
Masih dalam keadaan gelap, Brian yang tadinya kabur dari panitia kini tengah berjalan seorang diri. Ia bingung mau ke mana, hanya berjalan santai ke lingkungan sekolah bagian depan.
Saat itu juga bunyi sirine toa mulai terdengar, Brian merasa lega karena bukan dia lah yang telah menjadi alarmnya. Panitia tidak mengejar, lagipula tadi mereka hanya bercanda, sebagai senior tentu geram rasanya ingin mempermainkan juniornya.
Seperti kemarin, mereka dibangunkan di sepertiga malam untuk menunaikan ibadah shalat. Jadi Brian tak bingung lagi, ia hanya tinggal menunggu yang lainnya keluar dan ia akan segera pergi ke ruangannya.
Tapi tiba-tiba, saat ia duduk di depan sebuah ruangan kelas, sedikit ia merasakan sesuatu yang aneh dalam perutnya. Seperti ada gelembung-gelembung yang terus berbual dan berbunyi naik ke permukaan. Brian menahannya, paling ini hanya suara cacing-cacing yang sedang kelaparan saja.
Masih terdiam bersama suara sirine toa yang berbunyi, ia sudah merasa tidak nyaman. Perutnya sakit, dan suatu tekanan sepertinya tengah menerjang lubang anusnya.
Sebelum semua orang keluar, segera Brian berlari menuju ke WC satpam. Hanya ada 2 buah WC di sana dan mungkin ini aman dari jangkauan orang-orang.
Sudah beberapa hari ia tak berak, jadi tak mungkin ia harus menahannya lagi. Di sini Brian dapat menutup pintunya dengan rapat tak seperti pintu WC SMP nya yang harus dipegangi. Dari atas juga tidak ada celah, Brian bisa aman tanpa takut ada yang mengamati.
Kenyamanan itu tak lantas membuat hati Brian merasa tenang, seseorang pasti akan segera datang dan dengan paksa ia mengejan mencoba mengeluarkan isi perutnya.
"Brrattt! Breett! Brott!"
Tak disangka bukan hanya kotoran yang keluar, tapi suara kentut juga ikut terdengar keras. Brian sendiri ikut terkejut mendengarnya, ia takut seseorang di luar juga akan mendengarkannya. Tapi suara ini sama sekali tidak bisa ia tahan, ia pun memutar kran air untuk sedikit meredam suara bom di dalam sana.
Sial, kenapa malah beneran ingin buang kotoran? Padahal alasan tadi hanya bohongan saja. Dan rasanya perut masih sakit, taiknya pun tidak padat tetapi encer. Makan apa ia sampai begini?
Perut sudah agak tak sakit lagi, segera Brian mengakhirinya sebelum orang-orang datang mencurigainya.
Tidak bau, taik yang encer itu tidak tercium bau menyengat, Brian bisa berlenggang bebas keluar dari sana tanpa mengkhawatirkan respons orang yang selanjutnya akan masuk ke dalam.
Di luar sudah datang para peserta yang berlawanan arah bersama Brian. Oh ya, saking paniknya Brian lupa untuk membasuh wajahnya. Karena ia sudah menjauh dari WC satpam, ia pun berbelok ke sebelah kiri.
Terdapat 3 pintu WC di sana dan juga beberapa kran tempat berwudhu. Tempatnya harum dan juga terjaga bersih. Padahal kemarin orang-orang terlihat kotor dan pasti sudah membuat WC ini kotor juga.
Brian tak heran, petugas kebersihan di sini sangatlah profesional. Sekolah selalu terjaga kebersihannya. Tidak miris seperti di SMP nya, yang bersih hanya WC guru saja dan pastinya itu selalu dikunci.
Saat tengah mencuci wajah pada air kran yang mengalir, dua orang wanita mulai datang ke dalam sana. Mereka membawa pouch transparan berisi sabun wajah dan pasta gigi. Brian sendiri tidak membawa hal yang seperti itu, kebersihan memang penting, tapi nanti dirinya malah akan dikira alay.
"Aaah!"
Tiba-tiba salah satu wanita terpeleset, Brian menoleh tapi tak lantas membantunya. Lantai agak basah dan wanita itu memakai sandal yang licin, ia hanya terduduk saja tetapi anehnya ia langsung menatap Brian.
__ADS_1
'Siapa dia?' Tanya wanita itu dalam hatinya.
Ia segera berdiri karena merasa malu jatuh di hadapan laki-laki. Sebelum masuk ke sini pun pandangannya sudah terpaku pada Brian yang tengah seorang diri.
Segera wanita itu masuk ke dalam WC untuk sekedar bersembunyi. Ia penasaran, siapa lelaki tampan di depannya tadi? Usai suara kran mati dan Brian pergi, ia keluar menatap hilangnya Brian di tengah keramaian.
Pagi hari senam kembali dilakukan. Ketiak-ketiak bau dikibaskan pada udara yang masih segar itu. Tidak semua orang kemarin mandi, mereka tidak persiapan sabun dan mana mungkin ratusan siswa harus setia panjang mengantri.
Seperti kemarin mereka disediakan kembali sabu agar tidak ribet memasak sendiri. Sekarang mereka harus memakannya di lapang karena acara akan diadakan di sana juga.
Ini adalah acara asik-asikan, panitia bebas mengatur bagaimana jalannya kegiatan. Setiap peserta pasti ada saja yang tingkahnya selalu menarik perhatian, panitia menggelar acara untuk memperkenalkan satu per satu peserta yang dipilihnya.
"Diva kelas TKJ!"
Panitia memanggil satu nama melalui pengeras suara. Seketika suara teriakan penonton keluar heboh, tanpa ragu orang yang dipanggil itu langsung datang ke depan lapang dan naik ke atas undakan tangga.
Dari gaya berjalannya saja dirinya sudah menjadi pusat perhatian, ia adalah pria tulang lunak yang sangat aktif dan percaya diri.
Diva, kelas TKJ. Pria berkacamata dengan wajah yang lumayan tampan. Kebanyakan orang mungkin sudah agak mengenalnya, ia sangat supel apalagi kepada para wanita.
"Wuuuu!" Sorak-sorak heboh semua orang tidak menyangka.
"Halow gays! Perkenalkan nama aku Diva, apa kabar kalian semua pasti belum pada mandi kan?" Ucap Diva si anak baru itu. Ia melambai-lambaikan tangannya dengan lemah gemulai.
"Belumm!"
"Udahh!"
"Bauu!"
"Pengen pulang!"
"Gatel-gatel!"
Jawab para peserta didik yang tengah duduk di atas lapang.
"Diva, di sini kamu mau mempersembahkan apa untuk teman-teman kamu semuanya?" Tanya panitia melalui pengeras suara.
__ADS_1
"Mmh.. apa yah.. aku bisa nyanyi sih, yaudah nyanyi ajah yah? Gimana kawan-kawan?" Tanya Diva.
"Nyanyii!" Jawab penonton.
Diva sedikit malu, bagaimanapun kerumunan orang yang ada di depan tak mungkin bisa ia hindarkan. Ia tak bisa diam dan terus menggerak-gerakan tubuhnya yang terlihat lembek.
Musik pengiring mulai terdengar, lagu pop slow yang semua orang tahu juga. Di balik 2 kaca minus itu ia memejamkan kedua buah matanya, bergerak menghayati tanpa melihat siapa yang sekarang ada di depannya.
Suaranya sedikit berat dan bagus, tetapi terdengar ada unsur-unsur wanitanya pada nada yang tinggi. Walau begitu semua terlihat salut, ia begitu berani di hadapan orang banyak seperti ini.
"Tu cowok letoy banget anjir, greget gue pengen matahin tulang-tulangnya." Gilang menyinyir.
Lenggak-lenggok gerakan Diva begitu membuatnya merasa jijik. Wanita saja gayanya tidak seperti itu, tetapi ini pria malah terlihat lebih menjadi-jadi.
"Ada yang mau minta nomor ponsel akuh gak?" Tanya Diva setelah konsernya selesai.
"Nggakk!"
Semua menolak, Diva pun mendapat hadiah berupa bingkisan besar yang tidak tahu isinya apa. Pertunjukannya itu sengaja dijadikan pembuka sebagai motivasi murid lain untuk berani maju ke depan. Siapa yang mau maju ke depan, maka panitia akan memberikannya hadiah juga.
Di pinggiran lapang panitia berkeliling hendak menunjuk siapa yang selanjutnya akan ke depan. Dan satu per satu mulai tertarik tanpa ditunjuk. Mereka ingin menunjukkan bakatnya yang dirasa lebih baik dibanding Diva.
Kali ini 2 orang wanita, mereka mempersembahkan nyanyian juga. Selanjutnya dari siswa laki-laki, ia menunjukkan bakat beatbox yang tentu membuat orang-orang terkejut mendengarnya.
Beatboxnya sangat lama dan membuat orang berpikir mic nya sudah basah dipenuhi oleh air liurnya. Kebanyakan yang datang adalah penyumbang suara, panitia merasa bosan dan mulai menunjuk seseorang secara acak.
"Ngeongg.. ngeongg.."
Kali ini pandangan mereka teralihkan oleh 1 buah drone yang terbang di atas sana.
Dari hari pertama beberapa panitia sudah memegang kamera digital untuk mengabadikan momen ini. Beberapa peserta ada yang minta difotoi juga.
"Apaan? Cuma drone doang kok kayak liat pesawat?" Brian menengadah merasa biasa saja.
"Hey kamu, yang tadi ngecas ponsel kan?" Seorang panitia perempuan mencolek pundak Brian.
Brian duduk di sudut belakang, sengaja ia duduk di sana agar bisa bubar paling awal. Perasaannya mulai tak tenang, ada apa kakak panitia itu memanggil dirinya?
__ADS_1