Kosong

Kosong
Jangan Semangat, Ayo Menyerah


__ADS_3

2 bulan telah berlalu, Brian sudah mempunyai beberapa motif wanita dalam gudangnya. Namun bukan ia yang sengaja, justru dirinya ini diteror oleh nomor-nomor baru yang berasal dari siswi sekolahannya.


Brian sebenarnya malas meladeninya, ia sudah tahu diantara mereka adalah lomte. Ada yang memasang tarif dan ada yang memberikan kenikmatan secara cuma-cuma. Wanita lacur seperti itu bisa-bisa menyebarkan aib yang tidak-tidak.


Mereka bisa berlenggang lepas bersembunyi di bawah naungan sebuah yayasan terkenal dan beragama. Ya, walaupun sekolah ini ketat dan sangat memperhatikan adab, tapi mereka tak sadar dengan keberadaan para pemuas di dalam sana.


Gilang sudah mulai jarang bercampur dengan Brian, ia sibuk dengan teman-temannya sendiri. Kabar mengenai putusnya ia dengan Sasa juga sudah Brian ketahui.


Gilang semakin hari sepertinya semakin nakal saja, kelas TKR D itu penuh dengan anak murid yang bandel juga durjana. Dekat pun paling Brian hanya numpang berangkat kalau sempat, biasanya Brian naik taksi atau ikut ke teman kenalannya.


Saat tengah asik dengan gawainya, Brian dikejutkan oleh sebuah story yang diposting Wendy pada akun sosial medianya. Tidak biasanya Wendy membuat story, dan sekali jadi ia langsung terlihat progresif.


Sebuah foto menampakkan Wendy tengah bersama dengan seorang wanita. Wanita itu cantik, berbibir merah tipis dan memiliki rambut lurus diombre dengan warna bleaching. Penampilannya tomboy namun bergaya tante, jauh 1000 kali lipat lebih oke dibanding Wita.


Brian belum pernah melihat wanita ini sebelumnya, ia curiga ada sesuatu diantara mereka keduanya. Segera ia menanyakannya.


"Widihh.. siapa tuh Bro? Cewek baru lu?" Tanya Brian membalas storynya.


"Yoi lah, kapan-kapan gue kenalin kuy. Gimana? Cantik kan dia? Tumben elu baru ng chat, mentang-mentang udah punya temen baru gue dilupain." Balas Wendy.


"Mantep, dapet doi dari mana tuh? Haha.. kagak lah, ini buktinya gue ng chat elu."


"Iya iya dah.. mantannya temen haha, gue embat gak papa lah ya."


Ternyata benar itu pacarnya Wendy. Bagus juga ia memilih model wanita, kali ini bukan dari kalangan kusut, walau tomboy ia terlihat bening dan sangat memperhatikan penampilannya.


Entah sejak kapan Wendy berhubungan dengan wanita itu. Brian bingung harus berkata apa kepada Yuna. Tapi Yuna juga sudah jarang menghubunginya, ia pikir mungkin Yuna sudah lupa dengan perasaannya.


Daripada diam saja Brian pun memilih untuk memberitahukan hal ini kepada Yuna, ia mengirim bukti berupa tangkapan layar foto Wendy bersama wanitanya.


"Oh, baiklah kalau Wendy memang menyukai gadis itu. Aku minta maaf karena selama ini sudah banyak merepotkan kalian. Terimakasih sudah membantuku hingga ke titik ini, kapan-kapan aku akan sedikit membalas jasa kalian." Pesan dari Yuna.


Brian sedikit tidak percaya dengan respons yang diberikan Yuna. Biasanya ia selalu rewel tapi sekarang kelihatannya tidak. Mungkin benar Yuna sudah lupa dengan perasaannya, memang sudah sepatutnya ia tidak mengganggu Wendy lagi, Brian merasa kasihan tapi mungkin jalannya memang harus begini.


Tapi tiba-tiba sebuah pesan muncul kembali.


"Brian, ini permintaan terakhirku. Setidaknya biarkan Wendy tahu mengenai perasaanku. Aku tidak akan bergantung lagi kepada kalian, aku akan menyampaikannya sendirian. Aku mohon, kau tenang saja, aku tidak akan bilang kalau kau dan yang lainnya terlibat dalam semua ini."


Ternyata dugaan Brian salah, sampai saat ini Yuna masih menyimpan dalam perasaannya. Brian memang tidak tahu keadaan Yuna sekarang seperti apa. Mungkinkah ia sudah punya kenalan pria? Tapi mana mungkin Yuna masih berani berbuat seperti ini.

__ADS_1


Brian merasa iba, kali ini Yuna juga tidak egois memutuskan keputusannya sendiri secara sepihak. Lantas Brian membicarakan hal ini terlebih dahulu kepada Gilang dan juga Sinta. Mereka juga kasihan, Yuna pasti merasa amat kecewa, berbulan-bulan ia mengejar Wendy namun hasilnya tak jadi-jadi.


Sedari awal semua sudah disambut dengan tepukan sebelah tangan. Wendy yang selama ini ia cinta ternyata sama sekali tidak memperhatikan dan justru malah mencari wanita selain di depan mata.


Semua sepakat untuk membagi suatu kelenggangan kepada Yuna. Ia diberikan kesempatan untuk menyatakan perasaannya saja. Bagaimana nanti pendapat Wendy jika ia tahu yang sebenarnya? Dan apakah hubungan Yuna dan yang lainnya akan tetap jalan bersama?


Dirundung bingung, pokoknya yang Yuna ingin hanya itu saja. Mau Wendy marah mereka akan pasrah dan pasti Yuna tak akan mereka salahkan juga, mencintai memang wajar halnya.


Sabtu siang Wendy mengajak Brian dan Gilang untuk bertemu di rumahnya. Sudah lama tidak bertemu sekalian minum sedikit untuk menambah darah. Dan sebenarnya ada sesuatu juga yang ingin ia tunjukkan.


"Bro, liat deh ini, ada yang ngirim chat ke gue, ini nomor si Yuna apa bukan ya?" Wendy menunjukkan sebuah pesan di ponselnya.


"Wendy aku ingin jujur kepadamu, sebenarnya dari awal aku memang sengaja memancing Brian untuk mendekatiku. Ku pikir jika aku mengenal Brian maka aku akan lebih dekat juga kepadamu. Aku hanya ingin bilang kalau aku suka padamu, aku membutuhkan jawaban atas perasaanku. Maaf jika aku telah membuat kesalahpahaman diantara kalian, aku tahu kalian sudah sempat bertengkar karena ku." Pesan dari nomor tak dikenal 3 hari yang lalu.


"Hah?! Serius?! Ini, ini beneran nomor si Yuna bukan sih?" Brian pura-pura terkejut melihatnya.


"O iya bener Bro, ini nomor si Yuna, ujungnya juga sama." Gilang menyandingkan ponsel miliknya.


"Jadi ceritanya gue kena jebakan dia nih? Bisa-bisanya.." Brian kembali berpura-pura.


Rasanya salah telah bersikap seperti ini, seolah Yuna yang tengah dijelek-jelekkan. Tapi ini semua kemauannya Yuna, ia tak peduli dengan reputasi yang terpenting perasaannya bisa tersalur saja.


"Tapi masa iya sih, gue kan udah punya pacar." Wendy merasa tidak percaya.


"Jadi bener ya ini nomor si Yuna?" Wendy terlihat bimbang.


"Hooh. Kok bisa tu cewek ada niat buat deketin lu. Gue gak nyangka banget dah.. tapi.. menurut gue si Yuna mukanya oke juga sih, udah sejak kapan ya dia suka sama lu?" Gilang mencoba menarik perhatian Wendy kepada Yuna.


"Ah ini dibajak kali, tuh buktinya ampe sekarang dia gak ngirim pesan lagi." Wendy sama sekali tidak percaya.


"Lah emang lu gak sadar? Ngapain coba dulu tu cewek berani-berani ngikut main sama kita yang udah punya pasangan? Lu inget tiap kita main bareng? Gue udah curiga si pasti tu anak ada apa-apanya. Emangnya dia gak cemburu ya liat elu sama si Wita? Kok bisa-bisanya dia ngedeketin elu sampe segitunya."


"Gue juga ngerasa ada yang aneh sih. Tapi gimana ya ini balesnya?" Wendy tak tega jika harus menelantarkan isi pesan Yuna.


"Kalo gak percaya kenapa gak lu tanyain sendiri aja? Biar jelas juga ngomonginnya." Usul Brian.


"Yaudah deh gue coba."


Dan disusunlah sebuah rencana. Wendy hanya penasaran saja pesan ini benar dari ketikan Yuna atau bukan. Walau memang benar sudah pasti ia akan menolaknya karena ia sudah punya pacar.

__ADS_1


"Yuna, kau sudah siap belum? Aku dan Brian sedang di perjalanan, sebentar lagi kita sampai, jadi kau tunggu di depan gerbang ya." Sinta menelpon Yuna.


"Ah iya Kak, aku keluar sekarang." Jawab Yuna lalu telpon dimatikan.


Malamnya Sinta sengaja mengajak Yuna jalan untuk menghibur suasana relung hatinya. Sekalian Sinta katanya rindu, lama sudah tidak bertemu.


Di luar Yuna menunggu, ia berdiri di sudut gerbang dekat pohon hias tersinar lampu. Sementara di ujung jalan sudah ada Wendy dan Gilang yang tengah melihat ke sudut itu. Mereka juga sudah berkirim pesan dengan Brian sedari awal.


"Wen, elu dulu yang sendirian nyamperin dia. Kalo beneran emang salah kirim elu ngasih kode apa kek, angkat tangan kiri ke kepala. Pura-pura aja kalo gue sama yang lain masih di jalan." Titah Gilang.


Jika benar Yuna memang tidak sengaja mengirimnya, maka Brian, Sinta, serta Gilang beberapa saat akan ikut bergabung datang ke sana.


Dan jika benar itu pesan murni yang dikirim oleh Yuna sendiri, maka semuanya tidak akan mengganggu suasana. Sisanya diserahkan kepada putusan Wendy dan Yuna bagaimanapun juga.


"Oke."


Setelah sekian menit Wendy menyalakan motor dan berkendara menuju ke depan rumahnya Yuna. Ia memarkirkan motornya tepat di depan Yuna.


"Hey, yang lain belum pada dateng?" Sapa Wendy.


Yuna terkejut melihat Wendy yang datang. Ia kira Wendy tidak akan ikut, karena Sinta bilang mereka sedang ingin menghibur dirinya. Tapi kenapa malah Wendy mereka ajak juga? Apakah dia datang bersama pacarnya? Pikir Yuna.


"B-belum.. k-kau datang dengan siapa?" Yuna terlihat gugup dan ragu.


"Sendirian."


"P-pacarmu?"


"Gak diajak."


Habis itu Yuna berbalik cepat, sepertinya ia akan masuk ke dalam gerbang.


"Hey, mau ke mana?" Wendy segera mencengkram pergelangannya.


"A-ada yang tertinggal." Yuna terlihat berkaca-kaca.


'Lah? Dia takut sama gue atau gimana?' Gumam Wendy.


"Oh, yaudah sana." Wendy melepaskan tangan Yuna.

__ADS_1


Fyuhh.. sorry guys kalau amburasut pabalatak kieu tulisanna (ambyar berantakan tulisannya).


Maaf juga kalo ada yang gak nyambung dan sangat sangat receh. Kalian tinggal komen di bawah nanti biar aku perbaiki.


__ADS_2