Kosong

Kosong
Kacamata dan Sandwich


__ADS_3

"Kamu akan pergi ditemani Gray, Ayah sedang kedatangan proyek besar dan tidak bisa meninggalkan perusahaan."


Libur setelah 3 semester, Brian hendak pergi ke negara asal. Ibu tidak diizinkan ikut, dan Ayah malah menyuruh rekan seniornya untuk pergi menemani Brian. Padahal Brian sudah besar, tapi entah kenapa Ayah selalu saja menyuruh bawahan-bawahannya yang justru bukan asisten untuk bersanding bersama Brian.


Kali ini adalah Gray, lebih tepatnya Gray Koth De, pria tua yang sudah keriput dan juga sudah beruban. Ia adalah anggota pendiri firma Brandon Tech, sebuah firma yang diasosiasikan oleh ayahnya Brian.


Bukan sanak saudara, Gray adalah rekan kerja yang sudah dianggap bagian keluarga. Brian lebih memilih untuk memanggilnya dengan sebutan Kakek Koth, karena panggilan Gray terlalu cocok dengan rambutnya yang sudah abu.


"Brian akan aman, tidak perlu ditemani begitu Ayah.. Brian ingin sendiri." Gerutu Brian. Ia malu, bagaimana nanti menjelaskan hal ini kepada teman-temannya? Brian tak mau dipandang bocil.


"Siapa juga yang menyuruh Gray untuk menemanimu? Ayah cuma menyuruhnya untuk pergi ke sana melihat kelayakan tempat untuk cabang perusahaan kita." Ayah tersenyum kikuk.


"Jadi, Ayah menitipkan Kakek Koth kepadaku maksudnya?"


"Entahlah..."


Tak ada habisnya, Ayah terus saja mencari alasan lain yang mengakibatkan Koth harus ikut bersama Brian. Hal itu tentu membuat Brian merasa kesal. Brian pun akhirnya terbang bersama Koth dengan terpaksa. Sampai di bandara, ia langsung mengajak Koth ke sebuah restoran terdekat.


"Briann!"


15 menit berada di sana, Sinta akhirnya datang secepat kilat. Ia langsung menyergap Brian yang tengah duduk di belakang meja.


"Siapa?" Tanya Koth yang lantas heran.


Sinta langsung melepaskan pelukannya. Ia pikir yang tengah bersama pacarnya ini adalah kakeknya, ia pun segera mengulurkan tangan hendak bersalaman.


Koth yang mendapat uluran merasa heran, tapi ia membalas uluran tangan itu. Kemudian, ia dikejutkan lagi karena Sinta menekuk wajah di atas punggung tangan miliknya.


"Saya Sinta Kek, ini teman saya, Rendra." Ucap Sinta memperkenalkan orang di sampingnya.


Dari awal Sinta memang datang bersama Rendra, ia datang dari kampus langsung karena sudah dikabari Brian. Sengaja Brian mengabari Sinta saat sudah sampai, karena jika dikabari pas awal berangkat, pasti Sinta yang tak sabaran akan menunggu jauh sebelum Brian sampai di sana.


Brian tak ingin Sinta menunggu, dan soal Rendra, Brian mengerti keadaannya. Rendra sekarang bersahabat baik dengan Sinta, begitupun dengan Brian juga.


"Dia gak bisa Bahasa Indonesia, Sinta." Ucap Brian terang-terangan.

__ADS_1


"Oh, excuse me!"


Sinta pun mengulang sesi perkenalan dengan mengubah mode bahasa. Lalu mereka berempat duduk memesan makanan, padahal Brian dan Koth baru saja makan di dalam pesawat.


"Ppfft! Brian, kenapa rambutmu jadi sama sepertiku? Kau pasti ingin serasi denganku ya?" Ucap Sinta saat sedang menunggu pesanan. Ia melihat rambut Brian berwarna pirang, sangat-sangat aneh dan tidak cocok.


"Aku sedang menyamar menjadi bule, Sinta." Brian membuat bilik dengan tangan seolah tengah menyembunyikan rahasia. Namun, perkataannya masih bisa terdengar oleh keempatnya.


***


Setelah sehari Brian mengistirahatkan badannya, semua berkumpul di rumah Brian, merundingkan acara yang sebelumnya memang sudah direncanakan.


Tidak ada acara hajatan, tapi makhluk yang ada di sana adalah Brian, Koth, Sinta, Rendra, Molla, Hermione, Anang, Desi, dan juga Gilang.


'Jadi ni kakek mau ikut juga ceritanya?' lirik Brian ke samping kirinya. Ia jengkel karena Koth selalu saja menempel di dekatnya.


"Dimulai dari penginapan... Kita mau menyewa resort yang seperti apa?" Molla membuka suara.


Beledug dhuarr!!


Baru saja pembukaan pertama, Anang, Desi, dan juga Gilang dibuat terkejut hampir meledak. Jangankan menyewa resort, waktu menyewa kos saja mereka ngirit kewalahan.


Yuna, ia yang dipanggil mendadak berkata bahwa ia tak bisa datang. Lalu, dirinya berakhir hadir lewat sebuah panggilan video online.


"Ya, harus ada spa dan tempat yoga, makanan yang enak-enak dan tempat belanja juga." Ucap Molla kembali.


"Hmm.. Itu sudah pasti ada, sekarang tentukan saja lokasinya. Kita mau yang lebih dekat ke pantai atau agak jauhan?" Tanya Brian.


"Tentu yang dekat dong!" Jawab Molla.


"Tapi kita harus melihat bintang, aku tak ingin mendapat pelayanan yang mengecewakan setelah seharian berjemur di pantai." Kata Hermione.


"Kau benar."


Sedangkan, Anang yang sedari tadi menyimak ...

__ADS_1


'Bego! Siang-siang mana ada bintang!' Anang pikir mereka tengah membicarakan soal bintang di langit.


Entah siapa yang bego, tapi setelah itu Sinta malah mengalihkan pembicaraan.


"Tunggu, tunggu, apakah kalian sudah mempersiapkannya? Aku ingin memakai bikini baru!" Ucapan Sinta langsung membuat para pria melotot.


"You're right Sinta! Kita harus pergi mencari bikini! Kalian ingat? Hari ini minggu, dan pasti sedang ada diskon besar-besaran! Kita harus pergi sekarang juga!"


Molla mengeluarkan sifat emak-emaknya. Sinta juga terlihat sangat antusias, keduanya memang memiliki sifat yang heboh. Tiba-tiba saja mereka berkemas mengajak Hermione dan juga Desi. Keempatnya langsung berhamburan meninggalkan meja bundar dan pergi entah ke mana.


"Hadehh gimana ceritanya?"


Padahal rapat baru dimulai. Tapi, para pria tidak keberatan jika memang mereka ingin membeli bikini. Sekarang, tinggallah para pria yang tersisa di dalam sana.


***


Di tempat bikini.


"Wuhuu! Diskon 75%! Aku ambil yang ini!" Ucap Molla, mengambil kacamata dan sandwich bercorak hitam polos. Sesuai dugaannya, hari ini memang ada diskon besar, ia langsung mengambil gantungan bercap merah manapun yang dilihatnya.


"Kak Sinta, sini deh, aku cocok dengan yang mana ya?" Tanya Yuna, ia yang tadi berada di kosan, langsung ikut tancap gas saat diajak membeli bikini.


"Mm.. Kau.. " Sinta menghadapkan tubuh Yuna ke arahnya. Kemudian ia agak mundur menjauh, membentuk persegi panjang dengan kedua ibu jari dan telunjuknya. Mengintip lewat bingkai itu, ia menelisik Yuna dari susu sampai ke anu.


"Yap, sudah terkunci. Tunggu saja di sini, akan ku carikan." Sinta berlalu, ia terlihat sibuk meneliti satu per satu pajangan yang tengah digantungkan.


Desi masih melihat-lihat, ia bingung harus pilih yang mana. Terlalu banyak pilihan dan semuanya juga terlihat bagus.


"Yuna, aku menemukannya!" Sinta kembali menghampiri Yuna. Ia membawa satu gantungan.


"Mm.. Sepertinya ini tidak cocok denganku." Yuna merasa ragu.


"Sstt! Wendy pasti akan menyukaimu!" Sinta berbisik dan membuat Yuna membulatkan bola matanya. Diserahkannya bikini pilihannya itu kepada Yuna. Kemudian ia berlalu lagi, memilih bikini untuk dirinya sendiri.


"Eh? Kenapa kau belum memilih? Apa mau aku pilihkan juga?" Sinta yang tengah melenggang berhenti saat melihat Desi.

__ADS_1


"Mm tidak Kak, sepertinya aku tidak akan beli, aku akan pakai saja yang ada di rumah."


Setelah dilihat dan dipikir 18 kali, lebih baik Desi memakai yang ada di rumah saja. Harga satu set bikini di sini terbilang sangat mahal, sayang uangnya bisa dipakai jajan.


__ADS_2