
Pagi ini Seno sudah berada di depan rumah kontrakan Faiha. Dia akan mengajak Faiha untuk cek kecocokan mata dengan pendonor yang sudah siap untuk mendonorkan matanya untuk Faiha.
"Ayo Fa, kamu udah siap kan" kata Seno
Faiha tersenyum "Apa kamu benar akan membiayai operasi mataku?"
"Ck kau tidak percaya padaku? Aku beneran sayang. Makanya ayo cepetan kita cek dulu kecocokan nya " kata Seno
"Tapi siapa yang akan mendonorkan matanya untuk ku?" tanya Faiha
Seno diam, Dia juga belum tahu siapa yang mau mendonorkan matanya pada Faiha. Papa ataupun Ayahnya sama sekali tidak memberitahu tentang odentitas si pendonor.
"Aku juga gak tau, nanti kita tanyakan saja sama Ayah dan Papa" kata Seno yang di jawab anggukan oleh Faiha
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Terlihat Faiha sangat gelisah, tangan nya saling meremas satu sama lain. Seno hanya tersenyum melihat kegelisahan dari sang kekasih. Dia tahu apa yang membuat Faiha gelisah karna sebenarnya Seno juga sedikit gelisah takut kalau donor matanya tidak cocok untuk Faiha.
Sesampainya di rumah sakit milik keluarga Gio. Seno pun segera keluar dari mobil dan membuka pintu mobil untuk Faiha.
Seno menggandeng tangan Faiha yang terasa dingin. Mereka menuju ruangan dokter sepesialis bedah.
"Jadi bagaimana dokter?" tanya Seno
Faiha telah selesai melakukan segala pemeriksaan oleh dokter dan sekarang mereka sedang duduk di depan meja kerja dokter untuk mendengar segala penjelasan dari dokter.
"Alhamdulillah semuanya sehat dan cocok" kata dokter
"Alhamdulillah " Faiha mengusap kedua tangan nya ke wajahnya mengucap syukur
"Hmmm. Dok apa saya boleh bertemu dengan orang yang mau mendonorkan matanya untuk saya?" kata Faiha
Dokter tersenyum "Baiklah, kebetulan orang itu menunggu di luar karna Dia juga ingin bertemu dengan kalian " kata dokter
Faiha dan Seno pun mengikuti langkah dokter ke salah satu ruangan yang ternyata disana sudah ada wanita yang umurnya seperti tidak jauh dari Salwa.
Wanita itu tersenyum melihat Seno dan Faiha berjalan ke arahnya.
"Apa tante yang akan mendonorkan matanya untuk pacar saya?" tanya Seno menatap mata wanita itu
'Kenapa gue merasa tidak asing dengan Dia ya' Seno
__ADS_1
"Iya dan saya senang bisa melihat kalian bahagia karna umur saya tidak lama lagi" katanya tersenyum
"Apa maksud ibu?" tanya Faiha yang dari tadi hanya diam mendengar kan
"Saya punya penyakit parah dan penyakit saya tidak ada harapan lagi untuk sembuh. Jadi saya akan mendonorkan kedua mata saya untuk mu agar saya bisa melihat kebahagiaan kalian" jelas wanita itu
"Anda sungguh orang yang sangat mulia. Aku sangat berterimakasih pada tante" kata Faiha tulus
"Iya sama sama nak" katanya
Setelah mengobrol dengan wanita itu, Faiha dan Seno pun kembali untuk pulang ke rumah Satya karna mereka ingin memberi tahukan kabar bahagia ini pada keluarganya.
"Assalamualaikum " ucap mereka saat memasuki rumah Satya
"Waalaikumsalam" jawab Salwa
"Gimana hasilnya?" tanya Salwa sudah tidak sabar
"Alhamdulillah Tante, hasilnya cocok" kata Faiha tersenyum
"Sayang jangan panggil Tante dong, panggil saja Bunda kaya Rachel" kata Salwa lembut
Faiha hanya mengangguk dan tersenyum.
"Lusa Bun" jawab Seno
'Kenapa gue inget terus sama Dia ya' Seno
"Assalamualaikum" Riza dan Tania baru saja sampai di rumah
"Waalaikumsalam " jawab mereka
Tania langsung berlari dan memeluk Bundanya.
"Gimana hasilnya Sen?" tanya Riza setelah duduk di sofa
"Alhamdulillah, hasilnya cocok" kata Seno tersenyum bahagia
"Alhamdulillah " kata Riza dan Tania serempak
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita makan siang dulu" ajak Salwa
Mereka pun makan siang dengan tenang. Setelah selesai makan Seno pamit untuk mengantar Faiha.
......................
Malam harinya Salwa dan Satya sedang duduk menyandar di tempay tidur. Mereka baru saja selesai melakukan olah raga malam.
Salwa menyandarkan kepalanya di dada Satya sambil membentuk pola tidak jelas di dada Satya dengan jarinya.
"Sayang, donor mata untuk Faiha ternyata cocok" kata Salwa
"Hmmm" jawab Satya
"Syukur kalau ada yang cocok" tambahnya lagi
Satya merasa geli dengan jari Salwa yang terus bermain di dadanya. Satya menangkap tangan Salwa dan mencium nya.
Kini Satya sudah berada di atas Salwa. Mereka menyatukan bibirnya dengan gairah penuh cinta. Satya mulai meremas kedua benda milik Salwa. Saat Satya sudah siap untuk melancarkan aksinya yang ke dua tapi semuanya terhenti karna ponsel Salwa berdering.
"Mas ada telpon, bentar ya" kata Salwa
Satya hanya mendengus kesal lalu Dia duduk di tempat tidur dan membiarkan Salwa mengangkat telpon nya dulu.
"Hallo Assalamualaikum. Siapa ya?"
"Waalaikumsalam. Salwa ini aku"
Salwa diam dan melirik pada Satya yang juga sedang fokus dengan ponselnya.
"Iya ada apa ya?"
"Bisa bertemu besok siang di cafe x"
Salwa terlihat berfikir sebelum menjawab ajakan dari sang penelpon.
"Baiklah"
"Terimakasih, sampai ketemu besok. Assalamualaikum "
__ADS_1
"Waalaikumsalam "
Salwa pun memutuskan sambungan telpon dan menyimpan ponselnya di meja kecil samping tempat tidur.