
Satya dan Gio masih diam mematung di depan pintu ruangan Salwa. Mereka menajamkan pendengaran mereka untuk mendengarkan apa yang sedang di bicarakan di dalam sana.
"Kamu harus bisa menenangkan fikiran mu dhe, sebelum kamu mengambil keputusan" kata Salwa lembut
"Adhe masih bingung Ka. Bagaimana mungkin aku menikah dengan kaka dari orang yang menghancurkan kehidupan kita" kata Syaida memandang sendu kakanya
"Apa maksudmu dhe?" tanya Salwa tidak mengerti
"Kaka tidak perlu menutupi semuanya lagi. Aku tahu semuanya dari Ka Doni. Kaka menikah dengan Ka Satya karna membutuhkan uang untuk pengobatan ku kan? " tanya Syaida memandang lurus ke depan dengan mata berkaca kaca
Salwa hanya diam, Dia tidak menyangka kalau adiknya akan mengetahui semuanya. Padahal Salwa sudah tidak ingin membahas itu lagi.
"Aku juga tahu kalau dulu Ka Satya tidak memperlakukan kaka dengan baik. Aku tahu Ka, aku tahu semuanya. Ya sekarang aku bersyukur karna Ka Satya sudah mencintai kaka dan memperlakukan kaka dengan baik." Setetes air mata berhasil lolos ke pipi Syaida
"Jika Gisel tidak... Hiks Hiks... Melakukan itu...Hiks... Pasti semuanya tidak akan terjadi pada kita. Kaka tidak akan menderita, kaka sudah cukup menderita selama ini. Maafkan adhe yang selalu menyusahkan kaka" Syaida menangis sesenggukan, bahunya sampai bergetar
Salwa berdiri dari duduknya dan langsung memeluk adiknya itu. Salwa dan Syaida menangis terisak pilu.
"Semuanya sudah berlalu dhe, kita jangan pernah menyimpan dendam pada siapapun. Memaafkan lebih indah di bandingkan menyimpan dendam sayang. Kita anggap semua ini takdir Allah yang harus kita lalui" kata Salwa di sela tangis nya
Salwa juga tidak bisa melupakan semuanya. Apa lagi kata kata suaminya yang sangat menyakitkan. Tapi Salwa mencoba berdamai dengan masa lalu, karna Salwa fikir jika Dia terus mengingat sebuah masa lalu yang menyakitkan itu. Maka Salwa akan terus merasakan sakit. Itulah sebabnya kenapa Salwa ingin berdamai dengan masa lalunya dan Salwa juga ingin adiknya seperti dirinya untuk bisa berdamai dengan masa lalunya.
Di luar ruangan Syaida, Satya dan Gio hanya diam mematung dengan perasaaan yang hancur. Semua perkataan Syaida adalah benar dan itu berhasil membuat hati keduanya tersayat.
Gio merasa harapan nya untuk bisa kembali pada istrinya sangatlah kecil. Mendengar ucapan Syaida barusan membuat Gio pesimis. Gio semakin merasa marah pada dirinya sendiri karna tidak bisa mendidik adik sematawayang nya itu dengan benar. Gio terlalu memanjakan nya.
__ADS_1
Ceklek
Satya membuka pintu ruangan Syaida. Salwa dan Syaida pun segera melepas pelukannya dan menghapus sisa air mata mereka.
Satya dan Gio berjalan menghampiri mereka. Syaida hanya menunduk saat melihat suaminya menghampirinya.
"Sayang kita harus kembali ke rumah, kasihan Riza jika di tinggal terlalu lama" Satya mengenggam tangan Salwa
"Iya Mas. Kalau gitu kaka pergi dulu ya dhe. Nanti kaka kesini lagi. Dokter Gio kita pergi dulu, titip Syaida. Assalamualaikum " pamit Salwa
"Waalaikumsalam " Gio pun mengangguk dan tersenyum pada Salwa
Setelah kepergian Satya dan Salwa, kini tinggal Gio dan Syaida di dalam ruangan itu. Mereka masih diam dengan fikiran masing masing. Sesekali Gio melirik Syaida yang dari tadi hanya diam menunduk tanpa mau melihat wajahnya.
"Sayang" panggil Gio lirih bahkan hanya seperti bisikan
"Sayang bagaimana keadaan mu?" tanya Gio akhirnya karna Dia bingung harus berbicara apa pada istrinya
"Aku baik" jawab Syaida masih menunduk
"Mas" Syaida mendongakkan kepalanya, tapi masih tidak ingin menatap wajah suaminya
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Syaida tanpa menatap suaminya
Gio mengangguk cepat
__ADS_1
"Tentu saja sayang" kata Gio mantap
"Aku masih syok Mas karna ternyata kamu adalah kaka nya Gisel. Tapi aku belajar dari Ka Salwa yang bisa memaafkan Ka Satya dengan tulus setelah apa yang Ka Satya lakukan padanya" Syaida menarik nafas nya
"Aku akan melupakan semuanya. Tapi untuk saat ini aku belum bisa jika harus tinggal serumah dengan Gisel" kata Syaida
Gio merasa hatinya langsung plong dari beban berat yang selama inu menimpanya. Gio akhirnya bisa bernafas lega.
"Iya sayang kamu tidak akan tinggal serumah bersama Gisel. Aku mewakili Gisel minta maaf atas semua yang telah Gisel lakukan padamu" kata Gio tulus
"Iya Mas, maafkan aku juga karna sudah meninggalkan kamu." kata Syaida sudah berani menatap wajah tampan suaminya
"Kamu gak salah sayang, jika aku jadi kamu aku juga akan melakukan hal yang sama" kata Gio mencium tangan Syaida
"Sekarang bagaimana keadaan kamu dan Dia" Gio mengelus perut Syaida yang masih rata
"Baik ko Mas" Syaida tersenyum sambil mengusap tangan Gio yang masih berada di perut nya.
"Kamu jangan terlalu lelah sayang, kandungan mu lemah" kata Gio menatap khawatir pada istrinya
"Iya Mas" Syaida tersenyum ke arah suaminya
"Kamu tidak perlu terlalu khawatir katanya lagi
Gio hanya tersenyum lalu mencium kening istrinya itu. Perasaan nya sudah lega karna istrinya bisa kembali ke padanya. Gio sudah yakin akan melaporkan semua perbuatan Gisel pada yang berwajib. Gio harus bisa mendidik Gisel agar Dia bisa lebih baik lagi.
__ADS_1
Salwa