
Sekitar 9 km Gilang berkendara di jalur kiri, sedangkan Brian berada tepat di belakangnya. Tanpa helm dan tanpa SIM pula keduanya dengan santai menikmati sudut pandang perjalanan.
Sampai juga mereka di sebuah kedai yang lokasinya sudah dikirimkan oleh Yuna. Yuna sudah ada di sana, tapi ia terkejut saat melihat kedatangan Gilang dan Brian.
"K-kenapa kalian ke sini?" Ucap Yuna gugup sekaligus heran.
Maksud Yuna mengirimkan pesan adalah untuk diteruskan kepada Wendy. Sampai saat ini kontak Wendy masih belum terhubung dengan miliknya. Itu karena Wendy belum juga meminta kontak Yuna duluan.
Wendy begitu irit dalam menambah kontak, ia masihlah pria cuek yang tidak banyak omong di depan para wanita.
Apalagi sekarang Yuna sudah jarang bertemu dengan Wendy. Berkurangnya anggota pencomblangan dan sibuknya mereka dengan sekolah baru, membuat mereka jarang melakukan pertemuan lagi. Karena itu pastinya Wendy tidak terlalu menghiraukan keberadaan Yuna.
"Kenapa? Biasanya kan kita juga ramai-ramai." Ucap Gilang lalu duduk.
Brian sudah mengatur kapan Wendy harus datang ke tempat ini. Wendy akan datang paling akhir karena Brian dan Gilang hendak mengobrol terlebih dahulu bersama Yuna.
"Tadinya kamu mau sengaja kan buat ketemu sama si Wendy doang? Kamu emang gak inget sama rencananya?" Ucap Gilang baik-baik, ia tidak mau kejadian seperti dahulu terulang lagi.
"M-maaf."
Yuna terlihat murung, ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ia masih ingin mendapat bantuan dari mereka walau hasil akhirnya masih belum dapat terprediksi.
Gilang dan Brian bingung mau berbuat apa, dengan cara seperti ini hubungan Yuna dan Wendy masih saja belum berkembang. Tak lama Wendy pun datang dan duduk di sebelah Yuna. Tanpa basa-basi, mereka langsung memesan makanan yang sama untuk 4 porsi.
"Sekalian gue mau tambal ban. Tadi di jalan bocor njir.. elu udah pada masuk sekolah?" Wendy melihat keduanya masih memakai seragam putih biru.
"Diterima juga belum, ini abis testing aja." Jawab Gilang.
"Ohh.. abis ini kita main PS Yan di rumah lu, gue lagi males balik." Pinta Wendy.
"Oke, main kaset yang biasa kan?"
"Gue pengen game yang berkebun itu, jangan main game perang mulu lah, bosen." Pinta Gilang.
Yuna hanya menyimak, ia tak tahu topik dan juga tidak berani memainkan ponselnya karena takut dikira tidak sopan. Ramyoon pun disajikan, mereka menyantapnya sambil terus saja mengobrol.
__ADS_1
Setelah habis, mereka tak duduk dulu untuk mengistirahatkan mesin perutnya. Mereka langsung bangkit dan akan segera berangkat.
"Si Yuna sama elu ya, gue bawa si Brian." Titah Gilang saat hendak memutar balik motornya.
"Mm.. aku tidak ikut, aku akan pulang saja." Ucap Yuna.
Sebelumnya ia mengira bahwa dirinya tidak akan diajak oleh mereka. Tapi tetap saja ia menolak karena memang dirinya sedang tidak ingin ikut.
"Ohh.. ya udah, anterin tuh Wen."
"Gimana mau nganterin? Ini bannya bocor woy, tadi juga waktu ke sini gue paksain." Jawab Wendy di atas motor miliknya.
"Oh iya lupa, tukang tambal ban sih deket tuh di sana, mau aku anterin? Ntar si Brian biar jalan kaki sama si Wendy. Gapapa kan Bro?"
"Ya udah sana." Brian tidak merasa keberatan.
"Tidak usah, aku pulang sendiri saja." Yuna kembali menolak.
Pergilah Yuna terlebih dahulu, ia menghentikan sebuah angkot yang baru saja lewat. Mau angkot, mau taksi, atau elf sekalipun tidak masalah. Siapa yang datang duluan Yuna akan segera menghentikannya.
Sebenarnya Yuna sengaja ingin segera pergi karena merasa sangat kecewa, ia tidak bisa menikmati waktu seperti yang sebelumnya ia bayangkan.
Di kedai ramyoon, orang bilang makan ramyoon berdua adalah salah satu cara untuk menyatakan cinta. Entah dapat embel-embel dari mana Yuna selalu saja percaya dengan hal-hal begituan. Tapi apa salahnya mencoba?
Rasa takut menemui pria itu memang masihlah ada, tapi Wendy adalah pria pertama yang ingin ia incar.
Bukan Yuna yang akan menyatakan perasaannya, ia hanya berharap Wendy peka dan akan menembak dirinya duluan. Walaupun pernyataan itu tidak Wendy ucapkan, tapi setidaknya Wendy akan lebih mengingat wajah Yuna.
Sedari dulu Yuna merasa malu ditambah sakit terus saja mengemis secara sembunyi-sembunyi. Tapi bagaimana? Rencana mengharuskan dirinya untuk berkamuflase. Ataukah ia harus mencoba mengatakan perasaannya saja?
Di bengkel tambal ban:
"Di SMK pasti banyak cewek-cewek montok kan Bro? Kalo ada bagi lah, masa gue yang ganteng gini statusnya jomblo?" Ucap Wendy sambil menunggu tambal ban selesai.
Sekarang Wendy menyendiri. Sudah lama ia putus dari Wita, dan Wita lah yang pertama kali telah memutuskan hubungannya. Mungkin hal itu terjadi tak lama setelah mereka pulang liburan.
__ADS_1
Wendy sempat galau karenanya tetapi sekarang ia sudah merasa baikan. Dirinya sudah move on dan akan mencari mangsa yang baru. Lalu Yuna?
Wendy sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Yuna. Tapi pernah terpikir dalam benaknya jika dirinya memacari Yuna. Yang ia bayangkan berpacaran dengan Yuna pastinya sangat ribet dan tidak akan mengasyikkan.
"Bro, si Yuna emangngnya sekolah di mana? Kok dia gak pake seragam juga?" Wendy baru menanyakan itu. Padahal di kedai tadi ia bisa menanyakan langsung kepada orangnya.
"Itu, di sekolah anu, deket sini." Jawab Gilang.
"Gue heran, kenapa kalo ketemu pasti bawaannya ke tempat makan. Dia tuh doyan makan kali ya? Tapi kenapa gak gede-gede?" Ucap Wendy.
"Haha.. belom kali Wen. Abis apa lagi?Makannya lu temenin tuh, kasian dia gak punya temen. Eh si Brian malah nyempilin orang jomblo di sini, kan kasian."
"Lebih kasian daripada gak ada temennya." Jawab Brian.
"Haha.. kenapa gak lu pacarin aja Wen? Lu kan lagi nyari cewek, sama-sama jomblo juga kan? Kayaknya dia masih belum nemu temen tuh di sekolahnya." Gilang harap ini akan sedikit menonjolkan Yuna.
"Gimana ya.. masa gue pacaran sama bocil? Emangnya Si Yuna juga mau pacaran sama gue? Waktu itu aja dia bilang takut sama gue." Jawab Wendy.
Ingin sekali Brian dan Gilang mengatakan hal yang sesungguhnya, "Si Yuna itu suka sama elu!" Arghh.. tapi itu sama saja seperti menyerahkan diri.
Selesai menambal ban mereka pergi ke tempat selanjutnya. Kali ini mereka tidak membawa rokok ataupun apa karena mereka singgah di rumah Brian. Lagipula di rumah Brian banyak makanan, mereka bisa santai tanpa mengeluarkan biaya apapun.
Di sini hanya Brian saja yang tidak diperbolehkan merokok oleh orang tuanya. Di depan Ibu Brian menurut, namun di belakang ia malah sebaliknya. Ayahnya bukanlah seorang perokok, jadi mana mungkin Brian menunjukkan sikap perokoknya.
Gilang juga sebenarnya tidak diperbolehkan, tapi karena ia tetap melakukannya orang tuanya sudah capek untuk mengomeli anaknya lagi.
Wendy, tentu saja tidak ada yang melarangnya. Kakaknya merupakan seorang perokok juga, ia sama nakalnya seperti Wendy namun ia sudah bisa mencari uang.
Wendy juga sekarang sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Ia kelamaan menganggur dan lantas dimarahi oleh kakaknya. Untung saja ia memiliki motor, tak malu ia sekarang bekerja sebagai pemasok kerupuk kulit.
Sudah tampan, brangas, gagah, pikirnya. Tapi ia malah mendapat pekerjaan yang tidak bergengsi menurutnya. Habis apa lagi? Ia hanya punya ijasah SD. Lagipun ia tak mau pergi merantau jauh, ia sudah betah berada di dalam rumahnya.
Sementara, Anang ikut merantau bersama kerabatnya. Sudah lama sejak kelulusan ia berangkat dan bekerja sebagai pembuat kue bolu hias.
Hah? Iya, Anang bekerja sebagai pembuat kue. Ia bekerja membuat kue bolu pesanan sekaligus menghiasnya. Sementara Desi, ia masih bekerja di wilayah kampungnya sendiri. Karena Anang tidak ada jadi Desi jarang ikut bergabung lagi.
__ADS_1