Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)

Istriku Pengawalku (Menikahi Bodyguardku 2)
HARI PERNIKAHAN


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya telah tiba, tepat hari ini Seroja dan Arkana akan melakukan akad sekaligus resepsi pernikahan mereka. Pak Anwar sebagai wali nikah Seroja juga telah datang kesana sejak semalam.


Yah, Bapak Seroja memberanikan diri untuk bertemu kembali dengan istrinya di kediaman keluarga Pramudya. Awalnya Bu Eneng begitu marah dan benci saat bertemu dengannya.Namun, setelah drama mengharukan dari kedua putrinya, serta raut wajah Pak Anwar yang benar-benar menunjukkan penyesalan. Keduanya akhirnya berdamai demi putri mereka.


Seroja telah selesai dirias. Gadis tersebut berdiri sambil memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah. Dirinya terlihat begitu cantik dan anggun dengan kebaya pernikahan yang dikenakannya.


" Nak, kau terlihat cantik sekali hari ini. Ibu sampai pangling padamu. " ungkap Bu Eneng yang melihat pantulan wajah putrinya dari balik cermin.


Seroja tersenyum dan berbalik menghampiri sang ibu,


" Terimakasih, Bu. Sebenarnya aku sangat tidak nyaman berpakaian seperti ini. Aku jadi susah bergerak, sepatu tinggi itu kugeletakkan saja disana. " tunjuknya pada sepasang highheels yang tergeletak di dekat meja rias.


Bu Eneng sampai geleng-geleng kepala,


" Ibu baru menemukan seorang wanita memakai sepatu tinggi saja tidak bisa. Awas, kau juga harus menjaga cara berjalanmu. Jangan sampai kau membuat malu keluarga suamimu. " sang ibu memperingatkan.


Seroja mengerucutkan bibirnya, ibunya sudah bisa bawel lagi sekarang. Baginya itu adalah sebuah anugerah besar sebab hal itu menandakan wanita tersebut semakin sehat sekarang.


" Iya, iya. Ibu cerewet sekali, aku melepas sepatu itu karena khawatir nanti terjatuh. Bukankah itu akan sangat memalukan, pengantin wanita terjatuh saat menuju pelaminan karena memakai sepatu tinggi." kelakarnya pada sang ibu.


" Nona, pengantin pria sudah datang. Anda diharap bersiap, ijab kabul akan segera dimulai."


Panggilan salah satu pelayan mengalihkan perhatian keduanya, Seroja meminta sang ibu untuk membenarkan dandanannya sebelum ia keluar dari sana. Dirinya merasa gugup untuk bertemu dengan banyak orang.


Bu Eneng memperhatikan putrinya, namun tiba-tiba airmata meluncur begitu saja dari kedua pelupuk matanya.


Seroja mengusap airmata sang ibu dengan kedua tangannya, ia sungguh tak bisa melihat ibunya menangis seperti ini.


" Kenapa ibu menangis? Bukankah seharusnya ibu bahagia melihatku akan menikah sebentar lagi?" tanyanya polos.


Wanita itupun tiba-tiba memeluk putrinya yang sebentar lagi akan melepas masa lajang.


" Nak,, ternyata waktu bergulir begitu cepat. Rasanya baru kemarin ibu mengasuh dan merawatmu. Namun sekarang, ibu harus merelakanmu untuk memilih jalan hidupmu sendiri bersama pria yang akan menjadi imammu. Berbahagialah Nak, semoga kau mendapatkan kebahagiaan dunia akhiratmu bersamanya. Jadilah istri yang baik, patuhlah pada suami dan dampingilah dirinya disaat susah maupun senang." ungkap wanita tersebut.


" Airmata ini adalah airmata kebahagiaan. Rasa bahagia dan syukur ibu karena putri ibu mendapatkan pasangan yang tepat dari keluarga yang begitu baik. Berjanjilah bahwa kau akan selalu setia pada suami dan keluargamu, menjadi penghangat di saat dinginnya badai menerpa dan menjadi setitik cahaya disaat gelap gulita. Jagalah selalu keutuhan keluargamu. " lanjutnya menasehati putrinya.


Deg...deg...deg...


Seketika jantung Seroja bergemuruh, sungguh petuah dari ibunya seolah menjadi tamparan baginya yang dengan sengaja mempermainkan arti dari sebuah pernikahan.


Suaranya tercekat ditenggorokan, sesal sudah tidak ada gunanya saat ini. Dirinyapun ikut menitikkan air mata. Lagi dan lagi, ia harus membohongi wanita yang telah melahirkannya.


" Iya, Bu. Maafkan atas kesalahanku. " jawab gadis itu pelan.


Bu Eneng melepaskan pelukannya, ia menatap putrinya dan menghapus airmata yang membasahi pipi gadis tersebut.


" Tidak baik calon pengantin menangis. Buatlah calon suamimu memusatkan perhatiannya hanya padamu. Kau akan jadi ratu malam ini. Ayo.." keduanya melangkah meninggalkan ruang tersebut.


...----------------...

__ADS_1


Bu Eneng menuntun putrinya untuk menghadap penghulu. Pak Anwar, Arkana dan beberapa saksi kebetulan telah dihadirkan ditempat tersebut.


Semua mata tertuju pada Seroja. Gadis tomboi yang biasa seenaknya sendiri itu berjalan begitu anggun dan terlihat sangat berbeda malam ini. Ia mencoba mengatur nafas untuk mengurangi perasaan gugupnya.


Bianca memeluk Alvin, perasaan haru dan bahagia meliputi dirinya saat ini. Apalagi, ketika sang penghulu mengucapkan kalimat ijab qobul dan seluruh saksi menyatakan sah. Kedua sejoli itu melakukan sungkem pada orang tua mereka, Bianca sudah tak mampu menahan airmatanya lagi.


" Sekarang aku titipkan putraku padamu, Nak. Semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawadah, warohmah. Setialah selalu kalian pada pasangan masing-masing. " doa Bianca untuk keduanya.


Arkana dan Seroja kini merasakan hal yang sama, rasa bersalah karena telah mengkhianati kepercayaan orang tua mereka. Untuk beberapa lama, mereka ikut terbawa suasana.


...----------------...


Malam harinya resepsi pernikahan digelar, kedua pasangan itu bak raja dan ratu semalam. Beberapa pertunjukkan disuguhkan dalam acara tersebut, termasuk salah satunya adalah pesta dansa.


Lagu romantis mulai dinyanyikan, para tamu undangan meminta pasangan pengantin baru itu untuk memimpin jalannya pesta dansa. Arkana berlutut didepan pasangannya untuk mengajaknya berdansa bersama.


" Aku tidak pernah berdansa, aku tidak bisa. " gadis itu bergumam padanya.


" Sudahlah, ikuti saja aku. Jangan membuatku malu didepan para tamu undangan. " Arkana berusaha tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya yang rapi.


Dengan terpaksa Seroja menerima uluran tangan pemuda tersebut. Ia belajar mengikuti setiap gerakan pemuda itu karena dirinya belum pernah sama sekali melakukannya.


Seluruh tamu undanganpun satu persatu mengikuti keduanya. Bahkan, kedua orang tua merekapun tak mau kalah. Suasana malam ini terasa begitu romantis dengan sedikit pencahayaan yang menerangi gedung tersebut.


Tangan Seroja begitu dingin, tak dapat dipungkiri dirinya sangat gugup saat berdansa bersama Arkana. Apalagi posisi keduanya begitu intim saat ini, kedua tangan pria itu melingkar di pinggangnya.


" Bi,, bisakah kau sedikit menjauh dariku? Kau membuatku sesak nafas. " gadis itu bergerak-gerak ingin melepaskan diri.


Dirinya mendekatkan bibirnya kesamping telinga Seroja.


" Kenapa tubuhmu dingin sekali, sayang. Apa kau ingin kuberikan kehangatan malam ini? " bisiknya pada istri barunya.


Seroja terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Sikap bar-barnya langsung muncul seketika.


" Dasar pria mesum! " bentaknya seraya menginjak dengan kuat kaki Arkana.


" Aaawwww"


Pria itu merintih kesakitan, membuat perhatian para tamu undangan tertuju pada pasangan pengantin baru itu.


Bianca yang berada tak jauh dari sana segera menghampiri putranya.


" Sayang, kau kenapa? Kau tidak boleh terlalu agresif, istrimu itu masih polos. " Bianca senyum-senyum sendiri, ia mendengar samar-samar Seroja menyebut kata mesum barusan.


Arkana menatap heran pada sang Mama.


" Maksud Mama apa? " pria itu sama sekali tak mengerti.


Bukannya menjawab, sang mama justru mengalihkan pandangan pada menantu barunya.

__ADS_1


" Seroja, maaf ya kalau putraku berpikiran mesum. Sepertinya dia sudah tidak sabar menikmati malam pertamanya. "


Seroja semakin tercengang mendengar ucapan mertuanya barusan.Sepertinya wanita itu salah paham terhadap dirinya dengan Arkana.


Bianca beranjak menuju panggung kecil dan meminjam salah satu mic milik MC. Ia meminta waktu pada seluruh tamu undangan lantaran dirinya ingin menyampaikan sesuatu pada seluruh tamu yang hadir.


" Mohon perhatian semuanya. Agar malam ini terasa semakin romantis, bagaimana kalau kita meminta pasangan baru ini berciuman didepan kita semua. "


Seluruh tamu ikut riuh, mereka setuju dengan ide yang diberikan oleh pemilik acara. Merekapun bersorak sorai meminta keduanya untuk berciuman.


" Cium..cium...cium ! " teriak mereka bersama-sama.


Seroja berasa mati berdiri saat ini, manamungkin dirinya berciuman di depan umum? Tapi, apa kata orang-orang jika dirinya tidak mau dicium oleh suaminya. Ini seperti memakan buah simalakama, maju kena mundurpun kena.


Arkana memahami kebingungan gadis itu, ia menggenggam tangan Seroja untuk menenangkan.


" Kau tenanglah, aku tidak akan menciummu. " gumamnya meyakinkan.


Para tamu semakin bersemangat, apalagi saat secara tiba-tiba pria itu memunggungi sang istri dan menarik tengkuk wanita itu hingga seolah tak menyisakan jarak diantara keduanya.


Arkana mendekatkan bibirnya, begitu dekat hingga Serojapun dapat menikmati hembusan nafas lelaki itu. Namun, keduanya tidak sampai bersentuhan. Ia berusaha menutupi bibir keduanya dengan lengan tangannya hingga tak begitu nampak jelas.


Dengan segera ia membopong istri barunya itu ala bridalstyle.


" Kami akan melanjutkannya nanti ditempat lain. "


Keduanyapun segera keluar meninggalkan gedung dengan Arkana yang masih membopong sang istri. Seluruh tamu undangan semakin riuh, mereka merasa kagum dengan kemesraan keduanya.o



Selamat untuk Arkana dan Seroja....



Arkana



Seroja



Aulia



Arzel


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...


__ADS_2