Kosong

Kosong
Mengenai Sinta


__ADS_3

"Kenapa? Mumpung di sini jadi mending sekalian kan? Lihat, sudah lama aku meninggalkanmu dan pipimu sekarang terlihat bengkak, aku takut tahun berikutnya malah akan makin menggembung dan membuatku tak sengaja memakannya karena terlihat mirip seperti bakpau." Ucap Brian mencoba bergurau.


"Brian! Ini karena kau mencubit pipiku! Ayo kita pulang, kau bilang akan menemaniku ke toko roti." Sinta kesal dan masih tetap menolak.


"Baru pukul 9, Sinta. Aku akan menunggumu di sini."


Brian langsung duduk begitu saja, terpaksa Sinta pun melakukan pemeriksaan. Dengan perasaan dongkol, ia menunjukkan hasil pemeriksaannya kepada Brian. Tidak ada tanda klinis penyakit yang dialami Sinta, Brian jadi merasa lega.


Cuaca sangat mendukung seakan peka terhadap pasangan yang baru bertemu jumpa. Keduanya pergi ke toko menikmati roti goreng bersama-sama, membeli beberapa bungkus lalu kemudian menghabiskan waktu hingga ke senja.


"Dok, bagaimana? Apa Sinta mengakuinya?"


Sampai di rumah dan sudah tak ada Sinta di sampingnya, Brian mengetik sebuah pesan dan mengirimnya kepada kontak yang baru saja ia tambahkan pagi tadi itu.


Dokter rumah sakit, ahli medis yang memeriksa Brian sekaligus Sinta. Sebelumnya Brian memohon suatu permintaan kepada dokter itu, kala ia memeriksa Sinta, ia harus mencari tahu apakah Sinta hamil ataukah tidak. Dokter itu sempat tercengang mendengar permintaan aneh Brian, walau hanya disuruh sekedar bertanya tapi kenapa harus melalui dirinya?


Tapi dokter itu berubah setuju karena Brian memberi alasan yang cukup bisa dipercaya. Brian juga memberinya imbalan dan dokter itu pun melakukan tugasnya.


"Nyonya sedang hamil ya? Ingin memeriksakan kandungan?"


Mungkin terdengar tidak sopan, pertanyaan Sang Dokter saat pertama kali Sinta datang berhasil membuat Sinta tercengang.


Dokter itu berpura-pura menerka supaya bisa langsung jalan ke intinya. Brian meminta jika Sinta mengakuinya, tawarkan Sinta untuk memeriksa keadaan kehamilannya, tapi jika tidak, biarkan saja agar Sinta tidak curiga.

__ADS_1


"Tidak, dia mengaku tidak hamil. Jadi saya tidak memeriksanya."


Balasan pesan dari Sang Dokter, membuat Brian menarik nafas lega. Ini pasti karena dirinya yang sudah alim dan tidak pernah sekali mencolok Sinta.


Namun dirinya masih merasa cemas, tatkala mengingat peristiwa di masa lalu. Apakah Sinta berkata jujur? Ya, pasti Sinta jujur, Brian tahu Sinta adalah perempuan setia dan juga anak yang baik.


*kembali ke masa sebelum reinkarnasi


Di waktu yang hampir sama, Sinta si cantik mbahenol sekaligus tetangganya mengajak Brian kencan di taman. Brian menuruti kemauannya, ia tak mau hubungannya dengan Sinta diketahui oleh ibunya.


"Brian, aku hamil!" Ucap Sinta saat melihat kedatangan Brian, ia menunjukkan sebuah barang bukti di tangannya.


'Deg!'


Brian terkejut melihat test pack bergaris dua, keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya.


Brian mulai menyesali perbuatannya. Ia yang berpacaran dengan Sinta itu memang selalu mencicip tubuhnya Sinta, bahkan ia pernah kelepasan tidak memakai alat pengaman.


"A-aku akan bertanggung jawab, tenang saja ya," Brian mencoba menenangkan Sinta.


"Sungguh?" Tanya Sinta.


"Iya."

__ADS_1


Sinta berhasil dibuat tenang, tapi lama kelamaan Sinta menyadari perubahan Brian. Sebelumnya mereka sangat akrab dan saling berkirim pesan. Tapi sekarang Brian seolah menjaga jarak dan tak pernah lagi mengijinkan Sinta datang berkunjung ke rumahnya.


"Brian! Halo, kita harus bertemu sekarang!" Sinta menelpon Brian. Ia mengajaknya bertemu di sebuah hotel.


Wanita ini mungkin ingin mengajaknya esek-esek. Dengan perasaan malas, akhirnya Brian datang menemui Sinta agar ia tidak merengek.


"Apa? Kau sudah pesan kamar segala?" Tanya Brian dengan wajah yang jengah. Baginya wanita hamil sudah tidak menarik lagi, apalagi Sinta sudah tak sempit, itu karena Brian telah sering menerobosnya.


"Brian, aku sudah hamil 2 bulan! Kapan kau akan menikahiku?!" Sinta bertanya dengan wajah penuh harapan.


"Huh! Kau pikir, aku menyukaimu? Memang kau punya bukti kalau anak itu adalah anakku?!" Tanya Brian dengan nada ketus. Ia percaya wanita murah yang ada di hadapannya ini bukan hanya bermain dengannya saja. Brian sama sekali tidak iba melihat Sinta yang kini tengah memelas menatapnya.


Hati Sinta terasa hancur, ia dituduh melakukan hal ini dengan pria lain. Seorang diri ia berusaha menutupi kehamilannya itu sambil menanti kedatangan Brian yang akhir-akhir ini jarang menghubunginya. Sudah ia duga, selama ini penungguannya sia-sia.


"Brian! Aku mohon! Hiks.. hiks.." Sinta turun dari ranjang dan memeluk kakinya Brian.


Tetapi hati Brian sama sekali tidak luluh, pikirannya sangat kacau, memikirkan apa yang harus ia lakukan. Melihat Sinta yang terlihat rendah menggerayangi kakinya, lama kelamaan ia mulai merasa jijik kepada Sinta.


"Brian! Hiks.. hiks.."


Sinta menangis tersedu-sedu tanpa adanya sepatah kata yang keluar dari mulut Brian. Brian mencoba melepaskan tangan Sinta dari kakinya, ia pergi meninggalkan Sinta begitu saja.


Daripada mengurusi wanita jal*ng yang entah hamil anak siapa itu lebih baik ia pergi. Untuk menghilangkan stress, Brian pergi bersenang-senang dengan teman-temannya. Sedangkan Sinta, ia tak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"Hiks.. hiks.. maafkan Ibu, Sayang, Ibu yang menjadi sebab dirimu berada di sini. Jika kau lahir, kau pasti akan menyesal karena lahir dari wanita yang seperti ini."


Sinta mengelus perutnya dengan tangan gemetar yang tidak bisa dicegah. Ia tak sanggup membayangkan dirinya dan anaknya yang akan dikucilkan oleh dunia ini. Apakah ia harus datang sendiri ke rumah Brian dan menjelaskannya kepada Ibu? Sinta segera bangkit dengan perasaan ragu.


__ADS_2