
Masih di malam yang sama, Yuna duduk di tepi ranjangnya. Wajahnya memerah, jantungnya juga berdegup kencang, ia mencium pergelangan tangannya dengan sikap yang agak ragu.
Tiba-tiba ia tersentak, kenapa ia begitu konyol? Mengendus lembut pergelangan tangannya yang telah dicengkram erat oleh Wendy itu.
Oughh.. dan.. bau amis ikan, Wendy pasti tidak mencuci dulu tangannya tadi. Segera Yuna pergi ke kamar mandi. Ia berendam di dalam bak mandi hangat.
Cengkraman Wendy begitu masih terasa di pergelangan tangannya. Yuna masih mengingat jelas bagaimana lebar tangan dan kuatnya cengkraman itu. Dengan kasar, ia mencoba untuk menggosok-gosok tangannya.
"Aku tidak boleh terjatuh begitu saja!" Ucap Yuna ingin menghilangkan perasaan tak karuannya. Lalu dengan segera ia menyelesaikan mandinya.
Sesekali ia bergumam sambil bertelungkup di atas ranjang. Ia masih memikirkan soal perkataan Wendy yang berkata bahwa dirinya biasa melakukan hal itu dengan Wita.
'Aku tidak bisa membayangkannya.' Gumam Yuna merasa terpuruk.
Sedikit ada perasaan bersalah karena ia sudah berani mendekati Wendy. Tetapi ia tidak peduli, lagipula Wendy dan pacarnya masih belum menjalin hubungan resmi.
Pagi pun tiba, Yuna sudah berada di dalam kelasnya sekarang. Kali ini ia tidak membawa ponsel karena memang tidak ada hal yang begitu penting.
Di belakang, Brian dan kawan-kawan terdengar sedang berbicang-bincang tidak berdosa, menghiraukan Yuna yang sudah menanggung tiket mereka saat di bioskop.
Kedengarannya, mereka tengah membicarakan tentang UAS yang tinggal menghitung hari saja dimulai dari sekarang. Tapi pembicaraannya itu melanggar, mereka bersekongkol untuk mendapatkan kunci jawaban.
"Lang, lu udah dapet bocorannya belum?" Ucap Anang yang tengah berjongkok diantara Brian dan Gilang.
"Boro-boro, gue males, lagian ke siapa? Eh Yan, lu tanyain dong sama cewek-cewek, cewek lu kan banyak?" Titah Gilang.
"Tanyain ke yang lain aja. Ntar kalo gue nanya sama cewek lain bisa-bisa si Sinta jadi curiga." Tolak Brian.
"Ah elu, gitu aja susah. Padahal kan dia mana tau kalo bukan elu juga yang bilang."
"Maklum Lang, cewek langka, gak boleh lepas lah. Pasti pink kan?" Pertanyaan Anang membuat Brian merasa pacarnya tengah dilecehkan.
__ADS_1
"Tau." Brian malas menjawab.
"Ey, Bro, kalian udah dapet bocoran soalnya belum?" Gilang berbalik ke samping belakang. Meskipun jarang berbaur, tapi ia tak ragu untuk bertanya kepada siswa sekelasnya.
"Belum nih, ntar kita kasih tau kalo udah ada." Ucap mereka ramah. Memang, mereka tidak pernah terikat masalah apapun dengan ketiganya.
"Cabut yuk, di kelas paling cuma ngebahas kisi-kisi aja kayak kemaren." Ajak Gilang, sudah lama mereka tak bolos pelajaran.
"Gimana Yan?" Tanya Anang.
"Gue mau di sini aja. Kalian kan udah tau kalo aturan di sekolah udah diperketat." Brian beralasan, sebenarnya ia memang tak ingin meninggalkan pelajaran.
"Iya juga sih. Padahal gue penasaran denger cerita si Wendy soal yang semalem." Anang tersenyum mengangkat alis ke arah Yuna. Yuna yang mendengar perkataan itu merasa terkejut, tetapi ia hanya diam saja dan tidak menoleh sedikitpun.
"Oh ya, filmnya gimana tuh? Seru gak? Si Jestie sama si Jason selamat kan?" Brian penasaran dengan tontonannya yang belum tuntas.
"Si Jason sih selamat, cuma emaknya sama kakaknya dibunuh. Sadis anjir, itu yang cewek padahal cantik, udah dikentod terus badannya dipotong-potong." Jelas Gilang.
'Huhh.. itu bukan film laga, tapi itu film psikopat!' Gumam Yuna kembali mengingat filmnya.
"Idup sih dia, tapi istrinya juga dibunuh. Terus si Jason jadi musuhin bapaknya, tapi pas udah lama dia dapet kabar kalo bapaknya itu meninggal." Tutur Gilang.
"Gak jelas anjir tamatnya, masa si Jason minum ramuan terus abis itu jadi kecil lagi. Udah deh, tamat tuh film. Harusnya kan diceritain kisah hidup si Jason yang selanjutnya." Anang merasa jengkel.
"Hmm..." Brian mencoba mencerna filmnya.
"Kayaknya sih dia mau jadi budak pemerintah juga. Soalnya kan itu bos mafia belum keliatan juga." Tebak Gilang.
"Kalo bantuin pemerintah demi negara sama rakyatnya sih.. kayaknya mereka punya motto kayak gini, hidup dan mati dengan perasaan bangga!" Ucap Brian memakai intonasi.
"Boleh juga, ntar kapan-kapan kita nobar lagi. Gak usah di bioskop, mending beli CD nya aja. Atau di ponsel lu tuh Yan." Usul Anang.
__ADS_1
"Bisa, ntar gue sambungin ke TV kalo mau enak. Tapi TV di rumah gue gak selebar kayak di bioskop."
"Yang penting mah nonton aja lah gak usah manja."
Datanglah guru pelajaran pertama. Sesuai dugaan guru itu memberi kisi-kisi mata pelajarannya. Brian mencatat rapi apa yang diberikan oleh gurunya itu, sedangkan kedua temannya termasuk beberapa siswa lain terlihat pura-pura menulis saja.
Hingga akhirnya istirahat pun tiba, Brian dan yang lainnya segera mendekati Yuna. Mereka tidak lupa akan hutangnya, hanya saja mereka menunggu ruangan kelas berada dalam keadaan aman.
"Yuna, nih uang tiket yang kemarin. Maaf telat." Mereka menyerahkan uangnya kepada Yuna.
"Mm.. tidak usah, lagi pula aku yang mengajak kalian. Aku juga dapat promo waktu membelinya." Tolak Yuna.
"Udah ambil aja, kita kan cowok, masa dibayarin sama cewek sih? Kan gak enak."
"Hmm.. baiklah aku terima."
Yuna menerima uang mereka dalam jumlah yang pas. Setelah itu Anang langsung menanyakan soal Wendy kepadanya, tetapi Yuna tidak ingin bercerita, ia masih belum ingin membahas soal Wendy lagi.
"Tu cctv nyala gak sih? Bisa bahaya kalo cctv nya nyala. Mending kita gak usah deket dulu, nanti malah jadi tambah curiga. Kalo kalian mau tau ntar gue ceritain di luar." Ucap Brian mengalihkan perhatian. Sengaja ia berkata seperti itu untuk menjauhkan teman-temannya dari Yuna.
"E-eh! Brian, jangan!" Yuna terkejut sekaligus malu.
"Gapapa Yuna tenang aja."
Brian dan yang lainnya pun keluar dan menuju ke tempat biasanya. WC sekolah, terlihat sudah ada sekumpulan siswa lain yang tengah menempatinya. Mereka menatap ke arah Brian dan yang lainnya dengan wajah biasa.
Deja vu, Brian tengah merasakan deja vu. Ah, tidak, ini memanglah masa lalunya yang sedang kembali terulang. Kejadian ini memang pernah terjadi di masa lalu dan sekarang tiba lagi.
(Oh ya bagi kalian yang gak tau arti dari deja vu nih aku kasih tau. Deja vu itu suatu perasaan dimana kamu merasa bahwa apa yang tengah kamu alami barusan pernah kamu alami sebelumnya. Jadi gini, "Lah? Perasaan gue pernah ngalamin kejadian ini?" Oh gini...? "Kemaren pagi aku bangun tidur, trus pagi ini aku bangun lagi." Hoho.. itu sih bukan, itu namanya kebiasaan. Dah lah semoga bermanfaat infonya gaess).
"Gimana nih Bro? Tempat kita udah ada yang nempatin." Ucap Anang terang-terangan.
__ADS_1
"Lu lagi ngomongin kita? Emang ini sekolah punya siapa? Punya bapak lu?" Ucap salah seorang diantara kumpulan itu.
"Kalem Bos, cuma ngomong aja kok sewot? Ya udah Bro, kita duduk sebelah sini aja." Anang berjalan dan duduk agak berjauhan dengan mereka.