
Gisel sedang duduk santai di rumah kakanya. Gisel tidak tahu kalau kakanya pergi ke rumah sakit bahkan sampai tidak pulang semalam itu karna menemui Saydia. Gisel masih yakin kalau kakanya tidak akan kembali pada istrinya.
"Nona Gisel" Bi Anah memanggil Gisel dengan nafas ngos ngosan sepertinya Dia sudah berlari.
Bi Anah di pekerjakan di rumah Gio semenjak Gisel tinggal disana. Karna Gisel tidak mau repot membereskan rumah.
"Ada apa Bi?" Gisel mengerurkan keningnya tidak mengerti
"Di luar ada tamu yang mencari Nona" jelas Bi Anah tanpa mengetakan siapa sebenarnya tamu itu.
"Oh, ya udah Bibi gak usah panik gitu kali. Aku bakal temuin tamunya" kata Gisel santai sambil berdiri dan berjalan ke arah ruang tamu
Gisel menghentikan langkah nya saat melihat dua orang pria berpakaian polisi sedang duduk di sofa ruang tamu. Gisel menelan ludahnya kasar saat kedua polisi itu menengok ke arah nya. Gisel mundur beberapa langkah saat kedua polisi itu berdiri dan berjalan cepat ke arahnya.
Dengan sigap polisi itu menahan tangan Gisel yang sudah siap melarikan diri. Polisi ity segera memasangkan borgol di kedua tangan Gisel.
"Anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana satu tahun lalu yang menimpa korban yang bernama Dinda Nur Syaida. " kata polisi yang satu
"Tidak. Saya tidak bersalah Pak, saya difitnah " Gisel memberontak saat polisi menyeretnya keluar rumah
"Saya tidak bersalah Pak" Gisel masih mencoba berontak
Polisi membuka pintu mobil dan memasukan Gisel secara paksa. Lalu polisi yang satu masuk ke depan untuk mengemudi dan yang satunya lagi masuk ke kursi belakang untuk menjaga Gisel.
__ADS_1
"Oke Pak saya akan ikut Bapak dan tidak akan berontak lagi. Tapi saya mohon izinkan saya menghubungi kaka saya" kata Gisel memohon
"Baiklah Nona, mana posel anda?" tanya polisi itu
"Ada di saku celana saya, bisa tolong ambilkan" kata Gisel menunjuk saku celana baggy pant nya dengan kedua tangan nya yang di borgol
Polisi pun mengambilkan ponsel Gisel lalu menyerahkan nya. Gisel mengutak ngatik ponsel nya dengan tangan yang masih di borgol. Setelah menemukan nomor ponsel kakanya, Gisel pun segera menelpon nya dan menekan tombol speaker agar Dia bisa gampang mendengar ucapan kakanya. Karna dengan tangan di borgol sangat susah untuk Gisel mendekatkan poselnya ke telinga.
"Hallo Ka"
"Apa?"
"Tolong aku Ka" kata Gisel merengek dan memohon
"Tolong apa?" terdengar sangat datar dan dingin suaranya
Gio hanya mengangguk dengan wajah datar nya, walau Dia tahu Gisel tidak akan melihatnya.
"Kenapa kau di bawa polisi? Emang kau melakukan kesalahan apa?"
Gisel diam, bingung harus menjawab apa. Jika Dia jujur, pasti kakanya akan murka. Tapi jika Dia tidak bilang alasannya. Kakanya tidak akan percaya kalau Dia ditangkap polisi.
"Aku..." kembali diam karna terlalu bingung harus bicara apa
__ADS_1
Gio pun hanya diam mendengarkan adiknya. Gio ingin melihat apakah adiknya akan jujur atau malah berbohong padanya. Gio benar benar sudah kecewa pada Gisel, sehingga Dia akan memberikan Gisel pelajaran. Semoga saja dengan Gisel di penjara, Dia akan bisa berubah dan menyadari kalau di setiap perbuatan pasti akan ada akibat yang harus di pertanggung jawabkan.
Polisi yang melihat Gisel hanya diam pun mengambil poselnya secara paksa.
"Maaf apa benar ini dengan kakanya saudara Gisel?"
"Iya"
"Nona Gisel kami tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap korban yang bernama Dinda Nur Syaida " jelas polisi
"Lakukan lah semuanya sesuai prosedur yang berlaku Pak. Saya serahkan adik saya pada pihak kepolisian" Kata Gio yang berhasil membuat mata Gisel hampir saja copot karna terlalu terkejut dengan ucapan kakanya
"Ka tolong aku Ka." teriak Gisel histeris karna ucapan kakanya yang seolah tidak akan membantunya
Gio segera menutup telpon nya tanpa menghiraukan teriakan adiknya. Gio sudah yakin dengan semua keputusan nya adalah yang terbaik. Selama ini Dia terlalu memanjakan Gisel sehingga adiknya itu selalu bertingkah semaunya.
Hancur sudah hidup Gisel saat Dia di masukan ke dalam sel tahanan. Di sana Dia tidak sendirian karna ada dua orang perempuan yang menggunakan pakaian yang sama dengan nya.
Gisel hanya bisa menangis dengan tangan berpegangan pada jeruji besi itu. Seorang Gisel yang selama ini angkuh dan selalu menyombongkan kekayaan keluarga nya. Kini tidak brdaya, wajah yang selalu cantik menggunakan polesan make up yang mahal kini terlihat kusut dengan mata sembab dan tatapan kosongnya seperti tidak ada harapan lagi.
Penyesalan mulai Gisel rasakan, tapi Dia masih belum bisa menyadari kesalahan nya selama ini. Gisel terlalu gengsi untuk mengakui kesalahan nya dan meminta maaf pada Syaida. Karna sampai saat ini Gisel masih menganggap kalau Syaida lah yang salah karna sudah merebut pacarnya.
Semua harapan nya hancur ketika kakanya pun tidak mau membantunya. Satu yang Gisel fikirkan bahwa kakanya sudah tahu tentang masa lalunya dengan Syaida. Makanya kakanya tidak mau membantunya.
__ADS_1
"Semuanya tidak ada lagi yang peduli dengan ku. Kaka ku yang selama ini selalu sayang dan perhatian padaku. Sekarang Dia pun tidak peduli dengan ku. Ini gara gara kamu Syaida" kata Gisel di sela tangis nya dan masih menyalahkan Syaida.
Vote yang banyak 😁😁