
Satya dan Gio masih menatap Syaida menunggu kata selanjutnya. Semoga kali ini bisa mendapatkan cara yang tepat. Satya sangat berharap tentang cara Syaida kali ini.
"Kita harus cari Bapak Kak" kata Syaida membuat keduanya terkejut
"Bapak kita masih hidup, tapi aku sama kak Salwa gak tahu Bapak ada dimana" kata Syaida sedih
"Terus kenapa Bapak kamu pergi gitu aja ninggalin kalian?" tanya Gio
Syaida menghela nafas berat, mata nya memandang lurus kedepan dengan tatapan menerawang.
"Bapak aku bukanlah orang yang baik, dulu Dia suka minum minuman keras dan bermain judi. Bahkan tak segan Bapak menyiksa kaka dan Ibu. Mereka selalu melindungi ku ketika Bapak akan menyiksaku." Air mata Syaida sudah mengalir
"Sampai pada saat Ibu meninggal, Bapak menjual rumah peninggalan Ibu dan membawa uang nya tanpa menghiraukan aku dan kaka dan sampai sekarang kita tidak tahu dimana Bapak" Syaida menangis terisak
Gio segera memeluk istrinya itu. Gio dan Satya tidak menyangka bahwa hidup kedua gadis muslimah ini ternyata sangat menyedihkan. Satya semakin menyesal karna Dia juga pernah menyiksa Salwa, bukan secara lahir tapi secara batin. Satya menyesal telah melukai hati Salwa yang memang sudah banyak menyimpan luka.
"Lalu kenapa kalian bisa sebaik dan sesolehah ini jika Bapak kalian seperti itu?" tanya Gio penasaran
"Karna Ibu kita yang mendidik kita dan kita pernah belajar di pesantren" jelasa Syaida tersenyum membayangkan kelembutan Ibu nya.
"Ya udah kamu jangan sedih lagi ya Sayang. Sekarang kita harus cari Bapak nya salwa Bang" kata Gio
Satya mengangguk dan langsung mengeluarkan ponsel nya dari saku jas nya.
"Hallo Jhoni tolong cari Bapak Salwa secepat nya. Nanti saya kirim ciri ciri nya" Satya langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dari Jhoni.
__ADS_1
"Gila lo Bang, sekarang lo punya banyak anak buah, lo juga udah bisa kembangin bisnis Bokap lo dan lo udah punya bisnis yang lo bangun sendiri" Gio menatap takjub pada Satya
"Gak usah lebay lo. Lo juga udah jadi pemilik rumah sakit sebesar ini" kata Satya
Syaida hanya tersenyum melihat keakraban kedua sahabat ini.
"Oh ya gue sampe lupa" Satya menepuk dahi nya
"Apa kamu punya foto Bapak kamu dhe?" tanya Satya
"Ada kak"
Syaida merogoh tas selempang nya dan mengeluarkan dompet warna merah miliknya lalu membuka dan melepas foto pas dompet lalu menyerahkan nya pada Satya.
Satya menerima nya dan mengerutkan keningnya saat melihat ada dua anak remaja dan seorang ibu.
Syaida hanya tersenyum malu. Gio segera melihat ke arah foto yang di pegang Satya. Gio pun tersenyum melihat foto dua anak remaja yang terlihat sangat manis dan menggemaskan.
"Kalian memang udah cantik dari lahir ya" kata Gio
"Hahaha. Gombal dasar" Syaida menepuk lengan suaminya
"Hahaha. Benar ko sayang" Gio malah mencium pipi istrinya yang langsung memerah menahan malu.
"Woy. Jangan bermesraan depan gue lo" Satya menendang pelan kaki nya Gio
__ADS_1
"Hahaha. Gue lupa kalo yang di samping gue ini gak ada pasangan nya. Maka nya cepet cari donor buat Salwa biar bisa mesra mesraan kaya kita" kata Gio sengaja mengejek Satya supaya Satya sedikit terhibur.
................
Satya telah menyerahkan foto ayah nya Salwa pada Jhoni. Satya berharap Jhoni akan segera menemukan Ayah nya Salwa.
Satya sedang duduk di sofa ruang tamu apartemen nya. Sesekali Dia melirik ponselnya berharap Jhoni akan segera menghubungi nya.
Sudah 4 hari Salwa terbaring di rumah sakit. Satya takut Dia akan terlambat mencarikan donor untuk Salwa. Bayi mereka pun masih di ingkubator karna lahir lebih cepat dari waktu semestinya. Satya hanya bisa melihat bayi nya sehari sekali, karna Dia terlalu sibuk mencari pendonor untuk Salwa. Sementara Bella, Satya tidak mungkin menyetujui permintaan Bella.
Ponsel Satya pun berdering, Satya segera mengangkat nya setelah melihat siapa yang menghubungi nya.
"Hallo Tuan" sapa Jhoni di sebrang sana
"Bagaiman?" tanya Satya dingin
"Saya sudah menemukan ayah nya nona Tuan. Tapi Dia..." Jhoni ragu untuk mengatakan sejujurnya
"Katakan"
"Ayah nya nona minta imbalan Tuan" kata Jhoni
Satya tersenyum, Dia sudah menduga tentang itu. Dan Satya tidak masalah soal ayahnya Salwa minta imbalan berapa pun itu. Yang penting sekarang untuk Satya adalah kesembuhan istrinya.
"Berikan apa yang Dia mau setelah Dia benar benar bisa menjadi pendonor untuk Salwa" Satya langsung menutup telpon nya dengan perasaan sedikit lega.
__ADS_1
Semoga saja ayah nya Salwa benar bisa jadi pendonor untuk Salwa.