Kosong

Kosong
Kang Bakso Laknat


__ADS_3

"Bukan gue ya yang mutusin buat pesen baksonya si Yuna." Anang mengangkat kedua telapak tangannya.


"Iya iya, tenang aja.. kalian gue bayarin. Itung-itung imbalan waktu tadi nganterin gue beli jus." Ucap Brian santai.


"Bagus kalo gitu, gue gak jadi tekor." Gilang bersyukur.


Setelah makan bakso, mereka tidak berencana untuk pergi kemana-mana lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 3, dan di luar juga masih terlihat mendung. Brian pun pergi menghampiri tukang bakso dan mengeluarkan uang 100 ribu.


"Loh Bang? Bukannya ini semua jadi 60 ribu? Air minumnya gratis kan Bang?" Brian merasa heran saat mendapat kembalian 31 ribu. Padahal ia hanya memesan 4 porsi bakso yang harganya 15 ribuan.


"Air minumnya gratis. Itu, temen adek bawa kerupuk dua bungkus." Ucap tukang bakso melihat ke belakang Brian.


Brian pun menoleh ke belakang, ia melihat Anang dan Gilang masing-masing memegang satu bungkus kerupuk tanpa berdosa. Brian menghiraukannya lalu kembali bertanya kepada tukang bakso.


"Emang kerupuk dua sembilan ribuan ya Bang?" Brian merasa tidak percaya.


"Kerupuk satu bungkus, 2 ribu. Beli dua, jadi 4 ribu. 5 ribu lagi biaya numpang minum jus. Kalo adek bawa makanan atau minuman dari luar ke sini, itu harus bayar." Ucap tukang bakso detail.


"Hah?"


'Apaan sih tukang bakso ini? Dia mau ngejebak gue apa? Padahal gak keliatan ada aturan yang nempel dimana-mana.'


Meski merasa rugi, tapi Brian menerima uang kembalian itu apa adanya. Mereka pun keluar dari lapak bakso dan berdiri di pinggiran jalan menunggu kendaraan umum.


"Haha.. lu kenapa sih Yan, ampe perpanjang soal kembalian segala? Biasanya juga lu gelosor gitu aja sama kita. Kress.. kress.." Ucap Gilang sambil asyik memakan kerupuk.


"Nyari duit tu susah, jadi harus dipermasalahin lah. Kalo ngasih ke kalian sih gue gak papa." Brian merasa kapok, ia tak mau lagi jajan di lapak itu.


"Kress.. kress.. Kapan nih kita mau ke markas lagi?" Tanya Anang. Yang dimaksudnya adalah base camp. Brian berpikir, jika bukan untuk mabuk-mabukan, untuk apa lagi mereka ke sana?


"Udah, mending kita hidup netral aja. Gak usah minum-minum lagi kayak gitu." Brian menasehati.


"Sesekali, gak papa kali Yan." Anang sudah merasa lama tak minum-minum lagi bersama.


"Iya, gak asik banget sih lu. Udah ah, gue cabut." Gilang pergi meninggalkan mereka berdua. Ia berjalan kaki karena rumahnya lumayan dekat dengan sekolah.

__ADS_1


"Yo!" Teriak Anang melihat kepergian Gilang.


'Hmm, sekarang mereka emang gak bisa dibilangin. Tapi iya sih, sesekali juga gak papa. Lagian nanti mereka juga sadar sendiri.' Gumam Brian saat Gilang pergi.


Di masa depan, Brian sudah tak lagi melihat teman-temannya itu mabuk-mabukan tidak jelas. Mereka terlihat sudah dewasa dan sudah mulai bekerja keras. Jadi untuk sekarang, Brian rasa ia hanya tinggal mengikuti alurnya saja.


"Gue duluan Yan, udah ada angkot tuh." Ucap Anang saat melihat sebuah angkot dari kejauhan.


"Gak mau gue ongkosin?" Tawar Brian.


"Gak usah, gue gak mau ngerepotin lu mulu. Nih kerupuk, serek gue, pengen minum dulu ah." Anang menyerahkan plastik kerupuk yang tinggal tersisa 2 biji. Ia berjalan kembali ke lapak bakso untuk sekedar meminta air.


"Bang, minta airnya ya, haus." Ucap Anang sambil mengambil gelas.


"Kalo mau air harus bayar, bukan minta." Jawab tukang bakso kecut.


"Lah? Tadi minumnya gratis Bang?" Baru saja Anang mau menuangkan air dari cerek, tetapi pergerakannya itu terhentikan.


"Beli bakso gratis minum. Kalo mau air minumnya gratis harus beli bakso lagi."


'Anjir, ini bapak siapa sih? Ngeselin amat!' Anang merasa geram.


"Lu kok masih di sini aja?" Tanya Anang heran.


"Ya belum ada taksi yang lewat lah, dikira gue nungguin lu?" Brian ngegas.


"Itu tukang bakso, masa gue mau minum aja harus bayar. Mendingan gue minum di rumah." Anang curhat.


"Sabar Bro, namanya juga nyari duit."


"Licik! Dah ah gue cabut, udah ada angkot tuh."


Anang kembali melihat angkot dari kejauhan. Perlahan angkot itu pun mendekat dan membuat Anang merasa heran.


"Lah kok?"

__ADS_1


"Ohh ini angkot lu? Keren ya, beda dari yang biasanya. Eh, tapi kok gak berhenti? Woy! Ini si Anang ketinggalan!" Brian berteriak saat mobil itu lewat.


Ternyata yang dikira angkot itu adalah sebuah minibus. Warnanya dicat kuning, sangat persis dengan warna angkot di daerah sana.


"Berisik Yan, lu mau ngeledek gue?"


"Hey kalian! Jangan teriak-teriak gak jelas di sekitaran sini! Hampir aja bikin jantung orang copot!"


Tukang bakso yang berada di belakang mereka keluar dari lapaknya sambil nyolot. Ia terkejut dengan suara keras yang keluar dari mulut Brian. Ia kira di depan lapaknya sedang ada tawuran.


"Maaf Bang, ini bukan temen saya. Kamu siapa ya?" Ucap Anang seperti orang yang polos.


Saat kawannya itu tidak mau mengakuinya, Brian hanya merapatkan kedua telapak tangannya dan menghadap ke arah tukang bakso itu.


"Maaf Bang." Brian meminta maaf.


"Heran, mau buka lapak aja gak tenang." Tukang bakso itu menghiraukan Brian lalu ia pergi kembali ke dalam.


"Gue cabut Yan, jangan bikin gara-gara lagi. Bisa-bisa itu lapak kebakaran." Anang pun pergi duluan menaiki angkot. Tak lama, Brian pun ikut pergi sambil memakan kerupuk tadi.


Sesampainya di rumah, Brian dikejutkan oleh dua buah paket yang datang dari ayahnya. Ibu belum membukanya, ia bilang ia ingin membuka paket itu bersama dengan Brian. Ayah belum berbicara mengenai isinya, tapi ia bilang bahwa ia akan mengirim paket dan sudah memberi tahu jadwal ekspedisinya.


Paket itu lumayan besar, Ibu terlihat sudah tak sabar, ia membawa pisau cutter sambil senyum-senyum sendiri. Brian sudah sadar bahwa kejadian ini memang pernah ia alami. Tapi ia belum yakin, apakah isinya akan sama seperti dulu atau tidak.


Mereka pun membuka paket itu dengan hati-hati. Dan betapa terkejutnya Ibu, melihat sebuah maket rumah yang sangat indah. Ia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Hal itu membuat Brian merasa sangat terharu.


(Maket \= miniatur atau tiruan dalam bentuk tiga dimensi dan dibuat dengan skala yang kecil).


"Brian, ayah kamu.. dia mau bikin rumah ini di sana?" Ucap Ibu dengan wajah senang sekaligus tidak percaya.


Benar seperti dugaan Brian, isinya adalah maket, tidak berubah sama sekali. Ia semakin yakin bahwa masa depan yang akan ia hadapi memang masihlah sama.


"Brian, kok kamu diem aja, kamu gak seneng ya?" Ibu melihat Brian yang hanya bengong.


"Ah, nggak kok Bu. Brian seneng, seneeeng banget." Ucap Brian lalu ikut mengamati maket itu.

__ADS_1


Dua buah maket rumah modern bergaya minimalis. Sangat detail sekali, yang satu menunjukkan sisi eksterior, dan yang satu menunjukkan sisi interior.


Ibu segera mengambil foto paket yang sudah diterimanya dan mengirimkannya kepada Ayah. Tapi Ayah sedang tidak aktif, mungkin ia masih sibuk bekerja.


__ADS_2