Kosong

Kosong
Uh Ah


__ADS_3

Di atas kasur lantai, di samping ponakannya Sinta yang sedang tertidur, Sinta merengkuh ketat tubuh Brian. Seketika Brian merasakan hawa tubuh Sinta yang terasa agak panas. Sepertinya ia memang sedang sangat menginginkannya.


Pertama, Sinta menatap ke suatu arah yang sudah ia targetkan. Bibir, kedua belah bibir Brian memiliki pola lekukan yang sangat sensual. Warnanya yang terang dan terlihat tipis membuat Sinta ingin segera menikmatinya.


Lalu, Sinta mendaratkan sebuah ciuman dan menggigit lembut bibir bawah milik Brian. Melalui bibirnya sendiri, ia bisa merasakan daging yang tebal dari bibir yang tipis itu. Mulai dari gerakan perlahan, Sinta mencium bibir Brian degan basah dan lembut. Lidahnya lalu menerobos masuk sambil menghisap liar.


Keduanya terpejam dan saling membelai. Mereka tidak membiarkan tangannya terdiam. Dari ciuman bersuara itu, mulut mereka sudah semakin basah. Hampir air liur membanjir, tetapi Sinta melepaskan ciuman itu untuk sejenak menelan ludahnya.


"Glek,"


"Hahhh.." dengan pelan, Sinta mengeluarkan suara yang lembut sambil menunjukkan matanya yang terlihat sayu. Wajahnya yang penuh nafsu membuat Brian ingin merubuhkannya.


Brian pun merengkuh lembut kepala Sinta dan menidurkannya di atas kasur lantai. Posisi sedang berada di atas, sementara Sinta berada di bawahnya. Tempat yang dihimpit oleh kursi itu terlihat agak redup.


'Gue mau yang itu.'


Sekejap, Brian melirik ke bagian yang paling bawah. Ingin sekali Brian bermain di bagian pangkal pahanya Sinta. Tapi ia masih ingat dengan darah yang tengah menetes di dalamnya.


Kembali Brian mengulum bibir Sinta dengan lembut. Buah dada Sinta yang lumayan besar, terasa mengganjal dan menyatu dengan tubuh Brian. Sedangkan Sinta, ia merasakan bobot seorang pria dewasa yang atletis. Merasakannya membuat darah di tubuhnya terasa mengalir dengan sangat cepat. Ia sangat menyukai seorang pria yang kuat.


Usai berciuman, Brian turun dan menerabas bagian samping leher Sinta. Ia agak kesusahan dengan posisi Sinta yang saat ini tengah terbaring. Tak bisa mencapai pangkal leher, ia mencium dan menghisapnya di bagian yang bisa ia raih. Tak peduli walau nantinya akan meninggalkan bekas, ia berhasil membuat nafas Sinta terengah-engah.


Desakan birahi semakin menyelundup masuk merasakan buah dada sebelah kirinya tengah diremas oleh sebuah tangan yang begitu lebar.


Harum tubuh Brian tercium jelas, membuat rasa percintaan ini semakin sangat nyaman.


Brian ingat bahwa dirinya tidak boleh terlalu kelayapan bermain dengan lehernya Sinta. Ia lalu turun lagi ke bagian bawah dan mengelus-elus lembut buah dada Sinta dengan wajahnya.


Tak diduga, tangan kirinya menerobos masuk melalui celah di bagian bawah baju Sinta. Ia menyentuh gumpalan yang lembut itu secara langsung, namun masih terasa ada yang menghalanginya.


Sudah tak waras lagi, Brian seperti seseorang yang tengah akan melakukan persenggamaan. Tanpa ragu, ia menyingkapkan blus yang dipakai oleh Sinta. Lalu dengan mudahnya, ia melepaskan klip pengait yang ada di depan.

__ADS_1


Terlihat sangat besar, merekah dan memiliki warna yang menggoda. Tak menunggu lama lagi Brian langsung mengulum bagian ujungnya. Menghisapnya dan membuatnya basah. Bagian kiri ia remas kasar sambil sesekali dipelintirnya.


"Aahhhhh!"


Geli, namun terasa nikmat. Sinta menggelinjang dan berteriak mengeluarkan suara *******. Ia tak kuasa menahan kenikmatan. Ia sama sekali tidak takut jika Brian akan berbuat hal yang nantinya lebih daripada itu.


"Hahh.. hahh.. c-cukup Brian," Beberapa lama kemudian, Sinta mencoba mendorong wajah Brian untuk tidak menempel lagi di atas dadanya. Brian pun lalu menghentikannya. Ia bangkit dari tubuh Sinta dan membantu Sinta untuk bangkit juga.


Mereka masih duduk berhadapan, sekarang kaki Brian lah yang berada di atas paha Sinta.


"Hahh.. aku tidak menyangka kau bisa sampai melakukan itu Brian." Ucap Sinta terlihat lemah.


"Sudah cukup." Sinta mengaitkan kembali bra nya. Selepas itu ia lalu memberikan sebuah ciuman basah dan tubuhnya terkulai di dalam pelukan Brian.


'A-ah, gue ngapain tadi?!'


Brian baru sadar dengan rasa malunya sekarang. Karena begitu menikmatinya, hampir saja ia melakukan hal bodoh yang dulu sering ia lakukan dengan para ******.


'Arghhh! Sinta bukan cewek yang kayak gitu!'


"Sinta? Apa kau tidur?"


"Mm.. tidak, tapi aku ngantuk. Aku ingin tidur dalam pelukanmu."


"Sinta, kalau kau ingin tidur berbaringlah. Aku akan membawakan bantalnya untukmu." Brian memegang kepala Sinta dan membaringkannya di atas kasur lantai.


'Ia seperti bayi saja.'


Brian tersenyum melihatnya. Ia lalu beranjak mengambil kunci di laci dan membuka sebuah pintu yang masih berada di lantai bawah. Satu lagi kamar tamu, ia mengambil sebuah bantal dan juga selimut tipis untuk ia berikan kepada Sinta.


Tak tega meninggalkan mereka berdua, Brian hanya duduk sambil bersandar di belakang sofa. Ia memainkan gawainya sembari menunggu kepulangan Ibu.

__ADS_1


'Gue harus gimana? Biar emang bener gue udah lahir lagi ke dunia ini, tapi pikiran gue tentang hal itu masih ada dan malah terus bangkit lagi!'


Di masa depan, Brian sudah berhasil menahan amarah birahinya selama beberapa bulan. Tapi jika sudah di depan mata begini, apa boleh buat?


Setengah jam kemudian, Ibu pun datang dan memanggil-manggil Brian. Ia kira Brian ada di kamarnya, padahal Brian tengah bersembunyi di belakang kursi.


"Brian.. Ini PS nya! Ibu udah beli!" Teriak ibu dengan suara yang lantang.


"Brian di sini Bu, di belakang kursi." Ucap Brian tanpa menunjukkan wajahnya.


Ibu pun menghampirinya. Ia membawakan sesuatu yang sebelumnya dipesan oleh Brian. Seperangkat game konsol, lengkap dengan stik maupun CD nya.


"Nak Sinta kok tidur di sini?" Ibu melihat 2 orang tengah terbaring di rumahnya.


"Dari pagi Sinta juga udah keliatan ngantuk Bu. Tadinya sih ponakannya aja yang tidur. Tapi karena Sinta gak mungkin ninggalin ponakannya sendirian, jadi dia juga ikut tidur di sini." Jelas Brian.


"Hmm.. kamu gak ngapa-ngapain dia kan?" Ibu merasa curiga.


"Ehh?! Ngapa-ngapain apa Bu?! Ng-nggak kok Bu!" Brian langsung terkejut mendapatkan pertanyaan itu.


"Mmm.. jangan boong, Ibu udah masang cctv loh di sini."


"Hah? Yang bener Bu?!" Brian merasa akan ada sebuah neraka yang datang menghampirinya. Ia langsung melihat-lihat ke setiap sudut dinding, mencari sesuatu yang tadi diucapkan Ibu.


"Ahahah.. kamu, gampang aja dikerjain. Hayoo.. kenapa? Kok kayaknya panik gitu?" Ibu tertawa keras, ternyata ia hanya mengetes anaknya itu.


"Ah, Ibu, gak lucu tau." Brian mengabaikan ibunya dan berjalan mendekati layar TV sambil membawa game konsolnya.


"Ibu mau coba main sama aku?" Tanya Brian saat sedang memasangkan perangkat itu.


"Oh, boleh. Tapi Ibu gak tau caranya."

__ADS_1


"Gampang kok Bu, ikutin Brian aja."


Layar TV sudah menyala dan langsung terhubung dengan PS yang akan Brian mainkan. Album kaset masih terlihat banyak yang kosong, hanya ada beberapa kaset yang terisi di sana. Brian pun memilih sebuah game battle agar ia bisa bertanding bersama dengan ibunya.


__ADS_2