
Gilang sudah mencoba membalas pesan Sasa. Dalam lubuk hati dirinya masih sangat mencintai Sasa. Gilang tidak mengerti kenapa Sasa tidak ingin pacaran, ia hanya berpikir positif, mungkin Sasa memang butuh waktu untuk sendirian.
Memang berat rasanya mengikuti perintah yang tidak jelas seperti ini. Tapi Gilang percaya kepada Sasa, untuk sementara ia lantas mengikuti kemauan Sasa.
Perasaannya sekarang sedikit tenang, Sasa masih belum pergi jauh darinya. Ia masih miliknya dan masih terikat dengannya, namun dengan suatu tali yang tak dapat orang lain lihat.
Sekarang Gilang mengunci ponsel pintarnya. Ia tak mau Diah mengotak-atiknya dan berbuat hal aneh pada ponselnya. Masih ada hati yang harus ia jaga, ia tidaklah sendirian.
Malam hari mereka pindah ke rumah kakak iparnya Agit. Sebelumnya mereka sudah merental PS, di rumah Agit hanya ada TV tabung jadi main PS pun tak akan seru.
Agit memang sering menginap di rumah kakak iparnya. Iparnya perempuan dan masih muda juga. Ia sudah mempunyai anak perempuan yang saat ini usia TK.
Baginya kakak iparnya itu sudah seperti sahabat dekat, kadang ia menjadi teman curhat. Kakak iparnya itu juga sering curhat tentang kenakalannya sewaktu berpacaran dengan kakaknya Agit.
Agit sering menginap di sana kala kakak laki-lakinya tengah merantau ke luar kota. Walaupun terlihat sangat dekat tentu mereka tidak pernah melakukan hubungan yang terlarang. Agit masih tahu bahwa wanita itu adalah istri kakaknya.
Paling ia hanya menjadikan tempat itu sebagai tempat mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Kadang kakak iparnya itu juga tidak ada di rumah karena pulang ke rumah orang tuanya atau menginap menemani orang tua Agit yang sudah renta.
"Itu cewek kenapa lu bawa?! Ntar orang-orang pada curiga, jangan ngelakuin yang aneh-aneh!" Kakak iparnya Agit merasa cemas.
"Yaelah, bilang aja sama tetangga kalo dia itu sodara. Lagian cuma mau ngerjain tugas gak ngapa-ngapain. Gue juga udah bilang sama emak." Jawab Agit.
"Selonong aja maen masuk ke rumah orang, gak sopan!"
"Mau main PS ini, boleh lah ya."
"Yaudah, jangan pada berisik, anak gue udah tidur."
Mereka diizinkan dan perangkat pun langsung disambungkan. Mereka main berpasang-pasangan, Gilang tidak ikut, ia langsung tergeletak di atas kasur lantai.
Aldi juga sudah diajak menginap bersama. Ia masih satu kampung dengan Agit, dan ia adalah orang yang sudah repot merentalkan PS nya.
Pertama Agit bermain bersama Aldi. Diah yang sedang menunggu giliran itu iseng mencolek-colek perutnya Gilang. Hal itu tentu membuat Gilang merasa geli, namun rasa kantuk sudah tak bisa ditahan lagi. Ia lelah hati dan juga lelah pikiran, dirinya juga kurang cukup beristirahat.
"Si Gilang.. jam segini udah ngorok aja." Ucap Diah menahan tawa, ia lucu melihat ekspresi Gilang saat perutnya dicolek oleh jari telunjuknya.
'Ganteng banget sih lu!' Lain dalam hatinya, Diah sangat tersipu.
Kepala plontos Gilang sekarang sudah agak tumbuh rambut, ia masih terlihat gundul. Walau begitu wajah Gilang tetap sama di mata Diah, ia begitu amat mempesona.
"Elu dari tadi gak bisa diem mulu, gangguin aja terus. Biasanya juga elu sama gue." Ucap Rifal, ia memang sudah sejawat dengannya sedari SMP.
"Cemburu ya? Haha.. si Rifal udah pernah ditolak cintanya loh sama gue."
"Lah? Kapan? Ke gr an."
__ADS_1
Rifal memang pernah mengajak Diah berpacaran sewaktu SMP. Bagi Rifal itu hanya tawaran saja, ia iseng karena Diah selalu bergabung bermain bersamanya.
Rifal dan Diah memiliki masa lalu yang suram, mereka anak nakal sama seperti Gilang. Namun soal nakal mereka lebih receh dari Gilang, misalnya ngelem, mabuk bensin, dan juga berpenampilan norak. Agak mirip seperti Aldi dan Agit juga.
Semalaman mereka terus begadang bermain PS, sengaja mereka bersaing siapa yang paling kuat untuk begadang. Gilang yang tengah tidur mereka biarkan, ia sangat pulas tidurnya dibangunkan pun ia malah marah-marah. Tapi ia sedikit mereka jahili tubuhnya, diikat oleh tali dan ditempelkan dengan kaki kursi.
Pukul 2 pagi baru mereka berhenti memainkan game konsolnya. Mereka pergi keluar rumah dan membiarkan Gilang seorang diri. Katanya ingin mencari jamur, jamur langka yang hanya ditemukan di tengah malam.
Singkat cerita mereka mendapatkan 1 kantong kresek jamurnya dan langsung memasaknya di rumah itu. Agit meminjam dulu mie instan yang ada di dapur kakak iparnya.
5 bungkus mie instan bersama satu kresek jamur itu mereka bagi ke dalam 5 wadah. Namun milik Gilang jamurnya yang paling banyak, mereka sengaja ingin mengerjai Gilang.
"Lang, bangun, udah mau jam berapa ini, sahur woyy!" Teriak Rifal pelan ke dekat telinga Gilang.
"Hah?" Gilang terbangun juga, kali ini ia tak marah-marah.
"Apaan sih ini? Kok gue diiket tali? Gimana gue bangunnya goblok?!" Gilang mengangkat kepalanya melihat samar ikatan di tangannya.
"Hahaha.."
Lagi-lagi Gilang bersikap konyol, ia menggeliat-geliat seperti ulat jengkal, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri namun tak bisa juga bangun.
Terpaksa ia berjalan menggunakan punggung dan juga pantat, gerakannya itu mampu membuat kursi satu orang yang diikat ikut tertarik.
"Dcitt! Dcitt!" Suara kursi bergeser terjeda-jeda. Kasur lantai pun juga ikut terlipat.
Gilang yang baru bangun dan disuguhkan makanan itu senang-senang saja, apalagi ada jamurnya. Beberapa saat tidak terjadi apa-apa, Gilang hanya duduk melihat layar ponselnya.
Wajahnya terlihat amat sedih, tiba-tiba ia menangis tanpa sebab. Semua orang penasaran dengan apa yang Gilang lihat, tapi di ponselnya Gilang hanya mengklik menu-menu secara acak.
Mengusap air matanya Gilang menengadah, ia mendongak memajukan lehernya ke depan dan bengong beberapa saat.
"Hahaha! Itu kumis baplang bener sampe ke ujung pintu!" Teriak Gilang melihat foto orang pada kalender pemilu.
"Weh, berisik woy ntar kakak gue bangun!" Agit segera mencopot kalender itu agar Gilang diam.
Beberapa saat Gilang terdiam, ia kembali melihat ponselnya namun kembali ia bersuara.
"Aww!" Ucap Gilang seperti suara wanita. Bahunya juga ia angkat.
"Aww!" Kembali lagi Gilang mengatakannya.
"Woy elu kenapa sih? Ada apaan?" Rifal penasaran, ia melihat layar ponsel yang sedang dipandang Gilang.
Ponsel sedang menampilkan sebuah video, Rifal tak mengerti apa tujuannya Gilang menonton ini. Hanya video mobil yang lewat dari jalur kiri dan juga kanan.
__ADS_1
"Itu tuh liat ada kodok kegeleng suaranya Oekk! Oekk!" Ucap Gilang menunjuk-nunjuk layar ponselnya. Padahal sama sekali tidak ada suara seperti itu. Yang Gilang lihat setiap ada mobil lewat maka ada katak yang terlindas dan menimbulkan suara oek.
Rifal membiarkannya, mereka semua juga sudah tak aneh lagi melihat orang yang tengah berhalusinasi. Gilang sudah merasa bosan melihat video tadi, sekarang ia meminta rokok.
"Adedeh.. Berat Bro, bantuin.. bantuin.. " saat diberi sebatang rokok, tangan kiri Gilang tak kuasa menahannya. Ia membungkuk ke sebelah kiri, tapi aneh tangan kanannya masih mampu memegang ponsel.
"Lawak lu! Mau ngerokok aja kudu dibantuin." Rifal menyalakan rokok Gilang.
"Capek ya ngeladenin orang stres, haha.." nyinyir Agit yang sedang bermain PS.
Gilang masih miring ke sebelah kiri, matanya sayu, palanya botak, bibirnya juga ternganga. Ia terlihat sangat menjijikan.
"Sadar woy, sadar!"
"Plakk!" Rifal menampar pipi Gilang.
"Hahh.. haus.. haus.." Gilang seperti orang kebingungan. Ia menjatuhkan rokok yang ia pegang.
"Woy goblok kena kaki gue!" Rokok itu jatuh ke paha Rifal.
"Ambilin Di cepet, kalo gak diturutin nanti malah koar-koar lagi." Titah Agit.
Tanpa basa-basi Aldi segera mengambilkan segelas air, ia menyerahkannya kepada Gilang dan Gilang menerimanya. Tetapi tiba-tiba Gilang menghentikan gelasnya tepat di depan bibir.
"Ini gimana caranya? Kenapa susah?" Ucap Gilang tidak bergerak. Rasanya tangan yang tengah memegang gelas terhenti begitu saja.
"Ahh.. udah bisa, udah bisa.." setelah sekian lama diam, Gilang merasa lega, akhirnya tangannya bergerak juga.
Usai minum Gilang kembali tergeletak. Ia memandang sekitar namun semua terasa menggelikan. Ia masih sadar bahwa ia harus menahan mulutnya untuk tidak tertawa, kemudian ia pun kembali berusaha untuk tidur.
Pukul 4 Gilang kembali dibangunkan. Mereka harus segera membuat cimol, bahannya belum dibeli dan Agit beserta Rifal pergi belanja ke warung.
Gilang masuk ke pintu dapur, ia hendak menuju WC. Alas dapur adalah tanah, di sana sudah terdapat beberapa sandal yang merupakan milik tuan rumah.
Anehnya Gilang malah duduk memakai sandal layaknya sedang memakai sepatu. Ia mengambil sandal dengan tangannya dan memakaikannya. Kejadian itu dilihat oleh Diah yang baru keluar dari kamar mandi.
'Ni anak masih belum waras kali ya?' Gumam Diah.
Setelah selesai memakai sandal Gilang langsung berjalan ke arah Diah, ia ingin mencuci muka dan juga buang air (seni).
Wajah suntuknya terlihat sangat menggairahkan. Mengingat hanya ada mereka berdua di sana pikiran Diah langsung menjadi kabur. Ini sebuah kesempatan, sebuah gejolak nafsu datang dalam tubuhnya.
"Cupp!" Diah lancang mencium pipi Gilang tepat saat Gilang mendekat ke hadapannya. Ia agak semampai dengan Gilang, yang perlu ia lakukan hanya sedikit berjinjit sembari memegang kedua bahu Gilang.
"Lang, gue suka sama lu." Ucap Diah pelan, ia yakin Gilang tak akan sadar.
__ADS_1
Gilang sendiri terheran-heran, kesadarannya kadang hilang dan kadang ada. Selepas itu Diah pergi dan membiarkan Gilang masuk. Ia tak berani berbuat lebih, sebenarnya ia tak sungkan jika harus melanjutkannya, tapi di sini masih ada orang lain selain mereka.