
Malam hari nya Satya sudah berada di ruangan Salwa. Satya menggenggam tangan istrinya dan mencium nya. Salwa masih betah dengan tidur panjang nya. Satya menjadi gelisah karna Salwa belum membuka matanya juga.
Ceklek
Pintu ruangan Salwa terbuka dan langsung masuk dokter Rini untuk memeriksa keadaan Salwa pasca operasi.
"Dok, kenapa Salwa belum sadar juga?" tanya Satya cemas
Dokter Rini hanya tersenyum melihat kekhawtiran di wajah Satya. Dokter Rini pun langsung memeriksa keadaan Salwa.
"Sebentar lagi Salwa akan sadar ko Tuan. Operasi nya berhasil dan Salwa sudah dinyatakan sembuh dari penyakit kanker nya sekarang tinggal masa pemulihan saja" jelas Dokter Rini
"Baiklah. Terimakasih dokter" Satya berjalan menghampiri Salwa dan mencium keningnya
Dokter Rini hanya tersenyum melihat Satya yang terlihat sangat menyayangi istrinya itu. Dokter Rini pun segera pergi keluar ruangan Salwa.
Satya masih menatap wajah cantik Salwa yang masih terlihat pucat. Tiba tiba Salwa mengerjapkan matanya berkali kali sebelum Dia benar benar membuka matanya. Satya tersenyum bahagia saat melihat Salwa membuka matanya.
Salwa masih terlihat bingung, Dia melihat Satya sedang tersenyum lalu mencium kening nya. Salwa masih belum bisa mengeluarkan suara. Salwa merasa tenggorokan nya kering dan Salwa juga merasakan sakit di bagian punggung nya dan di bagian perut nya.
Salwa baru sadar kalau perutnya sudah kembali rata. Entah kenapa Salwa meneteskan air matanya saat menyadari kalau anak nya sudah lahir. Perasaan nya was was, apakah anak nya baik baik saja? pertanyaan itu hanya bisa berada di fikiran nya karna suara nya terasa tercekat.
"Sayang kenapa menangis hmm?" tanya Satya sambil menghapus air mata Salwa
Salwa mencoba membuka mulut nya untuk menanya kan 'anak kita' . Tapi Salwa tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dia hanya bisa menggerakan bibirnya.
__ADS_1
Satya mengerti apa yang di maksud istrinya, Satya melihat gerak bibir istrinya itu.
"Anak kita baik baik saja sayang. Kamu jangan khawatirkan itu. Aku akan memanggil dokter dulu" Satya mencium kening Salwa lalu memencet tombol merah yang emang sengaja disediakan untuk memanggil dokter di keadaan darurat.
..................
Syaida dan Gio sedang berada di ruangan ayah Syaida. Mereka sengaja menemui ayah Syaida terlebih dahulu karna mereka tahu Satya akan selalu ada di ruangan Salwa untuk menjaga Salwa.
"Bapak makan dulu ya"
Syaida sengaja membawakan bubur buatan nya untuk sang ayah. Mau bagaimana pun Syaida tetap menyayangi ayah nya. Karna jika tidak ada ayah nya, maka Syaida dan Salwa tidak akan bisa lahir kedunia ini.
"Tidak usah sok perhatian kamu Syaida" kata ayah nya ketus
"Pak, Bapak harus makan" Syaida tetap memaksa sambil menyendokan bubur lalu menyodorkan nya ke mulut sang ayah
Gio yang sedari tadi hanya duduk diam di sofa pun merasa geram melihat kelakuan ayah Syaida pada istrinya. Gio pun berdiri dan berjalan ke arah Syaida.
"Kenapa Bapak sangat membenci adhe dan kaka?" tanya Syaida dengan suara lirih
"Karna kau dan kakamu itu hanya pembawa sial. Kakamu tidak pernah mau menuruti perintah Bapak" kata ayahnya setengah berteriak
"Itu karna apa yang Bapak perintah kan pada kaka bukanlah hal yang baik dan akan membuat dosa" sanggah Syaida membela kakanya
"Diam kau Syaida. Pergi kalian dari sini" teriak ayah nya Syaida
__ADS_1
Syaida pun berdiri dan menggandeng suaminya untuk pergi dari ruangan ayahnya. Syaida tahu betul kalau ayahnya sudah marah maka emosi nya akan sangat sulit untuk di kontrol. Ayah nya akan melakukan apapun ketika sedang marah bahkan menyiksa Syaida dan Salwa.
"Bertobatlah sebelum terlambat Pak" kata Syaida sebelum menutup kembali pintu ruangan itu.
...............
Salwa sudah selesai di periksa oleh dokter Rini. Kini Dia sedang duduk menyandar pada sandaran tempat tidur. Salwa sudah bisa berbicara dengan normal setelah dokter memberinya obat dan minum air putih.
Sekarang Salwa sedang di suapi bubur oleh Satya. Sebenarnya Salwa belum nafsu makan, lidah nya terasa pahit. Tapi Salwa tidak mau mengecewakan suaminya yang sudah mau menyuapi nya.
Sebenarnya Salwa berfikir kenapa suaminya jadi semanis ini padanya. Bahkan Satya sangat lembut saat berbicara pada Salwa.
"Mas sudah ya. Aku sudah kenyang" Salwa mencegah tangan Satya yang akan menyuapi nya lagi.
"Ya sudah, tapi nanti harus makan lagi" kata Satya lembut
Salwa hanya mengangaguk
"Mas bagaimana keadaan bayi ku?" tanya Salwa penasaran
"Bayi kita sehat ko sayang, Dia masih di ingkubator karna lahir lebih cepat dari waktunya. Tapi kamu tenang saja Dia baik baik saja "Satya tersenyum
"Hmmm. Syukurlah"Salwa tersenyum lega
"Aku sudah memberinya nama Farhan Rizaya Bramarta. Tapi jika kamu tidak suka kamu boleh menggantikan nama nya" kata Satya hati hati
__ADS_1
"Tidak apa Mas aku suka, nama nya bagus" kata Salwa tersenyum tulus
Satya hanya diam memandang wajah cantik Salwa. Semakin lama Satya memandangi wajah Salwa. Maka Satya semakin merutuki kebodohan nya selama ini. Bahkan Satya tidak bisa melihat kecantikan wajah Salwa dan juga ketulusan Salwa padanya. Satya terlalu di butakan oleh semua ucapan Bella dan kebencian nya pada Salwa.