
Arkana menurunkan istrinya ke dalam mobil, iapun segera masuk dan melajukan mobilnya menuju hotel yang telah disiapkan untuk malam pertama mereka tentunya. Wajah Seroja masih bersemu merah. Masih belum hilang rasa gugup itu dalam dirinya, apalagi saat wajah dan bibir pria itu hanya berjarak tak sampai satu centi darinya.
" Kau tidak apa-apa?" Arkana menatap heran pada Seroja. Gadis itu memegangi dadanya sedari tadi.
" Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya malu saja saat semua orang menyoraki kita. Untung kau memiliki ide yang cukup bagus juga." gadis itu berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupannya.
" Kita mau kemana sekarang? Kurasa ini bukan jalan pulang?" dirinya merasa janggal sebab jalan itu justru berlawanan arah dengan mansion.
" Ke hotel. Bukankah malam ini adalah malam pertama kita? Seperti pasangan pada umumnya, kita menikmatinya dikamar hotel yang telah dihias romantis khusus untuk pasangan baru." jawab pria itu santai.
Seroja bertambah gelisah, ia takut Arkana tidak menepati janjinya. Kebiasaan meremas- remas gaunnya begitu saja muncul. Ia sangat gugup sekarang, pikirannya melayang membayangkan pria itu menjelajahi seluruh tubuhnya.
" Tidak, tidak, tidak ! Kita menikah hanya pura-pura saja. Kita tidak perlu kehotel seperti yang kau bilang. Lebih baik kau putar arah ke mansion." tolaknya setelah otaknya kembali waras dari pikiran mesumnya.
Pria itu tertawa hingga menunjukkan deretan giginya yang putih. Ia tahu gadis yang kini berstatus wanita itu sedang gugup saat ini. Sedikit banyak dirinya mulai hafal kebiasaan istri barunya.
Seroja memberengkut kesal, ia tahu Arkana kini sedang meledeknya.
" Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu! " ucapnya kesal.
" Kau tidak perlu segugup itu, lihatlah lama- lama gaunmu akan sobek jika terus kau remas seperti itu. Kau pikir aku akan berbuat apa? Mama yang sudah menyiapkan semua, mana mungkin aku menolaknya. "
...----------------...
Keduanya telah tiba di salah satu hotel mewah milik keluarga Pramudya. Seroja memandang takjub dengan bangunan yang menjulang tinggi dihadapannya.
Seluruh karyawan yang ada disana menunduk hormat pada keduanya. Arkana menggandeng tangan sang istri yang sibuk membalas satu persatu penghormatan yang ditujukan pada mereka.
" Mari Tuan Muda, Nona. Saya akan mengantar menuju kamar anda berdua. " salah satu pegawai berpenampilan rapi memberi hormat pada keduanya.
Arkana mengangguk pelan, tapi Seroja malah ikut membungkukkan badan pada lelaki tersebut. Gadis itu benar-benar kampungan menurutnya. Dirinya kembali menarik Seroja untuk tetap selalu berada disampingnya.
" Kau itu sombong sekali. Apa kau tidak melihat pegawai ini lebih tua darimu. Harusnya kau membalas penghormatan darinya. " bisik Seroja di telinga suaminya.
Arkana menoleh dengan malas,
" Ini adalah hotel milik keluargaku. Semua pegawai memberi hormat pada kami. Kau harus jaga sikapmu ! "ia membalas dengan memperingatkan.
Seroja begitu terkejut mendengarnya, ia mulai menghitung-hitung berapa banyak aset keluarga sang suami. Dirinya sampai geleng-geleng kepala karena tak bisa membayangkan betapa kayanya keluarga tersebut.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka, gadis itu kembali takjub dengan suasana yang disuguhkan dikamar tersebut. Sebuah kamar president suite yang dihias dengan begitu indah.
Arkana segera menutup pintu dan menjatuhkan tubuhnya di sofa, hari ini benar-benar melelahkan baginya. Berbeda dengan Seroja, pandangan wanita itu tertuju pada ranjang besar yang sepertinya sangat nyaman untuk dipakai tidur.
" Geser, geser! " ia mendorong tubuh Arkana agar memberi tempat duduk
untuknya.
" Ckckck... Kau ini mengganggu saja. " ungkapnya kesal, padahal ia sedang melepaskan penatnya saat ini.
Seroja mengangkat sedikit gaunnya, pria itu terbelalak saat mengetahui gadis itu ternyata memakai sepatu flat yang biasa ia pakai sehari-hari.
" Kau? Jadi kau sedari tadi memakai sepatu ini saat resepsi pernikahan kita? Dasar gadis kampung, bagaimana kalau ada yang melihatmu seperti ini tadi? Kau mau mempermalukan keluargaku." ucapnya kesal.
Seroja hanya menoleh dan menjawab dengan santai.
" Apa kau tak akan semakin malu jika istrimu tiba-tiba terjatuh karena tidak bisa memakai sepatu hak tinggi? Sudahlah, kau tak perlu membesar- besarkannya. Lagi pula gaun ini juga sangat panjang, tidak ada yang tahu jika aku memakai sepatu seperti ini. " jawabnya enteng.
Pria itu hendak membalas perkataannya, tapi buru-buru Seroja pergi agar tak kembali kena semprot suami barunya tersebut. Kini dirinya duduk ditepi ranjang mewah bertabur bunga.
" Heeumm...wangi sekali. Rasanya sungguh nyaman. " seketika ia membaringkan sebagian tubuhnya diatas ranjang itu sambil berguling-guling menikmati aroma bunga.
Arkana memperhatikannya sekilas, rasanya ia geli melihat tingkah Seroja yang benar- benar kampungan menurutnya.
" Cepat mandi sana! Aku tidak mau bau tubuhmu menempel di kasur itu. " perintahnya pada Seroja, kepalanya terasa pusing melihat gadis itu berguling-guling seperti tadi.
" Kau saja dulu, aku masih ingin beristirahat sebentar. Badanku lelah sekali rasanya. " Iapun akhirnya duduk dan berpura-pura merenggangkan otot-ototnya.
" Apa kau lupa dengan isi perjanjian kita kemarin? Kau harus menjalankan kewajibanmu sebagai istri, terkecuali hubungan suami istri. Apa kau tidak tahu kewajiban seorang istri itu bagaimana? " sindir Arkana lantaran wanita itu selalu semaunya sendiri.
Dengan terpaksa Seroja menuruti kemauan sang suami. Iapun berjalan memasuki pintu kamar mandi untuk membersihkan diri. Lagi-lagi dirinya disuguhi pemandangan yang menakjubkan saat melihat sebuah bath up besar dengan taburan bunga dan aroma terapi didalamnya. Dirinya sudah tidak sabar untuk berendam didalam sana.
" Tunggu, Tunggu. Kenapa susah sekali? " ia mencoba menurunkan resleting yang menjulur dari bahu hingga ke batas pinggangnya.
" Bagaimana ini? Aku tidak bisa membukanya. Dasar gaun mahal menyebalkan. " gumamnya sambil terus-terusan dengan sekuat tenaga menggapai resleting tersebut. Ia merasa kepayahan untuk dapat membukanya.
Hampir setengah jam berlalu, Arkana heran wanita itu tak kunjung keluar dari kamar mandi. Iapun menghampiri dan mengetuk pintu lantaran dirinya juga inin segera membersihkan diri.
*Tok..Tok...Tok
__ADS_1
Tok...Tok..Tok*...
Berulang kali ia mencoba mengetuk pintu, namun sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. Dirinya sampai berpikir jika gadis itu kemungkinan tidur di dalam sana.
" Hei ! Buka atau kudobrak pintunya. " ancamnya saat mulai habis kesabarannya.
Seroja dengan terpaksa membuka pintu tersebut, sedari tadi dirinya hanya berdiam diri dikamar mandi karena tidak bisa membuka gaunnya.
Arkana terperangah melihat gadis itu masih utuh seperti sebelumnya.
" Apa yang kau lakukan didalam sini? Apa kau sedang tidur dikamar mandi? " ungkapnya kesal, padahal dirinyapun ingin segera membersihkan diri.
Seroja memberengkut sambil menundik malu.
" Bagaimana aku mau mandi? Aku bahkan tidak bisa membuka resleting gaun ini. Menyebalkan."
Sepertinya Arkana harus banyak bersabar menghadapi gadis ini. Ia meminta gadis itu untuk berbalik, dirinya berniat untuk membukakan resletingnya. Seroja tentu saja menolak, ia takut pria itu tergoda olehnya.
Arkana menyeringai, menurutnya gadis itu terlalu percaya diri. Dirinyapun tidak memaksa jika Seroja ingin memakai gaun itu terus-terusan, toh itu tidak ada kerugian baginya. Iapun berniat meninggalkan tempat itu.
" Tunggu, tolong bantu aku. Tapi, bisakah kau menutup matamu?" pinta gadis itu memelas.
Arkanapun dengan terpaksa berbalik kembali dan menghampirinya.
" Berbaliklah. " gadis itu menuruti kata-kata Arkana, seketika ia membalikkan badannya.
Mulanya Arkana menutup mata, tapi entah mengapa dirinya seolah tertantang untuk menyaksikan belahan tubuh yang ada dihadapannya.
Glekkk...
Pria itu menelan ludahnya sendiri, netranya hampir tak berkedip menyaksikan tubuh Seroja yang begitu ramping dan seputih susu. Ia tak menyangka gadis itu mampu melayangkan imajinasinya.
" Sudah? " buru-buru ia menutup mata ketika Seroja berbalik padanya.
" Sudah. Cepat mandi sana, kau ini merepotkan saja." ia berlagak acuh sambil berjalan menjauhi tempat itu.
" Huh, bagaimana bisa aku tergoda oleh gadis kampung seperti itu. " batinnya seolah tak percaya dengan apa yang dilakukannya barusan.
...----------------...
Seroja telah menyelesaikan mandinya, kini giliran Arkana yang beranjak menuju kamar mandi. Netranya melirik sekilas saat gadis itu mengusap rambutnya yang basah dengan haduk kecil. Masih terlintas dibenaknya bayangan tubuh Seroja yang begitu menggoda.
" Kenapa pikiranku jadi liar seperti ini? Dia pasti akan semakin seksi dengan rambut basah seperti itu. "
Tak berselang lama, pria itu keluar dari kamar mandi. Kaos putih transparan yang menampakkan postur tubuhnya, dengan celana boxer pendek membuat pria itu terlihat seksi. Seroja memperhatikan pria yang berjalan menuju samping ranjangnya.
" Mau apa kau? " tanyanya ketakutan saat Arkana hendak menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya.
" Mau tidurlah, memangnya mau apa lagi?" jawabnya malas sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Dengan spontan Seroja menendang pria itu hingga terjatuh dari ranjangnya.
" Bruukkk...Arrghhh.."
Arkana mengeluh kesakitan saat tubuhnya tiba-tiba ditendang dan jatuh begitu saja kelantai. Rasanya habis sudah kesabaran dirinya menghadapi gadis tersebut.
" Hei,, apa kau sudah gila. Berani- beraninya kau menendangku. Kalau kau tidak mau tidur disini, kau boleh tidur dijalanan. " bentaknya karena terpancing emosi.
Seroja takut melihat Arkana semarah ini, sudah cukup lama pria itu bisa bersikap baik padanya.
" A,, aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya, aku takut kau berbuat sesuatu padaku. " ia memasang wajah memelas agar pria itu merasa iba padanya.
Hati Arkana meleleh seketika, entah mengapa dirinyapun tak mengerti. Rasanya ia tak tega melihat Seroja ketakutan seperti itu.
Tanpa berkata-kata pria itu menarik kasar selimutnya dan mengambil salah satu bantal yang ada disana. Ia berjalan menuju sofa, kemudian tak berselang lama iapun terlelap disana.
Seroja memperhatikan suaminya dari jauh,
" Gampang juga dia dibohongi. " batinnya menertawakan pria tersebut.
...----------------...
Alunan musik romantis masih terdengar didalam gedung pernikahan. Aulia yang menyadari kepergian sang kakak berharap untuk bisa segera pulang malam ini. Rasanya ia sudah mulai mengantuk, dirinya memang tidak biasa bergadang.
" Hoaammm.."
Gadis itu mulai menguap, dilihatnya jam keemasan yang melingkar dipergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kalau saja ia mempunyai pintu kemana saja, mungkin kali ini dirinya akan langsung menjatuhkan diri ke kasur empuk yang ada dikamarnya.
Semenjak dulu dirinya memang tidak begitu menyukai keramaian seperti pesta sekarang ini. Ia mencari keberadaan Mama dan Papanya, ternyata keduanya masih berbincang-bincang dengan sahabat juga rekan bisnis mereka.
" Sepertinya Mama dan Papa masih lama. Huh,, membosankan."
__ADS_1
Dirinya terpaksa berjalan kembali ke bangku pojok yang ada diruangan tersebut. Namun, saat hendak berbalik tiba-tiba saja seorang pria menabrak dan menumpahkan minuman ke gaunnya.
" Oh..maaf. Aku benar-benar tidak sengaja." ucap pria itu sambil memperhatikan gadis yang sedang membersihkan gaunnya.
" Bukankah kau juga berkuliah di kampus yang sama denganku? Tadi aku melihatmu berfoto bersama Arkana? Apa kau masih ada hubungan kerabat dengannya? " tanya pria itu sopan.
Aulia nampak berpikir, sepertinya ia tak perlu terus-terusan menutupi identitasnya. Kakaknyapun telah lulus sekarang, jadi tidak masalah jika orang-orang tahu siapa dirinya. Setidaknya, ia tidak akan terlibat masalah dengan para gadis-gadis yang mengidolakan sang kakak.
" Iya. Dia adalah kakakku, aku memang berkuliah di kampus yang sama dengannya, tapi aku baru akan lulus tahun depan." jelas Aulia.
Keduanya tampak mengobrol beberapa lama, sebenarnya ia enggan meladeni pria tersebut. Akan tetapi, pria itu terus saja menanyakan banyak hal padanya.
" Sayang sekali, aku juga sudah lulus sekarang. Aku tidak menyangka Arkana mempunyai adik sepertimu. Kalian sangat berbeda, kau lebih terkenal pandai dan jarang bergaul. " rayunya pada gadis tersebut.
Tanpa mereka sadari, seseorang yang tak jauh dari mereka sedang terbakar cemburu. Arzel memperhatikan keduanya sedari tadi.
" Dasar bede*ah ! " umpatnya sambil berjalan mendekati keduanya.
Arzel membawa segelas minuman ditangannya, dengan sengaja ia menyenggol Aulia dan menumpahkan minuman itu ke badannya juga.
" Awww.. " keluh Aulia, untuk kedua kalinya ia harus kedinginan karena gaunnya kembali ditumpahi oleh minuman. Ia memperhatikan siapa yang baru saja menumpahkan minuman ke badannya, kali ini ekspresinya berbeda.
" Kau? Kau lagi, kau lagi! Arzel kau pasti sengaja menyiram minuman ke bajuku bukan? " ungkapnya kesal.
" Kau jangan menuduh sembarangan. Aku tidak sengaja lewat dan menyenggolmu. Lihatlah gaunmu sudah basah sebelumnya, pasti pria ini juga telah menyirammu. Tapi, kenapa kau hanya marah padaku?" elak Arzel sambil melirik sinis pria disamping Aulia.
" Karena kau memang selalu saja mengerjaiku. Dasar pria jadi-jadian licik! " ungkap Aulia kesal.
Pria disamping Auliapun pergi, dirinya enggan hanya menjadi penonton setia drama pertengkaran keduanya. Aulia masih memberengkut kesal, sedangkan Arzel, pemuda itu hanya cengar-cengir saja. Setidaknya satu lalat disamping Aulia telah berhasil ia singkirkan.
" Sudahlah, pakaianmu basah seperti itu. Kau pasti kedinginan. Ayo, aku akan mengantarmu pulang. " Arzel mencoba menawarkan diri, ia tahu Aulia sudah tidak betah berada disana.
Tentu saja Aulia sangat senang, tapi ia gengsi mengatakan yang sebenarnya pada rivalnya itu.
" Tidak, aku tidak mau pulang bersamamu. Aku akan pulang bersama Mama dan Papa. " dengan terpaksa gadis itu menolaknya.
" Sok jual mahal, aku yakin kau hanya berpura-pura saja." batin Arzel geli dengan gadis yang selalu mempertahankan gengsinya itu.
" Sudahlah, lebih baik kau pulang denganku saja. Apa kau tidak melihat Om dan Tante masih sibuk dengan para tamunya itu. " ia mencoba merayu gadis itu kembali.
Aulia tak menyangka pria itu masih bersikukuh untuk mengantarnya pulang, ia senang setidaknya dirinya tidak terlihat seolah memang sedang ingin diantar oleh pemuda itu.
" Baiklah kalau kau memaksa. Aku akan bertanya terlebih dahulu pada Mama dan Papa." dengan angkuhnya gadis itu berlalu meninggalkan Arzel dan menghampiri kedua orang tuanya.
Arzel memperhatikan seluit gadis itu, seringai tersimpul manis disalah satu sudut bibirnya. Tak berselang lama, Auliapun kembali.
" Ayo cepat, Mama dan Papa memintamu untuk mengantarku. Mereka bepesan supaya kau tidak berbuat macam-macam denganku. "
Arzel kembali tertawa, " Memangnya apa bagusnya dirimu. Gadis cupu, body krempeng,, kau ini ada-ada saja. Ayo, cepat pulang sebelum larut.
Pemuda itu hendak menggandeng tangannya, tapi dengan cepat Aulia menepisnya.
" Aku bisa jalan sendiri. " ucapnya seraya memberengkut kesal.
Arzel hanya mampu menghela nafas panjang, setidaknya ia masih bisa mengantar pulang Aulia sekarang.
Keduanya meninggalkan gedung tersebut lalu menuju parkiran mobil. Arzelpun segera melajukan mobilnya menuju mansion kediaman Pramudya.
Dinginnya AC mobil nyatanya tak mengurangi rasa ngantuk yang telah ditahan Aulia sedari tadi. Gadis itu beberapa kali menguap, tak butuh waktu lama iapun langsung tertidur diperjalanan.
Arzel sesekali melirik gadis yang ada disampingnya, setelah dirasa cukup pulas iapun menepikan mobilnnya disisi jalan. Tak bosan-bosan rasanya ia menatap gadis itu, mumpung ada kesempatan. Belum tentu dirinya bisa memperhatikan Aulia sedekat ini.
Tiba-tiba saja Aulia mengubah posisi tubuhnya hingga berhadapan dengan pemuda tersebut.
Glekk,,,
Kali ini Arzel harus menelan ludahnya saat bibir Aulia yang merona seolah menjadi magnet yang mampu menariknya untuk semakin mendekat. Setan-setan dalam otaknya seolah merayunya untuk mereguk manisnya madu yang begitu mudah ia petik.
Tubuhnya tak mampu ia kendalikan, akal sehat telah menghilang dari otaknya. Iapun segera mendekatkan wajahnya untuk meraih bibir manis yang selama ini ia idam-idamkan. Hampir, hampir saja terjadi, tapi dirinya langsung gelegapan saat Aulia tiba-tiba mulai bergerak.
" Ahhhh,, gagal." umpatnya dalam hati.
Pria itu segera menyalakan kembali mesinnya saat menyadari gadis itu hampir terbangun.
" Apa kita sudah sampai? " tanya Aulia yang tiba-tiba terbangun.
" Belum, kau tidur saja lagi. Nanti aku akan membangunkanmu. "
Gadis itu kembali mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya. Ingin sekali Arzel mengulangi perilaku nakalnya barusan, tapi dirinya tidak berani menanggung resiko. Iapun mengantarkan Aulia dengan aman sampai kediamannya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...