Kosong

Kosong
Mengintrogasi Yuna


__ADS_3

'Oh, Yuna sudah melakukannya sesuai dengan perintahku,' Brian melihat tasnya yang berada di kolong meja.


Saat itu Yuna tidak menyapa Brian, ia terlihat fokus dengan ponselnya. Jam pelajaran pertama akan segera dimulai, 2 sejoli (Anang dan Gilang) datang memasuki ruangan kelas. Mereka duduk sejajar bersama Brian di bangku belakang.


"Gara gara si Wendy keluar dari sekolah, kita jadi ke kelas kayak gini. Mana lu diem mulu lagi di kelas. Apa gue juga kudu ngurung diri di sini?" Ucap Gilang yang duduk bersebelahan dengan Brian.


"Justru itu lebih bagus," ucap Brian.


"Hahh..."


Anang dan Gilang merasa kesepian jika harus nongkrong berdua saja. Tidak ada tempat tujuan lain yang bisa mereka datangi kecuali kelas yang saat ini sedang ramai.


"Drrt!"


Tiba-tiba saja Brian mendapati ponselnya bergetar, di sekolah ia harus membisukan ponselnya karena pihak sekolah tidak memperbolehkan siswanya membawa ponsel ke sekolah. Terlihat pesan baru yang datang dari Yuna.


"Apa sebenarnya yang dikatakan oleh mereka? Apa Wendy benar-benar keluar dari sekolah?"


Yuna yang mendengarkan percakapan mereka itu langsung terkejut mendapati orang yang ia sukai tak lagi bersekolah di sekolah ini.


"Oh, ya, aku lupa untuk mengabarimu. Ini semua gara-gara masalah minggu lalu, Wendy sudah dikeluarkan dari sekolah." Balas Brian.


Pesan yang terkirim langsung dibaca, Brian keluar dari pesan itu dan melihat sebuah pesan dari Sinta yang belum sempat ia baca.


"Aku mengirim foto yang waktu itu!"


Beberapa foto masuk ke ponsel Brian, itu adalah file foto yang mereka ambil sewaktu di mall. Saat itu juga Brian melihat lihat fotonya yang paling bagus dan menjadikan foto itu sebagai wallpaper di ponselnya.


"Lalu, bagaimana aku bisa dekat dengan Wendy jika seperti ini?" Balasan pesan dari Yuna.


Keberhasilan antara mendekatkan Yuna dengan Wendy kini semakin kecil. Brian juga tidak tahu bagaimana ia harus mendekatkannya. Ia juga sedikit ragu sejak melihat perbedaan sikap Yuna di tempat tempat lain.


"Lebih baik kau menyerah saja." Balas Brian.


"Bro, dari tadi lu maen ponsel mulu, gak liat ada kita apa?" Gilang merasa cemburu karena ponsel lebih menarik perhatian Brian.


"Hehe.. iya iya," Brian meletakkan ponselnya dan duduk menghadap ke arah teman temannya.

__ADS_1


Tapi guru pengajar baru saja masuk, lantas Brian kembali mengubah posisinya. Selama pembelajaran berlangsung, guru itu terlihat santai, ia tidak menghiraukan kehadiran Anang dan Gilang yang saat itu tengah duduk di bangku belakang.


Bell istirahat sudah berbunyi, Brian dan 2 sejolinya menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas. Semua murid keluar dari sana dan pergi ke kantin, terkecuali Yuna.


Setiap hari, Yuna selalu membawa bekal ke sekolah, ia tidak pernah sekalipun terlihat pergi ke kantin. Sekarang hanya ada empat orang di dalam kelas, dan Yuna tak berani membuka kotak bekalnya itu.


"Kenapa gak ke kantin?" Tanya Brian kepada Anang dan Gilang.


"Males, makanan di kantin mahal-mahal," jawab Anang.


Tiba-tiba Yuna berdiri, ia merasa tidak nyaman dan hendak pergi keluar. Ia pergi meninggalkan kelas tanpa menghiraukan Brian dan kawan-kawan.


"Eh, tu siapa tadi?" Tanya Gilang penasaran.


"Hah? Kamu udah lupa? Itu Yuna." Jawab Brian.


"Ohh, abis dia gak terkenal," ucap Gilang.


Saat itu Brian membuka ponselnya untuk melihat balasan pesan dari Yuna.


"Aku tidak mau menyerah! Tolong bantu aku!" Balas Yuna.


"Emm.. sebenernya sih kemarin-kemarin dia bilang kalo dia suka sama Wendy," ucap Brian tanpa pikir panjang.


"Lah? Si Wendy kan udah punya pacar," Gilang terkejut mendengarnya.


"Tapi, tu cewek cantik juga ya. Lebih cantikan dia daripada pacarnya si Wendy yang sekarang," ucap Anang yang duduk mendekat.


Brian pun menceritakan bagaimana ia telah mencoba mendekatkan Yuna dan Wendy sewaktu di mall. Tapi saat ini ia masih waspada mengingat sikap Yuna yang tidak begitu jelas. Ia tidak mau menjodohkan Wendy dengan orang yang tidak baik.


Kedua sejoli itu pun berkata akan ikut membantu, mereka tahu bahwa pacarnya Wendy yang saat ini memiliki sifat yang buruk. Wendy sering bercerita tentang bagaimana pacarnya itu membuat suatu kesalahan dan ia selalu saja memaafkannya.


Karena ketiganya sudah sepakat, mereka akan mencoba mendekati Yuna dan mengenal sifat Yuna lebih dalam. Saat itu Brian mengirim suatu pesan kepada Yuna.


"Oke, tapi kapan-kapan kita harus membicarakan ini secara langsung." Balas Brian.


Yuna yang tengah duduk di taman sekolah tanpa seorang teman sibuk memainkan ponsel miliknya. Ia langsung mendapatkan balasan dari Brian itu.

__ADS_1


"Baik, bagaimana kalau hari ini? Aku ingin secepatnya bertemu dengan Wendy." Balas Yuna.


Brian yang mendapatkan pesan itu langsung terkejut. Yuna ternyata orangnya tidak sabaran. Karena Brian takut Yuna tidak akan mau berbicara jika ada Anang dan Gilang, jadi Brian memutuskan untuk pergi berbicara dengan Yuna sendirian.


Bell sekolah berbunyi, jam pulang sudah tiba. Waktu itu Brian dan Yuna sedang berada di depan kelas.


"K-kita mau pergi ke mana?" Tanya Yuna.


"Hmm.. kalau ke rumahku bagaimana? Aku sudah janji sama Ibu untuk tidak pulang terlambat." Ucap Brian.


Sebenarnya Yuna masih merasa takut Brian akan berbuat macam-macam pada dirinya. Tapi ia ingin dengan segera didekatkan kepada Wendy. Lantas Yuna menerima ajakan itu, lagi pula Brian berkata bahwa di rumah juga ada ibunya.


Lalu mereka pergi ke rumah Brian. Sesampainya di sana mereka langsung pergi ke kamar.


"B-brian, kenapa kita harus membicarakannya di sini?" Yuna merasa ketakutan.


"Kalau di luar nanti Ibu dengar," ucap Brian.


"T-tapi kau tidak akan berbuat apapun padaku kan?" Ucap Yuna dengan wajahnya yang ketakutan.


Seketika Brian merasa malu, Yuna sudah mengenal Brian sebagai orang yang cabul.


"A-ah.. tidak tidak. Tenang saja."


Brian pun langsung membuka kancing bajunya seperti biasa.


"Apa yang akan kau lakukan?!" Tiba-tiba Yuna berdiri dan menjauhi Brian.


'Ya ampun, Yuna sampai segitunya denganku.' Brian merasa semakin malu.


"Tenang Yuna, aku hanya ingin membuka bajuku saja, di sini gerah," jelas Brian


Yuna pun mencoba mempercayai Brian, itu semua ia lakukan demi bisa dekat dengan Wendy.


"Nah, Yuna, apa kau benar-benar suka kepada Wendy?" Brian langsung memulai introgasinya.


Tiba-tiba saja Yuna yang mendengar pertanyaan itu langsung mendongak dan diam sejenak.

__ADS_1


"Y-ya," ucap Yuna sambil memalingkan pandangannya ke lantai.


"Tapi aku ingin tahu, kenapa sikapmu aneh seperti itu?" Tanya Brian


__ADS_2