Kosong

Kosong
Selalu Salah


__ADS_3

Mimpi semalam terngiang-ngiang di telinga Brian, membuatnya merasa gelisah dan tak tenang. Mengapa dirinya sama sekali tidak sadar maupun tersentak? Justru ia begitu menikmati percintaan itu.


'Padahal semalem biasa aja, kok aku gak sadar sih?'


Percintaan yang begitu nikmat dan tahan lama, namun bukan dengan Sinta. Dari warna kulitnya saja sudah berbeda. Sinta memiliki kulit berwarna putih dan wanita yang semalam memiliki kulit sawo matang.


Rasa penasaran terus saja menyelimutinya. Brian ingin tahu wajah siapa yang disensor itu. Bukan berarti Brian akan mencari wanita itu dan melanjutkannya secara langsung, keanehan dan ketidakjelasan itu tak bisa ia lupakan.


Mungkin Sinta yang sudah lebih lama tinggal di bumi tahu kenapa mimpinya begitu aneh. Dia anak SMA dan juga sering didekati oleh para pria. Pasti ia tahu banyak tentang pengalaman dan kepribadian seorang pria. Bertanya lah Brian kepada orang yang bukan penerawang mimpi.


"Sinta, semalam aku bermimpi." Ucap Brian curhat.


"Mimpiin aku ya?" Sinta berharap.


"Bukan, aku mimpi *tittt!* (sensor) sama cewek, tapi itu bukan kamu." Ucap Brian datar.


"Hah?! Terus sama siapa?!" Sinta terkejut, walaupun cuma mimpi tapi Sinta tidak terima.


"Aku juga gak tau."


Berbagai macam pertanyaan langsung keluar dari mulut Sinta. Tentang rupa wajahnya, Brian menikmatinya atau tidak, ukuran wadah lemaknya, lama permainannya, dan apa saja gaya yang dilakukannya.


"Kamu tega Brian!" Sinta terlihat sedih tapi juga terlihat marah.


"Loh? Itu kan cuma mimpi," Brian merasa heran, padahal ia hanya ingin mencari jawaban.


"Terus, kenapa kamu malah mimpi gituan sama cewek lain?! Kamu selingkuhin aku?!" Sinta pikir Brian selalu berangan-angan untuk bermain dengan wanita lain, sehingga wanita itu terbawa ke dalam mimpinya Brian.


Sinta terlihat begitu marah, Brian tak boleh dekat dengan wanita lain, Brian adalah miliknya seorang. Padahal Brian sendiri tidak tahu kenapa ia bisa bermimpi seperti itu. Ia juga tak bisa mengatur mimpinya untuk memilih dengan siapa ia bercinta.


"Kamu belum pernah merasakan bagaimana rasanya bermain denganku ya?! Kalau begitu kita coba sekarang, biar kau tahu!" Wajah mereka saling berhadapan dan Sinta menatap dengan tajam.

__ADS_1


'A-apa? Padahal Sinta sendiri juga sering cerita tentang cowok, tapi giliran aku yang cerita kok dia malah marah?'


Sinta sering bercerita kepada Brian bahwa dirinya selalu dikerumuni dan digoda oleh banyak pria. Bahkan sudah banyak yang mengajaknya kencan maupun langsung mengajaknya pacaran.


Lengah, terlalu lama memikirkan sesuatu dan belum sempat menjawab semua pertanyaannya, bibirnya sudah dikulum dengan gerakan yang lembut. Basah dan bergerak-gerak di dalam, sama seperti permainan yang ada di bawah. Sama-sama licin dan basah, hanya tinggal menyingkapkan pakaian Sinta, dan kuda-kudaan pun siap untuk dimulai.


Tubuhnya terasa ringan, gerakan lidah itu seakan membuat otaknya menjalar kemana-mana. Tumpuan berat yang berada di atasnya terasa lembut dan ingin sekali tangan Brian meremasnya.


Wajah putih kemerah-merahan disertai sedikit bintik bintik samar. Rambutnya yang indah tanpa dicat, membuat Brian ingin membelainya.


Sinta menarik nafas panjang, ia menggeliat merasakan tubuhnya disentuh oleh tangan Brian. Tangannya tiba-tiba bergerak menyelundup masuk ke bawah rok itu dengan mudahnya. Akalnya sudah tak sehat lagi, mimpi yang semalam membuatnya ingin melakukan adegan ranjang. Wajah yang tak terkena sensor sekarang bisa ia nikmati.


Kedua tangannya tengah bergerak di area pangkal paha belakang, mengelus lembut bagian sensitif Sinta. Rasanya begitu nikmat, membuat Sinta terlarut-larut dalam pikirannya. Ia ingin melakukan yang terbaik untuk membuat Brian merasa puas.


Beberapa saat Sinta melepaskan cumbuannya untuk sejenak menelan ludah. Kemudian telapak tangannya menyentuh lembut pipi kiri Brian. Kembali Sinta memejamkan mata, merekahkan bibirnya yang berwarna pink dan mendekatkan wajahnya ke arah Brian. Namun, saat itu Brian cepat-cepat menyadarkan pikirannya.


"Sinta, pintunya tidak dikunci!" Alasan Brian agar Sinta enyah dari tubuhnya.


"Sinta, ayo kita ke bawah dan membicarakan acara itu kepada Ibu." Brian cepat-cepat bangkit dan menghampiri Sinta. Tapi Sinta hanya berbalik dan membuat adegan panas lagi sembari berdiri.


'Ahh... Sinta, kau...'


Brian tak mau melepaskannya dengan kasar. Proporsi yang pas antara tinggi badan Sinta dengan tinggi badan Brian, kira-kira Sinta hanya 4 cm lebih tinggi daripada Brian. Mereka bermain lidah tepat berada di dekat pintu dan menghiraukan jendela kamar Brian yang masih terbuka.


Ingin sekali rasanya kembali ke atas ranjang, namun Brian mencoba saja mengikuti permainan Sinta. Brian rasa sesekali tidak apa, tiada cinta yang tak menyimpan rasa nafsu dalam dirinya. Cumbuan itu berakhir dengan sorot mata yang terlihat lemah.


Sinta tak menghiraukan Brian dan pergi ke kamar mandi yang ada di dalam. Ia kembali dengan wajahnya yang basah dan tatapannya yang jauh berbeda. Wajah cantiknya juga tak luntur meskipun sudah terbasuh oleh air.


"Ayo!" Selesai menggunakan handuk wajah milik Brian, Sinta berkata sambil tersenyum, tatapannya terlihat kembali segar.


'Hah? Dia sudah melupakan hal yang tadi begitu saja?' Brian heran, tapi nafsunya perlahan hilang dan mereka berjalan menuju ke bawah.

__ADS_1


"Bu, Brian sama Sinta mau ngerayain satu tahun hari jadian kita! Di sini boleh kan Bu?" Sinta berbohong, 1 tahun hari jadinya sudah terlewat, tapi ia juga tak mungkin berkata 2 tahun, karena nantinya memang tidak akan masuk akal.


"Wahh, kapan?" Tanya Ibu yang tengah duduk di sofa.


"Malam jum'at nanti Bu! Brian juga katanya mau ngundang temen-temennya ke sini!"


"Bagus dong kalau ramai-ramai, di sini biasanya sepi cuma ada Ibu dan Brian."


"Jadi boleh Bu?!"


"Iya Sayang, boleh," Ibu mengelus-elus rambut pirang Sinta.


Brian yang juga merupakan pelaksana acara sekaligus tuan rumah hanya diam saja. Ia malu untuk membicarakan hal itu kepada Ibu, untungnya saja bisa ia serahkan pada Sinta. Tokoh utama yang sebenarnya memang bukan mereka berdua, tetapi Yuna dan Wendy yang menjadi target mereka.


Di ruang tengah, mereka bertiga mengobrol dan bersenda gurau. Brian rasa dirinya terlalu kaku, di masa depan dirinya tak terlalu banyak omong dan bukan tipe orang yang humoris. Mengingat ketiga sahabatnya yang selalu akrab dalam gelak tawa, ia pikir dirinya juga harus sama.


Ini adalah masa remajanya, dan ia harus menikmatinya sebelum masa ini berakhir begitu saja. Perlahan Brian mencoba untuk lebih banyak omong dan tidak terlalu formal. Di samping itu, ia tak boleh melupakan pikiran dewasanya.


Setelah lama berbincang-bincang, Sinta pun pamit dan membuat Brian merasa lega. Ia kembali ke kamarnya, dan memikirkan sesuatu sembari menatap langit-langit.


Bermain eroge, menonton situs terlarang, dan lain sebagainya harus ia hentikan. Memang, rasanya sulit untuk mengubah masa depan dan menahan semua godaan ini. Berbaur dengan mereka membuat Brian menjadi anak yang tidak benar. Satu-satunya cara adalah mengendalikan diri agar tidak ikut terbawa ke dalam arusnya.


"Wen, Sinta mau ngadain acara anniv kita yang ke 1 tahun. Malam jum'at nanti kamu bisa dateng gak? Anang sama Gilang juga mau dateng." Pesan yang dikirim Brian kepada Wendy.


Jika Wendy tidak bisa datang pada hari itu, maka Brian harus mengundur acaranya agar tepat dengan waktu senggangnya Wendy. Tentu saja, karena dia adalah tokoh utama. Mana mungkin tokoh utama tidak muncul di dalam acara.


Sudah saatnya mengunci ponsel. Latihan menahan nafsu dimulai dari tidak menggunakan ponsel barunya. Sinta melambai-lambai dari jendela sambil memperlihatkan selembaran kertas soal miliknya.


Brian segera mencontoh sikap rajin kekasihnya dan mulai membuka bukunya yang sudah tidak terlihat kosong lagi. UAS akan segera tiba, Brian tak mau mengulangnya di akhir dengan cara remedial.


Meskipun catatannya belum lengkap, dengan bahan seadanya Brian mencoba untuk belajar. Kisi-kisi untuk UAS belum disampaikan kepada semua murid. Ia hanya belajar melalui soal-soal yang ada.

__ADS_1


__ADS_2