
Dalam mimpi yang kelam, Brian melihat jelas tubuh telanjang seorang wanita. Kulitnya mulus, berwarna sawo matang. Dua buah wadah lemak yang menggantung bergoyang berirama mengikuti pergerakan yang diberikan oleh Brian.
Hahaha... apaan tuh wadah lemak?
Wanita itu memiliki wajah yang disensor mozaik, tetapi Brian sama sekali tidak menghiraukannya. Yang terpenting, wanita itu memiliki lubang buaya dan memiliki wadah lemak. Karena tak bisa memandang wajah cantik wanita itu, Brian memfokuskan pandangannya kepada dua buah wadah lemak yang ia pegang.
Menggunakan jurus ajul gedang, ia terus memacu tubuhnya dan berusaha mengeluarkan hasratnya.
(Guys, ajul gedang itu kalo dalam Bahasa Indonesianya jolok pepaya, alias ngambil pepaya dengan cara disundul-sundul pake galah.)
Tak peduli dengan keadaan sekitar, suara ******* dan erangan bercampur aduk di dalam sebuah ruangan. Entah berapa lama waktunya, tapi percintaan itu berlangsung lumayan lama. Brian juga tidak merasakan si Wahyu mengeluarkan apa-apa. Tapi...
Mimpi itu hilang di tengah perjalanan, dan pagi-pagi si Wahyu sudah berdiri tegak di atas ranjang. Ia leluasa bergerak karena saat tidur Brian selalu memakai kolor. Anehnya, kolor itu sekarang sudah basah, padahal Brian sama sekali tidak mengompol. Ternyata setelah dilihat, diraba, dan diterawang, sepertinya kolor itu ketumpahan susu rasa pandan.
"Apa-apaan semalam? Tanggung banget."
Sisa-sisa semalam membuat otaknya suram dan mengharuskan dirinya untuk berguyur air dingin di bawah shower. Brian merasa ada yang kurang jos dari mimpinya itu. Hentakan terakhir yang membuat permainan itu berakhir dengan jelas, sama sekali tidak ia temukan.
Dikarenakan hari ini sekolah tidak libur, ia harus menjernihkan pikirannya dan membuat otak mesumnya terbawa oleh aliran air yang sedang mensucikan dirinya.
Setelah setengah jam mensucikan diri, pikirannya mulai segar kembali. Brian pun berangkat ke sekolah seperti biasanya.
Tidak ada hal buruk yang terjadi. Brian sedikit melupakan hasratnya karena bergaul dengan sahabat laki-lakinya. Tapi sekilas saat melihat murid perempuan, ia selalu terbayang-bayang bagaimana bentuk yang ada dibalik seragamnya itu.
Hingga sampai di rumah ia tetap aman. Ia juga tidak melakukan hal aneh untuk mengulang kembali kejadian yang semalam.
"Hallo Sinta, apa kau sudah di rumah?" Di kamarnya, Brian menelpon Sinta.
"Ya, aku ada di rumah sekarang. Ada apa? Tumben sekali." Jawab Sinta dari balik telepon.
"Tolong datang ke kamarku sekarang." Titah Brian.
"Hah?! Setelah sekian lama, akhirnya kau mau bercinta denganku?" Sinta terkejut.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan Sinta, Brian langsung mematikan telponnya dan melihat sebuah pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Oke, aku akan ke rumahmu." Pesan dari Sinta.
Brian meletakkan ponselnya di atas meja. Sebelumnya ia telah memindahkan sofa yang ada di lantai atas ke kamarnya.
"Masa di rumah segede gini gak ada minumannya, kita itu tamu disini." Keluh Anang melihat meja di depannya kosong.
"Mau minum apa?" Brian bangkit dari duduknya.
"Apa aja lah yang warna-warni." Ucap Anang.
"Pake gelas tangkai bro biar keliatan estetik." Celetuk Gilang.
"A-aku ikut," Yuna juga berada di sana. Ia tak mau ditinggalkan bertiga dengan Anang dan Gilang yang sama sekali belum akrab dengannya.
Sebelumnya, Yuna sudah membalas pesan dari Brian. Ia berkata bahwa dirinya selalu senggang. Karena belum sempat membalas pesannya, di waktu istirahat yang sunyi, Brian pun membicarakan rencananya itu berempat di dalam kelas. Yuna yang tak sabaran itu langsung memutuskan untuk mengadakan rapat dengan Sinta hari ini juga.
"Yaudah, ayok," Brian memperbolehkan Yuna untuk mengikutinya, ia pikir dirinya akan kewalahan saat membawa beberapa gelas minuman kembali ke atas.
Brian memutuskan untuk mengambil sebuah botol yang masih terlihat penuh. Semua gelas terisi dengan air yang berwarna sama, yaitu keputih-putihan. Dengan hati-hati, akhirnya mereka berhasil membawa minuman itu dengan selamat sampai ke kamarnya Brian.
"Minuman apa nih? Susu?"
"Itu sirup rasa sirsak."
"Tos dulu tos dulu." Gilang mengajak Anang dan Brian untuk bersulang. Mereka menghiraukan keberadaan Yuna yang duduk di samping Brian.
"Ajak ngobrol Yuna gih." Brian menyuruh kedua sahabatnya sambil melirik ke arah Yuna.
"Yuna, coba kamu ngobrol sama mereka, kita kan harus akrab." Ucap Brian kepada Yuna.
Yuna mulai menatap wajah kedua pria yang berada di depannya itu. Gilang yang duduk sejajar dengannya membungkukkan badan dan mencoba untuk berbicara lebih dekat.
__ADS_1
"Brian, aku da... tang." Sinta membukakan pintu dengan wajah ceria, tapi ia terkejut dan melongo, melihat semua orang yang berada di dalam ruangan sedang menatap dirinya.
"Byurkkk!"
Tiba-tiba Gilang menyemburkan minuman yang berada di mulutnya. Ia terkejut melihat wanita cantik berkulit putih dan memiliki hidung yang mancung. Rambutnya yang pirang, diberi kesan curly di ujungnya. Dress selutut bermotif bunga membuatnya seperti seorang turis yang sedang berwisata di tepi pantai.
"Aaah!" Yuna menjerit, dadanya terasa dingin, bajunya terkena semburan minuman yang sedang diminum oleh Gilang.
Menghiraukan Sinta yang berada di tengah pintu, dengan cepat Gilang menyingkirkan meja yang berada di depannya dan langsung mendekat ke arah Yuna.
"M-maaf, aku tidak sengaja." Gilang menepis-nepis dada Yuna yang basah kesembur air minumnya.
"Aaaa! Apa yang kau lakukan?!" Melihat dadanya disentuh seorang pria, Yuna langsung menjerit dan menyingkirkan Gilang dari hadapannya.
"Buk!" Gilang terpental kembali ke sofa.
"Yuna, kau tak apa?" Merasa khawatir, Sinta langsung menghampiri Yuna.
Jelas-jelas Yuna apa-apa, bukan tidak apa-apa. Seragam putihnya yang terkena semburan air sirup membuat habe nya yang berwarna biru muda nampak terlihat jelas. Yuna menyilangkan tangannya dan menutup-nutupi dadanya.
"Yuna, ayo kita ganti pakaianmu di rumahku," ajak Sinta kepada Yuna.
"A-ah, tidak, aku tidak papa." Yuna menolak.
"Yuna, aku minta maaf, aku tak sengaja," Gilang merapatkan kedua telapak tangannya sambil memohon.
"Ahaha.. tidak papa, aku baik-baik saja kok." Ucap Yuna dengan senyuman, padahal ia bohong.
"Kau mau pakai bajuku?" Tanya Brian membuat Yuna mendongak. Mana mungkin ia harus memakai baju laki-laki? Lagi pula Yuna merasa malu jika harus mengganti bajunya disini.
"Tidak tidak, aku baik baik saja kok, lebih baik kita segera mulai pembicaraannya." Ucap Yuna dengan kedua tangannya yang masih menutupi dadanya. Sikapnya itu membuat para mata tertuju ke arah sesuatu yang sedang ia sembunyikan.
"Jangan lihat aku seperti itu!" Yuna merasa tidak nyaman, ia pikir ketiga lelaki itu sedang berpikiran mesum tentangnya.
__ADS_1
Ketiga nya pun langsung mengalihkan pandangannya, menyadari penopang lemak berwarna biru muda yang berada di balik kain putih Yuna. Sesama wanita yang mengerti perasaannya, Sinta pun meminta Brian untuk meminjamkan jaketnya kepada Yuna.
Yuna merasa sangat malu dengan kejadian yang dialaminya, dan lagi dengan tubuhnya yang mungil, jaket Brian terlihat sangat besar saat dipakai olehnya.