
Pagi ini Seroja bangun dengan penuh keceriaan, kejadian kemarin seakan sudah terhempas begitu saja dari ingatannya.
" Bagaimana aku bisa bermimpi seperti itu ? " gadis itu tersenyum seorang diri saat mengingat mimpinya semalam.
Setelah pulang ke mansion semalam, Seroja segera pergi beristirahat dikamarnya. Perut yang kenyang membuatnya tak butuh waktu lama untuk bisa tidur dengan pulas malam itu.
Ia bermimpi seolah dirinya menjadi seorang putri tidur, lalu tiba-tiba seorang pangeran menciumnya agar ia terbangun dari tidurnya. Sungguh aneh, bagaimana bisa ia bermimpi setabu itu, padahal seumur hidup ia belum pernah melakukannya.
Seperti biasa ia menunggu Arkana disamping mobilnya untuk berangkat ke kampus. Pria itu terlihat sudah siap untuk berangkat. Ia segera melajukan mobilnya menuju kampus mereka.
" Kau terlihat ceria sekali hari ini? Apa karena tercebur membuat moodmu semakin membaik?" Arkana memperhatikan Seroja yang terlihat begitu ceria dan bersemangat.
Berbanding terbalik dengan Seroja, pria itu hampir semalaman tidak bisa tidur. Kejadian semalam membuatnya merasa bersalah pada Seroja. Dirinya telah mencium gadis itu dihadapan banyak orang, walaupun sebenarnya itu karena keadaan yang memaksa.
Akan tetapi, yang membuatnya heran adalah gadis itu sama sekali tidak marah padanya. Apa mungkin dia tidak mempermasalahkan hal tersebut bahkan menyukainya? Atau kemungkinan kedua, Seroja tidak sadar telah diciumnya.
Dirinya tidak berani menanyakan opsi yang kedua, ia memilih bungkam dan menutup hal tersebut rapat-rapat.
Bluush...
Rona merah jambu menghiasi kedua pipi Seroja saat mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Arkana. Mana mungkin ia mengatakan bahwa ia senang telah berciuman dengan seorang pangeran semalam.
" Ti,, tidak. Aku rasa aku seperti biasanya. Kau saja yang terlalu berlebihan. " ungkapnya gugup.
Mobil telah tiba di kampus, mereka segera turun dan menuju ruangan Arkana terlebih dahulu. Seroja menahan pria itu sebentar, ia meminta pria itu untuk membantu rencananya mengerjai Helena.
Dengan senang hati ia mau membantu Seroja, iapun sebenarnya kesal pada kekasihnya tersebut. Kalau bukan karena terpaksa, dirinya enggan memiliki kekasih seperti Helena.
Sesampainya di depan ruang Arkana, terlihat Rehan yang telah datang terlebih dahulu. Ia segera menghampiri dan menyapa mereka.
" Seroja, apa tidurmu sangat nyenyak semalam?" tiba-tiba pertanyaan semacam itu terlontar dari mulut Rehan. Ia melihat kejadian saat Arkana menolong dan memberi nafas buatan untuk gadis itu karena iapun berada disana.
Seroja merasa aneh, untuk apa Rehan menanyakan hal seperti itu? Apalagi, pertanyaan pria itu kembali membuatnya teringat akan mimpinya semalam.
" Tentu saja tidurku nyenyak sekali. Memangnya kenapa kau harus menanyakan hal seperti itu? " tanyanya penasaran.
" Oh ya,,benarkah? Kupikir kau tidak bisa tidur semalaman karena telah dici,, " hampir saja pria itu keceplosan jika saja Arkana tidak menginjak kaki dan merangkul pria itu seketika.
Arkana memberi kode supaya Rehan membungkam mulutnya. Ia tak ingin Seroja sampai ingat kejadian semalam.
" Kenapa kau tak melanjutkan kata-katamu? Sikap kalian berdua aneh sekali? " Seroja merasa curiga pada keduanya. Arkana kembali memberi kode supaya Rehan menutup mulutnya rapat- rapat.
" Tidak apa-apa. Maksudku kau tidak bisa tidur karena diceburkan ke kolam, barang kali kau masuk angin semalam. " Rehan meralat kata-katanya.
Seroja tersenyum lega, " Owwhh,, kukira apa. Aku semalam tidur nyeyak sekali sebab sahabatmu ini telah membelikanku nasi goreng hingga aku kekenyangan." jelas Seroja.
Iapun segera pergi setelah memastikan Arkana memasuki ruangannya. Arkana kesal pada Rehan, hampir saja pria itu membocorkan apa yang terjadi semalam. Untung saja ia ada disana, kalau tidak pasti saat ini Seroja akan murka padanya.
" Ingat ! Jangan kau ceritakan apa yang terjadi semalam padanya. Kalau sampai berita ini menyebar kemana-mana, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu. " ancamnya pada Rehan.
" Tenang saja, kau jangan khawatir. Kupikir gadis itu mengingat saat semalam kau memberinya nafas buatan." Rehan terkekeh mengingat kenyataan itu.
" Sepertinya dia tidak ingat, semoga saja begitu. Oh ya, aku butuh bantuanmu. Aku akan segera keluar saat jam kuliah berakhir. Jika Helena datang kemari, katakan saja aku menunggunya di taman belakang kampus. " pinta Arkana.
Rehan belum begitu mengerti apa maksud sahabatnya, " Maksudmu? Apa kau ingin berkencan dengannya ditaman? Apa kau mulai tertarik padanya? " ledeknya pada Arkana.
" Sudahlah, kau akan tahu sendiri nanti. Yang jelas aku akan membuat kejutan untuknya." Arkana malas menjelaskan panjang lebar.
...----------------...
Jam kuliah telah berakhir, benar saja Helena mencari keberadaan Arkana. Dirinya ingin berterima kasih karena Arkana telah memberikan kado tas yang sangat mahal untuknya. Ia juga ingin merajuk karena pria tersebut pergi sebelum pestanya berakhir.
Sesuai perintah Arkana, Rehan menyampaikan pada gadis itu bahwa Arkana menunggunya ditaman belakang. Betapa senang hati Helena, sepertinya Arkana sudah mulai luluh padanya. Iapun segera menyusul pria itu ke taman belakang.
Kondisi taman saat itu cukup sepi. Dirinya melihat sekeliling, terdapat sebuah tanda panah di bangku yang berada dibawah pohon rindang. Ia yakin pasti itu kode yang dibuat Arkana untuk dirinya.
" Kejutan apa lagi yang akan dia berikan padaku? " batinnya begitu senang, Arkana ternyata pria yang romantis.
__ADS_1
Iapun duduk tepat dibangku tersebut, sambil mengamati apabila kemungkinan pria itu datang dan memberikan kejutan.
Tanpa disadari, Seroja telah bersiap-siap untuk menjalankan rencananya.
Byuuurrrr....
" Aaahhh,, apa ini! " teriak Helena saat cairan yang begitu kotor mengguyurnya dari atas pohon.
Dirinya begitu kesal, ia mendongak keatas. Ternyata ada seseorang yang sengaja menumpahkan cairan itu padanya. Disana terdapat sebuah ember yang ditali, ia mengamati dari mana tali itu berasal.
" Kejutan ! " teriakan Seroja kembali mengagetkan gadis tersebut.
" Helena? Bagaimana, kau suka dengan kejutan dariku? Aku sengaja membuat semua ini karena semalam aku belum sempat menikmati pesta ulang tahunmu. Kau ingat bukan? Semalam aku tercebur dikolam karena pelayanmu ! " lanjutnya menyindir .
Helena dengan pakaiannya yang begitu kotor berjalan mendekati Seroja, raut wajahnya menggambarkan kekesalan yang begitu besar pada gadis itu.
" Kau? Dasar perempuan kurang ajar! " Hampir saja ia melayangkan sebuah tamparan, untung saja Arkana segera menepis tangannya.
" Ini tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang kau lakukan padanya semalam. Kau hampir saja menghilangkan nyawanya. Aku benar-benar menyesal memiliki pasangan sepertimu. Mulai sekarang kita putus! " ungkap Arkana sambil menghempaskan pergelangan tangan Helena.
Helena terkejut melihat kehadiran Arkana, ia yakin pria itu juga membantu Seroja untuk mengerjainya. Dadanya terasa sesak saat pria itu mengatakan kalimat terakhirnya. Baru beberapa minggu mereka berpacaran, tapi pria itu telah mencampakkannya begitu saja.
" Tapi? Aku mohon jangan putuskan aku. Aku melakukan semua itu karena aku cemburu padanya. Kau selalu membelanya daripada aku." Helena kini telah berlinang airmata, pakaiannya yang kotor sudah tidak ia pedulikan lagi.
" Cemburu kau bilang? Cemburu hingga tega mencelakakan nyawa orang lain? Kalau saja aku terlambat menolongnya, entah apa yang akan terjadi semalam. Kau benar-benar egois! Keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin berhubungan lagi denganmu. " Arkana berlalu begitu saja dari sana sambil menggandeng Seroja bersamanya.
Helena terpuruk seorang diri, kini iapun merasakan bagaimana rasanya dicampakkan.
" Awas saja, aku tidak terima penghinaan seperti ini ! " batinnya penuh amarah.
Ia hendak pergi dari sana, namun ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
" Jadi itu kekasih yang kau bangga-banggakan selama ini? Kini dia membuangmu seperti sampah! " Gio tanpa sengaja mengetahui saat Arkana memutuskan mantan kekasihnya tersebut. Rasanya ia puas melihat wanita itu mengalami nasib yang sama seperti dirinya.
Helena berbalik badan, dirinya terkejut saat tahu Gio melihat apa yang sedang menimpanya saat ini. Ia berlari menghampirinya,
" Gio maafkan aku. Aku telah memilih pria yang salah, ternyata hanya kau pria yang benar-benar mencintaiku. Aku sungguh menyesal. " ia hendak memegang tangan pria itu, namun lagi-lagi dirinya kembali menerima penolakan.
Helena kembali dikejutkan dengan kenyataan bahwa kekasihnya itu kini menjalin hubungan dengan Sisil. Kedua sejoli itu menunjukkan kemesraan didepannya.
" Sisil, kau ! " Helena hendak memarahi sahabatnya tersebut, tapi dengan segera Sisil menyela ucapan gadis itu.
" Tidak ada salahnya bukan jika aku berpacaran dengan mantan kekasihmu? Kau sudah membuangnya dan kaupun sudah merebut apa yang telah menjadi milikku. Kita impas sekarang! " sindir Sisil pada Helena. Keduanyapun melenggang meninggalkan Helena seorang diri.
Helena merutuki nasibnya yang begitu buruk hari ini. Ia harus pulang dengan pakaian kotor dan iapun harus menerima kenyataan pahit lantaran diputuskan begitu saja oleh Arkana.
...----------------...
Arkana dan Seroja merasa puas karena telah berhasil mengerjai Helena. Namun, Seroja rasanya tak tega melihat gadis itu menangis saat Arkana memutuskannya.
" Kau ini sungguh tidak berperasaan. Bisa-bisanya kau memacari gadis semaumu dan memutuskannya semaumu. " sindirnya pada pria disampingnya.
" Setidaknya aku sudah memberinya hadiah tas mahal. Enak saja kau bilang aku tidak berperasaan. Bahkan menyentuhnya saja aku tidak pernah. " sanggah Arkana tak terima.
Seroja jadi teringat mimpinya semalam saat mendengar kata bersentuhan, ia ingin menanyakan sesuatu pada Arkana.
" Eeumm. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? "
" Tentu saja boleh. Memangnya, apa yang ingin kau tanyakan? " Arkana heran dengan sikap gadis itu yang berubah malu-malu.
" Apa kau pernah berciuman dengan lawan jenis? " pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Ia menyesal kenapa bisa menanyakan hal setabu itu pada pria yang jelas-jelas seorang playboy.
" Bodoh! Bodoh! Kenapa aku bertanya seperti itu padanya? " rutuknya dalam hati.
" Sekali. " jawab pria itu singkat.
Seroja mendelik tak percaya.
__ADS_1
" Kau jangan bercanda, playboy sepertimu mana mungkin hanya pernah berciuman sekali saja. Aku yakin para mantanmu pasti sudah habis kau mangsa."
Arkana enggan menjelaskan pada gadis tersebut, ini memang privasinya sendiri.
" Aku tidak memintamu untuk percaya, aku hanya menjawab apa yang kau tanyakan. " jawabnya malas.
" Huh, begitu saja marah. Tapi, bolehkah aku tahu bagaimana rasanya berciuman? Apa kau gugup saat melakukannya? " gadis itu semakin menjadi-jadi. Tadinya ia malu, tapi kini dirinya menjadi semakin penasaran.
Arkana kembali menonyor kepala gadis itu,
" Dasar wanita mesum! Apa kau tidak malu bertanya seperti itu pada seorang pria. Benar juga, kau kan wanita jadi-jadian. " ejek Arkana.
Seroja mengerucutkan bibirnya, ia sangat tidak puas mendengar jawaban pria itu. Namun, ia sudah tak ingin membahasnya kembali. Rasanya malu sekali menanyakan hal seperti itu, tapi parahnya ia tidak mendapatkan jawabannya juga.
Samar-samar dari kejauhan dirinya melihat sosok Ardi yang baru saja keluar dari perpustakaan bersama Aulia.
Raut wajahnya kembali ceria, ia senang bisa bertemu pujaan hatinya kembali.
" Arkana? Bolehkah aku menemui kak Ardi sebentar. Itu dia ada disana." tunjuknya sambil menarik lengan baju pria tersebut.
Arkana membuang nafas kasar, gadis itu seperti melihat gunung emas saat melihat pria kutu buku itu.
" Ya sudah, kau kesana saja. Aku akan menunggumu dikantin. " Belum juga Arkana menyelesaikan ucapannya, gadis itu sudah langsung kabur darinya.
...----------------...
Seroja menghampiri Ardi yang sedang bersama Aulia, ia sama sekali tak curiga bahwa sahabatnya itu juga menaruh perasaan yang sama pada Ardi. Yang dia tahu, Aulia dan Ardi memiliki hobi yang sama yaitu membaca. Jadi pasti keduanya sering bersama sebab Auliapun susah bergaul dengan orang lain.
" Kak Ardi? Aulia ! " panggilnya sambil melambaikan tangan kearah keduanya.
Ardi dan Auliapun tersenyum saat mengetahui siapa yang datang.
" Tumben sekali kau tidak bersama Arkana? " Ardi memperhatikan sekitar. Ia kesal sejak Seroja sering terlihat bersama pria itu, dirinya jadi susah untuk bertemu dengan Seroja.
" Kak Ardi bisa saja, memangnya aku ibunya yang harus selalu membuntuti pria itu?" jawaban Seroja sontak membuat Aulia ingin tertawa sebab gadis itu bukan seperti ibu melainkan seperti seorang istri yang selalu mengekori suaminya.
" Aulia? Kenapa kau tersenyum? Memang apanya yang lucu? " tanya Ardi saat memergoki gadis itu tersenyum seorang diri.
" Ti,, tidak Kak. Aku hanya teringat dengan buku yang kubaca barusan. Yah,, begitu. " ucapnya gugup. Seroja menjulurkan lidahnya dari balik punggung Ardi, ia tahu apa yang ada diotak Aulia barusan.
" Ya sudah, Kak Ardi. Aku permisi dulu, aku mau keruanganku sebentar." Aulia berpamitan, ia ingin memberikan waktu pada sahabatnya untuk bersama dengan pujaan hatinya. Namun, sebelum pergi ia berbisik kepada Seroja,
" Awas saja kau nanti saat dirumah aku pasti akan membalasmu. " bisiknya sambil mencubit pelan pinggang Seroja, kemudian berlalu meninggalkannya.
Kini tinggal Seroja dan Ardi berdua, kecanggungan mulai menyeruak diantara keduanya hingga Ardi membuka percakapan kembali.
" Kau tidak lupa kan dengan janjian kita minggu ini? Ada sesuatu hal penting yang ingin kusampaikan padamu. " ia mewanti-wanti gadis itu.
" Tentu saja, aku ingat. Bukankah aku juga ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada kakak? " balasnya mengingatkan.
" Oh iya, kau benar juga. Bagaimana kalau kita ke kantin terlebih dahulu untuk makan siang? " ajak Ardi yang kebingungan untuk mencari kata-kata yang pas pada pujaan hatinya.
" Tidak! " teriak Seroja seketika, ia tahu Arkana ada disana. Pasti pria itu akan memata-matainya, Ardipun ikut kaget mendengar teriakannya.
" Maksudku, aku sudah kenyang. Tadi aku baru saja dari kantin. " ia memperhalus nada bicaranya.
" Kak Ardi maaf aku harus pergi dulu. Anak majikanku itu berpesan padaku untuk segera pulang." Seroja menjadikan Arkana sebagai tameng.
Entah mengapa sekarang ia jadi bingung mencari topik pembicaraan saat bersama pria itu. Lebih baik ia fokus tentang bagaimana ia bisa mengutarakan perasaannya besok. Mungkin setelah itu, ia bisa kembali cair saat bersama Ardi.
Ardi sedikit kecewa, lagi dan lagi dirinya hanya bisa bertegur sapa dengan Seroja sesaat. Tapi, iapun meyakinkan dirinya sendiri bahwa besok ia harus bisa mengungkapkan perasaannya. Apalagi, ada berita tak kalah penting yang harus ia sampaikan pada gadis itu.
" Baiklah, kalau begitu kau hati-hatilah dijalan. " ia terpaksa merelakan Seroja pergi darinya.
Ardi memandang kepergian Seroja, pria itu menghela nafas panjang.
" Semoga dirinya bisa menerima semuanya. " batinnya bingung.
__ADS_1
Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya. Dukungan kalian semangat Bu Author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...