
Di tepi jalan, seorang mahasiswi yang baru pulang dari kampus pukul 5 sore itu berdiri kebingungan di samping motornya. Yuna, ia adalah Yuna, menggerutu karena motornya tak mau menyala.
"Biasanya juga tidak seperti ini.. Ini apanya sih yang gak bener? Mana sudah sore, gak ada yang bantuin lagi."
Kendaraan lain hanya lewat-lewat saja, sementara Yuna terus berusaha menstarter motornya yang tak kunjung nyala.
Ponsel miliknya mati, untung saja ia membawa charger, ia mencoba berjalan ke sekitar dan berlalu mendorong motornya menuju sebuah warung yang jaraknya hanya 3 meter dari tikungan sana.
"Pak, saya mau ikut ngecas boleh?" Yuna menghampiri seorang bapak-bapak yang tengah sibuk memajangkan barang di depan warung.
Dan kala bapak itu menoleh ...
"W-wendy!" Yuna terkejut hebat.
Memakai jaket setelan kusut, rambut dan wajah yang kusut pula. Ia kira bapak-bapak, ternyata anak seusianya. Yuna terkejut, sudah lama sekali ia tidak melihat laki-laki yang dulu selalu ia kejar. Dan sekarang, mereka bertemu tanpa sengaja.
"Y-Yuna bukan?" Wendy menunjuk dan menelisik, melihat wanita berbalut jas biru, dengan tinggi sekitar 157 cm.
Yuna tidak menjawab, ia seakan hilang tindakan. Hal itu membuat Wendy mengurungkan pertanyaannya.
"Eh maaf, tadi mau ngecas ya? Itu si ibunya ada di dalem, aku cuma nitipin barang di sini. Permisi." Wendy berjalan melewati Yuna.
'Ah, mungkin orang yang mirip aja, jelas beda sama Yuna yang asli.'
Walau jelas yakin bahwa itu adalah Yuna, tapi ia tak berani memperpanjangnya. Sedari dulu, ia memang tak akrab dengan Yuna.
"T-tunggu! Iya, aku Yuna!" Yuna baru menjawab.
'Degh!'
Wendy yang hampir mencapai motornya itu langsung diam di tempat. Sebuah hantaman tiba-tiba masuk ke dalam dadanya.
"Ah, Yuna, lama gak ketemu ya, aku juga hampir gak kenal." Wendy berbalik kaku.
"Em, iya."
Keduanya terpaku saling berhadapan. Wendy melihat kedua tangan Yuna yang sudah sedia dengan ponsel dan juga pengisi daya. Sebagai seorang yang peka, ia langsung berjalan kembali menuju warung.
"Bu Jem, mau nitip ngecas ponsel nih!" Teriak Wendy mengambil tindakan sendiri.
Ponsel sudah dicas dan keduanya duduk di depan meja yang hanya satu-satunya di warung itu. Sedari tadi Yuna hanya diam, namun Wendy mengerti dan memakluminya.
"Kenapa ngecas di sini? Listrik di rumah kamu mati ya?" Tanya Wendy walaupun agak canggung.
"Tidak, motorku yang mati, jadi aku tidak bisa pulang." Yuna melirik ke arah motornya.
"Kok bisa?"
"Aku juga tidak tahu."
__ADS_1
Wendy penasaran dan ingin mengecek motor Yuna. Yuna pun mengangguk tanda memperbolehkan. Wendy menstandar tengah kan motor itu kemudian meminta kunci. Distarter nya beberapa kali namun tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
Kemudian Wendy mengengkol motornya dan pada percobaan ke sekian mesin motor itu langsung menyala, seketika ekspresi cerah terpancar di wajah Yuna.
"Mberr.. Mber..."
"Drt.. Dt.. Dt.. Dt.."
Namun tak berapa lama motornya kembali mati, dan wajah Yuna juga kembali duka. Sekian menit Wendy menyelidik, kemudian ia membuka jok motornya.
"Ini gak ada tang nya?" Wendy melihat bagasi itu rapi bersih, ia tak menemukan apapun kecuali sepasang sepatu kets berwarna putih.
"Tang? Untuk apa? Aku tidak pernah membawanya."
Wendy tidak menjawab, ia langsung pergi menghampiri motor hitam tengkorak miliknya. Diturunkannya tas rombong yang masih berisi itu ke atas tanah, kemudian ia mengambil sebuah tang dari bawah jok motornya.
(Tas rombong/obrok alias tas pengangkut barang. Itu loh yang bisa buat ngangkut barang di samping kanan dan kiri motor).
Setelah mendapatkan tang, Wendy kembali menghampiri motor Yuna. Ia terlihat sibuk memutar sesuatu, sementara Yuna yang tak tahu apa-apa itu hanya membungkuk dan memperhatikan.
"Udah berapa lama gak ganti oli?" Ucap Wendy tatkala mengambil sebuah benda berbentuk pipet.
"Ganti oli? Aku gak tau, aku tidak pernah mengeceknya."
Dipstick menampakkan oli motor yang sudah hitam pekat dan hampir kering. Jelas saja mesin mati, mungkin ia panas karena telah bekerja ekstra.
'Buset, jadi selama 8 bulan ini dia ngapain? Gak takut aus apa?'
Wendy sudah menemukan masalahnya. Ia lalu menyimpan kembali tang miliknya dan merapikan kembali tas rombongnya di atas motor.
"Memang apanya yang salah?" Tanya Yuna saat duduk kembali bersama Wendy.
"Olinya hampir kering, harus diganti."
"Ohh, aku tidak tahu. Jadi yang mirip pipet itu tempatnya oli ya?"
"Pipet?" Wendy tidak mengerti, tapi Yuna tidak menghiraukannya dan kini terlihat tengah sibuk melamun.
'Hmm.. Bang Sandi cuma ingetin aku buat servis, tapi waktu itu motornya kan belum rusak.'
Yuna pikir selama motor masih menyala dan lancar jaya, ia tak perlu membawanya ke bengkel. Oli kering tidak ketara, mber.. ban gundul tapi tak kempes, gas! Yang penting itu adalah bensin, karena tak ada bensin motor juga tak bisa nyala.
Karena diacuhkan, Wendy pun beranjak membuka showcase dan mengambil dua botol minuman. Diletakannya satu di atas meja dan satunya lagi ia tenggak tak tersisa, sepertinya ia teramat sangat haus.
"Anak kuliah pasti sibuk mulu ya?" Basa-basi Wendy setelah menghabiskan minumannya.
"Em, tidak juga."
"Terus, kenapa gak pernah ganti oli?"
__ADS_1
"Ku pikir oli itu tidak perlu diganti."
Jangankan mengganti oli, mengetahui bahwa bagian itu adalah tempatnya oli juga baru sekarang. Wendy hanya bisa melongo mendengar ucapan lugu Yuna, ia mengerti, wanita memang jarang bercengkrama dengan motornya sendiri.
"Hadehh.. Ganti oli itu wajib, kalau olinya habis bisa-bisa mesin kamu juga ikut rusak."
Yuna hanya membulatkan kedua bibirnya mencoba mencerna perkataan Wendy. Namun, ia sama sekali belum mengerti.
"Lalu, sekarang aku harus bagaimana?" Tanya Yuna.
"Ya harusnya sih dibawa ke bengkel, tapi dari sini mah agak jauh bengkelnya."
"Yahh.."
"Coba deh aku telpon Si Anang, kali aja dia bisa bantu."
Rumah Anang berada di dekat sini, dan sekarang ia pasti di rumah karena memang sedang menganggur. Wendy pun menelpon Anang langsung.
"Nang, lu punya oli gak di rumah? Yang bekas juga gak papa, gue di Warung Bu Ijem nih, buruan."
"Abis maghrib lah, tanggung." Sahut Anang.
"Ehh, buruan. Darurat nih darurat!"
"Ahh.. iya iya tunggu, gue otw."
5 menit kemudian.
"Berekbek.. Bek.. Bek.."
Sebuah motor yang membawa orang berhenti parkir di sana. Orang itu tentu adalah Anang, dari atas motor pula pandangannya sudah terpaku kepada Yuna. Ia berjalan dengan tatapan cermat ke arah Yuna.
"Widiihh, siapa nih? Yuna ya?!" Anang langsung mengulurkan tangannya.
"I-iya." Yuna menjabat uluran tangan Anang.
'Padahal gue juga belum megang sama sekali.'
Melihat Anang yang dengan mudahnya mendapat jabatan tangan dari Yuna, Wendy merasa iri.
"Kemana aja? Gak pernah liat nih." Anang mengambil duduk di depan Yuna.
"Aku kuliah di Bandung, ini baru mau pulang."
"Lah? Jauh amat. Jadi ngekos ya di sana?"
"Iya."
Keduanya terlihat asik mengobrol. Suasana langsung berubah seakan baru saja kembang api dinyalakan. Sedangkan Wendy, ia merasa dikacangi.
__ADS_1