
Salwa dan Satya sudah berada di dalam mobil Satya. Keduanya masih diam dengan fikiran masing masing. Salwa lebih memilih memandang keluar jendela.
"Ekhem. Salwa aku akan membawa kamu kembali ke apartemen ku" ucap Satya hati hati
Salwa menoleh ke arah Satya dengan tatapan tidak mengerti.
"Aku tidak mau. Aku akan merawat adik ku" kata Salwa tegas
"Kamu kan bisa membawa Syaida ke apartemen ku. Atau aku akan membeli rumah untuk kita" kata Satya tetap memaksa agar Salwa mau tinggal bersama nya lagi.
"Tidak. Aku kan sudah bilang aku belum siap untuk kembali bersama mu. Biarkan aku tinggal di tempat ku sekarang dengan Syaida." Salwa menarik nafas berat
"Sebelum aku memaafkan mu dan semoga aku masih bisa tinggal bersama mu" lanjut Salwa lagi
Satya hanya menghela nafas berat nya mendengar penolakan Salwa.
"Oke kalau gitu aku akan membelikan rumah yang lebih besar untuk kalian. Jangan menolak " kata Satya sengaja menekan kata terakhir
"Jangan yang besar, kamu mau akau kelelahan mengurus rumah itu. Yang sederhana saja" kata Salwa menyerah sudah cape untuk berdebat.
"Baiklah" Satya tersenyum puas
Mobil yang di tumpangi mereka sudah sampai di parkiran rumah sakit. Salwa dan Satya segera turun dan berjalan menuju ruangan Syaida.
"Assalamualaikum " Salwa membuka pintu ruangan Syaida
Salwa dan Satya melihat Gio sedang menyuapi Syaida sambil mengobrol dan bercanda bersama. Syaida dan Gio sampai tidak menyadari keberadaan Salwa dan Satya.
"Ekhem. Assalamualaikum " Salwa mengulangi salam nya karna tak kunjung dapat jawaban
Gio dan Syaida baru sadar dengan keberadaan Salwa dan Satya. Wajah Syaida langsung bersemu merah sementara Gio hanya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Wa.. Waalaikumsalam kak" jawab Syaida gelagapan
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Salwa mencium kening adiknya
"Baik kak" jawab Syaida masih gugup
"Jika kalian punya rasa saling tertarik maka langsung menikah jangan berpacaran. Takutnya akan menjadi dosa" kata Salwa bijak
"Apaan si kak" kata Syaida malu malu
"Sikat aja bro kalo emang lo suka sama adhe gue" kata Satya menepuk pundak Gio
"Gak ada kata pacaran jika kalian memang saling suka langsung menikah. Ingat" kata Salwa tegas
"Iya ka adhe ngerti ko" kata Syaida menunduk
Tanpa di duga semua orang tiba tiba Gio berjalan ke arah Syaida lalu Gio mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jas dokter nya. Semua orang sampai ternganga melihat Gio yang bergerak cepat.
Syaida hanya menutup mulutnya dengan kedua tangan nya dengan mata berkaca kaca. Syaida menatap kaka nya seolah minta persetujuan dari sang kaka. Salwa pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Aku bukan lah wanita sempurna, aku mungkin bukan wanita yang pantas untuk bersanding dengan mu. Tapi aku yakin inilah takdir Allah untukku. Maka dari itu aku menerima mu dokter Gio" kata Syaida tersenyum tapi air mata bahagia tetap menetes di pipi nya.
"Alhamdulillah" Salwa mengucap syukur
Gio pun segera memasangkan cicin itu di jari manis Syaida. Semuanya bertepuk tangan dan tersenyum bahagia. Salwa segera memeluk adik kesayangan nya itu.
"Semoga semua yang Allah takdirkan pada kita adalah yang terbaik dhe" Salwa berucap dengan air mata haru
"Amin kak" Syaida tersenyum
"Gio aku menitip kan adhe ku ini sama kamu. Jika suatu saat terjadi sesuatu padaku kamu harus menjaga nya agar tetap bahagia" kata Salwa dengan berlinang air mata
__ADS_1
"Apa maksud kaka?" tanya Syaida bingung
"Tidak ada. Kita kan tidak tahu hidup seseorang kedepan nya akan bagaimana" kata Salwa
"Ka jangan berbohong. Aku tahu ada yang kaka sembunyikan dari kita semua. Kaka sebenarnya kenapa?" tanya Syaida menatap kaka nya lekat lekat
"Jika waktunya tiba kamu akan tahu semuanya dhe. Sekarang kamu fokus dulu pada kesembuhan mu" kata Salwa tak bisa menahan air mata yang meluncur terus menerus
"Sekarang kalian kapan akan menikah?" tanya Salwa mengalihkan pembicaraan
"Secepatnya " jawab Gio mantap
Satya hanya diam menatap Salwa yang terlihat sangat aneh. Satya mencerna semua kata kata Salwa barusan. Dia juga berfikiran yang sama kalau memang ada yang di sembunyikan oleh Salwa.
"Syukurlah kalau begitu. Niat baik jangan di tunda tunda lagi" kata Salwa tersenyum dan menghapus sisa air matanya
...................
Salwa telah sampai di kosan nya. Dia diantar oleh Satya. Salwa berjalan menuju ke kosan nya diikuti Satya yang memaksa ingin berbicara dengan nya. Salwa pun tidak menolak karna memang Dia sudah malas berdebat.
"Sal sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dari kita semua?" tanya Satya yang sudah penasaran dari tadi di rumah sakit
"Tidak" jawab Salwa singkat
"Jangan bohong Sal" Satya memelas
"Aku tidak berbohong. Kamu juga tidak akan peduli dengan apapun yang aku alami dan aku rasakan. Jadi cukup menanyakan hal yang tidak penting" kata Salwa sedikit kesal
"Sal, sekarang aku sudah peduli sama kamu karna kamu ibu dari calon anak ku" kata Satya
"Bukan nya kamu tidak mau mengakui anak ini? Jika aku tidak mengandung anakmu kamu tidak akan peduli padaku kan?" kata Salwa
__ADS_1
"Sekarang kamu pergi dari sini aku mau sendiri dulu, terimakasih sudah mau mengantarku pulang" kata Salwa yang langsung masuk ke dalam kosan nya.