Kosong

Kosong
Sinta Sakit


__ADS_3

"Hiks.. hiks.."


Sinta yang sedari tadi memukuli Brian akhirnya terdiam. Ia menangis telungkup, tepat di atas tubuh Brian yang sedang terbaring. Saat itu Brian kebingungan harus berbuat apa.


"Klek," tiba-tiba pintu rumah terbuka.


"Kalian sedang apa?" Tanya Ibu yang baru saja masuk. Ia baru saja pulang berbelanja bahan makanan di tukang sayur.


Saat itu juga Brian terkejut, ia takut jika ibunya berpikiran yang tidak-tidak dan akan memarahinya. Tapi ia merasa tidak enak jika harus mendorong tubuh Sinta untuk menjauh dari tubuhnya.


"I-ini, S-sinta Bu," Brian bingung harus berbuat dan berkata apa. Ia pun terbata-bata.


Sinta yang menyadari akan adanya Ibu, perlahan langsung bangkit dan duduk sambil terus menangis.


"Sinta, sudah Sayang. Kamu lihat, Brian baik-baik saja kan?" Ibu duduk menghampiri Sinta kemudian menyentuh tubuh Sinta untuk mencoba meredakan kesedihannya.


'Dingin!'


"Sinta?! Tubuh kamu dingin sekali! Kamu sakit Sayang?" Tanya Ibu merasa khawatir.


Brian yang mendengar hal itu langsung terkejut. Ia tak sadar jika tubuh Sinta memang benar-benar dingin.


"Hiks.. hiks.." Sinta tidak menjawab dan hanya menangis saja.


"Brian, lihat! Ini semua gara-gara kamu! Kamu tau dari kemarin Sinta sudah menunggumu di rumah?!" Ibu marah-marah kepada Brian.


"Aduh.. bagaimana ini? Ibunya Sinta pasti marah," Ibu merasa panik.


Brian yang mendengar hal itu langsung merasa bersalah. Kemarin ia mengabaikan Sinta dan pergi begitu saja. Akhirnya kemalangan menimpa Brian. Belum lagi Sinta yang saat ini juga ikut kena getahnya.


Tak lama kemudian, terdengar suara ibunya Sinta dari luar.


"Tok.. tok.. tok.."


"Permisi!"


"Aduhh! Bagaimana ini?! Brian! Cepat bukakan pintu!" Ibu yang mendengar suara ibunya Sinta dari luar, merasa semakin panik.


Saat itu Brian mencoba untuk bangkit membukakan pintu, tapi ia kesusahan untuk menggerakkan tubuhnya.


"Tok.. tok.. tok.."


"Permisi! Bu!" Ibunya Sinta terus memanggil.

__ADS_1


"Aah!" Karena Brian lama, akhirnya Ibu angkat kaki sendiri dan membukakan pintu.


Terlihat sosok ibunya Sinta yang saat ini tengah berada di hadapan pintu.


"Bu, Sinta nya ada?" Tanya ibunya Sinta. Dengan ragu, ibunya Brian menjelaskan.


"Mm.. maaf Bu, Sinta kayaknya sakit," wajah Ibu merasa bersalah. Lalu ia menyisi, mempersilahkan ibunya Sinta untuk masuk ke dalam.


"Astaga, Sinta!" Ibunya Sinta yang melihat Sinta tengah berada di atas Sofa, langsung berlari menghampirinya.


"Sinta, dari kemarin Ibu sudah khawatir sama kamu. Dari pagi kamu gak makan apa-apa. Sekarang kamu udah makan Nak?" Tanya ibunya khawatir.


Ibunya Brian terkejut, ia baru mengetahui bahwa Sinta belum makan dari kemarin pagi. Semalaman juga ia lupa tidak menawarkan Sinta makan.


"Kamu kenapa lagi Sayang? Kok nangis?" Tanya ibunya Sinta merasa semakin khawatir.


Sinta sama sekali tidak menjawab. Semua orang yang berada di dalam rumah merasa sangat bersalah.


"Bu, maafin saya ya Bu! Saya gak tau kalau Sinta itu dari kemarin belum makan," dengan penuh rasa bersalah, ibunya Brian meminta maaf.


"Gak papa Bu, bukan salah Ibu kok. Ini anaknya saja yang bandel." Ucap ibunya Sinta.


"Kita ke dokter sekarang ya Sinta," ajak ibu Sinta. Tapi saat itu Sinta tidak mau singgah dari tempatnya. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.


"Biar saya telpon dokter Bu," saran ibunya Brian.


"I-iya," jawab ibunya Sinta.


Ibunya Brian langsung mengambil ponsel dan menelpon seorang dokter. Hingga menunggu kedatangan dokter tiba, Brian hanya diam kebingungan. Ibunya Sinta juga tidak memperhatikan keberadaan Brian saat itu.


Tak lama, seorang dokter sampai di rumah Brian. Semua orang yang sedang cemas merasa lebih tenang.


"Anak Ibu ini tubuhnya lemah sekali. Sepertinya anak Ibu belum makan ya?" Tanya dokter yang saat itu sedang memeriksa Sinta.


"I-iya Dok, dari kemarin pagi anak saya gak mau makan. Katanya dia sakit perut." Jawab ibunya Sinta.


"Hmm.. Kalau terlalu sering begini bisa-bisa bahaya nantinya. Jaga pola makannya ya Dik, jika sakit perut usahakan makan sedikit-sedikit. Yang penting perut kamu ini terisi." Ucap dokter itu kepada Sinta.


"Ini, saya ada obat dan resepnya. Ditambah dengan vitamin anak Ibu akan sembuh kok. Jangan lupa, makannya yang teratur." Dokter itu memberikan obatnya kepada ibu Sinta.


"Iya Dok." Jawab ibunya Sinta sambil menerima obat itu.


Ibunya Brian yang masih merasa khawatir dengan keadaan anaknya, meminta dokter untuk memeriksa Brian juga.

__ADS_1


"Dokter, anak saya juga tolong diperiksa ya Dok," pinta ibunya Brian.


"Baik," dokter itu langsung memeriksa Brian yang saat ini tengah duduk.


"Lukanya tidak terlalu serius. Tapi harus diobati agar tidak infeksi."


Saat itu dokter menyobek bungkusan plastik kecil dan mengeluarkan kain yang ada di dalamnya untuk mengusap beberapa luka yang terlihat.


"Banyak lebam juga di tubuhnya. Saat ini sekujur tubuhnya pasti sedang terasa sakit." Lanjut dokter itu.


Memang benar, saat itu sekujur tubuh Brian terasa sakit dan terasa begitu berat. Entah itu kulit atau dagingnya, akan terasa semakin sakit saat digerakkan.


"Jangan dipijat ya Bu, dengan obat saja sudah cukup." Dokter mewanti-wanti dan langsung merogoh tas obat miliknya.


"Ibu-ibu, semuanya, jangan khawatir. Mereka pasti akan segera membaik. Jika ada apa-apa bisa hubungi saya kembali." Pemeriksaan selesai, dan dokter itu pun pulang.


"Sinta, kita pulang yuk Sayang. Kamu harus makan, habis itu istirahat." Ajak ibunya Sinta.


Sinta yang sudah tidak menangis lagi itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih tidak mau membuka mulutnya. Ibunya Sinta yang melihat Sinta tak mau pulang merasa tidak enak dengan tuan rumah.


"Nak Sinta, kamu mau makan di sini saja ya Nak? Ibu masak dulu ya kalau begitu," ibunya Brian langsung menuju ke dapur yang tidak terhalangi dinding itu.


"Duh, Bu. Maaf ya ngerepotin." Ucap ibunya Sinta.


"Tidak kok Bu," jawab ibunya Brian yang terlihat sedang memotong-motong makanan.


Brian yang sedari tadi hanya diam saja akhirnya membuka suara.


"Sinta, maaf. Semua ini salahku."


"Bu, maafkan saya, ini semua salah saya." Pinta Brian kepada ibunya Sinta.


'Gara gara anak ini! Sinta jadi sakit!' Ibunya Sinta merasa jengkel kepada Brian, tapi saat itu ia harus menjaga sikapnya.


'Tapi itu anak kenapa ya? Kayak habis berantem? Atau dia digebukin?' Gumam ibunya Sinta.


Melihat keadaan Brian, ia merasa bahwa Brian itu bukan anak baik-baik. Tapi tidak mungkin jika ibunya Brian yang baik hati itu tidak bisa mendidik anaknya. Lantas ia sedikit kasihan, ia juga belum tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi.


"Bu?"


"Ibu, maafkan saya!" Brian yang sedari tadi menunggu jawaban merapatkan kedua telapak tangannya.


Ibunya Brian yang mendengar percakapan itu seketika menoleh dan terdiam mengabaikan masakannya.

__ADS_1


__ADS_2