Kosong

Kosong
Mendekati Wendy


__ADS_3

"Hah? Untuk apa?"


Wendy yang mendapat tawaran untuk difoto oleh Yuna merasa sama sekali tidak tertarik.


"Eeee... untuk mengabadikan sebuah kenangan!" Ucap Yuna dengan semangat.


"Misalnya kayak gini, kamu bisa cetak foto yang kamu ambil dari ponsel. Terus kamu bisa pajang fotonya deh di mana aja, atau mau kamu kasih ke pacar juga boleh."


Yuna merogoh-rogoh sesuatu dari tasnya. Ia mengambil sebuah cetak foto miliknya sambil menunjukkannya kepada Wendy.


'Wahh! Iya ya bagus juga, aku bisa kasih ini ke Wita.'


Wendy yang melihat foto itu langsung tertarik.


(Wita: pacarnya Wendy, bukan waktu indonesia bagian tenggara ya! Hihihi... Pacarnya Wendy itu gak sekolah tapi umurnya 1 tahun di bawah Wendy).


"Mmm.. boleh juga." Meskipun merasa ragu, tapi Wendy ingin mencobanya.


"Oke! Ayo kita cari spot yang bagus!" Yuna langsung melangkahkan kakinya. Dari belakang, Wendy mengikuti sambil melihat-lihat.


'Spot itu apa ya?' Wendy bergumam sendiri.


"Wendy, sini sini! Kalau disini bagus gak?" Yuna langsung berlari ke suatu spot.


"Hmm... oke,"


"Ya sudah biar aku fotokan!"


Yuna sangat bersemangat, ia menggiring Wendy untuk berdiri di tempat yang di tentukan. Yuna langsung menjauh dan mengambil posisi untuk memotret, tapi Wendy hanya berdiri tegap melihat ke arah kamera.


"Emm.. Kau tak menentukan sebuah gaya?" Yuna merasa ragu untuk memulai.


"Gaya apa?"


"A..ah.. Ya sudah coba kau lihat ke arah sana, aku akan mengambil gambaranya." Yuna menunjukkan jari telunjuknya ke arah kiri, ia ingin mencoba mengambil foto candid.


"Begini?" Saat itu Wendy hanya menuruti perintahnya karena dia juga ingin hasilnya bagus.


"Ya! Tetaplah seperti itu!"


"Ckrek!"


"Lihat! Bagaimana menurutmu?" Yuna menunjukkan hasil tangkapannya.


"Hmm.. terlihat seperti aku."


"?"


"T- tentu saja, ini memang kau. Maksudku apa hasilnya bagus?"


"Mmm... ya." Wendy tidak tahu hasilnya bagus atau tidak, tapi ia mengiya kan saja.


"Oke, kalau begitu giliranku."


Yuna menyerahkan ponselnya dan mengikuti Wendy untuk membenarkan posisi kameranya. Ia langsung kembali ke spot dengan ponselnya yang sudah mulai merekam video.


"Yap! Sudah! Ayo kita cari tempat lain."

__ADS_1


Setelah Yuna selesai mengambil beberapa pose di tempat itu, mereka melanjutkan perjalanan untuk mencari spot yang berbeda.


Mereka bergiliran untuk saling memfoto, Yuna mengajarkan Wendy beberapa pose dan mengatur setiap posisi tubuhnya. Wendy juga perlahan berpose dengan gaya yang tidak kaku.


"Ah! Kau mau foto selfie?" Tanya Yuna.


"Selfie?" Wendy merasa bingung, ia tidak tahu apa itu selfie.


"Ya! Foto dengan kamera depan! Seperti ini." Yuna membuka kamera depan ponselnya dan mengangkat tangannya ke depan.


"Sini sini, lihat ke sini," Yuna meminta Wendy untuk mendekat agar Wendy ikut masuk ke dalam kamera.


Wendy pun mendekat dan membungkuk karena tubuh Yuna terlalu pendek. Ia melihat apa yang ada di layar ponsel Yuna.


"Senyumlah!"


Mendengar perintah itu Wendy yang sudah terbiasa diatur tadi langsung tersenyum.


"Ckrek!"


Dan jadilah hasil jepretannya, foto Yuna dan Wendy.


'Haaa..! akhirnya..!!'


Yuna merasa senang mendapatkan foto selfienya yang sedang bersama Wendy.


"Oh? Bagus juga." Wendy melihat foto itu. Dengan kamera depan, wajahnya terlihat lebih tampan.


"Mau foto lagi?" Tanya Yuna.


"B-baiklah, kita akan mencetak fotonya dalam perjalanan pulang."


Yuna masih merasa belum puas. Tapi memang, ia sudah lumayan lama bersama dengan Wendy. Hari ini sudah cukup, kali ini Yuna benar-benar menelpon Brian.


"Hallo Brian, kau dimana? Ohh.. ya, aku segera ke sana."


"Brian bilang dia ada di lantai bawah." Ucap Yuna kepada Wendy.


"Ya sudah ayok, kita ke sana."


Mereka langsung berjalan menuju ke lantai bawah.


"Emm.. tunggu," tiba-tiba Wendy menghentikan langkahnya.


"Ada apa?"


"Kalau bisa kita jangan pergi lewat tangga yang bergerak itu." Wendy yang tidak terbiasa merasa trauma, sudah beberapa kali ia diajak oleh Yuna menaiki eskalator.


"Baiklah," Yuna sudah mengerti, lantas ia berjalan menuju lift.


"Ayo masuk," ajak Yuna ke dalam lift.


Mereka masuk dan pintu pun langsung menutup. Ada beberapa orang yang sudah berada di dalam.


'Tempat apa ini?'


'Hah?!'

__ADS_1


Tiba-tiba Wendy yang sedang berpikir langsung terkejut, merasakan pijakannya itu ambruk. Ia dengan segera memegang pegangan yang ada di samping.


'Apa harusnya aku turun pakai tangga biasa saja ya?'


Yuna yang melihatnya merasa tidak enak.


Tak sampai 10 detik, akhirnya pintu kembali terbuka dan mereka sampai di lantai bawah. Mereka langsung berjalan menuju ke tempat dimana Brian dan Sinta berada.


Dari kejauhan Sinta terlihat sedang menikmati milk tea bersama dengan barang belanjaannya yang sangat menumpuk.


"Lihat! Aku belanja semua ini!" Dengan perasaan senang, Sinta menunjukkan barang belanjaannya kepada Yuna dan Wendy yang baru saja datang.


"O-oh! Kakak belanja apa?" Yuna bertanya dengan sopan, ia tahu bahwa Sinta itu lebih tua darinya karena tubuh Sinta terlihat sedikit lebih tinggi dari Brian.


"Banyak! Dan ini, Brian semua yang membayarnya!" Dengan wajah ceria Sinta berbicara.


"Kita akan pulang sekarang?" Tanya Brian yang tengah duduk di samping Sinta.


"Ya," ucap Wendy.


"Baiklah, ayok Sinta," Brian bangkit dari tempat duduknya.


"T-tunggu! Sebelum itu, kita pergi ke tempat percetakan." Yuna ingin mencetak hasil fotonya tadi.


Lalu mereka pergi dahulu ke tempat percetakan.


"Kau mau cetak foto apa?" Sinta yang penasaran itu mengintip isi ponsel Yuna. Terlihat banyak foto-foto Yuna dan ada juga beberapa foto Wendy.


"Whoaahh! Kalian berdua mengambil foto?!" Sinta terkejut melihatnya.


"Y-ya," dengan perasaan malu Yuna menjawab.


Saat itu Yuna langsung mentransfer file nya dan hanya mencetak foto-foto Wendy.


"Ini," setelah selesai, Yuna memberikan cetak foto itu kepada Wendy dan Wendy pun langsung melihat satu per satu hasil cetakannya.


"Ini?" Wendy melihat foto dirinya yang sedang bersama Yuna ikut dicetak.


"Wahh! Kalian berfoto bersama juga?!" Sinta terkejut melihatnya.


"Y-ya, mungkin saja kau membutuhkan itu." Ucap Yuna sambil tersenyum malu.


Foto Yuna dan Wendy terlihat sangat cantik. Di dalam foto, Wendy dan Yuna terlihat sangat dekat, mereka terlihat seperti sepasang kekasih.


"Jadi, berapa?" Tanya Wendy yang ingin membayarnya.


"Ah, tidak usah. Aku sudah membayarnya."


"Baiklah. Trims.." Wendy hanya menyakui foto-fotonya, ia tahu bahwa ini tidak seberapa bagi Yuna.


Lalu mereka berjalan beriringan keluar dari mall. Brian merasa ada yang aneh dengan sikap Yuna, ia terlihat pendiam dan lugu di sekolah. Tapi saat ini ia terlihat mudah berbaur, bahkan bisa berfoto bersama Wendy juga.


"Yuna! Kau akan pulang bersama pacarmu itu kan?" Saat itu Sinta berpura-pura tidak tahu dan mencoba menganggap Wendy itu adalah pacarnya Yuna.


Dilanjut next episode!


Aku ucapkan terimakasih buat kalian para pembaca yang udah nyemangatin aku 😉 Tiap dukungan kalian itu bikin aku ngerasa gak kesepian dan pengen usahain bikin cerita yang menarik buat kalian 😂 Thank youuu 😘

__ADS_1


__ADS_2