Kosong

Kosong
MOPED


__ADS_3

Hari ini Brian berangkat bersama Gilang menggunakan motor. Brian aman-aman saja karena Ibu tidak selalu memantaunya pergi ke luar gerbang. Ia malas terus saja menaiki taksi seperti anak mami.


Kali ini Brian yang ingin mengendarai motornya. Tas mereka sangat kembung, diisi oleh baju olahraga, pramuka, makanan dan minuman, serta yang lainnya dimuatkan ke dalam satu wadah.


Dua ikat kayu bakar juga mereka bawa. Hahh.. tentu atribut orang stress itu tidak mereka pakai sedari rumah, malu lah dilihat orang sepanjang jalan.


Seperti biasa Gilang dan Brian masuk melalui gerbang belakang yang tidak dijaga oleh kakak-kakak panitia. Sekalian mengabsen, jadi mereka harus memakai atribut sinting itu agar tidak dimarahi.


Badan sudah besar, tinggi, gagah pula, "Krincing-krincing.. gombrang-gambring.." tapi biasa saja, lagipula orang-orang juga memakainya.


Mereka berjalan menuju gerbang utama untuk menemui kakak panitia. Makanan dan minuman yang dibawa diambil oleh panitia. Lengkap, panitia tidak mengecek isi kantong kreseknya, Brian dan Gilang sudah tercatat hadir pada kegiatan ini.


Mereka tidak dipungut biaya apapun, hanya saja mereka disuruh patungan untuk kebutuhan regunya masing-masing.


MOPD akan diadakan selama 3 hari, alat masak juga tak lupa dibawa karena mereka akan masak-masak sendiri. Brian hanya patungan tikar lipat, ia tak mau ribet membawa yang berat-berat.


Acara akan dibuka, semua berkumpul dan duduk di atas lapangan aspal menurut regunya masing-masing. Bacecot ini itu, mereka langsung disuruh mendirikan tenda.


Pergilah mereka ke wilayah sekolah yang paling belakang. Lahan luas beralas tanah yang dikelilingi oleh hutan rimbun sementara kanan adalah sawah.


"Sini aku bantu."


Saat berjalan di turunan, Brian menghampiri seorang wanita yang kelihatannya rempong membawa barang bawaannya.


Wanita itu cantik, ia menatap Brian heran karena belum kenal, tapi ia meng iya kan untuk dibantunya. Padahal Brian sendiri juga terlihat rempong dengan tas gendut dan kayu bakar yang ia jinjing.


"Tu anak.." Gilang berlalu membiarkan Brian.


Ia sebenarnya juga ingin ikut, ini adalah sebuah kesempatan pdkt untuk mencari kenalan cewek. Tapi Gilang rasa hal itu malah akan menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang pria.


Masuklah Brian ke wilayah tenda wanita. Kubu wanita dan kubu pria dipisahkan. Di tengah, emm bukan, wilayah pria sangat terlihat lebih sempit dibanding wilayah wanita. Ya seperti itu, di sana jaring tinggi membentang dari ujung ke ujung memisahkan keduanya.

__ADS_1


Tempat pria menjorok ke area pohon-pohon rimbun, sedangkan wanita menjorok ke arah sawah. Aman, kalau ada binatang buas para pria lah yang akan kena.


Tempat ini masih termasuk wilayah milik sekolah, sepertinya akan dibangun sesuatu karena sudah ada pondasi megah di ujung lahan sana. Ternyata iya, pondasi itu rencananya akan dijadikan sebuah masjid besar. Saat ini sekolah hanya memiliki musholla yang dipisah antara putra dan putri.


'Lah kok gue malah pengen ngebantuin dia?' Gumam Brian aneh saat berjalan di lingkungan para wanita.


Rasanya sesuatu menarik dirinya begitu saja untuk mendekati wanita itu. Apa wanita itu menggunakan jampi-jampi semacam pelet? Mm.. mungkin Brian merasa kasihan dan iba melihat dia yang kerepotan, jadi dorongan untuk membantunya sangatlah kuat.


"Kita akan buat tenda di mana? Di sini?" Ucap wanita yang Brian bantu. Ia berbicara kepada teman-temannya.


"Terimakasih ya." Wanita itu berbalik ke arah Brian lalu ia mengambil barangnya sendiri di tangan Brian.


"Iya." Ucap Brian lalu berbalik, ia baru sadar bahwa dirinya yang seorang pria terlihat begitu mencolok karena berada di wilayah wanita.


"Hey, tunggu," wanita itu mencekal tangan Brian.


"Ada apa?" Brian berbalik.


"Oh, aku Brian." Jawab Brian lalu pergi.


Tadinya ia akan pergi tanpa mengenal gadis itu, tapi ujungnya malah gadis itu yang minta kenal duluan. Tapi tak apa, lagipula hanya sebagai teman.


Brian melihat anggotanya sedang sibuk merakit tenda. Tidak ada yang mempermasalahkannya, lagipula merakit tenda tidak begitu susah, Brian hanya siap terima jadinya saja.


"Yan, lu kok duduk-duduk aja, ini tungkunya belom ada!"


Baru saja Brian duduk ia langsung disuruh untuk mencari batu-bata. Dikira tidak ada kerjaan untuknya, tapi ternyata ia juga disuruh mencuci beras.


Siang itu sudah mereka lewati dengan segala kegiatan yang tidak terlalu menyiksa diri. Paling mereka disuruh bolak-balik ke lapang atas yang jaraknya lumayan jauh dan harus menanjak pula.


Malam hari, sekitar pukul 9 tenda wanita bersuara mengeluarkan suara nyanyian. Mereka tengah menghafalkan yel-yel, tidak ada yang berada di luar tenda kecuali para panitia.

__ADS_1


Tidak semua tenda wanita bersuara, mungkin mereka hanya caper saja. Padahal malam-malam begini pasti mereka sudah tahu aturannya bagaimana.


"Geus beak gadekeuneun.. kabutuh henteu ereun.."


Salah satu dari tenda Brian menyahut ingin ikut bernyanyi juga. Bukan nyanyian yel-yel, mereka sama sekali tidak menyiapkan yel-yel. Yang dinyanyikan adalah lagu sunda berjudul kosipa.


"Hey! Jangan pada berisik! Jangan ada yang bersuara dan jangan ada yang bermain ponsel! Cepat tidur! Kalian tidak tahu besok harus bangun jam berapa?!" Ucap panitia dari luar tenda.


Waktunya untuk tidur, para panitia memarahi orang yang masih belum tidur. Sedikit saja ada cahaya remang-remang di balik tenda, panitia langsung mengeceknya.


Di dalam tenda cukup sempit dan sakit-sakit. Alas yang digunakan hanyalah sehelai tikar tipis. Belum lagi barang bawaan mereka, semua berdesakan tak bisa tidur nyaman.


"Huh! Anjir, ini bau kaus kaki siapa sih?!" Gilang mendengus saat baru saja berbaring.


"Lu masih mending, nih gue, tidur deket sepatu." Ucap Aldi.


"Keluarin kek, kenapa pake dimasukin segala? Lagian sepatu bau kagak bakalan ada yang ngambil!"


Semua sepatu disimpan di luar tenda. Mereka menggunakan tas sebagai penyangga kepala dan kain tipis untuk menyelimuti bagian tubuhnya.


Bukan karena dingin, justru di dalam sana terasa panas seperti sauna. Namun perasaan was-was tak nyaman akan serangga seperti nyamuk yang beterbangan terasa membuat gatal.


Belum lagi pasir-pasir yang ikut terbawa ke atas tikar. Bagaimanapun juga mereka harus segera tidur, besok adalah jadwal untuk berpetualang.


Brian pun ikut tertidur juga, ia mematikan ponselnya berusaha untuk menghemat daya baterainya. Sebelumnya panitia melarang membawa ponsel karena takut hilang, tapi mereka bisa menitipkannya juga di panitia.


"Hiks.. hiks.."


Tengah malam sudah terasa sunyi, hawa di dalam tenda juga agak mendingan. Samar-samar semakin jelas terdengar suara tangisan wanita yang lewat. Brian yang sedang tidur langsung terbangun karena memang dirinya tak nyaman tidur.


'Syukurlah..' gumam Brian lalu kembali tidur.

__ADS_1


__ADS_2