
Semua masih diam memandang ke arah Syiada dan Gisel. Entah apa yang terjadi pada mereka sehingga Gisel terlihat sangat emosi.
"Jadi Dia yang menjadi istri kaka?" tanya Gisel menunjuk Syaida
Gio hanya mengangguk dengan fikiran yang bingung apalagi saat melihat istrinya menunduk takut dan berlinang air mata.
"Arghhh" Gisel berteriak frustasi
"Kenapa kaka gak bilang kalau yang nikah sama kaka adalah Dia. Pokonya sekarang juga kaka ceraikan wanita murahan ini" teriak Gisel penuh emosi
"Apa maksudmu Gisella?" Gio mulai terpancing emosi
Bagaimana tidak? Gisel menyuruhnya menceraikan istri yang sangat Gio cintai. Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi.
"Ka, Dia itu wanita murahan yang merebut pacar aku Ka. Dia gak pantes jadi istri kaka" teriak Gisel lagi
Semuanya hanya diam dengan fikiran masing masing. Mereka masih belum mengerti tentang semuanya. Salwa merasa hatinya sakit saat ada seseorang yang menghina adiknya.
"Heh lo wanita murahan, apa yang udah lo lakukan sampai kaka gue mau nikah sama lo Gadis Miskin" Gisel menunjuk Syaida dan berjalan mendekatinya
Syaida mundur beberapa langkah, tiba tiba Dia memeluk Salwa dengan tubuh yang bergetar hebat. Salwa bingung dengan reaksi yang di tunjukan adiknya.
"Ampun Gisel, aku mohon jangan sakiti aku lagi. Ampun Gisel jika kamu memang mau aku berpisah dengan Mas Gio aku akan melakukan nya, tapi aku mohon jangan sakiti aku lagi" Syaida meracau di dalam pelukan kakanya
__ADS_1
Semuanya terkejut dengan ucapan Syaida terutama Gio. Apa yang telah Gisel lakukan pada Syaida? Kenapa Dia begitu takut pada Gisel?
"Hahaha. Bagus jika lo sadar gadis miskin" kata Gisel tertawa mengerikan
"CUKUP"suara Satya menggelegar memenuhi ruangan hingga Gisel pun terlonjak kaget
"Jangan kau menghina adik iparku" kata Satya dingin
Gisel menatap Satya dengan tatapan bingung, lalu Dia beralih pada wanita berhijab yang sedang memeluk Syaida. Gisel mengerti sekarang.
"Hahaha. Jadi kalian kaka beradik?" menunjuk ke arah Salwa dan Syaida
"Pantas saja keduanya sama sama murahan, sampe Ka Satya dan kaka gue kepincut sama lo berdua" kata Gisel tersenyum mengejek
Salwa menghela nafas beratnya. Kata kata 'wanita murahan' seolah kembali membuka luka lamanya.
"Jika memang kami sangat hina dimata kamu, saya tidak peduli asalkan kami tidak hina di mata Allah" kata Salwa
Semua yang ada disana memandang takjub pada Salwa. Mereka tidak mengira kalau Salwa bisa sebijak itu.
"Jangan bawa bawa Tuhan kau wanita murahan" Gisel berteriak kesal karna merasa di lawan oleh Salwa
"JAGA MULUTMU GISELLA" suara Satya kembali menggelegar membuat Gisel langsung bungkam karna Satya telah menatap tajam padanya
__ADS_1
Plak
Gio menampar adiknya yang dari tadi sudah sangat keterlaluan pada istrinya. Gio sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi.
Semua terkejut melihat Gio yang menampar adiknya. Karna selama mereka bersahabat dengan Gio, mereka sangat tahu kalau Gio itu selalu memanjakan Gisel.
"Kamu sudah keterlaluan Gisel. Dia itu istri kaka dan itu berarti Dia adalah kaka ipar kamu" kata Gio mendekati Sayida yang masih menangis di pelukan kakanya.
Gisel memegang pipinya yang terasa sangat panas. Sementara Gio berjalan ke arah Syaida, namun saat Gio akan mengelus kepala istrinya tiba tiba Syaida menepis tangan Gio.
"Aku butuh waktu untuk sendiri Mas. Aku harus berfikir apa pernikahan kita bisa di pertahankan atau tidak" suara Syaida terdengar bergetar
"Tapi sayang, aku..."
"Udahlah Gi, biar Syaida sendiri dulu dan lo urus adik lo yang gak bermoral itu. Gue sama istri gue bakal bawa Syaida ke rumah kita. Lo tenang aja gue bakal jagain Syaida" Satya memotong ucapan Gio
Gio hanya diam dengan perasaan dan fikiran yang tidak bisa dijelaskan. Gio tidak mau jauh dari istrinya apalagi istrinya sampai berkata seperti itu. Tapi Gio juga tidak bisa egois, Satya benar Dia harus membiarkan istrinya sendiri dulu biar bisa menenangkan fikirannya.
"Syaida bawa baju mu secukupnya saja. Kamu ikut kaka dulu ke rumah kaka" perintah Satya yang langsung di angguki oleh Syaida.
Syaida berjalan ke luar rumah Gio bersama Satya dan Salwa. Air mata tak pernah berhenti mengalir membasahi pipinya. Gio menahan tangan istrinya. Jujur saja Gio sangat tidak rela jika istrinya harus pergi. Tapi Gio juga harus mengurus adiknya dulu.
Gio mencium kening istrinya sangat lama seolah Dia tidak mau melepaskan ciuman itu. Gio mengusap air mata Syaida di pipinya.
__ADS_1
"Jaga diri baik baik, tenangkan fikiran mu sayang. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini" kata Gio yang hanya di balas anggukan oleh Syaida
Gio menatap sendu mobil Satya yang sudah keluar dari gerbang rumah nya.