
Seminggu telah berlalu, hari ini Salwa dan bayi nya sudah diizinkan pulang. Satya selalu setia menemani istrinya selama di rawat di rumah sakit.
"Sudah siap sayang?" tanya Satya
"Iya Mas" Salwa pun berdiri sambil menggendong bayi nya
Satya dan Salwa berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Satya merangkul pinggang Salwa yang sedang menggendong bayi mereka.
Salwa dan Satya sudah berada dalam mobil. Satya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Salwa asyik melantunkan sholawat untuk bayinya dan itu membuat Satya tersenyum haru.
Setelah setengah perjalanan Salwa baru menyadari kalau ini bukan jalan ke arah apartemen Satya ataupun ke rumah kontrakan nya. Lalu Satya akan membawa nya kemana? fikir Salwa bingung.
"Mas" Salwa membenarkan posisi duduk nya hingga sekarang menghadap Satya
"Hmmm" tanpa menoleh ke arah Salwa
"Ko jalan nya beda?" tanya Salwa menatap suaminya
"Beda?" Satya mengerutkan keningnya memang Dia tidak mengerti dengan pertanyaan Salwa
"Iya beda, inikan buka jalan ke arah apartemen atau kontrakan. Lalu kita mau kemana?" tanya Salwa
Satya tersenyum baru mengerti apa maksud istrinya itu.
"Kita mau ke suatu tempat dulu" kata Satya santai
"Kemana?" tanya Salwa makin penasaran
"Ada aja" Satya tersenyum menggoda
"Ihhh Mas" Salwa memukul pelan tangan suaminya yang sedang memegang setir.
__ADS_1
Satya hanya tertawa melihat wajah kesal istrinya. Entah kenapa Satya menjadi hobi menjahili istrinya sampai kesal. Menurut Satya wajah kesal istrinya sangat manis dan menggemaskan.
Mobil yang di tumpangi Salwa dan Satya telah sampai di pekarangan rumah besar dengan desien mewah dan elegan. Rumah satu lantai namun sangatlah luas dan mewah. Satya sengaja membelikan rumah satu lantai supaya istrinya tidak kecapean jika harus naik turun tangga saat mengejar anak anak nya yang lari larian. Benar benar sudah di antisipasi oleh Satya jika nanti anak nya sudah bisa lari larian.
Salwa makin bingung dengan Satya yang membawanya ke sebuah rumah bak istana ini. Salwa ingat betul ini bukan lah rumah Vano atau Hendarto Papi mertuanya.
"Ini rumah siapa Mas?" tanya Salwa bingung
"Ayo masuk dulu" Satya menggandeng tangan Salwa dan berjalan masuk ke dalam rumah mewah itu.
Saat pintu rumah terbuka Satya dan Salwa langsung di sambut ramah oleh dua yang satu perempuan paruh baya dan yang satunya lagi masih terlihat muda mungkin umurnya sama dengan Salwa.
"Selamat datang Nyonya, Tuan" sapa mereka berdua menunduk hormat
"Terimakasih" Salwa tersenyum ramah pada keduanya sementara Satya hanya mengangguk dengan wajah datar nya.
Salwa melihat lihat ke sekeliling nya, sungguh Dia sangat kagum dengan isi rumah ini yang semua barang terlihat mewah dan pastinya mahal.
Rumah dengan 3 kamar utama, 2 kamar tamu, dan ada khusus kamar para pekerja di rumah itu di bagian belakang rumah tepatnya dekat dengan dapur. Ruang tamu dan ruang keluarga yang luas. Sungguh akan sangat nyaman jika tinggal disini.
"Mas kenapa kita kesini? Ini kamar siapa?" tanya Salwa polos
"Ini kamar kita sayang" ucap Satya santai
"Kamar kita?" Salwa makin tak mengerti
"Iya" Satya mendekap wajah Salwa dengan kedua tangan nya lalu mengecup singkat bibir istrinya
"Ini rumah baru kita" kata Satya lagi
"Rumah baru? Kamu beneran Mas?" tanya Salwa kaget
__ADS_1
"Iya sayang. Aku sengaja membeli rumah ini untuk keluarga kecil kita. Apalagi jarak rumah ini dan kantor ku dekat " jelas Satya
Salwa hanya diam, Dia masih bingung. Benarkah ini rumah nya? Semewah ini? Mimpi apa Dia semalam sampai bisa tinggal di rumah semegah ini? Fikiran Salwa melayang kemana mana.
"Sayang" Satya menyadarkan Salwa dari lamunan dan keterkejutan nya
"Kenapa melamun hmm?" tanya Satya lembut
"Ti.. Tidak papa Mas" Salwa berjalan mendekat ke arah Satya yang sudah duduk di tempat tidur.
Salwa diam tanpa berniat duduk ataupun naik ke tempat tidur itu. Entah kenapa semua bayangan waktu tinggal di apartemen Satya kembali hadir di fikiran Salwa. Entah kenapa Salwa merasa takut untuk tidur bersama suaminya ini.
"Kenapa diam saja, sini" Satya menepuk tempat tidur di sampingnya agar Salwa naik kesana
"Hmmm. Apa aku boleh tidur disini? Bersama mu?" tanya Salwa polos
Satya menoleh ke arah Salwa dan menatap manik hitam mata Salwa. Terlihat jelas ketakutan dan luka yang dalam di matanya. Satya mengerti kenapa Salwa menanyakan itu.
"Sini, duduk dulu sini. Riza nya kamu tidurkan dulu di sana" Satya menunujuk box bayi di samping tempat tidur nya
Salwa hanya menuruti saja, Dia menidurkan Riza di box bayi lalu Dia naik ke tempat tidur dan duduk di samping suaminya.
"Apa kamu masih takut padaku?" tanya Satya menatap lembut wajah istrinya
Salwa hanya menunduk lalu menggelengkan kepalanya. Jujur saja Salwa masih takut jika suaminya akan kembali seperti dulu, itulah yang di takutkan Salwa selama suaminya bersikap baik dan hangat padanya.
"Terus kenapa kamu menunduk gitu hmm?" tanya Satya mengangkat dagu Salwa agar menatap nya
"Ak..Aku cuma takut kamu akan berubah seperti dulu lagi" setetes air mata lolos dari mata nya
"Sayang" Satya memeluk Salwa dengan erat dan mencium kepalanya berkali kali
__ADS_1
"Aku tidak akan mengulangi kebodohan ku dulu. Aku sangat mencintai mu Sayang. Jangan takut lagi padaku " kata Satya masih memeluk salwa. Mata Satya tetpejam saat mengatakan itu
Salwa hanya mengangaguk dan membalas pelukan Satya. Mereka pun saling berpelukan.