
Arkana kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Dirinya cukup kesal dengan tingkah sang istri tadi siang. Seroja seolah hanya ingin mengerjainya saja.
Pria itu mendudukkan tubuhnya kasar diatas kursi kerjanya. Ia merenggangkan otot-ototnya yang terasa penat akibat ulah jahil sang istri.
" Sepertinya dia ingin mendapatkan hukuman dariku." batinnya tersenyum seorang diri. Ia sedang memikirkan hukuman apa yang cocok untuk istrinya saat dirumah nanti.
...----------------...
Tak terasa jam pulang kantor telah tiba, pria itu segera berkemas dan membereskan meja kerjanya. Dia ingin segera menjemput Seroja kembali di kampus lantaran istrinya telah menelpon berulang kali.
Namun saat dirinya hendak beranjak, sebuah nomor tak dikenal tiba-tiba menghubunginya. Awalnya ia enggan mengangkat panggilan tersebut. Akan tetapi, karena nomor itu menghubunginya berkali-kali, dengan terpaksa ia mengangkat pangilan itu barang kali ada sesuatu yang penting.
" Arkana? Arkana tolong Tante! Aluna baru saja mencoba bunuh diri. Dia sepertinya sedang depresi. Tante tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, dia selalu menyebut-nyebut namamu." Mama Aluna begitu panik.
Isak tangis terdengar dari balik telepon, sesekali terdengar seseorang berteriak histeris menyebut-nyebut namanya.
" Arkana, Tante mohon datanglah kesini. Bantu Tante untuk menenangkan Aluna. Tante takut dirinya berbuat lebih nekad lagi." pinta wanita itu kembali dari balik telepon.
Arkana mematung, dirinya teringat kejadian sewaktu Aluna datang ke kantornya. Gadis itu pergi dalam keadaan menangis lantaran pria itu tega menuduhnya melukai Seroja.
" Baiklah Tante. Aku akan segera kesana." jawabnya spontan. Dirinya merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Aluna saat ini.
Pria itu terdiam sejenak,
" Bagaimana dengan Seroja? " batinnya bingung lantaran sang istri sedang menunggunya saat ini.
...----------------...
Aluna dan Mamanya kini tengah tertawa penuh kemenangan. Akhirnya mereka berhasil membujuk Arkana agar mau datang ke kediamannya.
" Sudah ku bilang, rencana ini pasti akan berhasil. Sekarang kau berpakaianlah seseksi mungkin supaya pria itu tergoda padamu setelah kau berhasil mendapatkan simpati darinya. " jelas Elle pada putrinya.
__ADS_1
" Baiklah, Ma. Mama benar-benar bisa diandalkan. Tidak ada seorang priapun yang bisa tahan dengan godaanku. Termasuk, Arkana." ucapnya penuh percaya diri.
Setelah pulang dari mansion Glenn tadi, Aluna begitu frustasi. Dirinya kembali ke rumahnya dengan penuh emosi. Wanita iti membanting seluruh barang-barang yang ada di kamarnya lantaran kesal.
Elle yang kebetulan saat itu ada dirumah segera menenangkan putrinya yang sedang terbakar amarah. Dirinya menanyakan apa yang menyebabkan gadis itu mengamuk seperti saat ini.
Aluna menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada sang Mama. Wanita paruh baya itu mencoba menenangkan putrinya. Timbul niat licik dari keduanya untuk membuat pria itu jatuh ke genggaman putrinya kembali.
Aluna mengiris sedikit bagian nadi tangannya dengan pisau. Sedikit perih, namun tak mengapa baginya jika harus berkorban demi mendapatkan Arkana. Iapun menambahkan beberapa tetes obat merah agar aksinya ini terkesan lebih dramatis.
Sang Mama berharap setelah berhasil membuat Arkana merasa bersalah, putrinya harus bisa membuat pria itu bersimpati dan bahkan tergoda olehnya.
Awalnya Aluna ingin memberikan obat perangsang pada pria itu agar dengan mudah ia bisa menaklukkannya di atas ranjang. Namun, Elle mencegahnya sebab ia ingin Aluna tetap memiliki kesan wanita baik-baik di mata Arkana.
Tak berselang lama, bunyi sebuah motor sport terdengar berhenti di halaman rumah mereka. Elle memastikan siapa yang datang dari balik kaca jendela. Pucuk dicinta ulampun tiba, wanita itu menyeringai saat Arkana benar-benar datang ke tempatnya.
" Aluna cepat kembali ke kamarmu dan berteriak-teriaklah seperti barusan. Mama akan membukakan pintu untuk pria itu." Pinta Elle pada putrinya.
Bel rumah berbunyi, Elle segera membukakan pintu sambil berlinang airmata.
" Untung kau cepat datang, Nak. Aluna sedang mengamuk dikamarnya. Tante sangat cemas dengan keadaannya."
Wanita tersebut nampak panik, keduanya segera berlari menuju kamar Aluna saat terdengar tangisan histeris dari wanita itu.
Arkana membuka pintu kamar tersebut, dirinya terperanjat melihat tetesan darah segar dari nadi tangan Aluna.
Gadis itu terlihat begitu sedih dengan air mata yang menganak pinak. Tatapan matanya kosong serta rambut dan pakaiannya nampak acak-acakan hingga menampakkan sebagian auratnya. Dirinya memegang sebilah pisau kecil di tangan kanannya dan berniat melukai dirinya kembali.
" Aluna, hentikan. Jangan bertindak bodoh seperti ini. Kumohon jauhkan pisau itu dari tanganmu! " Arkana memperingatkan gadis itu supaya tidak berbuat nekad kembali.
Wanita itu melihat siapa yang datang.
__ADS_1
" Arkana? Untuk apa kau kesini? Biarkan saja aku mati. Aku telah kehilangan semuanya. Dirimu, cintamu dan perhatian serta kasih sayang darimu. Bahkan kini kaupun sudah tak mempercayaiku lagi." Dirinya menangis seolah merasakan kepedihan yang mendalam.
" Jangan bertindak bodoh! Masa depanmu masih panjang. Aku yakin kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Aku mohon, jauhkan pisau itu darimu." Arkana bersikap waspada, khawatir wanita itu berbuat nekad.
" Pria lain katamu? Aku tidak menginginkan pria lain! Aku hanya menginginkanmu ! Aku bahkan rela menjadi yang kedua atau bahkan simpananmu, tapi kau sama sekali tak memandangku." wanita itu berteriak histeris.
" Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Aku sangat mencintai istriku. Aku tak mungkin menduakannya. Kumohon mengertilah, tenangkan dirimu dan berpikirlah dengan bijak."
Arkana menasehatinya dengan bahasa yang halus supaya Aluna menjadi lebih tenang. Raut wajah pria itupun nampak tegang, sepertinya rencananya hampir berhasil.
" Tidak ! Katakan kau mencintaiku dan menjadikanku disisimu atau kau akan melihatku meregangkan nyawa didepanmu." wanita itu mengarahkan pisau ke nadinya kembali.
Arkana sangat bingung kali ini, dirinya dihadapkan posisi yang sulit. Tentu saja dirinya tak bisa membohongi hatinya sendiri. Namun, apa dirinya tega melihat Aluna meninggal dihadapannya?
" Cepat katakan! " ancam Aluna kembali, sang ibu menyeringai senang lantaran akting putrinya bisa diacungi jempol.
" Tidak! Arkana hanya mencintaiku dan aku tidak akan pernah membaginya dengan siapapun! "
Netra Aluna terbelalak seketika saat menyadari kehadiran Seroja disana. Wanita itu datang dengan diantar oleh Arzel dan Aulia. Arkana telah menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia meminta izin untuk pergi lebih dulu lantaran kediaman Aluna berlawanan dengan kampus istrinya.
Aluna terlihat tegang melihat tatapan Seroja yang tajam sambil berjalan ke arahnya. Seroja melirik sekilas, saat mendapat kesempatan ia merampas pisau itu dari tangan Aluna dengan mudah.
Aluna tertegun, dirinya sudah cukup kesal lantaran keberhasilan yang hampir didepn mata, hancur berkeping seketika itu juga.
Seroja menggandeng tangan Arkana dan hendak beranjak dari tempat tersebut. Namun, sebelum pergi dirinya memperingatkan wanita itu kembali.
" Ingat! Arkana adalah suamiku. Tak kan kubiarkan siapapun mencoba merebutnya dariku, termasuk kau! "
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya keduaku. Dukungan kalian semangat author untu terus berkarya. Makasih sebelumnya...
__ADS_1