
Arkana mengikuti jamuan makan yang telah Tuan Yamada siapkan untuk menyambut kedatangannya. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya mereka sepakat untuk melakukan kerjasama bisnis.
Lelaki itu merasa senang saat bertemu dengan Arkana. Menurutnya, pria itu sangat pandai dan kompeten dalam berbisnis.
" Sepertinya anda mewarisi sifat ayah anda. Dari dulu saya senang bekerjasama dengan Tuan Alvin, beliau sangat pandai, bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Mari bersulang sebagai tanda terjalinnya hubungan kerjasama diantara kita. " Tuan Yamada menuangkan sake ke dalam minuman Arkana.
" Maaf Tuan, tapi saya tidak minum. Saya mohon maaf, bukan maksud saya menolak. Tapi, dikeluarga kami hal seperti ini kurang diperkenankan. Sekali lagi saya mohon maaf." Arkana menunduk seolah memberi hormat.
Tuan Yamada memaklumi hal itu, sebab setahunya Tuan Alvin juga tidak suka minum.
" Baiklah, tidak apa-apa. Saya hargai keyakinan anda. Apa anda juga telah berkeluarga?" Tuan Yamada ingin tahu lebih jauh tentang rekan bisnisnya yang baru.
Seulas senyum terukir di wajah Arkana, bayangan Seroja seketika muncul di pikirannya.
" Saya sudah menikah dan saya sangat mencintai istri saya." jawab Arkana jujur.
Tuan Yamada ikut senang mendengarnya, dari sorot mata Arkana jelas terlihat pria itu benar-benar jujur dengan perkataannya.
" Saya yakin pasti wanita itu sungguh beruntung memiliki suami seperti anda. Saya ucapkan selamat, semoga hubungan kalian lancar. " ungkap Tuan Yamada.
" Terima kasih. Kalau boleh, saya ingin meminta tolong. Jika Tuan ada waktu, tolong tunjukkan tempat-tempat romantis dan cocok untuk berbulan madu di negara ini. Istri saya sangat ingin berkunjung kemari, saya berencana mengajaknya berbulan madu setelah urusan pekerjaan kita selesai. " mohon Arkana dengan hormat.
Tuan Yamada terkekeh mendengarnya,
" Jadi anda pengantin baru? Kalau begitu saya ucapkan selamat sekali lagi. Tentu bisa, saya berharap bisa bertemu dengan istri anda nanti. " ungkap pria itu senang.
Keduanya saling menceritakan keseharian mereka hingga Arkana pamit undur diri saat pria itu sudah mabuk berat. Yah, apalagi yang ingin segera ia lakukan selain meminta laporan kegiatan istrinya seharian ini.
Ia berjalan menuju penginapan dan hendak masuk ke dalam kamarnya.
Ceklek..
Pria itu mulai melonggarkan dasi, lalu membuka jasnya, ia mencari sekering untuk menyalakan lampu ruangan.
Tek....
Dirinya sungguh terkejut saat melihat Aluna dengan gaun tidur yang begitu seksi sedang berbaring di atas ranjang dengan pose menggoda.
Wajah Arkana merah padam seketika, dirinya tak pernah menduga jika wanita tersebut bisa sampai kesana.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan disini! Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku? Cepat pergi atau aku akan menyeretmu ! "bentak pria itu berapi-api. Rasanya ia sangat jijik dengan wanita yang terlalu agresif seperti Aluna.
Gadis itu kesal, rencananya kali ini rupanya hampir gagal. Padahal ia sudah berusaha menyusunnya seapik mungkin agar pria itu jatuh ke dalam pelukannya.
Sebelumnya ia telah meminta sekertaris Arkana untuk membocorkan semua kegiatan yang dilakukan oleh atasannya. Dengan memberi sedikit uang imbalan dan embel-embel akan menaikkan gajinya jika dia berhasil mendapatkan Arkana, sekertaris itupun mau menuruti segala perintahnya.
Saat tahu Arkana pergi ke Jepang, ia segera menyusul lelaki itu dengan tiket yang dibiayai oleh Glenn. Pria itu menyuruhnya untuk menggoda pemilik hotel agar mau memberikan kunci duplikat kamar Arkana.
Dirinya mengaku sebagai kekasih Arkana yang ingin memberikan kejutan padanya. Tuan Yamada percaya begitu saja lantaran wanita itu begitu cantik, seksi dan menggoda. Namun, iapun ingin merasakan semalam bersama wanita itu.
Dengan senang hati ia melayani lelaki itu, apalagi Tuan Yamada termasuk bos yang royal dalam memberikan imbalan. Ia meminta pria itu untuk mengajak Arkana mabuk bersamanya.
Ternyata Arkana sepertinya menolak ajakan Tuan Yamada. Dirinyapun terkejut saat pria itu kembali dalam keadaan sadar.
Wanita itu turun dari ranjang lalu berhambur ke pelukan Arkana.
" Lepaskan aku, apa kau benar-benar sudah gila!" bentak Arkana sekali lagi sambil mendorong tubuh Aluna menjauh darinya.
Wanita itu membuang harga dirinya sejauh mungkin meski telah berkali-kali ditolak oleh Arkana.
" Ayolah, sayang. Apa kau tidak sedikitpun tertarik padaku? Bukankah kita sama-sama pernah punya rasa sebelumnya? Disini hanya ada kita berdua, tidak ada yang tahu. Aku siap melayanimu malam ini sepuasnya." ucapnya tak putus asa menggoda.
" Kalau aku tak memandang persahabatan kita dulu, aku bisa berbuat lebih kasar dari ini! "
Aluna berusaha melepaskan diri dari Arkana. Ia tak ingin beranjak dari kamar tersebut. Dengan sengaja ia menabrakkan diri pada Arkana dan mencium salah satu pipinya.
Pria itu hampir saja melayangkan sebuah tamparan ke arahnya. Namun, pantang baginya menyakiti seorang wanita. Dengan kasar iapun menyeret wanita tersebut dan melemparnya keluar kamar.
" Sekali lagi kau berbuat seperti ini. Aku tak akan segan untuk berbuat kasar padamu! "
Jedwer...
Arkana membanting pintu kamarnya kasar. Dirinya tak menyangka Aluna lebih gila dari yang ia bayangkan.
" Semoga setelah ini dia takkan berulah kembali. "
...----------------...
Hari ini Seroja berpamitan pada kedua orang tuanya untuk kembali ke mansion mertuanya. Mau bagaimana lagi, dia harus masuk kuliah kembali dan rasanya tidak mungkin jika harus berangkat dari rumah orang tua yang jaraknya sangat jauh dari kampus.
__ADS_1
Bu Eneng memeluk putrinya, masih belum cukup rasanya kebersamaan dengan putri sulungnya tersebut.
" Jangan lupa jaga kesehatan. Kami semua disini menunggu kabar baik darimu. Ibu sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu. "
Seroja tersenyum simpul,
" Doakan saja semoga aku benar-benar hamil, Bu. Kamipun sangat menantikan kehadiran seorang buah hati sebagai cahaya keluarga kecilku. " ucapnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
" Ibu pasti doakan yang terbaik untukmu, Nak."
Serojapun berpamitan pada kedua orang tua dan juga adiknya. Rencananya ia akan mampir ke apotik terlebih dahulu untuk membeli alat tes kehamilan.
Dengan menaiki sebuah angkot, Seroja turun di salah satu apotik dan membeli alat tes kehamilan.
" Semoga hasilnya positif. " batinnya sambil menyimpan alat tersebut ke dalam tasnya.
Ia berjalan dan berniat menaiki angkot kembali. Sebenarnya bisa saja ia meminta supir pribadi keluarga untuk menjemputnya, tapi dirinya rindu masa-masa seperti saat ini.
Bruughhhh...
Tiba-tiba saja seorang pria menabraknya.
" Maaf, aku tidak sengaja. Bisakah kau memberitahu jalan menuju alamat ini. Aku baru kesini jadi belum hafal daerah sini. " pinta pria tersebut.
Seroja memperhatikan alamat yang tertulis di kertas itu, iapun mulai menjelaskan dimana alamat tersebut berada.
Pria itu berdiri disampingnya dengan jarak cukup dekat. Setelah mendapat penjelasan dari Seroja, tanpa wanita itu sadari lelaki tersebut mencium puncak kepalanya dari belakang.
" Terima kasih. " Ia berlari setelah berhasil mengecup puncak kepala Seroja.
" Hei! kurang ajar! "
Seroja ingin mengejarnya, tapi dirinya teringat kemungkinan saat ini ia sedang hamil. Ia tak boleh banyak melakukan aktivitas berat.
" Apa maksudnya lelaki itu? Dasar pria gila. " umpatnya kesal.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya untuk karya keduaku. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1