
"Aku bisa mendengar detak jantungmu dari sini." Ucap Sinta sembari memejamkan mata. Ia begitu cantik, Brian sadar waktu pertama kali ia bertemu dengan Sinta. Sinta itu memang terlihat menyilaukan, sama seperti wanita yang ia temui di kantin tadi.
Daya tarik memang datang dari awal. Setelah mendapatkannya dan melalui hari bersamanya, wanita itu sudah tak aneh lagi. Seketika Brian sadar akan hal itu. Pastinya jika ia berhasil mendapatkan wanita yang ada di kantin itu, perasaannya akan mulai memudar lagi.
'Padahal gue gak mau nyakitin Sinta. Tapi kenapa perasaan gue jadi kayak gini? Apa gak mudah buat gue ngejauhin cewek lain lagi?'
Sebelumnya Brian hampir tak merasakan lagi rasa cintanya kepada Sinta. Entah karena apa, tapi Brian hanya berpikir posistif saja. Mungkin karena selama ulangan ini dirinya jarang berkirim pesan ataupun bertemu dengan Sinta, maka Brian merasa telah baik-baik saja tanpa adanya Sinta.
Melihat Sinta yang memasang wajah nyaman, membuat Brian tak henti-hentinya berpikir. Kenapa Sinta mau-maunya berpacaran dengannya? Sikap Sinta juga terlihat seperti anak-anak, memudahkan Brian untuk bisa menipunya.
Jantungnya masih berdebar-debar, ia membiarkan Sinta mendengarkan detak jantungnya yang sudah tak karuan ini. Lalu Brian mulai menerima semua itu, tangan kirinya menyangga punggung Sinta dan tangan kanannya ia usapkan ke kepala Sinta.
"Mm?" Sinta melihat ke arah Brian saat rambut pirangnya tengah dielus oleh telapak tangan Brian.
'Haha.. Brian sudah mulai tertarik!' Gumam Sinta sambil tersenyum, ternyata ia ingin berniat jahat.
Tangan kiri Sinta yang tengah merengkuh pundak Brian itu perlahan bergerak mengelus lembut leher bagian belakang. Rupanya Brian terkecoh, ia langsung merinding mendapat elusan yang lembut itu.
"Sinta, ayo kita segera menyelesaikannya." Brian tahu apa yang sedang diinginkan oleh Sinta, ia segera bangkit dan langsung membopong tubuh Sinta.
"Hahh!" Sinta terkejut, tiba-tiba dirinya diangkat seperti seorang pengantin baru.
"B-Brian, kau mau melakukannya di mana?" Tanya Sinta merasa berdebar-debar.
"Di sini." Brian menaruh Sinta di atas lantai beralas tikar.
"M-mm.." wajah Sinta sudah mulai memerah, ia memeluk tubuhnya sendiri yang sudah merasakan perasaan tak karuan.
Tapi, ia melihat Brian menjauh dan malah membawa alat tulisnya.
"Brian kau mau apa?" Tanya Sinta heran.
"Ya tentu saja mengerjakan soal Sinta.. kau pikir apa?" Ucap Brian lalu duduk di hadapan Sinta.
"Huuh! Aku kira kau akan melakukan hal itu denganku!" Sinta kelihatannya marah.
"Jangan berbuat yang tidak-tidak Sinta. Ayo serius, aku juga harus pintar sepertimu."
"Cium aku dulu! Apa kau tidak rindu kepadaku?!" Rengek Sinta.
"Hahh.. baiklah Sinta." Brian pun mendekatkan wajahnya ke arah Sinta dan...
"Cup!" Brian mengecup kening Sinta.
__ADS_1
"Hah? Setelah berhari-hari kita tidak bertemu, kau hanya mencium keningku saja? Padahal dari hari sabtu aku sengaja tidak datang ke rumah mu!" Sinta merasa tidak puas.
"Memangnya harus apa Sinta?" Tanya Brian tanpa menghiraukan perjuangan Sinta yang menunda waktu temunya.
"Tunjukkan kalau kau itu cinta kepadaku!" Pinta Sinta.
"Aku cinta kepadamu." Ucap Brian datar namun Sinta tetap merasa tidak puas.
"Huh! Apa itu saja cukup?!"
Brian pun menyingkirkan alat tulis di depannya, ia mendekati Sinta dan memeluk erat tubuh Sinta. Hal itu membuat Sinta merasa sangat nyaman, beberapa detik mereka berpelukan lalu Sinta pun bersedia untuk mengajarkan soal.
"Yang rumit dulu Sinta. Nah yang ini, 24 X pangkat 6... bla.. bla.. bla.. per, bla.. bla.. bla.. Y pangkat min 7. Bagaimana cara menghitungnya ya?"
Brian menunjukkan sebuah soal, Sinta sudah mengerti rumusnya dan ia langsung menjelaskan caranya kepada Brian.
"Kalau ini? Jawabanku sudah benar belum?" Tanya Brian yang sempat mengisi beberapa soal sewaktu di sekolah.
"Mmm.. 15 akar 2 ditambah ..." Sinta mencoba menghitungnya dan mencocokkan hasilnya dengan perhitungan Brian.
"Betul, kau hebat juga Brian." Ucap Sinta setelah mendapatkan jawabannya.
"Ah, itu hanya soal sederhana, kau lebih hebat bisa mengerjakan semuanya."
'Ku pikir kau itu hanya anak manja Sinta, semoga apa yang kau inginkan itu bisa kau capai.'
"Ya, aku juga akan berjuang sepertimu." Brian merasa termotivasi.
"Haha.. iya iya."
Segera mereka melanjutkannya. Sinta memeriksa beberapa soal yang sudah Brian kerjakan. Tapi di tengah-tengah kesibukan itu, tiba-tiba ponsel Sinta begetar panjang.
"Drrttt! Drrttt!"
"Yuna telpon." Ucap Sinta melihat layar ponselnya.
"Jangan diangkat dulu Sinta!" Brian segera memperingati Sinta.
"Hah? Kenapa?" Tanya Sinta heran.
"Aku udah mutusin buat ngakhirin rencana kita soal ngedeketin Wendy sama Yuna. Wendy udah tau apa sebenarnya tujuan kita." Jelas Brian langsung ke intinya.
Sinta merasa tidak percaya, bagaimana bisa Wendy tahu hal ini? Padahal mereka sudah berusaha semaksimal mungkin untuk memanipulasi rencananya.
__ADS_1
"Kau serius?! Apa Wendy itu memiliki kekuatan untuk meramal?" Tanya Sinta konyol.
"Bukan Sinta.. dari awal dia memang sudah curiga."
"Kasihan Yuna, pasti dia kecewa."
"Aku akan membicarakannya secara langsung besok agar dia mau mengerti."
Brian menyambungkan kembali jaringan wi-fi nya dan mengirimkan pesan kepada Wendy.
"Wen, besok lu tetep mau sekolah? Kita kayaknya bakalan sibuk lagi. Soalnya si Anang sama si Gilang kan baru ngerjain 2 pelajaran doang, gue juga masih ada yang belum dikerjain nih." Pesan yang dikirimnya kepada Wendy.
Sengaja Brian ingin menyuruh Wendy untuk tidak datang ke sekolah agar mereka bisa membicarakannya secara tenang.
Tak lama setelah itu, panggilan masuk dari Yuna muncul kembali di ponsel Brian. Brian merasa risih dan langsung menolak panggilan itu kemudian ia memblokir nomor Yuna.
"Brian, kenapa kau memblokirnya? Yuna pasti sedang patah hati, kau terlihat begitu jahat!" Sinta membela Yuna.
"Semuanya akan lebih baik dibicarakan secara langsung Sinta. Yuna juga pasti akan banyak bicara kalau aku tidak memblokirnya."
"Mmh.. kau benar. Kalau begitu aku akan mengirim pesan kepada Yuna."
Meski merasa agak tak terima dengan tindakan Brian, tapi Sinta mengikuti saja apa yang dikatakan oleh pacarnya itu. Agar Yuna merasa sedikit tenang, ia mengirim pesan kepada Yuna dan menyuruh Yuna menunggu hari esok untuk membicarakannya.
"Sinta, ajak Sasa juga buat ikut, soalnya Yuna itu orangnya parno. Kau punya kontaknya kan?" Titah Brian.
"Mm.. ya, aku punya."
Sinta pun juga mengirim pesan kepada Sasa. Ia meminta Sasa untuk menemani Yuna besok agar nantinya Yuna tidak merasa paranoid.
Selesai mengerjakan soal, Brian dan Sinta menghabiskan waktunya di lantai bawah agar tidak tergoda oleh rayuan setan. Mereka bermain game konsol berdua dan Ibu yang baru selesai mencuci juga ikut nimrung.
"Gimana? Udah selesai ngerjain soalnya?" Tanya Ibu lalu ikut duduk di atas karpet.
"Udah Bu." Jawab Sinta.
"Wahh.. Ibu udah yakin kalo Sinta itu emang pinter." Puji Ibu.
"Hehe.. biasa aja kok Bu."
Mereka pun bermain game ditemani oleh Ibu. Sesekali Ibu juga ikut mencoba. Karena stiknya cuma ada 2, Brian mengalah dan membiarkan Ibu bermain bersama Sinta.
Brian yang hanya bisa menonton itu tersenyum melihat Ibu dan Sinta yang kelihatannya sangat akur. Sinta di matanya sudah terlihat seperti bagian dari keluarganya saja.
__ADS_1