
Satya,Syaida dan Gio masih menunggu di depan ruang operasi. Sudah setengah jam lebih setelah bayi Salwa lahir tapi dokter pun belum keluar juga.
Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat lain nya keluar. Gio mengerutkan keningnya ketika melihat dokter Rini yang juga keluar dari ruangan operasi.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Satya tak sabar
Rini dan Sinta hanya bisa menghela nafas nya. Gio yang profesi nya sama dengan mereka tentu tahu ada yang terjadi dengan pasien nya.
"Kenapa Dokter Rini ada disini?" tanya Gio yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran nya.
"Salwa adalah pasien saya" kata Rini
"Apa?" Gio tersentak kaget
"Maksud Dokter Rini Salwa mengidap penyakit kanker?" tanya Gio tak percaya
Duar
Bagai tersambar petir di siang bolong Satya dan Syaida langsung lemas. Syaida merasa kepalanya pusing, penglihatan nya mulai buram dan menjadi gelap. Syaida jatuh pingsan, untung saja Gio cepat menahan tubuh nya yang hampir ambruk ke lantai.
"Sayang bangung" Gio menepuk pipi Syaida
"Bang gue bawa istri gue dulu. Lo harus kuat Bang demi anak lo" Gio langsung menggendong Syaida dan membawa nya ke ruangan UGD untuk langsung Dia periksa.
Sementara itu Satya masih diam mematung menunggu penjelasan dokter selanjutnya.
__ADS_1
"Apa anda suami Salwa Tuan?" tanya Dokter Rini
Satya hanya mengangguk dengan tatapan kosong.
"Mari ikut keruangan saya" Dokter Rini berjalan diikuti Satya yang masih mencoba mengumpulkan kesadaran nya.
Satya sudah sampai di depan ruangan dokter Rini yang di pintu nya tertulis 'Dokter spesialis Kanker' Satya merasa dadanya sesak dan tubuhnya lemas. Satya berjalan tertatih tatih ke dalam ruangan itu dan duduk di kursi depan dokter Rini.
"Jadi apa anda siap mendengar semuanya Tuan?" tanya Dokter Rini menghembuskan nafas kasar
"Iya Dok saya siap" Satya memandang kosong seolah siap mendengar kenyataan terburuk dari sang dokter.
"Salwa sudah mengidap penyakit leukimia sejak lama. Bahkan saat Dia hamil penyakitnya sudah sampai stadium 4"Dokter Rini menarik nafas
"Saya sudah menyuruh Salwa untuk menggugurkan kandungan nya. Karna sangat beresiko untuk kondisinya. Yang Salwa derita adalah kanker darah dan jika Dia melahirkan maka Dia akan mengalami pendarahan hebat seperti yang Tuan lihat tadi" Dokter Rini masih menjelaskan
Dokter Rini mengehela nafas berat dan menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi.
"Saya masih mengingat kalimat Salwa waktu itu 'Bayi ini adalah harapan ku' itulah yang Salwa katakan. Saya sebagai dokter tidak bisa memaksa kan kehendak. Salwa adalah wanita yang kuat dan tegar menghadapi semua masalah nya sendiri. " kata Rini lagi
"Lalu bagaimana kedaan istri saya sekarang Dok?" tanya Satya sudah dengan mata berkaca kaca
"Salwa masih keritis dan belum sadarkan diri. Salwa harus segera mendapat donor tulang sumsum belakang. Hanya itu cara yang bisa menyelamatkan nyawanya. Salwa tidak pernah melakukan pengobatan apapun selain obat yang diminum nya. Entah apa alasan Salwa tidak mau hanya sekedar melakukan kemoterapi " jelas Dokter Rini
"Lakukan apa yang terbaik untuk istri saya dok. Saya akan bayar berapapun biaya nya" kata Satya memohon
__ADS_1
"Bukan masalah biaya Tuan. Tapi kita harus mencari orang yang mau mendonorkan tulang sum sum belakang nya dan yang cocok dengan Salwa" jelas Dokter Rini lagi
"Saya saja dok, saya rela mendonorkan nya untuk istri saya" kata Satya
"Baiklah nanti Saya akan menyuruh perawat mengecek kecocokan nya agar bisa dengan cepat mendonor kan nya pada Salwa" kata Dokter Rini
"Apa saya bisa melihat istri saya dok?" tanya Satya
"Bisa, tapi hanya satu orang saja ya karna Salwa sekarang ada di ruangan ICU" kata Rini
Satya pun mengangguk dan berjalan ke luar ruangan dokter Rini dan menuju ruangan Salwa.
Satya menatap sendu pada wanita berhijab yang terbaring lemah dengan beberapa alat medis menempel di bagian tubuhnya. Wajah cantik Salwa terlihat pucat, bibir yang selalu tersenyum ramah kini terlihat sangat pucat.
Satya duduk di kursi samping tempat tidur dengan tangan menggenggam tangan Salwa dan meletakan di pipinya.
Kau bodoh sekali. Kenapa membiarkan darahmu yang menjijikkan itu menetes disini hah?
Jika kau sakit syukurlah biar cepat mati sekalian. Jadi aku bisa bebas darimu
Semua ucapan kejinya pada Salwa kembali teringat di fikiran Satya sampai Dia menangis tersedu sedu.
"Aku mohon sayang, jangan hukum aku seperti ini. Aku tidak akan sanggup jika kau meninggalkan ku. Sayang bertahanlah, aku akan mencarikan pendonor untuk mu. Aku tidak akan membentak mu lagi... Hiks hiks.. Aku salah pernah berkata seperti itu, aku gak akan sanggup jika kamu pergi sayang" Satya menangis terisak dan mencium tangan Salwa berkali kali
Aku akan memaafkan mu jika anak kita sudah lahir. Semoga aku masih bisa melihatmu setelah anak ini lahir
__ADS_1
"Sayang aku mohon kamu harus bisa melihatku dan anak kita sayang. Kamu harus kuat demi anak kita sayang. Riza masih membutuhkan mu sayang" tangis Satya kembali menjadi
Satya mencium kening, pipi, mata dan bibir Salwa. Satya benar benar merutuki kebodohan nya karna tidak menyadari penyakit Salwa. Padahal dulu Salwa sering sekali mimisan, tapi bodohnya Satya tidak menghiraukan nya. Satya memang bodoh dan sekarang tinggal lah penyesalan yang menyelimuti hati nya.