Kosong

Kosong
Ora Mudeng


__ADS_3

"Sa, emang aku salah apa?" Tanya Gilang kepada Sasa.


Pulang sekolah buru-buru ia datang ke rumah Sasa. Pukul 4 sore nanti ia sudah harus segera berangkat, tugas PKDK itu sudah sepakat akan segera dikerjakan. Mereka akan menginap di rumah Agit dan harus berkumpul di suatu titik karena tidak tahu di mana letak rumahnya Agit.


"Kau tidak salah Gilang, aku yang salah." Raut wajah Sasa terlihat murung. Ia memang benar ingin mengajak putus.


"Salah apa? Kamu gak salah apa-apa. Apa kamu emang gak cinta sama aku?" Gilang tidak mengerti apa maksudnya.


"Bukan begitu, aku cinta kepadamu.." hanya berbicara sebentar tapi Sasa mulai meneteskan air matanya.


Gilang tidak tahu apa penyebabnya, yang jelas Sasa mungkin menangis karenanya. Sedari tadi Sasa terus mengulang-ngulang perkataan tanpa didapati inti jelasnya. Sikapnya malah membuat Gilang semakin bingung, jika dipaksa menjelaskan ia akan terlihat seperti sedang menindas.


Melihat Sasa seperti ini Gilang merasa sangat kecewa. Cukup sampai di sini, Gilang tak ingin membuat Sasa merasa tersiksa, ia tak akan memaksakan kehendaknya jika Sasa memang tidak mencintainya.


"Yaudah, aku pergi."


Rasanya sakit sekali, setetes air mata mengalir di pipi Gilang tapi Sasa sama sekali tidak menyadari. Gilang bukanlah tipe orang yang suka mengemis-ngemis, ia beranjak pergi namun suatu pelukan menahannya di tempat ini.


"Jangan membenciku, hiks.. hiks.." Sasa memeluk erat tubuh Gilang dan mulai meneteskan air matanya dengan deras.


Sebuah pelukan pertama yang datang tanpa disengaja. Pelukan perpisahan, bukan pelukan ini yang Gilang inginkan, ia segera melepaskan Sasa dari tubuhnya. Jangankan berpelukan, bersentuhan dengannya pun rasanya Gilang tak layak.


"Iya, aku tidak akan membencimu." Ucap Gilang mengasal saja.


Lelah rasanya, untuk apa juga ia membeli ponsel yang tidak berguna? Sekarang hubungannya dengan Sasa sudah resmi dibubarkan. Gilang mungkin tak berhak untuk menemui Sasa lagi.


Sudah pukul 4, Gilang sudah berada di tempat bersama dengan kawanannya. Ia harus melupakan Sasa bagaimanapun sebisanya.

__ADS_1


Mereka berempat masing-masing membawa motornya sendiri menuju jalanan sepi dikelilingi pepohonan. Sepanjang jalan adalah perkebunan, rumah-rumah yang terlihat juga sangatlah jarang.


Hari mulai gelap, angin sejuk beserta suara jangkrik mengiringi perjalanan jauh mereka. Sepertinya ini jalan menuju gunung, tempat sepi seperti ini biasanya rawan pembegalan.


Tapi untungnya mereka sampai dengan selamat pada pukul setengah 6. Rumahnya Agit masih berada di tepi jalan, rumahnya gedung namun terlihat sangat sederhana.


"Rumah lu jauh banget sih, kenapa harus di sini? Kan ada juga yang lebih deket." Gilang selesai memarkirkan motornya.


"Biar seru lah Lang, kayak liburan. Iya kan?" Jawab Agit.


"Dari tadi elu kontra mulu dah, kenapa sih? Tu muka juga kayaknya suram gitu gak ada cerah-cerahnya. Haha.." Rifal mengejeknya.


"Kagak ada." Gilang malu membicarakannya. Apa kata temannya nanti jika ia galau karena cinta? Pasti mereka akan jijik terpingkal-pingkal.


Mereka berkumpul di ruang TV, Diah mulai membuat kolom pada buku untuk mencatat transaksi esok hari. Dirinya yang seorang perempuan juga diizinkan keluar oleh orang tuanya. Bukan hal yang sulit karena memang ia adalah anak yang suka keluyuran.


Selesai membuat kolom, Diah mengotak-atik isi ponselnya Gilang. Gilang hanya duduk ngopi membiarkannya karena memang tidak ada sesuatu yang harus ia sembunyikan.


Sekian lama menjabal ponsel Gilang, tiba-tiba Diah berkata dengan nada berbeda sambil melihat isi layarnya. Sontak Gilang langsung merebut ponselnya itu, ia yakin yang Diah baca adalah pesan dari Sasa.


Gilang segera menjauh dari Diah, Diah terus saja mengikutinya sembari terus menempel-nempel kepadanya.


"Gilang, bukannya aku tidak mencintaimu. Justru aku sangat mencintaimu, aku takut kehilanganmu, dan kalau jujur aku ingin terus hidup bersamamu. Tapi aku takut hubungan kita akan berakhir dengan sebuah pertengkaran ..."


"Si Gilang dapet chat dari cewek Bro, cepetan ambil!" Diah terus saja mendekat mengganggu konsentrasi Gilang.


"... dan nantinya kau akan membenciku lalu menjauh pergi dariku. Aku berjanji ..."

__ADS_1


"Yaudahlah biarin." Ucap yang lainnya.


"... akan terus menjaga perasaanku untukmu, aku ..."


"Argghh!" Diah mulai emosi dan tiba-tiba saja ia menyentuh celana Gilang. Ia menarik-narik celana Gilang tapi sadar bahwa Gilang memakai ikat pinggang.


"Woy itu si Panji mau lu apain?!" Gilang terkejut resletingnya hendak dibuka oleh Diah.


"Gue pelorotin lu ya! Sekalian gue tonjok nih punya lu! Siniin ponselnya!" Ancam Diah namun ia belum melakukannya.


"Lah emang ini ponsel siapa? Elu kan juga punya." Gilang menjaga burungnya dengan tangan kiri dan membiarkan Diah yang tengah berjongkok di hadapannya. Ia bersandar di daun pintu, fokus kepada layar ponselnya.


"Woy berisik, ntar emak gue ngira yang nggak-nggak!" Agit mengingatkan secara pelan.


Lantas Diah pun mengalah, ia menjauh karena memang tak berani melakukan ancaman yang ia katakan. Wajahnya terlihat kesal, ia melirik sinis ke arah Gilang yang masih fokus membaca layar ponselnya.


'Siapa sih cewek tadi? Ngapain juga gue bacain? Kan ketauan, goblok dah!' Gumam Diah menyalahkan dirinya.


Sebenarnya Diah memang sudah menyukai Gilang. Di kelas Gilang selalu bersikap tolol, tapi Diah tahu bahwa sebenarnya Gilang tidak seperti itu. Wajah Gilang juga bisa dibilang yang paling oke di kelasnya, ia sangat menarik perhatian Diah.


"... hanya mencintaimu dan sungguh aku bersyukur bisa menemukan pria baik sepertimu. Kita tidak tahu di masa depan nanti kita akan berjodoh atau tidak, kalau kau memang mencintaiku apa kau ingin mengikuti kemauanku? Kita berhubungan saja seperti biasanya tapi jangan pacaran. Aku tahu mungkin aku egois, tapi ada suatu hal yang membuatku tidak bisa melakukannya. Jika kita putus dengan cara seperti ini ku harap kau tidak memiliki dendam kepadaku dan suatu waktu kita akan bersatu lagi."


Pesan yang sangat panjang itu masih belum dipahami oleh Gilang. Sebenarnya seperti ini, Sasa merasa tersiksa dengan sikapnya Gilang namun ia tidak berani mengatakannya.


Bisa dibilang Gilang itu dingin. Semalam saat Sasa memberikan 2 pilihan, ia mengharapkan jawaban iya. Dan benar, jawabannya adalah iya, namun bukan seperti yang ia harapkan. Sasa ingin sebuah jawaban yang lebih terdengar menyenangkan. Seperti... "Ya, aku sangat mencintaimu, jangan berpikiran aneh-aneh."


Sasa ingin sedikit saja Gilang menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya, entah itu dengan perkataan ataupun perbuatan. Saat pertama pun Gilang hanya bertanya ingin menjadi pacarnya atau tidak tanpa mengutarakan perasaannya yang sebenarnya.

__ADS_1


Walau Sasa tahu bahwa Gilang tidak perlu bersikap seperti yang ia inginkan, tapi ia masih belum bisa menerimanya dengan sikap biasa saja. Gilang sepertinya sudah dewasa, ia bukan anak-anak yang mengutarakan cinta dengan perkataan dan perbuatan alay.


Tidak perlu dikatakan berkali-kali, cinta ya cinta, menjalin hubungan dan menjaganya saja itu sudah cukup membuktikan bahwa Gilang sangat mencintai Sasa.


__ADS_2