
Sambil menunggu para wanita yang sedang sibuk di dalam, Brian menelpon Wendy untuk menanyakan bagaimana nasib mereka saat ini.
"Wen, lu lagi dimana?" Ucap Brian lalu mengaktifkan loud speakernya.
"Gue lagi di rumah Wita." Jawab Wendy pada telpon.
"Hah? Ini tas lu kenapa lu tinggal?!" Sahut Gilang.
"Oh iya Bro, tadi gue lupa. Simpen aja dulu nanti gue bawa."
"Mana bisa, ntar kalo ketauan gimana? Bisa-bisa gue yang kena." Ucap Brian.
"Yaudah lah bawa aja bawa, tapi jangan dibuang, tu botol mau gue jadiin koleksi di kamar gue. Udah dulu, gue lagi sama Wita." Wendy mematikan telpon.
Sementara di dalam kamar:
"Kak Sinta, maaf ya aku tidak ikut membantu." Ucap Yuna sehabis selesai berhias di depan cermin.
"Aku juga Kak," sambung Sasa.
"Tidak papa, aku kan sudah bilang kalau hari ini sekolahku diliburkan." Jawab Sinta.
Tak lama, para wanita keluar dan menutup pintu. Semerbak parfum tercium lembut sebelum mereka sampai di hadapan para lelaki. Wajah Yuna kembali lagi seperti orang yang sedang kebingungan.
'Padahal tadi si Yuna santai-santai aja, tapi sekarang kok jadi beda?' Gumam Brian merasa heran.
"Yuna, kau kenapa?" Tanya Brian penasaran.
"T-tidak! Aku tidak papa!" Yuna menjawab dengan nada yang tinggi.
'Padahal gue nanya biasa aja.'
Sinta dan Sasa tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Yuna, tapi sebelumnya Yuna bilang bahwa dirinya baik-baik saja. Jadi mereka tidak mau mengganggu Yuna dengan berbagai macam pertanyaan.
"Kalian mau ku antar? Aku akan meminta izin kepada ayah untuk mengendarai mobil." Ucap Sinta kepada Yuna dan Sasa.
"Mm.. boleh Kak," jawab Yuna.
"Oh, kalo gitu aku gak jadi pesen 2 taksi." Ucap Brian lalu membatalkan 1 pesanan taksi.
Sinta pun pergi ke rumahnya dan meminta kunci mobil kepada ayahnya yang masih berada di rumah.
"Hari ini sopir kita sedang libur, bukankah kamu juga tidak akan pergi kemana-mana?" Ucap ayahnya Sinta. Ia tidak mau menyerahkan kunci mobilnya.
__ADS_1
"Ayahh... Teman-teman Sinta sudah menunggu, mereka akan segera berangkat ke sekolah." Sinta memohon dan merengek.
"Teman yang mana? Teman sekolah kamu kan juga pada libur?"
"Emm.. maksud Sinta temannya Brian Yah. Tapi mereka sudah Sinta anggap sebagai teman Sinta sendiri. Sinta sudah berjanji akan mengantarkan mereka. Bagaimana ini Yah? Apa Ayah sendiri yang akan mengantarkannya?"
"Hahh.. baiklah. Hati-hati di jalan, apalagi kamu membawa nyawa penumpang."
Akhirnya Ayah menyerahkan kunci mobilnya. Ia tidak bisa mengantarkan Sinta karena dirinya harus pergi bekerja. Sinta merasa senang, dirinya segera mengeluarkan mobil dari dalam garasi.
Sebuah mobil sedan konvertibel berwarna biru muda telah ia keluarkan. Mobil itu khusus dibeli oleh ayahnya Sinta untuk Sinta sendiri. Di usianya yang masih kelas 2 SMA, Sinta sudah mendapat lisensi dan diperbolehkan untuk berkendara. Tapi tetap saja, ayahnya selalu merasa khawatir kepadanya.
Sinta pun memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah Brian. Beberapa saat, ia melihat taksi yang Brian pesan baru saja datang. Sinta masuk ke dalam rumah dan melihat yang lainnya baru saja menuruni anak tangga.
"Kok kamu bawa tas dua sih?" Tanya Ibu kepada Gilang. Ia tidak tahu apa itu isi tasnya.
"Ini Bu, punya Wendy tadi ketinggalan." Jawab Gilang.
Karena jemputan sudah berada di depan, mereka pun pamit dan bersalaman. Saat Sinta tengah mencium tangan Ibu, tiba-tiba Ibu berkata kepadanya.
"Sinta, kamu suka apa? Ibu belum kasih kamu hadiah di hari anniversary kalian." Ibu berbicara di depan semua orang.
Sebenarnya Ibu tidak terlalu peduli dengan hubungan anaknya yang saat ini tengah menjalani cinta monyet. Tapi ia merasa tidak enak jika tidak ikut bersuka ria dalam acara bahagia yang padahal bohong itu.
'Sinta kok lucu sekali pipinya?' Ibu merasa geram ingin mencabik-cabik pipinya Sinta.
"Hmm.. kamu bisa aja deh ngegombalnya. Tuh liat tuh, Brian kan jadi mesem-mesem." Ibu melirik ke arah Brian.
"Ng-nggak, siapa?" Brian menunjukkan wajah datar, padahal dalam hatinya ia meronta-ronta.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya."
Usai berpamitan, mereka pergi ke gerbang depan dan melihat sebuah mobil mewah tengah berada di dalam tatapan mereka.
"Mobil siapa tuh?" Tanya Anang.
"Itu mobil aku." Ucap Sinta membuat semua orang terkejut kecuali Brian.
'Itu bukannya mobil yang suka ada di film-film?' Gumam Gilang.
'Aku tidak percaya kalau aku akan menaiki mobil sultan.' Gumam Sasa.
'Kayak mobil balap.' Gumam Anang.
__ADS_1
Kedua belah pihak terpisah pada dua buah mobil itu. Yuna dan Sasa merasa enggan, mereka takut tindakannya dapat menggores sedikit saja bagian dalam mobil itu dan membuat mereka harus ganti rugi.
"Terus kita mau kemana Yan?" Tanya Gilang memperundingkan nasibnya.
"Si Wendy kayaknya lagi sibuk. Gue juga gak bisa maen ganti arah aja," jawab Brian mengingat di depan ada mobilnya Sinta.
Sekitar 15 menit, mereka pun sampai di depan gerbang sekolah.
"Dahh... semangat ya! Kapan-kapan kita ketemu lagi." Ucap Sinta saat Yuna dan Sasa keluar dari dalam mobilnya
"Iya Kak Sinta."
Yuna dan Sasa terlihat sudah akrab dengan Sinta. Mungkin itu karena sikap Sinta yang ramah dan mudah bergaul. Mereka pun menunggu para lelaki di samping pintu gerbang.
Giliran Brian menghampiri pacarnya. Semua pandangan langsung tertuju kepada anak nakal yang tampan itu. Apalagi ia sedang mendekati sebuah mobil mewah.
"Sinta, hati-hati. Ayo pergi, aku akan mengawasimu dari sini." Ucap Brian kepada Sinta.
"Huh! Kalau kau ingin mengawasi, awasi aku sampai ke depan rumah! Dan.. ya, belajar baik-baik ya, dah.. aku pergi." Sinta menaikkan kaca mobilnya.
"Ya," Brian melihat kepergian mobil Sinta hingga menghilang dari pandangannya.
"Hahh?! Brian yang tampan itu sampai-sampai bisa pacaran dengan wanita kaya?!"
"Yaa.. dia juga cantik, aku jadi minder."
Para siswa dan siswi yang lewat langsung berbincang dengan suara yang pelan. Brian hanya diam memperhatikan kepergian Sinta. Ia sudah terbiasa menjadi bahan omongan orang di depan maupun belakang.
"Yo, Bro." Brian mengajak Anang dan Gilang jalan berbelok tanpa memasuki gerbang. Mereka lebih memilih bolos ke tempat nongkrong sambil menunggu kedatangan Wendy.
"Bro! Ini tasnya? Masa gue harus bawa dua sih?" Ucap Gilang menjinjing tas milik Wendy.
"Alah.. masukkin aja ke tas lu." Titah Brian.
"Repot!" terpaksa Gilang harus memasukkan tasnya Wendy ke dalam tasnya yang sudah ia isi dengan pakaian bekas kemarin.
"Brian! Kau mau kemana?" Teriak Yuna menghentikan pergerakan Brian. Ia lalu menghampiri Brian dan mencekal tangan Brian.
'Hah?' Brian merasa heran.
"Sebentar lagi akan diadakan UAS, dan ayo kita masuk. Mmm.. Gilang, Sasa juga ingin berjalan beriringan bersamamu." Ucap Yuna membuat Gilang berubah pikiran.
'Mereka belum masuk juga? Apa boleh buat.' Gilang terpaksa harus masuk karena tidak ingin ketahuan jeleknya di depan Sasa.
__ADS_1
"Kita masuk dulu aja." Ajak Gilang kepada yang lainnya.