
Brian berjalan menuruni anak tangga. Dari atas, ia melihat meja makan yang terlihat masih kosong. Ternyata saat itu Ibu masih menyiapkan sarapannya.
"Brian, Sinta bilang kemarin ponsel kamu masuk ke danau?" Tanya Ibu.
"Ehehe... iya Bu, Brian gak sengaja." Ucap Brian. Ia pikir semalam Ibu menunda amarahnya karena ada Sinta. Tapi kenyataannya saat ini Ibu juga tidak memarahinya.
"Kamu bisa kan beli ponsel sendiri? Ambil aja kartu kreditnya, itu ada di dalem dompet, di kamar Ibu." ucap Ibu.
Brian langsung berjalan menuju kamar Ibu. Sudah lama sekali dirinya tidak masuk dan melihat keadaan kamar Ibu seperti apa. Brian membukakan pintu, di kamar itu terlihat ada ranjang yang masih acak-acakan.
Di meja rias yang dipenuhi bermacam-macam kosmetik, Brian mengambil dompet Ibu dan membukanya. Terlihat ada beberapa kartu yang terselip, lalu Brian mengambilnya.
"Ehehe.. Brian, kamu sudah menemukannya?" Tiba-tiba Ibu berada di depan pintu.
"Sudah Bu," ucap Brian.
"Nah, kalau begitu ayo kita keluar, kamar ini terlihat berantakan. Ibu belum sempat membereskannnya." Ucap Ibu yang langsung menggiring Brian keluar.
Brian merasa heran, sepertinya ada yang aneh dengan sikap Ibu. Padahal bukan apa-apa jika hanya sekedar melihat kamar yang berantakan. Tapi, lebih baik Brian melupakannya karena ia sudah mendapatkan kartu kreditnya.
"Sebentar lagi akan ujian, kamu pasti membutuhkan ponsel untuk belajar." Ucap Ibu yang lanjut menyiapkan sarapan.
Limit cc yang dipakai oleh Brian itu lebih kecil dari milik Ibu. Jadi Ibu meminjamkan cc nya sebentar untuk Brian membeli ponsel barunya.
Saat Ibu menyajikan sarapan di meja, Brian teringat pada Sinta yang berada sendirian di kamarnya. Ia khawatir dan tidak mau membiarkan Sinta sedangkan dirinya sarapan di meja makan.
"Bu, Brian sarapan di kamar ya, kemarin Brian belum sempat buka kadonya semua. Brian jadi penasaran." Ucap Brian berbohong.
"Oh, kamu dapat kado dari Nak Sinta juga kan? Dia ngasih apa sama kamu?" Tanya Ibu.
'Mana mungkin aku harus bilang kalau Sinta memberikan aku balon itu sebagai hadiah?'
"Ahaha.. ada lah Bu, Ibu jangan tahu." Ucap Brian membuat Ibu penasaran. Ia langsung ke kamar sambil membawa sarapannya.
Saat Brian membukakan pintu, terlihat Sinta sedang membaca ulang surat-surat yang berasal dari teman-temannya Brian. Wajahnya nampak memperlihatkan suatu kesedihan saat membacanya.
'Hm? Padahal semalam Sinta sudah membacanya.' Gumam Brian.
Sinta yang melihat kedatangan Brian merasa terkejut, ia terlihat panik dan buru-buru menyimpan kembali kertas-kertas itu di atas tumpukan kado yang masih berserakan. Sikapnya itu seperti orang yang baru saja terpergok karena melakukan suatu kesalahan.
"Sinta, kau sedang apa?" Tanya Brian yang ikut duduk di samping Sinta.
"A-ah, tidak," jawab Sinta tak memberikan penjelasan.
"Ini, aku bawa sarapan." Brian memberikan sarapannya kepada Sinta.
"Terimakasih.." Sinta menerimanya.
__ADS_1
Saat itu Brian memilah milah tumpukkan kado dan memisahkan barang barang barang yang juga masih berserakan di sana.
"B-Brian! Kau akan membuangnya? Memangnya kau sudah membacanya?" Sinta terkejut melihat Brian ikut membuang selembaran kertas cantik yang berasal dari teman-temannya.
"Ya, aku akan membuangnya dan aku juga tidak ingin membacanya." Ucap Brian sambil memasukan kertas kertas itu ke dalam tong sampah kecil yang ada di kamarnya.
Saat itu Brian tak sengaja melihat senyuman kembali terukir di wajah Sinta saat ia tengah menyantap sarapannya itu. Perlahan ia mengerti, mengapa Sinta sempat memasang raut muka sedih di wajahnya.
"Brian, apa kau sudah sarapan?" Sinta tersadar sesuatu, bagaimana bisa Brian membawakan sarapan untuknya.
"Belum," ucap Brian yang kembali duduk menemani Sinta.
"Kalau begitu, kita sarapan bersama." Sinta menyodorkan satu suapan bubur ke arah Brian.
Karena Sinta berniat menyuapinya, saat itu Brian tidak bisa menolak. Akhirnya Brian dan Sinta makan sepiring berdua. Sudah 2 kali ia mendapat suapan, ia mencoba untuk mengambil sendoknya dan makan sendiri menggunakan tangannya.
Tapi Sinta sama sekali tidak membiarkannya. Karena tak ingin ribut saat makan, akhirnya Brian mengalah. Ia merasa dirinya seperti anak kecil yang sedang disuapi oleh Sinta. Dirinya menerima setiap suapan itu dengan perasaan malu.
Di tengah tengah keromantisan itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar.
"I-ibu?" Ucap Brian pelan, ia langsung bergegas menghampiri pintu dan menyuruh Sinta untuk segera bersembunyi. Sebelum Ibu masuk, Brian sudah membukakan pintunya duluan.
"Klek,"
"Brian kamu mau kemana? Ibu baru saja mau ketemu kamu."
"Ini, Ibu baru aja mau ngasih." Ibu menyerahkan susunya.
"Oh, makasih Bu. Kalo gitu Brian masuk lagi." Brian mengambil susunya dan masuk ke dalam. Tiba-tiba ia kembali dan berteriak kepada Ibu yang masih belum jauh darinya.
"Bu, sebentar!" Teriak Brian.
"Ada apa?"
"Ibu bisa tidak kalau Ibu saja yang pergi membelikan ponselnya? Soalnya Brian sedang sibuk mengerjakan latihan soal."
"Oh, boleh, kalau gitu Ibu sekalian belanja stok makanan."
"Bentar Bu," Brian merogoh rogoh cc yang ada di saku celananya dan menyerahkannya ke Ibu.
Brian tak mau ribet memilih model ponsel dan spesifikasinya. Ia menyerahkan semuanya kepada Ibu, yang terpenting hanyalah dirinya kembali mempunyai ponsel. Sambil menunggu kepergian Ibu. Brian dan Sinta menghabiskan sisa sarapan yang tadi.
"Sinta, sepertinya Ibu sudah pergi. Kau bisa pulang sekarang." Ucap Brian.
"Hahh? Kau mengusirku ya?" Ucap Sinta dengan wajah sebal.
"Loh? Apa kamu tak mau pulang?" Brian heran.
__ADS_1
"Aku ingin lama-lama disini! Aku tidak mau jauh jauh dari kamu!" Sinta memeluk Brian.
"Sinta, tapi jika Ibu tahu kau menginap dan tidak mengizinkanmu untuk kembali bertemu denganku bagaimana?" Ucap Brian membuat Sinta berubah pikiran.
"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang." Sinta melepaskan pelukannya.
"Tapi! Setelah ulangan kau akan libur kan?! Pokoknya kita harus pergi berlibur! Aku yang akan menentukan tempatnya!" Lanjut Sinta.
"Ah, ya, ya" Brian meng iya kan saja.
Sinta pun pulang, tapi ia balik lagi.
"Hai," ucap Sinta dibalik pintu.
"Ah? Ada apa lagi Sinta?" Tanya Brian.
"Aku ke sini ingin bertemu denganmu, bilang saja pada Ibu kalau aku baru datang."
Brian rasa itu memang masuk akal, tapi sebelumnya Sinta berkata bahwa dirinya sudah meminta izin kepada orang tuanya untuk menginap di rumah temannya. Akan aneh jika orang tuanya Sinta mengetahui bahwa Sinta langsung pulang ke rumah Brian.
"Sinta, seperti yang tadi aku bilang, aku harus belajar." Brian sengaja ingin mengusir Sinta.
"Apa kau tak mau belajar disemangati olehku?!" ucap Sinta dengan nada keras.
"Nanti aku tidak fokus Sinta." Brian malas berdebat dengan Sinta.
"Aku tidak akan berisik kok." ucap Sinta.
"Tapi aku tetap saja." ucap Brian.
"Ya sudah, aku akan diam." ucap Sinta.
"Tetap saja." dahlah kalian jg tau g usah ucap ecop ucap ecop ya _-
"Kalau begitu aku tidak akan melihatmu."
"Tapi aku bisa melihatmu Sinta."
"Memangnya kenapa? Ya jangan dilihat dong."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Ya karena aku punya mata." Brian yang langsung mnggiring Sinta dari belakang untuk membawanya turun ke bawah.
"Haa.. Brian, aku tidak mau pulang." Rengek Sinta.
__ADS_1
"Pulanglah Sinta, aku janji kita akan pergi berlibur, mau sepuasmu juga itu boleh."