
Satya baru saja kembali ke kamar hotel nya tepat pukul 10 malam. Satya sengaja mengerjakan semua pekerjaan nya hari ini agar besok Dia bisa pulang dan pekerjaan yang lain bisa di wakilkan pada anak buah nya.
Satya keluar dari kamar mandi setelah selesai melakukan ritual mandinya. Satya memakai pakaian santainya lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Ya ampun kenapa gue sampe lupa buat hubungin Salwa " Satya menepuk kening nya sendiri
Terlalu sibuk mengurusi pekerjaan, Satya sampai lupa tidak menghubungi istri tercintanya. Bukan nya mengabaikan istrinya, justru Satya ingin segera pulang sehingga Dia harus lembur agar pekerjaan nya segera selesai dan Dia bisa cepat pulang bertemu istri dan anak anak nya.
Satya mebuka laci di sampingnya lalu mengambil ponsel pribadinya yang di khususkan untuk keluarga saja.
"Sial, ponsel gue mati lagi. Kenapa gue sampe lupa ngisi batre ponsel gue si" Satya mengusap wajahnya frustasi
Satya pun segera mencarger ponselnya dan Dia langsung merebahkan tubuhnya. Satya berniat memberi kejutan pada Salwa besok. Karna besok pagi Satya akan pulang karna pekerjaan yang lainnya bisa di serahkan pada anak buahnya.
......................
"Bunda Riza mau sekolah aja" kata Riza merengek
Salwa menggeleng " Tidak boleh Sayang! kalian harus istirahat dulu di rumah "
"Udah si Za, kamu itu harus nya senang karna kita gak sekolah jadi bisa main di rumah sepuasnya" kata Seno
"Aku beda sama kamu ya Sen, aku mau sekolah karna aku mau pintar dan nantinya bisa sukses kaya Ayah" kata Riza
Salwa tersenyum melihat sifat Riza yang selalu giat belajar dan sudah mempunyai cita cita di usianya yang masih kecil.
"Terserah kamu deh Za" Seno pun pergi ke arah taman untuk bermain
"Ya sudah sekarang kamu istirahat aja" kata Salwa lembut
Riza menggeleng cepat " Gak Bunda, aku gak mau tiduran terus bosen. Aku mau main aja sama Seno"
Salwa tersenyum " Ya sudah, tapi ingat kalian tidak boleh terlalu capek"
"Iya Bunda" Riza pun berjalan menyusul Seno ke arah taman
Salwa kembali duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV. Salwa sebenarnya belum sepenuhnya sehat, tapi Dia juga tidak mungkin menginap di rumah sakit sementara anak anaknya di rumah tidak ada yang mengurus.
Ting tong
__ADS_1
Suara bell mengalihkan pandangan Salwa yang fokus pada TV. Salwa melihat ke sekeliling sepertinya Bi Yani sedang di belakang jadi Salwa yang harus membuka kan pintu.
Ting tong
Salwa berdiri dari duduknya saat bell kembali berbunyi. Salwa berjalan dengan perlahan karna pening di kepalanya belum sembuh di tambah lagi suhu tubuhnya juga belum sepenuhnya kembali normal.
Ceklek
Salwa membuka pintu dan matanya langsung terbelalak dengan kedua tangan menutup mulutnya karna terlalu terkejut.
"Mas" Salwa langsung memeluk suaminya dan menangis di dalam pelukan nya
"Assalamualaikum Sayang, ko malah nangis si?" tanya Satya bingung
"Waalaikumsalam. Abisnya kamu jahat mas, gak bisa di hubungi dari kemarin" kata Salwa di sela tangisnya
"Maafkan aku sayang, ponsel ku kemarin habis batre dan aku juga sibuk kemarin" kata Satya mengelus kepala istrinya
"Ya sudah, ayo masuk dulu" Salwa dan Satya pun masuk lalu duduk di sofa ruang tamu
Salwa sama sekali tidak melepaskan pelukan nya karna memang Dia sangat merindukan suaminya. Padahal hanya beberapa hari saja Dia tinggal bagaimana jika suaminya benar benar berada di luar kota selama dua minggu seperti rencana awal.
"Sayang" Satya mengusap kening istrinya dan Satya merasakan tubuh istrinya yang panas
"Gak papa ko Mas, cuma demam biasa aja" kata Salwa
"Kita ke rumah sakit ya" ajak Satya lembut
Mendengar kata rumah sakit Salwa baru ingat kalau Dia belum cerita tentang anak anak nya yang kemarin sempat masuk rumah sakit.
"Mas ada yang mau aku bicarakan " kata Salwa menatap suaminya
"Apa?" tanya Satya
"Hmmm. Kemarin anak anak.... "
"Anak anak kenapa sayang?" tanya Satya mulai penasaran
"Anak anak.... kecelakaan Mas" kata Salwa
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Satya terkejut
Salwa pun menceritakan semuanya termasuk apa yang membuat anak anak nya sampai tertabrak mobil.
"Anak anak ku memang hebat" kata Satya tersenyum bangga
Salwa mengerutkan keningnya " Ko hebat si Mas? mereka tertabrak mobil loh. Untung saja mereka tidak papa"
Satya tersenyum " Sayang, laki laki itu memang harus mau menolong dan bisa melindungi seorang wanita. Itulah baru lelaki sejati seperti aku"
Salwa hanya terbengong " Dasar kamu ini Mas"
"Hehe, oh ya bagaimana keadaan baby? Gak nakal kan sayang?" Satya mengelus perut istrinya yang mulai membuncit
"Alhamdulillah, semuanya baik ko Mas" Salwa mengusap tangan Satya yang berada di perutnya
"Ayah" teriak Riza dan Seno yang langsung berlari ke arah Ayahnya dan memeluknya.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Satya
"Kita baik ko Yah " jawab Seno
"Bagus, kalian jangan buat Bunda khawatir lagi ya" kata Satya menatap tajam kedua anaknya
"Kita gak buat Bunda khawatir Yah, tapikan kita cuma nolong orang. Lagian kasihan Yah kalau sampe gadis cantik itu tertabrak" kata Seno
"Dasar hidung belang. Semuanya aja di bilang cantik " kata Riza mengejek
"Ishh biarin aja kali, lagian aku kan banyak di sukai banyak cewe. Daripada kamu yang dingin nya kaya kulkas jadi para cewe gak mau dekat sama kamu" kata Seno langsung berlari karna takut Riza akan murka
"Jangan lari kau Senoooo" teriak Riza yang mengejar Seno
Salwa menggelengkan kepalanya " Lihat lah mereka, bagaimana aku tidak pusing coba melihat keduanya yang tidak pernah akur"
"Kita harus waspada sayang" kata Satya
"Maksudnya?" tanya Salwa tidak mengerti
"Ck Seno itu sifatnya mirip sekali dengan ayah kandung nya. Playboy dan penggila wanita" jelas Satya
__ADS_1
Salwa hanya mengangguk
'Apa si berengsek itu tidak mau mencari anaknya?' Satya