Kosong

Kosong
Saatnya Pulang


__ADS_3

"Hompimpa alaium gambreng, si Anang pake baju rombeng, pulang ke kamar gumbrang gambreng!"


Perundian itu langsung dimulai dan dimenangkan oleh Wendy. Tapi Brian terus saja mengulang undian dan membaca hompimpa itu berkali-kali sampai dirinya lah yang menang.


"Curang lu Bro ngapain ngundi kalo ujung-ujungnya elu yang kudu menang?" Ucap Anang sewot, tapi dia tidak berani melawan.


"Hehe.. gue kasih bonus selimut dah buat yang menang suit." Ucap Brian kikuk.


"Suit!"


Wendy dan Anang beradu suit dan pemenangnya adalah Anang. Ia pun mendapatkan pelayanan istimewa berupa selimut dari kamar Brian.


Di kamar Brian hanya ada 2 bantal dan 1 guling. Tanpa belas kasihan ia tidak membagikan 1 bantalnya kepada Gilang yang tidur di lantai, karena itu memang sudah menjadi hukuman Gilang.


Gilang tidak merasa keberatan, karpet itu terasa lembut dan hangat. Di cuaca dingin itu pun mereka tidak memerlukan selimut. Tubuh mereka sudah dihangatkan oleh kandungan alkohol yang sudah mereka minum. Tidak ada lagi pembicaraan, semua sudah berada di tempat masing-masing dan beristirahat dengan tenangnya.


***


Pagi pun tiba, dengan wajah yang masih suntuk Brian terbangun dari tidurnya. Sementara ketiga temannya sudah bangun lebih awal dan tengah mengintip-intip barang miliknya.


Masih dengan matanya yang sepet, Brian bangkit dari bantalnya dan meregangkan kedua tangannya. Seketika ia melonjak, terkejut melihat teman-temannya tengah mengintip isi kolornya.


"Kampret! Ngapain kalian disitu?!" Matanya yang sepet seketika terbuka lebar.


"Punya lo gede juga ya, siapa namanya?" ucap Wendy di atas kasur.


"Goblok! Berani macem-macem lu sama gue?! Lu pada sengklek gara-gara nonton film itu kan?!" Brian takut mereka gay.


"Hah? Mana ada, kita masih normal Bro, mau punya lu segede gaban juga gue gak bakalan mau." Ucap Anang yang juga sedang di atas kasur.


"Semalem gue gak bisa tidur nyenyak, masa disuruh tidur di kursi yang sempit gitu? Badan gue pada sakit-sakit nih." Lanjut Anang.


"Hooh, gak ada ramah-ramahnya sama tamu." Timpal Wendy.


Dengan wajah datar ketiganya turun dari atas ranjang. Anang dan Wendy duduk di atas sofa sementara Gilang sedang memantaskan dirinya di depan cermin.


Ternyata yang beristirahat dengan tenang hanyalah Brian. Sofa yang ditiduri terlalu pendek untuk tubuh Anang dan Wendy yang tinggi. Sementara Gilang, ia hanya menerima nasibnya dan hanya merasa sedikit sakit di bagian leher.


Brian merasa lega mengetahui mereka hanya penasaran dengan barang miliknya saja. Brian pikir mereka yang tengah berada di kasur itu hendak berbuat macam-macam kepadanya.


Tapi ternyata tidak, semalam ia tidur dengan menggunakan kolor saja (tanpa celana segi tiga) dan kolor itu adalah kolor longgar, jadi mereka gampang mengintip dari lubang celana bawah.


"Ini masih pagi loh?" Brian melihat jam dinding yang menunjukkan waktu pukul 4.

__ADS_1


"Ya lu sih enak tidur di kasur." Sahut Gilang.


"Hmm.. udah pada mandi?" Brian melihat Anang dan Gilang sudah berseragam.


"Kagak, di kamar mandi lu ngeri njirr, ada tempat pemandian mayat." Ucap Anang.


"Hah.. itu bak mandi, gue juga jarang pake." Brian menghela nafas, meladeni teman-temannya yang katro.


"Iya tau sih, tapi emang lu gak ngeri mandi di sana?" Tanya Anang.


"Ya udah biasa." Brian mengambil handuknya dan pergi menuju kamar mandi.


Sekitar 5 menitan, Brian sudah kembali dengan menggunakan kolor yang berbeda. Setelah mengeringkan tubuh, ia langsung memakai seragam sekolahnya. Hari ini, mereka berencana akan bolos sekolah dan pergi ke rumahnya Wendy.


Pagi itu, Brian pergi menuju kamar para wanita untuk meminjamkan kamar mandinya. Rumah besar itu tidak menyediakan kamar mandi yang khusus digunakan untuk para tamu.


"Tok.. tok.. tok.."


Brian mengetuk pintu dan sesaat terdengar sahutan Wita.


"Masuk,"


Mendengar perintah, Brian pun membuka pintu dan diam di depan lawang.


"Ohh elu? Masuk aja sini, lagian orang-orang pada gak ada." Ucap Wita.


Brian melihat Yuna masih terbaring di atas ranjang, ia masuk dan melihat ke sekeliling. Di dalam hanya terlihat Yuna dan Wita saja. Mengingat kejadian semalam, Brian mencoba menghampiri Yuna karena merasa khawatir.


"Si Yuna udah gak papa kan?" Tanya Brian kepada Wita.


"Alahh.. gak usah basa-basi. Kalo mau sama gue ayok," Wita mencoba mendekati Brian tapi Brian segera mengelak.


"Mau ngapain lu?" Ucap Brian menepiskan tangan Wita.


"Yaelah, jangan pura-pura gak mau gitu. Santai aja kali, lagian dia gak bakalan sadar." Wita kembali mendekati Brian.


"Hah?" Mendengar perkataan itu Brian segera memastikan kondisi Yuna. Ia menghiraukan sosok Wita yang tengah membelai-belai tubuhnya.


Brian menyentuh kening Yuna dan merasakan suhu badannya. Suhu badannya terasa panas, tapi Brian tak yakin kalau itu benar-benar panas.


"Minggir!" Brian menyingkirkan Wita dari tubuhnya. Ia langsung pergi ke bawah mengambil termometer yang disimpan di kotak obat.


"Sasa? Kok jauh-jauh mandi di sini? Padahal tadi aku mau minjemin kamar mandiku." Di bawah, Brian melihat sosok Sasa.

__ADS_1


Di depan pintu kamar mandi yang tertutup, Sasa terlihat sudah memakai seragam dan tengah membawa pakaian kotor yang sebelumnya ia pakai.


"Tidak papa, lagi pula aku sudah selesai dan sekarang giliran kak Sinta." Ucap Sasa.


"Oh, Brian? Kau sedang mencari apa?" Sinta baru saja keluar dan melihat Brian tengah membuka kotak obat.


"Sepertinya Yuna sedang demam, aku ingin mengambil termometer di sini." Ucap Brian.


"Benarkah? Aku pikir dia baik-baik saja, tadi pagi kita juga sempat mengobrol." Ucap Sinta.


Mereka pun merasa khawatir dan segera kembali ke lantai atas. Mereka masuk ke kamar untuk melihat kembali keadaan Yuna.


"Ya ampun, ini benar-benar panas, Brian, mana termometernya?" Sinta mengecek suhu tubuh Yuna dengan tangannya sendiri. Ia lalu memasukkan ujung termometer itu ke mulut Yuna.


"Hah? Benar." Sasa ikut menyentuh tubuh Yuna dan merasakan suhu tubuhnya yang panas.


Beberapa saat menunggu, termometer pun berbunyi dan mereka langsung melihat suhu yang terhitung di dalam termometer itu. 37.4, suhu tubuh manusia yang dirasa normal.


Mereka merasa heran dan menyentuh bagian tubuh Yuna yang lainnya. Pipi, tangan, kaki, semua terasa panas.


"Hmm?" Yuna terbangun dari tidurnya.


"Yuna, kau tidak papa?" Sinta masih merasa khawatir.


"Ya, tadi itu apa? Aku rasa ada benda dingin yang menyentuh-nyentuh tubuhku." Rupanya Yuna terbangun karena merasakan sentuhan dingin dari telapak tangan mereka.


Mereka baru sadar bahwa tangan mereka lah yang dingin karena baru saja mandi. Suhu tangan mereka yang dingin merasakan hangat yang amat terasa saat menyentuh tubuh Yuna.


"Hahh... ku pikir kau demam, ternyata hanya tangan kita saja yang dingin." Sinta menghela nafas.


Wita yang sedari tadi melihat tingkah konyol mereka hanya diam dan melirik sinis.


"Ahaha.. aku sudah merasa mendingan kok. Tapi kenapa semalam perutku panas sekali ya?" Yuna merasa heran, kini perutnya sudah merasa baikan.


"Wajar saja, kamu pasti baru pertama kali minum kan? Padahal kadar alkoholnya rendah, tapi kamu malah tumbang dengan satu gelas." Ucap Brian.


"Alkohol?" Yuna tidak mengerti apa maksud Brian.


"Ya, anggur merah itu." Jelas Brian.


"Huekk! Kenapa kalian memberiku minuman itu?! Apa yang akan terjadi kepada tubuhku nanti?!" Yuna ingin memuntahkan kembali cairan yang semalam telah ia telan. Ia takut alkohol itu akan merusak bagian dalam tubuhnya.


"Tenang saja, aku sudah berkali-kali meminumnya. Dan lihat? Aku baik-baik saja kan?" Ucap Brian mencoba menenangkan Yuna.

__ADS_1


__ADS_2