja. Arkana dan Aulia segera menghampiri sang ibu untuk memastikan apa yang terjadi.
" Ma, apa yang terjadi sebenarnya? Kemana perginya Seroja?" tanya Arkana menggebu-gebu. Ia yakin gadis itu menuliskan sesuatu yang penting pada surat yang berada ditangan sang Mama.
Bianca tak sanggup berkata-kata, ia menyerahkan sepucuk surat tersebut pada putranya.
Arkana membaca surat tersebut dengan seksama. Ia heran sekaligus cemas, bagaimana gadis itu bisa mengambil tindakan sebodoh ini?
Ia kembali menatap sang Mama, terlihat pandangan wanita itu kosong dan begitu menyedihkan. Aulia memeluk sang Mama untuk menguatkannya.
Arkana duduk disamping Mamanya, ia menatap sendu pada wanita yang telah melahirkannya.
__ADS_1
" Mama tidak perlu khawatir. Aku berjanji akan membawa Seroja kembali kesini." Iapun ikut memeluk sang Mama. Ketiganya kini larut dalam haru.
...----------------...
Petang menjelang, Seroja akhirnya tiba dikampung halamannya dengan menaiki bus umum. Ia langsung turun dari bus dan menatap sendu pada desa tempat ia dilahirkan.
Sudah beberapa tahun ia meninggalkan kampung halamannya. Tempat itu kini telah banyak berubah, perkampunganpun sudah mulai padat penduduk. Namun, hal tersebut tidak mengurangi keasrian desa yang masih begitu segar udaranya.
Ia kembali teringat akan masa lalunya yang begitu pahit. Ketika sang ayah berniat menjualnya pada seorang rentenir karena tak mampu membayar hutang. Untung saja dirinya berhasil melarikan diri ke kota bersama ibu dan adiknya waktu itu.
Kini hal yang sama sepertinya akan terulang kembali. Rasanya ia enggan untuk bertemu bandot tua yang hendak memperistrinya dahulu. Iapun sangat kesal pada sang ayah, tega-teganya pria itu mengorbankan anaknya sendiri.
Namun, ketika melihat kondisi sang ayah yang babak belur dan tak berdaya seperti video kemarin. Hatinya terketuk untuk segera menolong pria tersebut. Seburuk-buruknya kelakuan lelaki tersebut, dirinya tetap Bapak yang harus ia hormati.
Seroja bingung dengan tujuannya kali ini. Hari telah larut, ia tak mungkin langsung menemui Juragan Jarot. Dengan ragu ia berjalan menuju rumahnya, barangkali saja orang tersebut telah membebaskan Bapaknya.
Ia menatap miris pada sebuah rumah kecil yang kini terlihat begitu kumuh dan tak terawat. Mau bagaimana lagi? Sang ayah adalah seorang lelaki yang tak terlalu mementingkan kebersihan. Jika semua masih seperti dahulu, pria tersebut mungkin jarang dirumah dan lebih sering berjudi dan mabuk diluar.
Ia mengetuk pintu, tetapi tak ada sahutan dari dalam. Saat dirinya mencoba memutar gagang pintu, ternyata rumah tersebut telah terkunci.
" Sepertinya aku harus segera ke tempat juragan jarot. "
Dengan segera ia menuju sebuah rumah yang terkenal paling besar dikampungnya. Penjagaan begitu ketat disana, ia berusaha untuk dapat menembus penjagaan tersebut. Sambil menunggu waktu yang tepat, ia berjalan memutar dan melompat melalui tembok belakang rumah tersebut.
Usahanya kali ini berhasil, ia berjalan mengendap-endap kemudian mencari-cari keberadaan sang ayah.
" Dimana aku bisa menemukannya? Rumah ini memiliki banyak kamar, aku takut justru aku masuk ruangan yang salah. " batinnya kebingungan saat tiba di sebuah lorong dimana tempat itu terdiri dari beberapa kamar.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang yang berjalan kearahnya. Ia segera bersembunyi di balik tembok. Dua orang pria terdengar saling mengobrol.
" Bagaimana keadaan pria gila itu? Apa dia sudah sadar? Aku tidak mau dia sampai mati, aku membutuhkannya hidup-hidup. " ucap seseorang yang sepertinya majikan pria disampingnya.
" Tadi pria itu sudah sadar, Juragan. Dia meronta-ronta sambil mengumpat ingin dilepaskan. Kami menyuntikkan obat tidur supaya dia tidak membuat keributan." jawab pria lainnya.
Juragan Jarotpun segera pergi setelah memastikan keadaan, sedangkan pria tersebut berjalan menuju ke salah satu kamar yang ada disana.
Seroja mengikuti pria itu hingga masuk ke salah satu kamar,
Ia menunggu pria tersebut keluar dari sana, kemudian secara diam-diam dirinya masuk kedalam sana setelah memastikan pria itu telah pergi.
Tap..Tap..Tap..
Langkah kakinya terdengar menggema didalam ruangan gelap dan sedikit pengap tersebut. Dirinya mencoba mencari keberadaan saklar lampu. Sambil berjalan perlahan, ia meraba-raba sisi tembok berharap menemukan saklar lampu.
Tek..
Cahaya memendar menerangi kamar tersebut. Hati Seroja tersayat rasanya melihat sosok sayang ayah yang lemah tak berdaya dengan beberapa luka lebam di bagian wajah dan tubuhnya. Kedua tangannya diikat keatas, pria itu sepertinya tak sadarkan diri.
Gadis itu berhambur memeluk sang ayah. Air matanya berderai seketika lantaran tak sanggup melihat keadaan pria paruh baya tersebut. Ia menepuk-nepuk pipi ayahnya agar pria itu kembali sadar.
" Bapak,, bangun Pak! Kita harus segera pergi dari sini." ucap Seroja perlahan. Beberapa kali ia menepuk dan memanggil-manggil sang ayah.
Pak Anwar mengerjapkan kedua matanya ketika samar-samar mendengar seseorang memanggilnya. Ia begitu terkejut saat mengetahui putrinya telah berada di sana.
" Seroja?" panggilnya lemah, netranya berkaca-kaca menahan kerinduan terhadap putri sulungnya.
" Mari,, kita harus segera pergi dari sini sebelum anak buah juragan Jarot datang kesini. " Seroja memperhatikan sekeliling sambil berusaha melepaskan ayahnya.
Pak Anwar tak sanggup membendung air matanya, ia menggeleng lemah saat gadis itu berusaha melepaskan ikatan tali yang menjeratnya.
" Jangan Nak, biarkan Bapak tetap disini. Kau pergilah dari sini sebelum anak buah juragan Jarot menemukanmu. Jangan pedulikan Bapak. " ungkap pria itu memohon. Ia tak ingin putrinya terancam bahaya.
Seroja menatap nanar ke arah sang ayah,
" Tidak ! Aku tidak akan pergi tanpa Bapak. Kita harus pergi dari sini bersama-sama." bantah Seroja sambil terus berusaha melepaskan ikatan ayahnya.
Pak Anwar pun menuruti gadis tersebut. Setelah Seroja berhasil melepaskan ikatannya, ia membawa sang ayah berjalan perlahan meninggalkan ruangan tersebut. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, saat keduanya hendak keluar ternyata juragan Jarot telah mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
" Akhirnya kau datang juga gadis manis." ucap juragan Djarot menyeringai senang.
" Aku sudah tak sabar menunggu kedatanganmu. Kau semakin cantik sekarang. " lanjutnya menatap Seroja dengan pandangan yang sulit diartikan. Pria itu berjalan mendekatinya.
" Apa kabar, Sayang? " Ia menoel dagu gadis itu.
Seroja ingin menangkis, namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa lantaran membopong sang ayah yang tak berdaya.
Juragan Jarot memberi kode pada beberapa anak buahnya untuk menangkap kembali Pak Anwar.
" Lepaskan bapak! Apa maumu sebenarnya?" bentak Seroja. Ia tak mampu menolong ayahnya, dengan terpaksa ia membiarkan anak buah juragan Djarot menangkap kembali pria tersebut.
" Tenang, Sayang. Aku tidak akan menyakiti Bapakmu, aku sangat merindukanmu. Kau tahu bukan? Dari dulu aku ingin kau menjadi istriku. Kalau kau mau menurut pasti hal ini tidak akan terjadi." ucap pria itu kembali menatap penuh damba pada Seroja.
Seroja mendengus kesal, amarahnya ikut terpancing mendengar penuturan lelaki tak tahu diri tersebut.
" Jangan harap aku mau menjadi istrimu. Sampai kapanpun aku tidak mau menjadi istri lelaki kejam sepertimu! " gertaknya.
Juragan Jarot menyeringai licik,
" Sudah takdirmu menjadi istriku. Bapakmu telah menjualmu padaku untuk melunasi hutang-hutangnya. Jadi kau tidak bisa menolaknya. Ayolah, Sayang. Aku tidak peduli meskipun kau bekas orang lain. Aku yakin aku masih bisa memuaskanmu. " Pria itu melecehkannya.
" Apa maksudmu berkata seperti itu? " ia menatap tajam bandot tua itu.
Juragan Jarot kembali tersenyum sinis.
" Tubuhmu yang bohai itu telah terpajang dimana-mana. Kau tak perlu munafik, aku bisa memberikan segalanya untukmu. "
Amarah Seroja tak terbendung lagi, ternyata pria itupun telah mengetahui berita tentangnya. Meskipun hal itu tidak benar, ia sadar tidak semua orang akan percaya padanya.
Duuughhh...
Satu tendangan keras ia layangkan saat pria itu hendak menyentuh tubuhnya. Ia tak terima dilecehkan seperti itu.
" Jaga bicaramu bandot Tua tak tahu diri! Aku bukan wanita murahan seperti yang kau pikirkan." bantah Seroja tak terima.
Juragan Jarot mencoba berdiri sambil membersihkan setetes darah yang keluar dari hidungnya. Pria itu ikut terbakar emosi,
" Gadis sialan ! Aku telah berbaik hati padamu, tapi kau memang tidak bisa dikasih hati." gertaknya pada Seroja.
" Kalian! Siksa saja Bapak gadis ini sampai dia mau menurut." perintah pria itu pada anak buahnya. Merekapun memukuli Pak Anwar tanpa perasaan, pria itu mengerang kesakitan apalagi memang dirinya sudah tak berdaya.
Seroja semakin berapi-api.
" Jangan sakiti Bapakku! " ia menghampiri beberapa lelaki itu dan melawan mereka habis-habisan.
Pertempuran sengitpun akhirnya terjadi, juragan Jarot tak menyangka jika gadia itu sangat pandai bela diri. Satu persatu anak buahnya tumbang terkena pukulan dari Seroja.
Posisinya terancam saat ini, saat ada kesempatan bandot tua itu menangkap Pak Anwar dan menjadikannya sebagau sandera.
" Hentikan, jika kau masih ingin nyawa Bapakmu selamat! " ancamnya sambik menodongkan sebuah pistol pada Pak Anwar.
Pak Anwar meminta putrinya untuk tidak perlu memperdulikannya. Namun,bagaimana bisa Seroja membiarkan sang ayah kehilangan nyawa didepannya? Iapun terpaksa menghentikan pertarungannya.
" Tolong lepaskan Bapak ! " pintanya pada Juragan Jarot saat melihat pria itu tak main-main dengan ucapannya.
Bandot tua itu menyeringai penuh kemenangan,
" Akhirnya kau menurut juga kucing manis. Aku beri pilihan padamu, kau bayar hutang Bapakmu saat ini juga atau kau menurut untuk menikah denganku. " ancamnya tegas sambil bersiap membidikkan peluru ke kepala Pak Anwar.
Seroja tak mampu berbuat apa-apa kali ini. Untuk membayar hutangpun sangatlah tidak mungkin, hutang sang ayah sangatlah besar waktu itu. Bahkan meskipun ia menjual rumahnya, itu tak mampu menutupi hutang Bapaknya.
" Mungkin ini jalan satu- satunya. Toh, orang lain telah mengecapku sebagai wanita murahan. " pikirannya telah buntu.
" Baiklah. Aku akan menikah denganmu. " jawabnya lemah.
Juragan Jarot tertawa senang, gadis itu sebentar lagi akan jatuh kepelukannya.
__ADS_1
Bersambung....
Maaf ya buat para readers, author sudah up dari kemarin tapi belum lolos review juga. Jangan lupa tetap tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya untuk karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untik terus berkarya. Makasih sebelumnya...