Kosong

Kosong
Ending Film


__ADS_3

'Kenapa ada adegan seperti ini? Aku malu.'


Yuna tidak tahan melihatnya, ia masih di bawah umur dan merasa tidak pantas untuk menontonnya. Ia juga tak berani melihat ke arah penonton lain karena takut orang-orang juga terbawa suasana. Yuna pun menundukkan kepalanya sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


"Hiks.. hiks.."


Jestie yang sedang dijilati oleh pria itu hanya bisa menangis. Ia memiliki seseorang yang dicintai dan sudah bertunangan dengannya, tetapi ia tak mau ibunya berada dalam keadaan bahaya.


"Stop it, please! Stop it.."


(Hentikan itu, tolong! Hentikan..).


Sang ibu yang juga ditekuk di atas lantai ikut meneteskan air matanya. Ia memiliki gangguan jiwa, tetapi ia tahu bahwa putrinya sedang merasa tersiksa.


"What? It's so noisy! Then I'll be moving. Come on!"


(Apa? Berisik sekali, kalau begitu aku akan pindah tempat. Ayo!).


"Ahhh!"


Jestie ditarik kasar dan merasa kesakitan. Sedangkan Yuna yang hanya bisa menangkap setengah-setengah bahasa itu mengartikannya dengan pikiran mesum.


Come on \= Ayo lakukan.


Ahhh \= Jestie ditusuk.


'A-apa? Apa mereka menayangkan adegan itu?' Gumam Yuna masih tidak berani untuk melihat.


"Yuna, kau kenapa?" Ucap Wendy pelan.


Agar Wendy terlihat lebih peduli kepada Yuna, sedari awal yang lainnya sudah sepakat untuk tidak mengajak Yuna berbicara.


'Mmmh.. Wendy pasti tahu bahwa aku menghindar dari scene itu.'


Yuna tidak tahu adegan tadi sudah selesai atau belum. Ia hanya bisa mendengar suaranya yang berbicara dengan Bahasa Inggris.


"A-aku hanya sedikit pusing." Ucap Yuna lirih sembari menolehkan pandangannya ke sebelah kiri. Tiba-tiba ia terkejut, ternyata wajah Wendy sangat begitu dekat dengannya. Seketika ia menjauh dan rasanya ia ingin menjerit, tetapi ia tahu bahwa hal itu akan mengganggu penonton lain.


"Oh." Ucap Wendy Singkat, lalu ia kembali menonton filmnya.


Brian dan yang lainnya terlihat sangat menikmati film itu. Adegan sudah mulai memunculkan beberapa tentara militer di sebuah distrik. Mereka lah yang ada pada poster itu, dan ternyata mereka adalah penyelamat bagi keluarga profesor.


Peperangan mulai terjadi, para tentara menerobos sarang para penjahat. Tapi keadaannya seimbang, para penjahat itu juga terlihat kejam. Satu per satu para tentara dihabisi dan terus dicaci meskipun terlihat sudah tidak bernyawa.


"Bukk!"


"Ougkhh!"

__ADS_1


"Dorr! Dorr! Dorr!"


Pukulan, tembakan, dan muntahan darah diperlihatkan dengan jelas dan sangat terlihat realistis. Tak ragu, mereka juga melangkahkan kaki di atas tumpukan mayat yang sudah terluka parah.


"Crttt!" Keluarlah organ dalamnya.


Melihat adegan yang mengerikan itu, Sinta merasa semakin mual. Ia tak tahan melihat darah manusia dan organ-organ dalamnya yang menjijikan.


"Mmh.. Brian, aku sudah tak tahan lagi." Desak Sinta kepada Brian. Ia ingin segera keluar dan tidak mau mendengar suara filmnya lagi.


"I-ini filmnya belum tamat Sinta." Brian enggan untuk keluar, tapi melihat Sinta yang sepertinya tengah tersiksa, ia merasa tidak tega. Ia pun keluar dan meninggalkan teman-temannya.


Sinta segera pergi ke toilet dan langsung saja ia muntah sejadi-jadinya. Brian tidak mengira bahwa filmnya akan mengakibatkan reaksi seperti itu.


"Sinta, ayo kita cari minuman segar sekarang."


Brian pun menikmati waktunya di luar untuk menghilangkan rasa mual Sinta.


'Hahh.. padahal gue yakin abis itu gak bakalan ada adegan kekerasan lagi.' Brian mengeluh karena tidak bisa melanjutkan filmnya.


Di dalam teater, film masih berlanjut. Film sudah sampai pada adegan-adegan yang menegangkan.


"Srrrttt! Tcrrr!"


Seseorang menebas wanita tua yang diikatnya hingga membuat darahnya itu memancar deras.


(K-kenapa ini terjadi?).


Masih dalam keadaan genting, pria bernama Jason terlihat menangis sembari membawa bongkahan daging.


"Damn professor! You've killed a member of your own family!"


(Profesor sialan! Kau sudah membunuh anggota keluargamu sendiri!).


"*******! I don't want to see you again! You better die there!"


(Brengsek! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Lebih baik kau mati di sana!).


Dikisahkanlah bagaimana kepedihan hidup mereka selama ini. Begitu pilu dan penuh haru, ternyata tokoh itu sudah sejak lama merasakan penderitaan.


Tak terasa para penonton di sana ikut meneteskan air matanya. Wendy terlihat mengusap matanya juga. Rupanya ia sedikit mengeluarkan air matanya. Yuna tidak menyangka bahwa lelaki seperti Wendy juga akan menangis karena sebuah film.


Tapi Yuna tidak terlalu peduli, ia harus terlihat profesional. Kembali ia menonton filmnya yang masih berjalan rumit.


Sampai di adegan terakhir, di samping sebuah makam, ditemani pemerintah negara, pria bernama Jason meneguk sebuah ramuan buatan ayahnya dan akhirnya...


Tamat...

__ADS_1


Film pun sudah tamat sampai di situ dan membuat para penonton terheran-heran.


"Lah? Udah gitu doang?" Anang merasa tidak puas. Sedari tadi ia sudah bisa menikmati lagi jalannya cerita.


"Hahh.. aku merasa tegang. Ayo kita keluar." Yuna menarik nafas lega. Mereka pun keluar dan menunggu kedatangan Brian.


"Gilang, ada sesuatu yang ingin aku beli. Kita pergi sebentar?" Sasa berbisik kepada Gilang.


'Uhh buset, jangan minta yang aneh-aneh, gue jadi merinding.' Gumam Gilang saat mendapat bisikan halus.


"Teman-teman, aku akan pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa telpon saja." Ucap Sasa dengan senyuman. Lalu ia menyeret tangan Gilang menjauh dari mereka.


"Desi, mau jalan-jalan?" Ucap Anang sengaja agar Wendy bisa berduaan dengan Yuna.


Saat mengetahui Anang juga akan pergi, Yuna langsung merasa terkejut. Mereka tidak merencanakan itu sebelumnya.


"Mm.. ayok." Desi meng iya kan.


Wendy hanya diam saja. Ia tahu bahwa ini adalah konsekuensinya karena tidak membawa pacar. Anang dan Desi pun pergi entah ke mana. Sekarang tinggal Yuna dengan Wendy yang tengah berdiri di dekat dinding.


"Kita jalan-jalan juga aja." Ucap Wendy sambil menoleh ke arah Yuna.


"Mmm.. iya." Anehnya Yuna merasa sangat gugup. Tidak seperti dahulu saat ia berduaan bersama Wendy, Yuna bahkan tidak berani menatap wajah Wendy.


Di jalan, Yuna merasa lapar dan haus. Tapi ia tidak berani mengatakannya kepada Wendy. Otaknya juga masih sedikit tegang setelah menonton film tadi.


"Yuna, kau kenapa?" Sekali lagi Wendy menanyakan hal yang sama.


"U-emh, a-aku tidak papa." Yuna menjadi salah tingkah.


"Oh, kau bilang tadi kau pusing ya? Kita mau mampir ke tempat makan?"


Itu dia! Akhirnya Wendy menawarkannya. Yuna pun langsung meng iya kan tanpa menunjukkan dirinya yang memang sedang kelaparan.


"Di sini?" Wendy berhenti di sebuah kedai minuman.


"M-mm.. mereka tidak menjual makanan." Yuna menggelengkan kepalanya.


"Di sini?" Wendy berhenti di sebuah restoran dessert.


"Tidak." Yuna menggelengkan kepalanya.


'Maunya apa sih cewek ini?' Wendy merasa bingung, padahal ia memang salah memilih tempat.


Akhirnya mampirlah mereka di sebuah restoran seafood. Yuna ingin sekali memesan banyak makanan, tetapi ia malu karena ada Wendy juga di sana.


Karena tak mau terlihat rakus, Yuna hanya memesan kepiting soka dan sate cumi. Wendy sedikit bingung, tidak ada menu yang menghidangkan nasi. Ia tak mau pesan yang aneh-aneh dan mahal, jadi ia hanya memesan ikan kecap saja.

__ADS_1


__ADS_2