
A few days ago.
(Beberapa hari yang lalu).
"Cewek siluman uler! Kalo ketemu gak segan-segan gue hajar tu mukanya!"
Mengetahui Yuna adalah sebab sahabatnya mendekam di penjara, Anang langsung mengubah pandangannya. Yuna memang imut dan cantik, tapi ternyata tidak memiliki belas kasihan.
"Bro, gue tau lu emosi, tapi jangan berbuat gila. Kita sebagai cowok kudu punya sisi dewasa, kita udah gede, udah 20 tahun, lu kudu terima kalo Si Wendy emang salah di posisi ini, jangan ngelibatin Si Yuna yang gak tau apa-apa, lu gak tau, dia mungkin juga tertekan."
Mentang-mentang teman bukan berarti mereka harus tetap membela Wendy. Gilang sudah bisa mengikhlaskan apa yang akan menjadi nasibnya Wendy. Walau Wendy merasa tidak sengaja, Gilang tetap tak bisa membelanya, Wendy tetaplah salah, dan ia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Hah? Tertekan gimana? Lu liat kan jelas-jelas Si Yuna gak peduliin Si Wendy dan sekarang dia berusaha ngumpet dari kita?! Udah pasti dia yang salah! Maling mana ada ngaku!"
"Lu cuma mikirin emosi lu sendiri Nang, lu kagak bakalan tau kalo belum tanya sama orangnya."
"Ya justru gue pengennya ke situ, tapi kan gue udah bilang, maling mana ada yang ngaku! Tch! Aneh-aneh aja, udah dibilangin kayak orang bego, dasar!"
__ADS_1
Merasa diejek, Anang pun kembali membalikkannya. Ia jadi kesal kepada Gilang, karena Gilang terlihat santai seolah tidak mencemaskan Wendy.
"Lu mau Si Wendy bebas atau gimana?! Percuma lo ambil pusing! Lu kira cuma modal mikir sama emosi bisa ngebebasin Si Wendy dari penjara?! Pikir baik-baik! Pake otak lu itu!"
Sebenarnya Gilang juga pusing, tapi ia berusaha memikirkan jalan yang terbaik. Di saat seperti ini, Anang malah membuat emosi Gilang tersulut, dan karena tidak bisa dikata-katai, Gilang langsung mengepal kerah baju Anang.
Anang yang ditarik paksa itu hampir saja ingin melawan, tapi ia sadar, jika ia melawan justru hal itu malah akan menimbulkan masalah baru. Ia tak mau hubungan pertemanan ini malah menjadi semakin kacau.
Melihat Anang yang hanya diam, Gilang melepaskan kepalannya dan membiarkan Anang begitu saja. Keduanya tidak bicara, dan mereka hanya saling duduk mendiamkan.
"Jadi, kita temuin Si Yuna?" Tanya Anang setelah beberapa saat.
Setelah bertele-tele dan hampir tertular emosinya Anang, membuat Gilang ingin mengelus dadanya ayam. Akhirnya Anang dapat mengerti apa yang ia katakan.
Dan Gilang si pria ganteng kalem itu kini tengah bertengger di atas pohon, masih menunggu hasil lab yang sedang dikerjakan oleh Prof. Anang.
Burung berkicau, tupai melompat, semut-semut bergerombol mendiami pohon mangga itu. Bukan puisi, dari sana Gilang tak nampak melihat Anang muncul lagi setelah berhasil menaklukan Yuna dan membawanya turun dari ranjang.
__ADS_1
Gilang berusaha berdiri, melihat lebih jelas ruangan yang sedari tadi ia amati. Agak samar Gilang melihat kepala Anang, namun ia tidak melihat Yuna di sana. Gilang khawatir Anang tak tepat janji dan malah menyakiti Yuna, hap! Segeralah Gilang turun dan meminta Brian untuk membantunya naik ke pilar. Gilang ingin menyusul Anang, memastikan semuanya baik-baik saja.
Brian merelakan bahunya diinjak Gilang, dan seperti tokek, ternyata Gilang ahli memanjat juga. Di depan jendela ia melihat Anang yang tengah duduk mengelus-elus kepala Yuna, sementara Yuna terlihat duduk bersimpuh dengan kepala yang menunduk.
'Gila! Iya si gue bilang jangan kasarin, eh Si Goblok malah jadi enak-enakan gitu! Tega banget lu Nang, nyuruh pacar temen sendiri buat ny*pongin Si Benjamin.'
(Benjamin \= belasan jam dimainin\= peliharaannya Anang)
Anang yang melihat sosok di balik jendela pun langsung melotot. Ia terkejut, tapi ia langsung sadar bahwa sosok itu adalah Gilang. Gilang pun terlihat masuk tanpa bersuara, ia menatap Anang dengan tatapan yang tidak suka.
"Lagi pada ngapain kalian?" Tanya Gilang langsung membuat Yuna kaget tanpa aba-aba.
Gilang melihat wajah Yuna yang sudah sangat terlihat kacau, dan ternyata ia menangis meneteskan air mata. Sontak Gilang langsung mengarahkan tuduhan yang tidak-tidak kepada Anang.
"B-bukan, aku menangis bukan karena Anang."
Yuna membela Anang dan membuat Gilang terdiam. Gilang menyelidik resleting Anang untuk memastikan. Tidak ada yang berdiri, semua aman-aman saja. Ketiganya pun duduk di lantai dan Gilang mendengarkan alasan kenapa Yuna menjebloskan Wendy ke dalam penjara.
__ADS_1
Gilang terkejut, ia mengerti jika berada di posisi Yuna dan kehilangan keluarganya sendiri. Namun Yuna tidak hanya menceritakan itu, sebuah legenda tentang ia dan Wendy mulai diceritakannya.