Kosong

Kosong
Ohh Gitu


__ADS_3

"Mm.. ya, semenjak kau keluar dari sekolah. Aku rasa Brian sering diam di dalam kelas, jadi dia agak akrab denganku. Mungkin juga.. itu karena aku suka menyendiri di kelas." Ucap Yuna mengarang cerita.


"Ohh.. kirain kamu gebetannya, tumben-tumbenan dia cuma ngajakin cewek temenan." Wendy merasa sedikit janggal.


Karena takut salah bicara, setelah itu Yuna tidak banyak omong lagi. Mereka hanya menunggu yang lainnya datang, hingga akhirnya Sasa dan Gilang tiba juga. Tak berapa lama, Anang terlihat datang bersama dengan seorang perempuan.


"Anang, aku malu," bisik wanita yang datang bersama Anang.


"Ngapain malu, kamu kan juga udah kenal sama mereka." Ucap Anang kepada wanita itu.


"Yuna, kenalin. Ini Desi, kalian belum saling kenal kan?" Anang memperkenalkan wanita itu.


Yuna melihat seorang wanita berbadan tinggi, molek, dan juga montok. Seketika ia langsung kehilangan rasa percaya dirinya. Ia tidak mengira kalau tipenya Anang memang seperti itu. Ia menyesal karena pernah sok akrab kepada Anang meskipun ia tidak sedang mengincar Anang.


"Hai Kak Desi, aku Yuna." Ucap Yuna sembari mengulurkan tangannya.


"H-hai, panggil aja aku Desi, kita seumuran kok." Desi menjabat tangan Yuna. Sebelumnya Anang sudah bercerita tentang Yuna kepadanya.


"O-oh, iya." Yuna menjadi salah tingkah. Ia yang memiliki tubuh kecil itu merasa semakin terpojokkan.


'Ughh.. Wendy pasti merasa malu kalau dia berjalan bersamaku.' Gumam Yuna dengan senyum terpaksa.


"Hey, siapa ini? Apa dia pacarnya Anang?" Sinta baru saja datang bersama Brian.


"E-eh?" Seketika Desi merasa heran, kenapa ada turis asing di sini? Dan lagi, ia berbicara Bahasa Indonesia?


"Hai, aku Sinta. Siapa namamu?" Ucap Sinta menyadarkan Desi yang tengah melongo.


"A-aku Desi." Desi berkata dengan gugup, Anang belum pernah bercerita kalau seorang turis juga akan ikut bersama mereka.


"Ayo kita pergi sekarang. Oh ya Yuna, Brian bilang dia akan membayarkan tiketku." Bisik Sinta kepada Yuna. Tapi bisikannya itu terdengar jelas oleh yang lainnya.


"Mm.. kalian tidak usah memikirkan dulu uangnya, lebih baik kita menonton filmnya dulu." Ucap Yuna kepada semuanya.


Karena mereka sudah berkumpul, langsung saja mereka menuju ke bioskop. Yang lain terlihat berjalan berpasangan, sedangkan Yuna merasa dikucilkan. Ia memang berjalan di sebelah Wendy, tetapi ia merasa tidak nyaman.


Yuna melihat Wendy berjalan dengan santainya. Ia tahu bahwa dirinya juga harus bersikap tenang dan tidak mencurigakan.


'Hahhh! Aku harus bersikap profesional!' Teriak Yuna di dalam hatinya.

__ADS_1


Mereka pun sampai di tempat tujuan. Yuna segera memindai barcode untuk mencetak tiket aslinya.


"Wen, lu temenin tuh si Yuna. Gue jadi gak enak." Titah Anang melihat Wendy yang sepertinya tidak begitu akrab dengan Yuna.


"Mm.. oke." Tanpa basa-basi Wendy pun berjalan mendekati Yuna. Ia mengerti bahwa teman-temannya sedang tidak ingin dipisahkan bersama pasangannya.


Yuna merasa gugup karena Wendy berada di sampingnya dengan sukarela. Jam tayang film sudah dibuka, mereka masuk ke dalam studio dan duduk di kursi tengah sesuai tiket yang sudah dipesan. Tentunya Yuna duduk di samping Wendy, ia merasa sangat berdebar-debar.


Suasana ruangan gelap, opening film dengan suara lembut namun terdengar begitu menggema. Beberapa diantara mereka belum pernah merasakan suasana menonton di bioskop sebelumnya, tetapi mereka paham aturan di sana dan berusaha untuk tidak membuat kekacauan.


Film yang bergenre thriller action itu berdurasi satu setengah jam. Meskipun lama tapi mereka tidak membeli cemilan maupun minuman. Karena yang dijual oleh pihak bioskop harganya mahal-mahal.


Awal film terlihat tenang, tidak seperti pada posternya yang menunjukkan anggota para militer. Di sana terlihat para pria berjas hitam tengah menyelidiki jejak seorang profesor yang dinyatakan telah meninggal.


"Where did you hide it?!"


(Di mana kau menyembunyikannya?!)


Adegan seorang pria dengan tatapan menyeramkan menodongkan pistolnya ke arah paha seorang profesor yang tengah terbaring seperti seorang mayat.


"Dorr!"


(Peringatan pertama).


Tiba-tiba sebuah tembakan peluru menembus paha sang profesor. Membuat merinding saat diperlihatkan bagaimana peluru itu menembus daging. Peluru itu melewati ranjang dan memantul di atas lantai.


"Dorr! Dorr!"


Tak henti-henti pria itu mengintrogasi dan menembak di tempat yang sama. Kemudian ia meminta sebuah pisau. Bukan pisau tipis dan tajam yang mengkilat, pisau itu besar dan sangat tebal. Apa dia serius? Itu terlihat tumpul dan sudah berkarat.


"Srttt.. srttt.."


Perlahan dada sang profesor dibeleknya. Pisau tumpul itu diseret dengan gerakan menekan yang sangat menyakitkan. Hingga membuat penonton ngilu melihat daging yang koyak berantakan.


"Aaah!" Beberapa orang yang menonton di bangku depan berteriak melihat adegan itu. Yang lain hanya histeris mencoba untuk membungkam mulutnya.


'Oh ya ampun, rasanya sakit sekali.' Yuna merasakan rasa sakit di dadanya. Ia menonton adegan itu sambil mengepalkan tangan kiri di bibirnya.


Pria kejam itu mulai menguliti daging yang sudah terantuk hingga ke tulang. Organ dalam bagian dada juga diperlihatkan.

__ADS_1


Adegan lain, seorang pria yang bernama Jason mendapat sebuah telpon dari kakak perempuannya.


"Jason, hurry home! Our mother is in danger!"


(Jason, cepat pulang ke rumah! Ibu sedang dalam bahaya!)


Ucap seorang wanita yang usianya sekitar 23 tahunan.


Tanpa bicara, Jason mematikan telpon dan mulai mengendarai mobil tuanya dengan brutal. Di tengah jalan ia berpapasan dengan mobil kakaknya, mereka mengendarai mobil dengan perasaan tergesa-gesa.


"Gas! Gas!" Anang merasa greget sekaligus kagum dengan cara berkendara mereka. Di dalam bioskop ia malah mengeluarkan suara keras.


"Berisik woy! Lu kira ini di rumah lu?! Ganggu aja." Seseorang di bangku depan berteriak. Ia tidak tahu siapa yang tadi berkata gas gas karena Anang segera sadar dan membungkam mulutnya.


Dari sana Anang hanya terdiam, ia merasa emosi dan ingin sekali menantang orang yang sudah membentaknya tadi.


'Lu juga sama goblok! Tadi lu kan juga teriak-teriak!'


Anang jadi tak fokus untuk menikmati filmnya. Padahal memang ia yang salah, tetapi ia merasa jengkel sendiri.


Kembali ke adegan film yang sudah memunculkan situasi bahaya.


"Hey old mother, I will take your son. And this girl, she seems pretty decent."


(Hey ibu tua, aku akan mengambil anakmu. Dan anak gadis ini, sepertinya dia lumayan).


"What's your name?"


(Siapa namamu?).


Seorang pria menatap mesum ke arah putri sang profesor yang tengah ditekuk lutut oleh kawanannya yang lain.


"J-jestie." Ucap wanita itu.


"Oh yes. I forgot that I already knew your name before, baby."


(Oh, ya. Aku lupa kalau aku memang sudah mengetahui namamu sebelumnya, sayang).


Lalu pria itu mendekati Jestie yang tengah berlutut di atas lantai. Ia mencekam keras wajah Jestie sambil menatap bola matanya. Sebuah pemandangan belahan yang menonjol terlihat di bagian bawah. Lalu adegan panas pun muncul dihadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2