Kosong

Kosong
Permintaan Yuna


__ADS_3

*lanjut, kembali lagi ke masa kini


"Bu, Brian pergi dulu," sesuai perkataannya tadi sore, Brian pergi ke luar. Ia hendak membeli beberapa barang kebutuhannya di mall.


"Jangan lupa belikan sesuatu buat Nak Sinta! Kamu tuh ya, anak orang dibikin nangis," teriak Ibu yang sedang menonton sinetron azab.


"Iya Bu," sahut Brian sambil menutup pintu.


Sepertinya Ibu menerima hubungan Sinta dan Brian. Ibu tidak pernah terdengar sekalipun berkata buruk tentang Sinta, ia juga terlihat sangat perhatian kepada Sinta.


"Tuk, tuk, tuk," Brian mengetik sebuah pesan.


"Sinta kamu mau dibelikan apa?" Ia mengirimkan pesan itu kepada Sinta.


Lalu Brian mengambil foto dari kamera belakang, yang menandakan bahwa dirinya sedang berada di pusat perbelanjaan. Brian mengirimkan foto itu kepada Sinta dan mencoba mengamati hasil jepretannya.


'Ettdah.. ini hp burik amat kameranya. Ah, tapi gak papa lah.'


Terlihat Sinta sedang online, beberapa saat ia langsung mengetik.


"Kamu jahat! Tidak mengajakku!" Balas Sinta.


'Oh harusnya aku pergi bersama dia ya?' Tanya Brian dalam hatinya.


"Baiklah, lain waktu," balas Brian.


"Benar ya! Kalau begitu aku mau camilan yang banyak!" Balas Sinta.


Brian langsung mematikan layar ponsel, mengambil troli dan menuju ke perkumpulan makanan ringan.


'Camilan yang banyak ya?' Pikir Brian sambil memasukkan beberapa makanan ringan. Tak sadar, ternyata camilan itu telah membuat troli nya terlalu penuh.


'Cukup,' pikir Brian sambil menaruh kembali beberapa camilan yang sudah ia masukkan ke dalam trolinya.


Ia lalu melanjutkan perjalanan untuk membeli barang-barang yang dibutuhkannya. Brian mendorong troli yang penuh dengan Camilan layaknya ibu-ibu rempong. Tapi ia berusaha untuk merasa percaya diri saja.


Belanja selesai! Saatnya untuk pulang!


Saat keluar dari dalam mall, Brian sempat melihat ke arah tempat sampah yang pernah diobrak-abrik oleh si gadis kurcaci.


'Pasti tadi dia tidak masuk sekolah,' Brian mengkhawatirkan keadaan gadis kurcaci yang terjatuh itu.


Tadinya Brian ingin pergi ke mall sekalian melihat si gadis kurcaci. Namun sayangnya dia tidak ada di sana. Rasanya ia ingin pergi menjenguk si gadis kurcaci, tapi saat ini ia sedang membawa banyak barang belanjaan. Brian mengurungkan niatnya dan hendak berkunjung esok sepulang sekolah.

__ADS_1


Akhirnya Brian sampai di depan rumah. Kali ini ia pergi tidak begitu lama.


"Aku pulang!" Brian membukakan pintu. Ibu yang masih asyik menonton sinetron azab langsung menoleh.


"Kamu belanja apa Nak? Kok banyak sekali?" Tanya Ibu, terkejut melihat anaknya yang rempong.


"Ini punya Sinta Bu, katanya dia mau camilan yang banyak," Brian meletakkan papper bag miliknya. Ibu hanya bisa tersenyum mendengarnya. Ternyata Brian anaknya itu bisa juga memanjakan pacarnya.


"Brian pergi dulu, mengantarkan ini ke Sinta," Brian berjalan keluar tanpa menutup pintu, ia hanya akan pergi sebentar saja.


"Lain kali kalau mau belanja ajak Sinta sekalian, biar kamu gak kelihatan rempong gitu!" Teriak Ibu.


'Ah! Benar juga! Sinta juga bilang begitu sebelumnya!'


Brian pergi keluar dan mengetuk pintu rumah Sinta.


"Tok.. tok.. tok.."


"Permisi.."


Saat ini Brian sedang berada tepat di depan rumah Sinta. Setelah beberapa detik, ia baru sadar kalau rumah yang tidak dipagari itu memasang bell di samping pintunya. Ia hendak memencet bell itu, tapi tiba-tiba terdengar suara heboh dari dalam rumah.


"Kyaaaaaa!!" Suara itu perlahan semakin jelas. Brian merasakan firasat buruk, ia takut sesuatu sedang terjadi di dalam rumah itu.


"Hihi.. Brian!" Terlihat wajah Sinta yang begitu sangat cantik di malam hari dengan piyamanya yang berwarna biru polos. Sinta merasa senang, karena ini adalah kali pertamanya Brian datang ke depan rumahnya.


"Wahh!" Sinta terkejut bahagia melihat beberapa bingkisan besar yang dibawa oleh Brian.


"Ini semua untukku?" Tanya Sinta dengan wajah penuh gembira. Ia tidak menyangka kalau Brian benar-benar akan membelikannya.


"Ya, aku minta maaf soal yang waktu itu," Brian menyerahkan bingkisan itu kepada Sinta. Ia tak mau basa-basi lagi karena merasa sedikit malu saat berhadapan dengan Sinta. Apalagi saat ini ia berada di depan rumahnya.


"Kalau begitu, aku pulang dulu," Brian berbalik dan hendak pergi, tetapi tiba-tiba Sinta bertindak cepat memberikan kecupan di pipinya.


"Terimakasih," ucap Sinta lirih.


Hal itu membuat Brian terkejut, ia tertegun beberapa saat, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. Lalu ia menoleh ke arah Sinta dengan wajah datar.


'Aku harus segera pergi!' Pikir Brian.


Ia langsung melanjutkan langkahnya tanpa bicara dan pergi meninggalkan Sinta. Saat itu Sinta memandangi Brian dengan senyuman, hingga akhirnya Brian hilang dari tatapannya.


Meskipun Brian tidak menoleh lagi, tapi saat ini Sinta merasa sangat.. sangat senang. Ia langsung masuk ke rumahnya dan menutup pintu.

__ADS_1


"Dari Kak Brian ya Kak?" Tanya adik laki-laki Sinta yang masih kelas 4 SD.


Sinta hanya tertawa kecil, melewati adiknya yang sedang berada di dekat pintu. Ia juga mengabaikan kedua orang tuanya yang saat itu tengah menonton TV dan langsung lari terbirit-birit bersama bingkisan-bingkisan itu.


"Ada apa dengan anak itu?" Ayahnya heran melihat tingkah laku anaknya yang tidak seperti biasanya.


Pertama terdengar suara ketukan pintu. Saat itu mereka hendak berdiri menemui siapa yang datang malam-malam begini. Tapi tindakan mereka terhenti karena mendengar suara teriakan dari arah kamar Sinta.


Tak lama mereka melihat Sinta yang sedang berteriak berlari menuju pintu. Hal itu membuat seisi rumah terkejut. Sebelum mereka sempat bertanya pun Sinta malah langsung membukakan pintu.


Lalu setelah itu Sinta berlari lagi ke kamarnya sambil mesem-mesem tanpa menghiraukan orang-orang rumah. Tapi orang tuanya yang saat itu baru melihat kembali wajah riang Sinta hanya membiarkannya, mereka juga ikut merasa senang.


"Kakak dapat hadiah dari Kak Brian Yah," adiknya datang menghampiri kedua orang tuanya. Sebenarnya tadi ia penasaran dan ikut mengintip.


Sekarang orang tuanya mengerti hubungan antara mereka. Mereka tidak menyangka karena Brian itu 2 tahun lebih muda dari Sinta. Dan mereka pikir Sinta dan Brian baru saja berpacaran.


"Hahh.. aku juga ingin dapat hadiah," keluh adiknya Sinta.


...


Di kamar Sinta, lantai 2:


"Wahhh!" Sinta terlihat heboh. Baru kali ini ia merasakan rasa senang yang tidak terduga.


Sesekali ia memeluk camilan yang telah dibawakan oleh Brian, setelah itu ia memakannya sambil merasakan tiap gigitannya.


Sedangkan Brian yang sedang berada di dalam kamarnya:


Ia melihat ke arah jendela Sinta yang tertutup sambil tersenyum. Lalu ia berbaring di kasurnya sambil membuka aplikasi chat di ponselnya.


Brian sedikit kecewa, tidak ada pesan apapun dari Sinta saat itu. Lantas Brian membuka pesan dari Yuna yang belum sempat ia baca.


"Brian, aku mohon bantuanmu!" Ucap Yuna pada pesan itu.


'Bantuan?' Pikir Brian.


"Bantuan apa?" Balas Brian.


Tapi saat itu Yuna sedang tidak aktif di aplikasi chatnya. Brian penasaran dan melihat foto profil yang dipasang oleh Yuna.


Terlihat cantik dan polos. Yuna menunjukkan wajah yang malu saat difoto. Itu membuatnya terlihat imut.


Yuna adalah seorang siswi di kelas Brian yang suka menyendiri dan jarang mengobrol. Tapi saat ini ia memberanikan diri untuk meminta bantuan kepada Brian, anak nakal yang tidak suka bergaul dengan teman-teman yang lainnya.

__ADS_1


'Apa yang sebenarnya ia inginkan dariku?' Pikir Brian.


__ADS_2