Kosong

Kosong
Jalan Juga


__ADS_3

"Lang, jadi lu lebih mentingin si Yuna daripada si Wendy?" Anang merasa kesal.


"Bukan gitu, justru gue peduli sama si Wendy. Gue pengen si Wendy dapetin cewek baik-baik." Ucapan Gilang seketika membuat tangan Yuna berhenti menyapu air matanya.


"Bro, gak usah emosi dulu coba. Pikirin semuanya pake otak dingin, lagian si Yuna juga masih aman kan? Ya kita jalanin aja kayak biasanya semacam hal temen akrab gitu, posisi kita juga bakalan aman kalo emang gak ada yang ngaku." Lanjut Gilang panjang lebar.


"Terserah lu dah, kalo si Wendy tau gue gak mau tanggung jawab." Brian malas membahasnya lagi.


"Yuna, kamu tenang aja, kamu masih bisa deket sama si Wendy lewat kita." Gilang mengambil putusan.


"M-maaf, tapi aku minta bantuannya."


Yuna merasa tidak enak, dan sebenarnya ia malu meminta bantuan secara paksa begini. Hanya saja, hatinya begitu bersikeras untuk bisa mendapatkan Wendy.


Pembicaraan selesai sampai di situ. Beberapa hari Yuna sama sekali tidak terlihat berkomunikasi dengan mereka. Saat berada di sekolah pun, bola mata saling berpaling seolah mereka tidak pernah mempunyai hubungan apa-apa.


Hanya Sinta dan Sasa lah yang terkadang berkirim pesan dengan Yuna, sampai saat ini pun Brian belum juga membuka blokiran kontaknya.


***


Hari libur sudah tiba, Brian mendapatkan nilai raport yang lebih tinggi dari Anang dan Gilang. Meski nilainya pas-pasan, tapi Brian pikir itu sudah lumayan untuk usaha pertamanya.


"Brian sama Sinta berangkat ya Bu." Ucap Brian pada pukul 3 itu.


"Temen-temen kamu udah pada berangkat? Hati-hati ya, jagain Sinta, dia anak orang loh apalagi kamu pacarnya."


"Udah, dari tadi malah. Iya Bu tenang aja."


Sekarang Brian dan Sinta sudah berjanji untuk bertemu dengan yang lainnya di sebuah tempat. Sesuai dengan keinginan Sinta, hari ini mereka jadi untuk pergi berlibur dengan tujuan utama menikmati wahana rafting.

__ADS_1


Tidak hanya itu saja, mereka akan menginap beberapa hari dan menikmati suasana liburan di daerah sana. Semua sudah mendapat izin dari orang tuanya. Banyak akal saja agar bisa diperbolehkan keluar dari rumah masing-masing.


Sudah ada sebuah minibus (elf) yang mereka sewa untuk perjalanannya. Tadinya mereka akan naik bis kota, tapi dilihat dari kenyamanan akan lebih bagus mereka memakai kendaraan ini.


Semua sudah siap membawa pasangan dan barangnya masing-masing. Terkecuali Yuna, ia tidak memiliki gandengan untuk diajak duduk bersamanya.


Ya, Wendy juga mengajak Wita, hubungannya dengan Wita kembali membaik. Brian pikir itu karena Wendy mengajaknya pergi liburan, tapi entahlah Brian tidak tahu dan tidak menanyakannya, itu hanya perkiraannya saja.


Dalam minibus itu terdapat 4 baris kursi penumpang. Karena Yuna tidak membawa pasangan, tentu mereka tidak enak jika harus membiarkan Yuna duduk sendirian. Jadi mereka menyewa minibus dengan kapasitas rendah saja.


Wendy duduk di baris depan, diikuti Anang, Brian dan Gilang secara berurutan. Terdapat 4 buah kursi di belakang, jadi Yuna duduk di belakang bersama Sasa dan Gilang.


"Yuna, aku deg-degan. Hihi.. baru kali ini aku berlibur bersama kalian. Haaah.. rasanya senang sekali."


Sasa yang duduk di belakang itu terlihat sangat gembira. Yuna tidak banyak bicara, ia sedikit canggung karena para pria itu sudah lama tidak lagi berinteraksi dengannya. Duduk pun, Yuna memisahkan jarak dengan sebuah kursi, ia merasa tak enak karena mengganggu waktu berduaannya Sasa dan Gilang.


Dilihat dari rute, perjalanan hanya membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 4 jam. Tapi, banyak drama yang terjadi sepanjang di perjalanan. Mulai dari kebelet BAB lah, mual muntah lah, dan terkadang mereka berhenti sejenak hanya untuk mengambil potret pada sebuah pemandangan yang indah.


Hari sudah terlihat gelap, mereka memutuskan untuk fokus mengarungi jalan. Tiba-tiba, suara aneh mengalihkan perhatian Yuna yang sedang memandangi isi ponselnya.


"Cupp! Cupp!"


Dari bangkunya Yuna melihat ke arah suara itu berasal. Ia melihat ke arah depan, ada sedikit celah pada ujung sandaran kursi yang ditempati oleh Sinta dan Brian. Sangat jelas warna rambut Sinta yang pirang itu berada tepat pada celah yang memisahkan kedua kursi itu.


'Apa yang sedang mereka lakukan?' Pikir Yuna melihat kepala Sinta tak bisa diam.


Yuna menengok ke kanan, melihat Sasa yang tengah terlelap manis pada bahunya Gilang. Dan Gilang, ia terlihat santai-santai saja tanpa menghiraukan pemandangan tersembunyi yang berada tepat di depannya sendiri.


Di bangkunya, Sinta memang tengah mencium Brian. Ia menghisap bibir bawahnya Brian secara terus-menerus hingga menimbulkan suara yang sudah terduga itu.

__ADS_1


"Woy, jangan berisik lah, geli gue ngedengernya." Anang yang duduk di depan Brian itu menampakkan wajahnya. Brian dan Sinta langsung menoleh, mereka merasa tak berdosa karena sudah terbiasa juga.


Memang, pemandangan seperti itu tidak membuat mereka terheran-heran. Sinta itu supel, ia tak ragu bermesraan secara terang-terangan karena memang lingkungan pergaulannya di SMA juga seperti orang dewasa.


Saat ini, semuanya sudah saling lumayan akrab. Itu semua pastinya juga karena pengaruh Sinta yang memiliki bakat dalam bergaul. Bahkan, pernah sekali Sinta menanyakan hal mesum apa yang sudah dilakukan Sasa dengan pacarnya.


"Huuh! Aku sedang menambah pengalaman tau!" Sorak Sinta kepada Anang.


"Hah?" Anang tidak mengerti maksudnya Sinta.


"Sinta bilang kalo temen-temennya pernah ciuman di dalem bis, jadi dia juga mau ngelakuin itu. Hahh.. aneh kan?" Ucap Brian menghela nafas.


"Aku kan juga ingin seperti teman-temanku!" Pekik Sinta dengan sikap yang manja.


"Aneh," Anang kembali duduk di bangkunya.


Dari obrolan yang lumayan terdengar itu, Yuna tidak bisa merasa tenang. Ia terus saja berpikir, apa hal selanjutnya yang akan mereka lakukan lagi? Terutama Wendy, sedang apa dia dan Wita di depan sana? Ah, mana mungkin mereka berani berbuat macam-macam. Bukannya bangku mereka berada tepat di belakang Pak Sopir?


Sampai juga mereka di tempat tujuan, sebuah parkiran luas yang memarkirkan banyak kendaraan umum. Sinta tak mau turun untuk mencari penginapan, katanya ia ingin tidur di dalam mobil seperti pengalaman teman-teman sekolahnya.


"Ya udah Yan, kita tidur dalem mobil aja, Pak sopirnya juga mungkin mau istirahat. Sekalian hemat, iya kan Pak?" Ucap Anang menyetujuinya.


"Mmm.. ya sudah kalau kalian mau tidur Bapak juga mau tidur di sini aja." Ucap Pak Sopir ikut setuju.


Malam itu mereka keluar terlebih dahulu untuk sekedar jajan dan menikmati suasana malam yang begitu hangat.


'Hhh! Kalo gak ada si Yuna kan enak bisa jalan pasang-pasangan. Kenapa gak jadi kambing congek aja sih?!' Gumam Brian saat berjalan bersama teman laki-lakinya.


Para wanita memisahkan diri dari pasangannya untuk menemani Yuna yang berjalan sendirian. Wita juga ikut bersama mereka, tetapi wajahnya tetap angkuh dan tidak banyak bicara.

__ADS_1


Usai pukul 9, mereka kembali ke dalam mobil untuk beristirahat. Keadaan mobil terlihat gelap karena mesin juga tidak dinyalakan. Pak sopir sedang berada di tempatnya, ia juga sempat keluar untuk ngopi dan mencari udara segar.


Huawewe huat ciah cuh! Hadehh.. author bingung nih nentuin gaya bicara tokohnya antara formal atau informal. Minta saran dan masukkannya harus gimana nih? Kalau gini udah enak belum? Atau harus diubah karakter si ini harus formal misalnya.. si itu harus gitu misalnya.. please! Helep helep! I can't do this without you guys!


__ADS_2