
"Waah! Yang benar?!" Sinta yang sudah berada di dekat pintu utama itu terkejut.
"Iya," Brian asal ngomong saja agar Sinta cepat pergi.
"Baiklah, aku akan pulang dan akan segera mengabari tempatnya padamu!" Sinta langsung lari meninggalkan Brian.
Sebenarnya, masih 1 bulan lagi UAS akan diadakan. Tapi akhirnya Sinta pun berhasil diusir dari dalam rumah Brian. Dengan santai, Brian menutup pintu dan kembali ke kamarnya. Dalam hati, ia tak sabar ingin segera membuka bungkusan kado dari si gadis kurcaci. Tapi saat ini ia ingin tetap terlihat cool meskipun tidak ada orang di rumah.
Perlahan tapi pasti, Brian membuka bungkusan kado itu dan berharap bahwa isinya bukanlah balon, seperti yang diberikan oleh Sinta. Kado yang sederhana itu terbuat dari sekotak korek api dan di dalamnya terdapat sebuah cincin alumunium.
'Cincin? Apa dia sengaja membelinya?' Gumam Brian sambil melihat detail cincin itu.
Sebuah cincin silver polos tanpa ukiran dan gambar apapun. Ukurannya lumayan besar dan pas di jari manis Brian. Tapi Brian merasa tidak enak, mengingat keadaan ekonomi si gadis kurcaci yang tidak begitu baik.
Sewaktu itu, bapak si gadis kurcaci telah menjelaskan bagaimana keadaan dirinya dan anaknya itu. Sejak lahir, si gadis kurcaci memang sudah tidak bisa mendengar, dia adalah penyandang tunarungu. Itu sebabnya dirinya juga kesulitan melafalkan kosa kata yang benar. Tapi, sejak kecil dirinya sudah dilatih untuk menggunakan bahasa isyarat agar bisa memudahkannya untuk berkomunikasi.
Tepat saat proses melahirkan, ibunya si gadis kurcaci meninggal. Dan suatu waktu, ketika si gadis kurcaci duduk di bangku SD, bapaknya mengalami suatu kecelakaan. Dirinya tertabrak oleh sebuah mobil besar dan kedua kakinya ikut terlindas. Akibatnya, kedua kakinya itu mengalami patah tulang dan pendarahan yang cukup banyak, yang menyebabkan kedua kakinya harus diamputasi.
Si gadis kurcaci merasa dirinya itu adalah pembawa sial. Karena ia lahir, ibunya telah meninggal. Dan saat ini bapaknya juga mengalami kecelakaan. Setelah itu hidup mereka semakin melarat, bapaknya sudah tak bisa lagi bekerja di tempat yang sebelumnya. Tapi, bapak sama sekali tidak menyalahkan gadis kurcaci. Ia terus menyemangati hidupnya dan mengurusnya hingga saat ini.
Brian rasa, ia harus membalasnya dengan sebuah kado juga. Brian pun berangkat, ia mencoba untuk membeli sepasang alat bantu dengar dan berharap harganya tidak terlalu mahal. Banyak jenis-jenis alat bantu dengar yang ia temukan di sana, Brian memilih sepasang alat bantu dengar yang harganya di bawah 2 juta an. Brian tidak membicarakan hal ini kepada Ibu, tapi dirinya memang tidak sedang berniat buruk.
Tanpa basa-basi lagi, Brian segera mencari gadis kurcaci ke rumahnya, untungnya saat itu ia memang ada. Di luar rumah, ia terlihat sedang membaca buku-buku pelajaran sekolahnya.
__ADS_1
"Hai," sapa Brian sambil menepuk pundaknya.
Gadis itu langsung menoleh dan tersenyum, ia langsung berbicara tak jelas sambil memperlihatkan jarinya kepada Brian. Sepertinya ia ingin menanyakan cincin pemberiannya. Brian pun langsung menunjukkan tangannya memperlihatkan bahwa dirinya sudah memakai cincin itu di jari manisnya. Melihat cincinnya dipakai, gadis kurcaci itu terlihat senang, itu pun membuat hati Brian ikut merasa senang.
Brian lalu menyerahkan alat bantu dengar yang sudah ia beli sambil berbicara pelan-pelan berharap gadis kurcaci itu memahaminya.
"Aku punya sesuatu untukmu," ucap Brian.
Tiba-tiba gadis itu menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. Brian rasa ia sedang bertanya "Apakah ini untukku?"
"Ya, ini untukmu. Biar aku pakaikan ya." Ucap Brian sambil memakaikan alat bantu itu di belakang telinga si gadis kurcaci.
"Bagaimana? Apa kau sudah bisa mendengar?" Tak sengaja Brian berbicara di dekat telinga si gadis kurcaci.
"Hmm.. Haa..!" Beberapa saat gadis itu melamun tapi tiba-tiba ia terkejut, memekik dan menutup kedua telinganya.
Brian ingin mengajak si gadis kurcaci jalan-jalan untuk membiasakan dirinya dengan berbagai macam suara. Tetapi ia tak mau mengganggu waktu belajar gadis itu, terlihat sebuah buku paket IPA kelas 1 sedang ia pelajari.
Lantas Brian meminta izin untuk pergi sebentar, ia pergi ke sebuah warung nasi dan memesan 2 bungkus nasi. Setelah itu ia kembali dan memakannya bersama si gadis kurcaci.
'Dia tidak terlihat kotor sama sekali. Memang benar, saat itu pakaiannya kotor karena sudah mengobrak-abrik tempat sampah.'
Sambil makan, Brian memandangi si gadis kurcaci. Pakaiannya memang terlihat lusuh karena sudah tak layak pakai, tapi gadis itu sama sekali tidak bau maupun kotor. Halaman rumah dan isinya juga terlihat sangat bersih.
__ADS_1
Setelah makan, gadis itu membereskan semua buku pelajarannya. Brian menyebutnya gadis kurcaci karena gadis kelas 1 SMP itu memiliki tubuh yang kecil dan pendek. Meskipun Brian sudah mengetahui namanya, tapi ia lebih suka menyebutnya dengan sebutan gadis kurcaci.
"Kau sudah selesai belajar?" ucap Brian pelan-pelan.
Gadis itu mengangguk, karena Brian berbicara pelan-pelan, ia bisa membaca apa yang dikatakan oleh Brian melalui gerak-gerik mulutnya.
"Kalau begitu ayo kita pergi berkeliling." ajak Brian.
Mereka pun pergi berjalan kaki bersama. Gadis itu selalu menampakkan wajah cerianya di depan Brian sebagai tanda bahwa ia menyukai hadiahnya.
"Apa kau bisa mendengarnya? Itu adalah suara aliran sungai," ucap Brian saat melewati sebuah jembatan.
Gadis itu tersenyum, sepanjang perjalanan Brian selalu menjelaskan tiap suara yang terdengar. Brian merasa senang karena ia bisa menghilangkan mimpi buruk yang selama ini gadis itu rasakan.
Karena sudah berjalan terlalu lama, Brian mengajak gadis itu untuk pulang. Tak lupa ia menulis sebuah catatan kecil untuk diberikan kepada bapaknya, yang bertuliskan bahwa alat itu memang pemberiannya dan Brian berharap alat itu bisa dijaga dengan baik.
Brian pun pulang ke rumahnya dan melihat Ibu sudah pulang bersama ponsel barunya. Sebuah ponsel full screen berwarna biru laut yang warnanya terasa ngejreng baginya. Tapi ia tak bisa komplain, karena dirinya memang tak berpesan apapun selain membelikan ponsel yang menurut ibunya bagus saja. Untungnya masih ada sebuah soft case polos berwarna hitam yang bisa menutupinya.
'Wahh! Enaknya punya hp baru gak perlu banting tulang,' gumam Brian sambil mengotak-atik ponselnya.
Brian tak langsung memasang aplikasi chat dan menghubungi Sinta. Ia merasa sedikit risih dan takut Sinta akan datang ke rumahnya. Jika Sinta datang, maka dirinya tidak akan bisa beristirahat. Saat ini dirinya sudah lelah berjalan-jalan dalam terik yang panas bersama si gadis kurcaci.
Di ponsel yang layarnya besar itu, Brian dapat mengakses video streaming dengan kecepatan internet yang bagus menggunakan wi-fi yang ada di rumahnya. Ia menonton film action berbayar yang tidak dapat ia temukan di televisi. Betapa nyamannya hidup Brian saat ini, jika dibandingkan dengan kehidupannya di masa depan yang harus memikirkan biaya untuk makan setiap harinya.
__ADS_1
Di sini, Brian tak perlu memasak, mencuci, dan sebagainya. Tapi Brian sadar jika semua hal itu tak ada habisnya dan terasa sangat melelahkan jika dikerjakan sendirian. Ia teringat kepada ibunya yang selama ini sudah melakukan hal itu selama bertahun-tahun. Sudah saatnya ia bersikap mandiri dan tidak membebankan ibunya yang masih muda itu.
Brian meletakkan ponselnya sejenak, ia mengambil pakaian kotornya di kamar dan membawanya ke mesin cuci. Tapi cuciannya itu terlalu sedikit, lantas Brian mencoba untuk mengambil cucian milik Ibu. Namun tindakannya itu terhentikan ketika ia mendengar suara aneh dibalik pintu.