Kosong

Kosong
Yuna dan Wendy


__ADS_3

"GOKANA"


Tulisan besar yang terpampang di restoran tempat Wendy dan Yuna berada saat ini.


"Kau mau pesan apa?" Yuna bertanya dengan ramah.


Saat itu Wendy menatap Yuna. Saat mata Wendy menatapnya, ia merasa ketakutan. Tapi saat Yuna berusaha untuk bersikap biasa saja.


"Mmm.. ini." Wendy memilih ramen.


"Benar kau mau pesan yang ini? Perutmu nanti melilit loh kalau makan ramen malam-malam." Yuna mengingatkan.


"Benarkah?" Wendy merasa tidak percaya tapi saat ini ia malas untuk berdebat.


"Kalau begitu aku yang ini saja." Wendy menunjuk chicken bento. Ia memilih itu karena ada nasinya.


"Oke, aku... ebimaki dan satu lagi.. chicken katsu!" Yuna mencoba bersikap ekstrovert di hadapan Wendy.


(Ekstrovert: ramah dan mudah bergaul kayak yang sok akrab gitu wkwk).


(Daaan buat yang gak tau: ebimaki itu udang giling yang dibungkus sama kulit tahu dan masaknya digoreng. Kalau chicken katsu yaitu daging ayam yang dilapisi tepung roti dan digoreng heheh...).


'Buset, ini cewek doyan makan ya? Pesen 2 sekaligus.' Gumam Wendy.


Tak lama kemudian, akhirnya pesanan pun datang.


'Oh, gitu rupanya.' Wendy melihat ebimaki dan chicken katsu yang datang hanya beberapa biji dan tidak ada nasinya.


Makanan dihidangkan dan mereka langsung menyantapnya tanpa sepatah kata apapun. Setelah selesai, mereka membayar makanannya masing-masing.


"Si Brian lama juga ya? Coba telpon gih." Ucap Wendy masih dengan posisi duduk di restoran.


"Um," Yuna langsung mengeluarkan ponselnya.


'Aduh, masa gini doang? Wendy juga kayaknya gak tertarik sama aku.'


Yuna merasa berat jika harus berpisah sekarang. Karena itu, Yuna tidak menelpon Brian. Ia hanya berpura-pura menempelkan ponselnya ke telinga.


"Gak diangkat," ucap Yuna yang sama sekali tidak menelpon Brian.


"Kalo gitu sms aja coba,"


"I-iya,"


Yuna masih merasa sedikit takut melihat sikap Wendy yang sepertinya tidak suka duduk berdua dengannya. Tapi ia harus berani dan tetap mempertahankan posisinya saat ini.


Tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari ponsel Yuna.


*tring!*


"Oh, ini ada pesan dari Brian," ucap Yuna sambil membuka isi pesan itu.


Isi pesannya: "Kalian baik-baik saja?"


"Apa dia bilang?" Tanya Wendy.


"Mm.. katanya mereka masih lama." Yuna berbohong.


"Tu anak!" Wendy terlihat kesal.


Lantas Yuna membalas pesan dari Brian.


"Ya, kita baik-baik saja. Tapi sepertinya Wendy merasa tidak nyaman, dia menyuruhku untuk memintamu agar segera datang. Tapi kau jangan ke sini! Aku ingin lebih lama bersama Wendy."


Beberapa menit setelah itu, mereka masih duduk di sana dan tidak ada obrolan yang keluar sama sekali.


"Mmm.. kita jalan-jalan juga yuk," Ajak Yuna ragu-ragu.

__ADS_1


"Aku gak punya uang," ucap Wendy kecut.


"A-ah haha.. gak usah beli apa-apa, kita liat-liat aja."


"Hmm.."


"Haha.. kalau kau tidak mau tidak papa,"


"Ya sudah ayok,"


Wendy bangkit dari tempat duduknya. Mereka pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan sejajar. Sepanjang perjalanan, Yuna merasa canggung, ia terus mendundukkan kepalanya.


'Aku keliatan pendek banget!'


Yuna merasa malu, ia yang memiliki postur tubuh di bawah rata-rata itu terlihat sangat pendek saat berjalan di samping Wendy yang berbadan tinggi.


'Wendy itu kayak abang kalo lagi jalan sama aku.'


"Kau kenapa?" Tanya Wendy yang melihat Yuna sedari tadi menunduk.


"Ng-gak kenapa napa Bang!" Yuna terkejut dan tak sengaja memanggil Wendy dengan sebutan abang.


"Bang?" Wendy heran.


"N-nggak! Tadi Ibu nyuruh aku ngambil uang tabungan di bank!" Karena panik, Yuna mengada-ngada.


"Ohh.. ya udah, sekarang kita pergi ke bank," ajak Wendy.


"?"


"K-kita bisa pergi ke ATM, gak perlu ke bank."


"Hmm... Ya sudah ayok."


Sebenarnya Wendy tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Yuna, tapi ia malas untuk berbicara.


Setelah selesai menarik uang, tiba-tiba Yuna mendengar Wendy sedang bersenandung tanpa membuka mulutnya.


"Kau bernyanyi lagu apa?" Tanya Yuna penasaran.


"Oh, emmm.. lagu salah rio." Jawab Wendy yang tidak tahu apa judul lagunya.


"Hah?" Yuna ternganga mendengar judul lagu yang aneh itu.


"Aku rasa aku pernah dengar lagu itu, coba nyanyikan liriknya deh." Pinta Yuna


"Oke,"


"Uriga manden lo o o salah rio... ga manden lo o o salah rio..." dengan polosnya Wendy bernyanyi.


"Ppfftt!" Yuna yang mendengar Wendy bernyanyi merasa ingin tertawa.


Ternyata Wendy menyanyikan salah satu lagu boy band korea yang judulnya love scenario. Tapi saat itu ia menyanyikan lagu dengan lirik yang salah.


Sudah benar, Yuna memang pernah mendengar lagu itu. Yuna juga sebenarnya tidak tahu lagu korea itu, tapi ia tahu bahwa Wendy bernyanyi dengan lirik yang salah.


"Hahahaha! Kau lucu sekali!" Yuna tak bisa menahannya lagi. Ia tertawa keras sambil memukul-mukul dada Wendy.


"Ekhm!" Beberapa saat setelah itu Wendy berdehem.


"Oh," Yuna tersadar dan melangkah mundur, saat itu ia merasa sangat malu.


"M-maaf, habisnya aku tak tahan, haha.." Yuna sedikit tertawa.


"Tidak papa," Wendy berjalan melanjutkan perjalanan.


"Kau tau dari mana lagu itu?" Tanya Yuna yang mengikuti langkah Wendy.

__ADS_1


"Aku suka dengar dari Gilang," ucap Wendy.


"Wahhh! Boneka buaya!" Tiba-tiba Yuna berlari ke arah boneka dan menghiraukan Wendy.


Boneka itu berwarna hijau dan berukuran sangat besar. Yuna sangat menyukai boneka buaya, tapi ia tidak menyukai laki-laki buaya.


"Kau akan membelinya?" Tanya Wendy yang baru saja sampai.


"Ummm.. ah, tidak-tidak, ini terlalu mahal. Aku ingin berfoto disini! Bisa tolong fotokan?" Pinta Yuna.


"Ya, boleh,"


Yuna menyerahkan ponselnya kepada Wendy dan langsung berpose bersama boneka buaya itu.


"Udah?" Yuna menghampiri Wendy dan mengambil ponselnya.


Yuna langsung membuka galeri ponselnya tapi saat itu tidak ada foto dirinya yang sedang bersama boneka itu.


"Loh? Kok fotonya gak ada?" Yuna keheranan.


"Masa sih?" Wendy merasa tidak percaya.


"Kamu beneran pencet tombolnya tadi?" Tanya Yuna.


"Tombol? Tombol yang mana?" Wendy merasa bingung.


Rupanya Wendy itu gaptek alias gagap teknologi, karena ia tidak memiliki ponsel jadi ia tak tahu bagaimana caranya mengambil gambar.


"Ini, ini harusnya dipencet. Nah, kalo ini dipencet, liat, udah keambil kan gambarnya?" Yuna menjelaskan sambil mempraktikkannya.


"Ohh gitu ya harusnya? Ya udah ulang lagi."


Dengan perasaan yang konyol, Yuna kembali duduk bersama boneka buaya.


"Ini, udah." Wendy menyerahkan ponsel Yuna.


Yuna menerima ponsel itu dan langsung melihat foto hasil tangkapan Wendy.


'Goyang!'


Foto yang diambil Wendy sama sekali tidak bagus.


"Ahaha.. kau lihat hasilnya?" Yuna menunjukkannya.


"Loh, kok gitu?"


"Itu karena kamu goyang pas ngambil gambarnya." Jelas Yuna.


"Hah? Dari tadi aku diem kok, gak goyang."


"Hahh.. maksud aku, ponselnya gak boleh gerak pas dipegang." Yuna menghela nafas sambil terus menjelaskan.


"Ohh gitu?"


"Iya, yaudah sekarang divideoin aja deh."


Karena tidak mau gagal lagi, Yuna mengklik ponselnya dan mulai mengambil video. Lalu ia menyerahkan ponselnya kepada Wendy.


"Ini, kamu diem aja ya jangan bergerak, pegangin di sini. Terus gak usah kamu pencet." Yuna membenarkan posisi tangan Wendy untuk mengambil video.


Dengan segera Yuna kembali ke tempat boneka buaya dan berpose beberapa gaya.


'Ini cewek lagi ngapain sih? Mana ribet amat.' Gumam Wendy yang saat ini sedang menjadi patung.


"Udah, makasih ya." Yuna segera menyambar ponselnya. Ia melihat video yang sudah ia ambil dan langsung mengambil tangkapan layar pada pose yang terlihat bagus.


"Kamu mau ikut difoto?" Tanya Yuna.

__ADS_1


__ADS_2