
Sinta sudah berada tepat di depan pintu rumahnya Brian. Dengan perasaan yang meluap-luap, ia langsung mengetuk pintunya.
"Tok... Tok... Tok..."
"Bu.. Brian.."
Meskipun hatinya sedang merasa kesal, saat ini Sinta bersikap seperti biasanya. Ia memanggil orang rumah dengan nada yang sopan.
Menunggu beberapa detik, tak ada satu pun sahutan yang terdengar.
"Tok... Tok... Tok..." Sinta kembali mengetuk pintu.
"Gak ada orang mungkin ya? Tapi aku liat, tadi jendela kamarnya Brian terbuka." Sinta menopang dagunya dan berpikir.
"Apa aku masuk aja ya?" Sinta mencoba untuk membuka pintu, tapi saat itu pintunya terkunci. Lalu ia bergegas menuju ke samping rumah.
"Brian.."
Sinta memanggil dari bawah jendela kamar Brian, tapi tidak ada sahutan juga dari sana.
'Hmm.. apa jangan-jangan orang rumah lagi diemin aku?'
Sinta tak henti-henti mencari akal. Ia mengambil batu kerikil dan melemparnya ke jendela kamar Brian. Ia melontarkan 7 kerikil tanpa membaca takbir di setiap lontaran.
Lama berdiam di luar, akhirnya Sinta memutuskan untuk mengambil tangga yang ada di gudangnya. Ia segera pergi ke gudang yang berada di ujung rumahnya. Tak lama, Sinta datang kembali bersama dengan tangganya, ia langsung menyandarkan tangga itu ke dinding.
Meskipun tangganya tidak sampai ke jendela, tapi ia tetap bersikeras untuk menaikinya dan melihat orang yang ada di dalam.
'Hm? Habis ini aku harus apa?'
Saat itu Sinta sudah mentok sampai di ujung tangga. Tinggal sedikit lagi untuk mencapai jendela. Tapi ia takut untuk berdiri di atas ketinggian, ia hanya diam di posisinya sambil menatap tembok.
'Jurus menembus dinding!'
Tidak ada jalan lagi, Sinta menghela nafas dan sadar bahwa sedari awal yang ia lakukan ini hanyalah sia-sia. Dengan hati-hati, ia mencari-cari pijakan dan turun menuruni anak tangga itu. Akhirnya ia menyerah dan membawa kembali tangga itu.
"Nak Sinta!" Terdengar suara ibunya Brian memanggil.
'Aduh, gawat!'
Seketika Sinta terkejut, ia merasa malu bercampur panik, untungnya saat itu ia sudah berada di luar pagar rumah Brian. Karena bingung harus berkata apa, ia langsung bergegas terbirit-birit.
"Nak Sinta ngapain ya bawa bawa tangga?" Ibu yang tengah berada di teras keheranan. Ia baru saja pulang dari apotik. Tanpa menghiraukan Sinta yang sudah pergi, Ibu langsung masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Mengetahui ibunya Brian sudah kembali, tak beberapa lama Sinta datang lagi ke rumah Brian.
"Bu..?" panggil Sinta di depan pintu rumah yang masih terbuka.
"Iya Nak Sinta, sini masuk." Ucap Ibu sambil mengambil kotak obat.
"Hehe.." Sinta masuk dan tiba-tiba ia nyengir sendiri.
"Kamu abis ngapain tadi bawa-bawa tangga gitu?" Tanya Ibu yang sedang menata obat-obatan.
"Itu, Bu. Sinta Abis ngambil layangannya Raffa di pohon hehe.." Sinta berbohong sambil cengar-cengir.
(Rafa: Adik laki-lakinya Sinta yang saat ini kelas 4 SD)
"Ooh.. kirain apa, Ibu panggil-panggil kok malah lari?"
"Hehe.. abis Raffanya rewel Bu. Ini, Sinta udah dateng ke sini kan?"
"Iya iya. Gimana? Kamu udah gak sakit perut lagi kan?"
"Hehe.. nggak kok Bu." jawab Sinta, malu-malu.
Kejadian waktu Sinta sakit perut:
"Ibu tadi abis dari mana?" Tanya Sinta penasaran.
"Ini, Ibu abis dari apotek. Beli suplemen buat Brian, sekalian beli persediaan obat di rumah."
"Ohh.. Brian nya mana Bu?" Sinta celingak-celinguk, ia pikir Brian sedang tidak ada di rumah karena kamarnya juga terlihat sepi.
"Tuh, tadi sih dia ada di kamar." Ibu melirik ke arah kamar Brian.
"Sinta mau liat Brian dulu ya Bu."
"Yaudah sana, palingan dia lagi tidur."
Sinta langsung bergegas menaiki anak tangga, ia sudah tak sabar ingin menemui Brian dan meminta penjelasannya.
"Klek," pintu kamar terbuka.
'Siapa? Ibu?' Saat itu Brian yang tak berdaya karena seharian di kamar, tengah telungkup di atas kasurnya.
'Hehe.. sasaran mantap!'
__ADS_1
Sinta yang melihat Brian tengah tertidur berniat untuk mengendap endap. Ia melupakan sejenak amarahnya dan mencoba untuk menggoda Brian yang tak berdaya itu.
"Klek," tak lupa ia kembali menutup pintu dan menguncinya.
"Auw!"
Kejadian tak diduga!
Kaki Sinta menginjak batu kerikil yang sempat ia lemparkan sebelumnya. Ia ingin menjerit kesakitan, rasanya sakit sekali, tapi saat ini ia harus menahan suaranya.
Setelah beberapa saat memoncongkan bibirnya, Sinta berjongkok untuk memunguti ketujuh batu itu.
"Bahaya juga kalo ada yang nginjak," ucap Sinta dengan suara yang pelan.
'Sinta? Hadehh.. cewek mesum ini datang lagi.'
Mengetahui Sinta yang datang saat itu, Brian tidak bergerak dan pura-pura tidur. Ia merasa malas untuk meladeni Sinta. Tapi, jika Sinta berani macam-macam, Brian akan memaksakan dirinya untuk bangun.
'Mumpung Sinta lagi di sini, apa aku putusin sekarang aja ya?' Pikir Brian, ia ingat ancaman tentang dirinya yang tak akan bisa mengubah takdir. Ia pikir dengan memutuskan Sinta semua akan berjalan lancar sesuai dengan rencananya.
Sinta berjalan perlahan menuju jendela untuk membuang batu kerikil itu. Seketika Sinta tersenyum, ia melihat wajah Brian yang tengah tertidur bohongan.
"Brian, kamu tetap kelihatan tampan ya walaupun sedang tidur." Ucap Sinta lirih.
Mendengar hal itu, Brian yang tadinya akan bangun dan memutuskan Sinta menjadi terdiam, ia tetap bertahan dalam posisinya.
Sinta yang tadinya punya niat jahat pun tak jadi melakukannya, ia terhipnotis oleh ketampanan Brian. Ia duduk di bawah lantai sambil memandangi wajah Brian dengan senyuman.
Saat itu Sinta berbicara sendiri dengan suara yang pelan.
"Brian, kamu tau nggak? Aku, udah 2 hari ngambek sama kamu. Aku nungguin kamu supaya dateng ke rumah trus minta maaf sambil bilang, 'jangan tinggalin aku!' Hihihi.."
"Tapi kamu gak dateng-dateng, aku pikir kamu udah gak peduli sama aku. Ternyata aku salah ya, kamu sekarang masih sakit."
'Hah? Ngambek? Emang apa salah aku?' pikir Brian yang tengah berpura-pura tidur.
Selama 2 hari itu Brian sama sekali tidak peduli dengan Sinta. Brian juga tidak sadar kalau Sinta sengaja tidak pernah membuka jendela kamarnya. Malah, ia bersyukur jika Sinta ingin menjauh dan memutuskan hubungan dengannya.
"Ada baaanyak banget yang pengen aku ceritain sama kamu,"
"Walaupun kamu gak pernah ajak aku jalan, dan kita jarang ngobrol, tapi aku seneng banget bisa jadi pacar kamu."
"Hihihihi.. dipikir-pikir, lucu ya waktu kita pertama bertemu!"
__ADS_1
Selama ini Sinta memberikan perasaannya secara tulus, tapi Brian? Ia hanya mempermainkan Sinta dan hanya tertarik dengan kecantikannya saja.